Pengembangan Diri

Antara Kapasitas dan Nilai di Atas Kertas

Written by Arry Rahmawan

Alhamduillah pada hari Senin ini tuntas sudah saya melakukan evaluasi dan penilaian untuk mahasiswa saya di semester genap tahun ajaran 2017/2018. Total ada 5 mata kuliah yang saya evaluasi, di mana masing – masing mata kuliah bervariasi jumlah mahasiswa. Ada yang merupakan kelas besar (112 orang), ada juga yang merupakan kelas kecil berisikan 20 – 25 orang.

Ada satu hal yang paling membuat ‘malas’ jika dosen sudah capek – capek melakukan evaluasi: diprotes mahasiswa nya. Di tahun – tahun pertama sebagai dosen, seringkali setelah nilai mahasiswa dipublikasi, maka kemudian berduyun – duyun datang pesan cinta melalui WhatsApp dan SMS yang mempertanyakan validitas nilai mereka. Banyak yang bertanya dan tidak percaya kenapa nilai mereka tidak sesuai harapan. Padahal, sebagai dosen saya memegang prinsip bahwa penilaian dan evaluasi yang saya lakukan harus berhati – hati dan objektif. Saya adalah orang terbuka jika memang saya yang salah dalam memberikan penilaian (misalnya ada nilai yang terlewat untuk dimasukkan, padahal itu merupakan hak dari mahasiswa). Namun, yang membuat saya kesal adalah seringkali yang diminta mahasiswa adalah negosiasi nilai.

Negosiasi nilai yang dimaksud adalah mereka berupaya nego untuk diberikan nilai yang lebih tinggi. Misalnya adalah mengajukan tugas tambahan, untuk mendongkrak tugas mereka. Padahal kalau dulu dibandingkan dengan sewaktu zaman kuliah, dan zaman dosen – dosen saya, mereka percaya kepada dosennya, dan sungkan untuk mempertanyakan penilaian dari dosen. Pernah kolega saya dari kampus lain cerita. Sewaktu dia kuliah, dia bertanya ke dosennya apakah dia lulus mata kuliah tersebut atau tidak. Teman saya kemudian memberitahukan nomor mahasiswa kepada dosennya. Kemudian dosennya menjawab dengan enteng, “kamu gak lulus! Karena saya hapal nomor mahasiswa yang lulus.” Kebayangkah berapa banyak mahasiswa yang lulus, jika sang dosen hapal nomor mahasiswa? Berarti kemungkinan besar sangat sedikit, atau tidak lebih dari 5 orang. Bagaimana ekspresi kolega saya tersebut? Biasa saja. Sekarang sama – sama jadi dosen bersama saya.

Kalau hal tersebut terjadi pada mahasiswa sekarang, yang ada dosennya dituntut karena mengajarnya ga bener, tuh.

Sebagai dosen, tentu saja saya tidak seekstrim itu yang sampai meluluskan hanya 2 – 3 mahasiswa. Hal yang paling saya pertimbangkan di setiap kelas saya adalah apakah mahasiswa tersebut mengeluarkan usaha terbaik dalam mempelajari materi dan memahami isi dari mata kuliah tersebut. Saya juga memiliki instrumen evaluasi kuantitatif yang objektif, dan memeriksa sendiri setiap mata kuliah yang saya ampu. Jadilah kemudian kalau ada yang protes saya (agak) kesal.

Hal yang membuat saya kesal adalah kecenderungan mahasiswa sekarang yang lebih fokus pada atribut nilai di atas kertas, dibandingkan dengan kapasitas dan kemampuan yang sesungguhnya. Padahal sebagai seorang dosen dan pengajar, merupakan kewajiban untuk memastikan bahwa penilaian yang dilakukan itu objektif, agar hasilnya tidak bias. Hasil yang bias itu sangat merepotkan. Pernah suatu waktu saya mewawancara seorang yang IPK nya tinggi, mendapatkan nilai A yang banyak di mata kuliah (ketika saya masih menjadi seorang entrepreneur). Bangga sekali dia waktu itu. Tapi saat ditanya konsep – konsep dasar, tidak bisa! Saat ditanya bagaimana cara dia untuk memecahkan masalah, argumennya dangkal. Fungsi pendidikan dan akademik pun jadi tidak berguna apabila seperti itu. Katanya IPK bagus, tapi kapasitasnya tidak mumpuni. Ini adalah contoh orang yang mementingkan atribut di atas kertas, tanpa memperhatikan kapasitas pribadi.

Makanya ketika saya menjadi dosen, fase evaluasi menjadi sangat penting. Untuk mahasiswa yang memang terbukti rajin, berkapasitas, dan bekerja keras, berikan nilai yang terbaik. Untuk mereka yang malas – malasan, tidak memiliki pemahaman utuh, tidak berpartisipasi aktif di kelas, ya dikasih penilaian lebih rendah. Seringkali untuk tipe mahasiswa yang kedua inilah yang sering nego – nego nilai ke dosen.

Lalu, apakah salah jika mahasiswa fokus pada atribut nilai? Menurut saya pribadi, fokus yang utama adalah meningkatkan kapasitas diri. Nilai di atas kertas, mungkin bisa salah ditulis, namun kapasitas diri itu tidak akan pernah berbohong dan menunjukkan kualitas asli dari seseorang. Sebaliknya, hanya fokus pada atribut nilai tanpa meningkatkan kapasitas diri adalah menyesatkan.

Makanya saya selalu bilang ke mahasiswa saya sebuah pesan yang diberikan dosen saya dulu di beberapa kesempatan, “nilai yang saya kasih untuk kalian adalah amanah, dan kalian harus menyesuaikan kapasitas diri kalian paling tidak sesuai dengan nilai yang saya berikan.” Sehingga paradigma yang kita miliki harusnya dibalik: kalau dapat nilai bagus (A), bukannya senang, tapi merasa berat karena kita harus mempertanggungjawabkan nilai A itu. Itu pula yang terus menghantui saya ketika mendapatkan IPK 3.79 waktu S1 dan 4.00 waktu S2. Saya harus membuktikan dan meningkatkan kapasitas saya sesuai dengan amanah dosen – dosen saya waktu itu.

Alhamdulillah, beberapa tahun belakangan ini saya jarang sekali menerima nada protes dari mahasiswa. Protes boleh, minta naik boleh, namun saya memberlakukan sistem “battle proving”. Mahasiswa yang bersangkutan saya panggil, untuk saya tes kemampuannya dalam memahami materi. Saya berikan persoalan random, dan saya cek kemampuannya dalam memecahkan masalah. Jika pemecahannya benar, maka nilainya bagus. Jika pemecahannya salah, maka nilainya turun, karena sudah meminta waktu saya untuk menguji mereka kembali. Pernah ada 2 mahasiswa yang lolos di battle proving,karena ternyata mereka berkapasitas untuk mendapatkan nilai bagus. Kebanyakan dari sisanya bersyukur dengan yang didapatkan dan memilih tidak protes dengan penilaian yang diberikan. Oh ya, kasus battle proving ini berbeda konteksnya dengan meminta klarifikasi. Kalau meminta keterbukaan bagaimana saya menilai dan transparansi penilaiannya, insyaAllah untuk itu saya terbuka dengan senang hati.

Jadi sebagai penutup, pastikan bahwa kita fokus untuk selalu meningkatkan kapasitas diri, biar kemudian nilai angka yanag mengikuti. Sementara bagi yang sudah mendapatkan nilai bagus, jangan gembira dulu karena itu adalah amanah yang diberikan guru dan instruktur kita. Selamat mempertanggungjawabkannya.

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!