High Performance Me

Ajaran Islam tentang Produktivitas Hidup

Written by Arry Rahmawan

Catatan : Tulisan ini Merupakan Tulisan Khusus Edisi Bulan Suci Ramadhan

Dalam beberapa waktu terakhir, sudah jarang sekali saya mendengar kajian Islam yang membahas hubungan tentang muslim dan produktivitas hidup. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, sewaktu yudisium departemen teknik industri UI, saya beserta segenap staf pengajar dan dosen UI mendapatkan ‘siraman rohani’ mengenai betapa Islam itu sebenarnya sangat menekankan pemeluknya untuk bisa hidup produktif dalam berkarya.

Siraman rohani berupa ceramah singkat ini disampaikan oleh Ustadzah Poppy, masih alumni dari T. Industri UI angkatan 94. Walaupun ceramahnya 30 menit, namun selama penyampaian pesannya, Ustadzah Poppy membuat saya terus – menerus berpikir dan membuat diri saya bertanya – tanya kepada diri saya sendiri. Tulisan kali ini, merupakan intisari dan beberapa penambahan dari saya mengenai betapa Islam itu sangat tegas menyerukan kepada umatnya untuk produktif dari siraman rohani tersebut. Intinya terangkum dalam 3 poin, selamat membaca.

Pertama, Islam Menekankan Umatnya untuk Produktif Membaca

Bagi kita yang beragama Islam, sudah hampir pasti kita tahu bahwa ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, adalah QS. Al – ‘Alaq : 1 – 5. Ayat ini begitu banyak diceritakan dan dihapal. Coba kita perhatikan apa isi kandungan dari ayat ini.

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Walaupun banyak yang hapal, bahkan kita pun mungkin juga menghapalkan artinya, namun jarang bagi kita yang mungkin memaknai lebih dalam. Mengapa ya kira – kira ayat pertama yang turun adalah seruan untuk membaca? Apa yang membuat iqra’ atau membaca itu menjadi begitu penting?

Dalam beragam tafsir, ditemukan benang merah bahwa ayat pertama, yaitu seruan membaca karena salah satu bentuk kasih sayang Allah dalam mencerahkan manusia adalah dengan memberikan ilmu dengan jalan membaca. Namun, membaca di sini tidak secara sembarangan, melainkan harus dilandasi dengan nama Rabb mu yang menciptakan. Membaca, harus dilandasi dengan niat untuk beribadah dan mencari kebaikan. Inilah yang kemudian membuat manusia menjadi tahu dari yang sebelumnya tidak tahu.

Saya terinspirasi dari seorang shalih yang betul – betul memanfaatkan waktunya untuk bisa banyak membaca atau menulis,

Ibnu Aqil Al-Hambali rahimahullah berkata, “Aku menyingkat semaksimal mungkin waktu-waktu makan, sehingga aku memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek dari pada waktu memakan roti –tanpa dicelupkan ke dalam air-) bisa aku gunakan untuk membaca atau menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dzailuth Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 1/ 77).

Sungguh betapa orang shalih dan ulama zaman dahulu itu tidak main – main dalam meningkatkan produktivitas membaca mereka. Kalau kita baca banyak sejarah baik dulu maupun sekarang, orang – orang yang memaknai ayat ini adalah mereka yang menjaga produktivitas membaca mereka. Karena mereka tahu, Allah mengajarkan manusia melalui banyak perantaraan membaca.

Islam, sangat menekankan umatnya untuk produktif membaca dengan menyebut nama Tuhan. Terutama di bulan Ramadhan seperti ini, berapakah banyak ayat Quran, hadits, dan lembar demi lembar buku yang kita baca dengan menyebut nama Tuhan kita?

Baca Juga : 8 Cara Menumbuhkan Minat Baca atau Berapa Banyak Buku yang Harus Kita Baca?

Kedua, Islam Menganjurkan Umatnya Berlomba dalam Kebaikan

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Baqarah : 148 )

Ayat di atas, walaupun sederhana namun sebenarnya memiliki makna yang dalam. Dimulai dengan kita dibangunkan pada waktu subuh (bahkan tahajud), kemudian kita dianjurkan untuk bekerja, bertebaran di muka bumi, untuk bisa berlomba – lomba dalam kebaikan selama hidup di dunia. Bahkan dalam ayat tersebut kita diingatkan bahwasanya kita akan kembali kepada Allah pada waktu hari kiamat. Nah, saat kita kembali itu, kebaikan apa saja yang sekiranya sudah kita torehkan?

Waktu yang kita miliki terbatas, namun sadarkah kita ada orang yang bisa banyak sekali menghasilkan karya dalam sehari sementara ada lebih banyak orang yang menggunakan waktu mereka dengan sia – sia?

Islam dengan ajarannya yang begitu baik dan sempurna, memberikan motivasi bagi mereka yang senantiasa berlomba dalam kebaikan. Saya dengan istri saya, seringkali bahu membahu melawan godaan berat untuk tidur lagi selepas subuh. Mengapa? Agar kita bisa ‘mencuri start’ lebih awal untuk bisa berkarya dan berlomba dalam kebaikan.

Sewaktu mengisi seminar mengenai produktivitas, saya seringkali bertanya kepada peserta : “Selama Anda hidup, prestasi terbesar apa yang telah Anda torehkan?”

Menjawab sebuah pertanyaan yang hanya sebaris itu, seringkali membuat peserta bingung untuk menjawabnya. Bagaimana dengan Anda?

Baca Juga : Prinsip Praktis dalam Mengatur Waktu atau 5 Prinsip Mengatur Waktu dengan Cerdas

Ketiga, Islam Mengajarkan Untuk Memanfaatkan Usia dan Rezeki Secara Produktif

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Ashahihah no. 946)

Ketika kita sudah memahami bahwa dalam setiap detik kehidupan kita harus selalu membaca dan belajar, untuk kemudian berlomba – lomba dalam kebaikan, ternyata itu semua belum cukup. Betapa Islam sangat sayang kepada umatnya dan tidak ingin umatnya lalai dalam kehidupannya di dunia. Kenapa? Karena setelah dia meninggal dan dikumpulkan di hari akhir, maka akan ada 5 perkara yang akan ditanyakan,

  1. Untuk apa usianya digunakan?
  2. Untuk apa masa mudanya digunakan?
  3. Darimana hartanya didapatkan?
  4. Untuk apa harta tersebut digunakan?
  5. Apa yang telah diperbuat dengan ilmu yang dimilikinya?

Sudahkah kita menyediakan jawaban yang meyakinkan saat ditanya kellima hal di atas? Perhatikan sekali lagi, bahwa lima pertanyaan di atas, sesungguhnya adalah 5 pilar produktivitas hidup yang sangat lengkap. Beruntunglah bagi orang – orang yang sudah memanfaatkan waktu dan usianya dengan baik.

Uniknya, bukan hanya usia yang ditanyakan, tetapi juga harta dan ilmu yang kita punya. Di sini saya jadi berpikir kembali terkait harta yang sudah saya miliki. Biasanya, kita cukup merasa ‘aman’ ketika tahu bahwa harta kita adalah harta yang halal. Namun, kita sering lalai ketika menggunakannya dan cenderung bersifat konsumtif, boros, atau berlebihan. Padahal, rasul sudah mencontohkan kepada kita, harta yang beliau miliki diputar dalam perdagangan dan aset yang produktif, untuk kemudian digunakan dalam membiayai dakwah Islam. Jadi, tidak hanya usia, namun harta dan ilmunya pun produktif.

Baca Juga : Bagaimana Meningkatkan Produktivitas Hidup Kita? atau Bila Waktu Telah Berakhir

Sudahkah usia, harta, dan ilmu yang kita miliki digunakan secara produktif? Jika belum, alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan pada hari ini untuk memperbaiki diri kita. Terlebih saat ini masih bulan Ramadhan dan kita masih memiliki beberapa belas hari lagi sebelum Ramadhan berakhir. Yuk, jadikan bulan Ramadhan ini momentum diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih produktif! Semoga bermanfaat!

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan. Anda juga bisa curhat atau konsultasi langsung dengan saya melalui halaman berikut ini.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen serta peneliti di Universitas Indonesia mengenai inovasi, kewirausahaan, dan strategi bisnis yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!