“Kekayaan yang dibangun di atas kebohongan, dan kemuliaan yang dibangun di atas kehinaan adalah kekayaan dan kemuliaan yang rapuh.”
Kalimat itu saya dapatkan dari Ustadz Yusuf Mansur, yang kalau dalam ceramahnya sering kita dengar sesuatu yang kesannya memang tidak masuk akal. “Udah, ente sedekah aja. Pasti Allah akan ganti. Yakin, yakin, dan yakin aja ente.” Itu pesan yang sering saya terima dari beliau. Sewaktu saya menjalankan bisnis training di awal tahun 2010, saya orang yang skeptis. Tidak percaya. Saya percaya bahwa Allah Maha Kaya, namun cara yang diajarkan menurut saya tidak masuk logika. Apalagi di masa sekarang, di mana ‘permainan’ sudah menjadi budaya. Kalau kita tidak pandai-pandai ‘mengakali’, pasti kita akan tergilas habis tanpa sisa.
Sampai akhirnya dalam 4 tahun terakhir ini saya mengalaminya sendiri di depan mata saya. Bahwa sebenarnya memang sesuatu yang dibangun di atas sesuatu yang tidak berkah pasti akan rapuh dan menghilang dengan cepat. Saya pun yakin, bahwa Allah lah sumber dari semua rezeki, hanya kepadaNya lah tempat kita meminta. Jika kita yakin, pasti akan manis jadinya.
Berkata memang paling mudah, namun saya akan ceritakan dua kisah yang menjadi bukti nyata bahwa memang untuk masalah rezeki, kepada Allah lah kita harus bergantung. Bukan kepada orang, jabatan, apalagi profesi yang kita miliki. Saya pernah bergantung kepada selainNya, dan saya salah besar.

Seperti hati yang dibolak-balik, saat kita bekerja pun ada kalanya kita merasa dengan sangat bersemangat, namun di suatu titik kadang kita menghadapi apa yang namanya kejenuhan. Kadang ada rekan yang datang kepada saya, sesama penulis dan blogger yang curhat bahwa rasanya dia sudah sampai titik jenuh. Berbeda seperti dulu, di mana waktu awal sangat bersemangat untuk menulis namun sekarang tidak lagi. Saya pun ditanya, apakah pernah merasakan jenuh? Tentu saja pernah. Dulu, sewaktu saya jenuh, saya bisa seharian hanya tidur di kasur dan menonton TV. Bayangkan, betapa borosnya waktu yang saya habiskan. Namun sekarang, alhamdulillah hal yang seperti itu sudah dapat diminimalisasi.
Dalam sesi seminar kewirausahaan yang saya bawakan seringkali banyak obrolan pasca seminar di ruang pembicara dengan masalah yang beragam. Tetapi, seringkali juga masalahnya sama, yaitu terkait dengan jaringan bisnis yang dimiliki (network). Umumnya jika seminar itu untuk mahasiswa, seringkali mengeluh, “bagaimana ya kak, saya tidak punya jaringan sama sekali, bisakah saya memulai bisnis?”
Di era saat ini, memang sudah serba electronic. Mulai dari e-mail, e-learning, bahkan juga sampai dengan e-silaturahim. Ya, e-silaturahim yang paling mudah untuk dilihat adalah sewaktu menuju lebaran atau hari-hari besar keagamaan lain. Banyak sekali kontak dan kenalan kita yang saling berlomba-lomba untuk memberikan ucapan, sapaan, dengan harapan bisa mewakili silaturahim yang sebenarnya.
Apa hobi Anda? Hobi merupakan salah satu yang seringkali ditanyakan oleh orang dalam masa perkenalan pertama atau seringkali kita menjawab dalam percakapan kita sehari-hari. Hobi identik dengan hal-hal yang kita sukai untuk melakukannya. Contoh yang paling umum, saat ditanya hobi tidak jauh-jauh: membaca, menulis, mendengarkan musik, berenang, travelling, dan sebagainya. Mungkin hobi Anda ada di salah satu poin tersebut.
Penulis itu ibarat seorang atlit olahraga. Kita mungkin sangat kagum dengan seorang Michael Jordan yang sangat jago bermain basket, Christiano Ronaldo yang sangat piawai memainkan bola, atau Tiger Woods yang tidak tertandingi bermain golfnya, hingga Taufik Hidayat yang mampu mengangkat derajat Indonesia dalam persilatan bulutangkis. Jika kita memiliki ketertarikan dalam olahraga tersebut, tentu kita ingin sekali menjadi mereka dan seperti mereka.
Hari ini sewaktu membereskan ruang kerja, tanpa sengaja saya menemukan sebuah buku tulis lusuh yang berisi catatan-catatan yang saya buat sewaktu mengikuti berbagai macam kelas, seminar, training, atau workshop. Buku tersebut saya miliki sewaktu SMP. Ternyata waktu itu saya pernah menulis suatu kalimat, “Seorang pembelajar sejati adalah mereka yang tidak hanya menjadi pintar untuk dirinya, namun juga mencerdaskan insan di sekitarnya. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”
Sewaktu menyusun program untuk Komunitas TDA Kampus periode 2013 – 2015, salah satu program unggulan yang disusun adalah terkait dengan mengadakan TDA Kampus Forum selama 2 pekan sekali yang isinya membahas tentang spiritual entrepreneurship. Bagi kami, sebagai board of directors, masalah spiritual atau pemaknaan dan pemantapan niat yang benar untuk pengusaha muda adalah yang utama.
Saya tidak menyangka, gagasan gila untuk menulis setiap hari di blog yang saya gagas pada bulan Januari 2012 membawa perjalanan blog ini menjadi seperti sekarang. Dulu, saya hanya sekedar iseng untuk menuliskan hasil penelitian, pengamatan, atau bahkan hasil catatan-catatan ilmu yang saya miliki. Entah mengapa saya rasanya bahagia sekali jika bisa berbagi ilmu. Namun sekarang, blog ini ternyata berkontribusi bukan hanya untuk saya, tetapi juga menginspirasi puluhan ribu pembacanya untuk bisa membuat blog juga.
Gratis! Buku Digital "99 Kisah Motivasi Penyejuk Hati", berisi 99 kisah yang inspiratif dan penuh hikmah untuk membuat hari-harimu semakin semangat dan bermakna. Silakan buka
Gratis! Buku Digital "SimplyProductive", berisi prinsip-prinsip yang sangat sederhana untuk membuat hari-harimu semakin asyik dan produktif. Silakan buka 

Keep in Touch