Inovasi dan Kewirausahaan Mata Ajar

6 Aturan Dasar Menggunakan Business Model Canvas

Written by Arry Rahmawan

Tahukah Anda bagaimana cara menggunakan Business Model Canvas (BMC) yang tepat?

Beberapa kali saya diundang sebagai narasumber untuk memberikan workshop tentang Business Model Canvas di berbagai institusi pendidikan maupun perusahaan. Beberapa kali pula saya menemukan fenomena seperti ini, “Pak, bisakah bagian intro untuk pengenalan BMC dipersingkat? Soalnya kebanyakan dari kami sudah membacanya.”

Karena positive thinking, akhirnya saya skip deh beberapa bagian dalam bagian ‘intro’ di business model canvas. Pada saat bagian pengisian business model canvas, barulah saya sadar bahwa ternyata saya terlalu positive thinking dan seharusnya saya jelaskan dulu bagaimana aturan mainnya. Beberapa kali pengalaman terjadi, dalam mengisi Business Model Canvas beberapa tim terlihat lancar dalam mengisi blok demi blok BMC, namun pada saat saya amati, -jreng jreng- ternyata apa yang diisikan masih banyak yang harus diperbaiki.

MENGENAL GROUND RULES ATAU ATURAN DASAR DALAM MENGISI BUSINESS MODEL CANVAS

Walaupun Business Model Canvas ini disukai oleh berbagai pelaku bisnis karena visualnya yang menawan dan sederhana, pada kenyataannya Business Model Canvas memiliki beberapa ‘aturan’ dasar yang seringkali luput, bahkan oleh beberapa instruktur / trainer / dosen yang mengajarkan tentang business model canvas ini.

Pengalaman waktu saya mengikuti pelatihan instruktur business model canvas dari Strategyzer, setidaknya ada 6 aturan dasar yang perlu diperhatikan saat mengisi ‘kanvas’ model bisnis. Keenam hal tersebut adalah,

ATURAN DASAR 1 – GUNAKAN STICKY NOTES UNTUK MENGISI BLOK

Aturan dasar yang sederhana, namun penting. Di setiap workshop Business Model Canvas, harap selalu sediakan sticky notes untuk mengisi setiap blok yang ada. BMC pun dicetak sebisa mungkin pada ukuran besar (minimal kertas A3). Kalau bisa malah A2 atau A1.

Mengapa menggunakan sticky notes? Hal ini supaya mempermudah apabila terjadi perubahan atau revisi – revisi dari isi setiap blok. Salah satu kegunaan BMC adalah untuk improving existing business model atau inventing new business model. Nah, karena umumnya BMC dikerjakan ramai – ramai oleh banyak anggota tim, seringkali setiap orang memiliki banyak gagasan yang berbeda. Sticky Notes memudahkan tim untuk menampung dan menyeleksi ide – ide yang diisikan di setiap blok. Sehingga, ide – ide tersebut nantinya tinggal dicabut tempel saja.

Makanya di setiap workshop BMC yang saya bawakan, saya selalu meminta kepada panitia untuk menyediakan BMC yang dicetak di kertas ukuran besar plus disediakan sticky notes. Saya menyarankan disediakan sticky notes yang memiliki 2 – 3 warna berbeda, untuk mengantisipasi perlunya ‘pembeda’ dari setiap isi dalam blok BMC.

Contoh penggunaan sticky notes pada business model canvas

Contoh penggunaan sticky notes pada business model canvas

ATURAN DASAR 2 – MULAI TANPA TERLALU BANYAK BICARA

Dalam workshop BMC, seringkali banyak tim yang ‘meleset’ dari target waktu saat mereka diminta presentasi BMC yang sudah mereka buat. Ternyata, letak penyebabnya karena setiap anggota dalam tim terlalu banyak bicara dan berdebat.

Diskusi memang penting, namun dalam merumuskan BMC yang terpenting adalah kita memetakan terlebih dulu model bisnis secara visual. Jadi yang penting, mulai dulu baru kemudian didiskusikan nanti. Just start, no blah blah blah.

Instruktur workshop BMC memiliki peran penting di sini, yaitu mengawasi jalannya diskusi setiap peserta dan memastikan jangan sampai terlalu banyak bicara yang menghabiskan waktu. Jika memang ada banyak pendapat, tuliskan satu per satu di sticky notes, tempel untuk kemudian baru didiskusikan.

ATURAN DASAR 3 – ANDA BOLEH MULAI DARI BLOK MANA SAJA

Bagi Anda yang sebelumnya sudah baca – baca tentang BMC dan ingin mengaplikasikan untuk bisnis atau organisasi Anda, mungkin muncul pertanyaan, “darimana blok mana saya harus memulai mengisi BMC ini?”

Beberapa kali saya mendampingin bisnis startup untuk merumuskan model bisnis mereka, selalu pertanyaan ini yang keluar,

“Apakah sebaiknya saya memulai dengan mengisi customer segment (CS) terlebih dulu atau value proposition (VP)?”

Pertanyaan itu sangat wajar terjadi, mengingat sebuah bisnis itu bisa berjalan kalau ada market atau inovasi dari value yang ditawarkan. Beberapa instruktur yang membawakan BMC mengatakan bahwa selalu harus mulai dari customer segment, sementara yang lainnya dari value proposition. Mana yang benar?

Ketika saya belajar dari Strategyzer, aturan ketiga dalam mengisi BMC justru adalah “Anda bisa mengisinya dari mana saja!”. Bukan hanya selalu dari CS dulu atau VP dulu, tapi kalau Anda bisa mengisinya dari key partners dulu ya tidak apa – apa.

Mengapa begitu? Ingat fungsi dari BMC? BMC berfungsi untuk memetakan bisnis model agar organisasi dapat meningkatkan daya saing dengan: (1) Melakukan inovasi / improvisasi terkait model bisnis yang sudah ada, atau (2) Menciptakan model bisnis baru yang lebih relevan.

Perdebatan antara VP dan CS seringkali terjadi dalam dunia startup yang notabene masih mencari pasar. Sementara pengalaman saya dalam menangani industri – industri mapan, seringkali justru mereka harus berangkat dari cost structure (struktur biaya) atau customer relationship (hubungan dengan pelanggan).

Jadi intinya, Anda bebas mengisi blok mana di business model canvas.

ATURAN DASAR 4 – DILARANG MENGGUNAKAN BULLETS

Menurut saya, selama menjadi narasumber untuk workshop Business Model Canvas, aturan ini yang paling banyak diabaikan. Entah dengan alasan ingin menghemat kertas atau sticky notes, seringkali dalam satu sticky notes diisi dengan banyak poin. Ini paling sering terjadi di bagian customer segment. Banyak peserta yang mengisi poin per poin (bullets) di satu sticky notes, misalnya:

  • laki – laki
  • usia 30 – 45 tahun
  • penghasilan > 5 juta

Sekarang coba bayangkan apabila customer segment yang fit dengan value proposition yang kita tawarkan ternyata bukan laki – laki, tapi perempuan. Bagaimana cara merevisinya? Kita coret, lalu diganti gitu? Kalau banyaknya satu atau dua, mungkin tidak apa – apa. Tapi kalau banyak? BMC kita akan menjadi sangat tidak rapi.

Maka agar secara visual lebih enak dilihat dan agar lebih mudah untuk melakukan revisi ketika model bisnis sudah valid (sudah dites), sebaiknya setiap satu lembar sticky notes diisi dengan satu poin saja.

Screen Shot 2017-05-03 at 1.18.59 AM

ATURAN DASAR 5 – HINDARI MENULIS TERLALU DETIL

Beberapa peserta yang sangat bersemangat membuat BMC, seringkali saya temukan mengisi BMC amat sangat detil. Untuk satu sticky notes, bisa mengandung 7 – 10 kata, bahkan sampai tulisannya sangat kecil.

Apakah itu baik? Ketika saya belajar dari Strategyzer, instruktur justru mendorong agar di setiap sticky notes kalau bisa hanya terdiri dari 1 – 3 kata saja. Cukup kata yang umum, kalau ada yang ingin dijelaskan lebih detil, bisa melalui lisan. Tips lainnya, Anda bisa mencoba menggunakan gambar untuk mewakili tulisan yang dimaksud, atau bisa juga menggunakan keduanya (gabungan antara gambar dengan tulisan) agar mengurangi bias pada gambar.

Mengisi business model canvas dengan sederhana

Mengisi business model canvas dengan sederhana

Hal ini bisa saya pahami karena business model canvas berbeda dengan business plan yang relatif lebih detil. BMC umumnya digunakan untuk seluruh anggota organisasi agar semuanya dapat memahami model bisnis organisasi secara umum. Bahasa kerennya, similar shared language – berbagi pemahaman bahasa yang sama. Jadi kalau misalnya saya seorang CEO yang mau menyemangati seorang admin tentang bagaimana pekerjaannya bisa mendukung keberlanjutan perusahaan, saya bisa mengomunikasikan model bisnis yang ruwet itu dengan BMC. Justru kalau setiap blok mengandung bahasa yang mendetail dan rumit, BMC hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu saja.

Jadi, usahakan setiap isi di masing – masing blok BMC terdiri dari 1 – 3 kata. Butuh lebih detil? Buatkan dokumen terpisah atau jelaskan dengan lisan sedetil – detilnya terkait dengan apa yang Anda maksud.

ATURAN DASAR 6 – SIMPEL TAPI TEPAT

Melanjutkan aturan dasar 5, di mana sebisa mungkin kita membuat segala sesuatunya sederhana. Namun, bukan berarti kita tidak bisa membuat penjelasan yang detil. Lho, maksudnya gimana? Hehe… Saya akan berikan contoh agar tidak bingung.

Misalnya saya akan ambil contoh studi Google. Apa pendapatan utama dari Google? Semua orang dan analis bisnis tahu bahwa Google mendapatkan utama dari iklan atau advertising.

Satu kata, simpel : advertising.

Namun, sebenarnya ada istilah lain yang lebih tepat untuk Google, yaitu: Lelang keyword pencarian. Misalnya saya di perusahaan A dan kompetitor saya di perusahaan B sama – sama ingin memasang iklan di kata kunci pencarian “jasa servis laptop depok”. Maka Google akan mencari penawar tertinggi untuk ditampilkan sebagai hasil pencarian teratas antara perusahaan A dan B.

Aturan 6 ini tetap membuat BMC kita sederhana, namun dengan istilah yang lebih jelas untuk menunjukkan sebenarnya model bisnis perusahaan / organisasi itu seperti apa.

Baik, cukup di sini dulu yang ingin saya sampaikan. Semoga bermanfaat untuk Anda yang saat ini sedang ingin mencoba mengembangkan bisnis dengan Business Model Canvas.

Bagi Anda yang ingin mendalami lebih lanjut apa itu Business Model Canvas, silakan baca beberapa ulasan saya berikut ini,

Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan

Founder, CerdasMulia Institute
Founder, SignifierGames.com
Lecturer & Researcher, Universitas Indonesia

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

GRATIS! Ayo Gabung di Komunitas Indonesia Berpijar!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen serta peneliti di Universitas Indonesia mengenai inovasi, kewirausahaan, dan strategi bisnis yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!