Saya bersyukur sekali bisa merasakan manisnya kehidupan di kampus, apalagi di Universitas Indonesia. Walaupun media seringkali memblow up masalah-masalah di kampus ini (sementara yang prestasi-prestasinya jarang di ekspos), tetapi saya tetap bangga. Bertemu dengan sahabat hebat luar biasa. Karena di kampus ini, saya bertemu dengan banyak teman yang tidak hanya kuliah untuk mengejar rezeki, tetapi semenjak masih duduk di bangku tingkat yang sama, mereka sudah dikejar-kejar rezeki. Loh, kok bisa? Kalau penasaran baca aja lebih lanjut. Hehe..

Ya, umumnya kita para mahasiswa seringkali dicekoki oleh paham bahwa kita itu kuliah agar mudah dapat kerja. Agar nanti orang yang lulus kuliah pasti akan lebih ‘dilihat’ dari orang yang tidak kuliah. Muaranya bisa ditebak, bahwa kita kuliah itu untuk mencari rezeki. Kita kuliah agar nantinya mudah mencari uang. Teman saya yang tipenya seperti ini, biasanya sibuk mencari IP yang bagus dan tinggi, menargetkan melamar dan masuk ke perusahaan multinasional, yang akhirnya bisa memberikan banyak rezeki kepada mereka. Saya menyebut teman saya yang seperti ini adalah pengejar rezeki.

Tapi kemudian saya dipertemukan kembali dengan orang yang ternyata memiliki pemahaman berbeda. Saat ini saja, semenjak masih kuliah omzetnya itu sudah puluhan juta. Mengalahkan fresh graduate yang mungkin akan kerja di perusahaan multinasional manapun untuk tahun-tahun pertamanya. Atau bahkan ada beberapa orang dari mereka yang belum lulus saja sudah mendapatkan banyak sekali proyek-proyek besar dan sebelum lulus sudah mendapatkan penawaran untuk bekerja. Tanpa melamar.

Bagaimana ya kemudian cara agar dikejar rezeki? Sebenarnya ada 3 jalur yang harus ditingkatkan agar rezeki itu mengejar-ngejar kita. Jalan itu adalah Jalur kompetensi, aksi, dan berbagi. Biasanya di bangku kuliah kita hanya berharap rezeki mendatangi kita ketika kita sudah menempuh jalan kompetensi. Jalur kompetensi adalah ketika kita meningkatkan keterampilan dan mengasah kemampuan kita sehingga kita menjadi seorang expert. Lebih lengkapnya silakan baca Apa keunggulan kita?

Kemudian apa itu jalur aksi? Jalur aksi adalah ketika kita siap untuk menggunakan ilmu yang kita miliki untuk segera bertindak agar rezeki datang kepada kita. Beberapa hal yang bisa dilakukan antaranya adalah ketika kita punya rezeki, jangan langsung dihabiskan. Intinya adalah lakukan aksi sesuai mimpi kita. Jika mau dikejar rezeki yang hargai rezeki itu, bukan untuk dihambur-hamburkan. Tetapi bisa ditabung atau diinvestasikan. Investasi bisa berupa deposito, saham, atau memulai bisnis. Beberapa artikel yang mendukung di antaranya kamu dapat membacanya di Prinsip 3 AS dalam Bekerja dan 6 Hal Fundamental dalam Membangun Bisnis.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah jalur berbagi atau jalur spiritual. Jalur berbagi ini hanyalah untuk mereka yang yakin dan percaya karena jalur ini merupakan kebalikan dari jalur logika. Logikanya jika kita berbagi rezeki pasti rezeki kita akan berkurang. Tetapi bagi yang yakin, semakin kita berbagi rezeki dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta, maka rezeki semakin mengejar-ngejar kita. Beberapa caranya adalah dengan meningkatkan shalat dhuha, memperbanyak sedekah, zakat, membahagiakan orang tua dan anak yatim, dan masih banyak lagi hal lainnya. Mungkin sahabat bisa juga membaca Shalat Dhuha, Shalatnya Pengusaha.

Banyak sekali cerita-cerita luar biasa terkait mereka yang meningkatkan 3 jalur mereka di atas. Mungkin akan saya ceritakan di lain waktu saja ya, karena saya yakin teman-teman semua dapat membuktikannya sendiri atau mendapatkan pelajaran dari orang-orang di sekitar yang menerapkan prinsip ini. Saya sendiri selalu menerapkannya hingga sekarang dan rezeki saya seolah-olah terus menerus mengalir, baik itu berupa harta, tahta, ilmu, dan mudah-mudahan jodoh ^-^.

Bagaimana menurut kamu?Bagaimana cara agar kita selalu dikejar rezeki? :)

Ingin berkomunikasi lebih lanjut? Silakan Follow @ArryRahmawan