Tips Akademik

Bagaimana Cara Mengajar ke Generasi Milenial?

Written by Arry Rahmawan

Mengajar Generasi Milenial, Bagaimana Caranya?

Di kalangan dosen – dosen, perubahan pola perilaku anak – anak mahasiswa memang hangat dibahas. Karena mungkin sudah terbiasa dengan satu generasi tertentu, ketika melihat perubahan generasi kekinian, yang dikenal dengan generasi milennials, kadang bisa membuat geleng – geleng kepala menghadapinya.

Mulai dari pola pikir kritisnya, etikanya, perilakunya, kadang kita sebagai dosen berpikir, “kok anak – anak sekarang begini yaa?”

Sebagai dosen muda (beneran, saya masih muda… haha…), saya dihadapkan pada mahasiswa yang untungnya tidak berbeda jauh dengan saya. Kalau dibilang, angkatan saya lahir itu generasi Y. Masih generasi transisi antara generasi internet dengan generasi yang masih serba analog. Makanya kalau dulu masih sempat tuh main yang namanya petak umpet, bentengan, kelereng alias gundu, atau congklak. Kalau anak sekarang, kayanya sih ga kenal dengan mainan seperti itu.

Generasi milennials, tergantung sumbernya adalah generasi yang pada intinya adalah generasi yang lahir di zaman teknologi dan informasi. Mudahnya, umumnya lahir di atas tahun 1995. Generasi ini adalah generasi yang berlimpah secara informasi, dan harusnya lebih berwawasan dan kaya akan data karena mencarinya mudah.

Karena ‘gawatnya’ perubahan yang dihasilkan oleh generasi ini, peneliti dari Dalton State College, Christy Price, EdD mencoba untuk memetakan seperti apa karakteristik pembelajar dari generasi milennials. Penelitian ini diperkuat oleh Price, yang mencoba melakukan analisis kualitatif dari ratusan pembelajar generasi milennials untuk menemukan karakeristik umumnya.

Berdasarkan hasil penelitiannya, ditemukanlah ada 5 teknik untuk membuat pengajar atau dosen lebih berhasil dalam memberikan pelajaran kepada generasi milennials. Beberapa sudah saya coba, beberapa lainnya masih dalam proses karena susah. Hehe..

Berikut adalah caranya,

  • Research – Based Methods: Satu hal yang pasti, teknik lecture konvensional sudah sulit menarik minat milennials. Sebagai generasi multimedia, mereka lebih suka diberikan multimedia, kesempatan kolaborasi, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri. Di sinilah kemudian tugas dosen lebih ke arah menjadi fasilitator untuk ‘meluruskan’ jika ada sesuatu yang salah dipahami mahasiswa untuk mencegah terjadinya sesat pikir.

Di mata kuliah pemodelan sistem (semester 5), saya pernah mencoba untuk memberikan ‘tantangan’ kepada mahasiswa untuk memecahkan masalah di sebuah bisnis dengan membuat model sistem yang kompleksCaranya saya biarkan mereka melakukan eksplorasi, namun jika mereka stuck, mereka bisa bertanya kepada saya.

Hasilnya, ternyata hasil penelitian mereka sangat bagus dan bahkan diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi internasional. Sebagai contoh, hasil penelitian mahasiswa yang berjudul Optimizing The Distribution System of Fast Moving Consumer Goods Company Using Sweeping Methods with Discrete Event Simulation Approach dipresentasikan dalam 6th International Conference on Transportation and Traffic Engineering pada Bulan Juli lalu.

Hasil dari ‘tantangan’ yang diberikan dalam tugas kuliah

Hanya saja tantangannya, memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk riset bukan berarti melepas. Di sinilah letak peran dosen, yaitu sebagai pemberi klarifikasi dan mencegah mahasiswa untuk tidak sesat pikir atau salah logika dalam mengambil sebuah kesimpulan dari proses belajar.

  • Relevance: Generasi Milennials adalah generasi yang menghargai sebuah informasi karena ‘relevan’ dengan kehidupan mereka. Maka di sini peran dosen adalah ‘menyortir’ materi – materi yang ada di buku, mana yang relevan dan akan banyak digunakan dalam kehidupan mahasiswa dan mana yang tidak. Sudah bukan zamannya lagi seorang dosen ‘menyuapi’ seluruh materi yang ada di buku, tanpa mahasiswa tahu apa manfaatnya untuk mereka.

Hal – hal praktis yang saya lakukan untuk dapat terus membuat materi relevan adalah menghubungkan konsep materi dengan kasus – kasus terkini yang relevan. Misalnya ketika saya mengajar pengantar ilmu ekonomi, saya memicu mereka dengan pertanyaan, “apa sih makna dari “made in Indonesia” atau “made in China”?” Pertanyaan itu adalah pembuka kesadaran mengapa mereka perlu belajar tentang international trade, atau perdagangan internasional. Mereka pun menjadi mudah ingat konsepnya karena “Made in China” itu hampir selalu melekat pada setiap barang yang dimiliki mahasiswa. Termasuk kita juga, dosen – dosennya. Hehe..

  • Rationale: Tidak seperti generasi sebelumnya yang dididik dengan pola otoriter, para generasi milenial ini banyak yang dibesarkan dengan pola – pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi milenial ini akan cenderung respek kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan rasional.

Saya mendapati hal ini ada benarnya, ketika banyak mahasiswa saya yang mengeluhkan ada dosen yang memberikan tugas yang kurang make sense. Misalnya adalah menerjemahkan buku teks. Hal yang mereka tanyakan adalah : apa esensinya menerjemahkan buku teks? Beberapa dari mereka masih bisa menerima jika merangkum, tapi kalau menerjemahkan itu tidak rasional.

Nah, sebenarnya hal – hal seperti ini dapat dihindari apabila kita sebagai dosen memberitahukan apa esensi atau rasionalitas dalam memberikan tugas atau menerapkan kebijakan kelas. Pengalaman saya memberikan tugas kepada mahasiswa, selalu saya berikan pemahaman terkait manfaatnya untuk mereka dan akhirnya banyak dari mereka yang respek karena tugas dan hal yang dilakukan di kelas itu rasional.

  • Relaxed: Berdasarkan hasil penelitian, milenial lebih senang berinteraksi dalam kondisi belajar yang kurang formal atau lebih santai. Makanya dalam beberapa kasus, saya biasa saja kalau dipanggil ‘Kak’ atau ‘Mas’. Untuk beberapa dosen lain, mungkin itu menjadi sebuah masalah. Tapi buat saya, selama membuat mereka rileks dan bisa terbuka, maka proses belajar akan jadi lebih baik. Namun tetap, saya menerapkan batas – batas tertentu, apalagi dalam etika orang timur. Jika sudah melewati batas, maka mahasiswa akan mendapat teguran tegas.
  • Rapport: Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa milenial ini bersifat relasional. Milenial mungkin bukan ornag yang banyak teman dekat, tetapi sekalinya dekat mereka bisa sangat loyal. Saya pernah mencoba ini, misalnya dengan mengingat nama, menanyakan kabar, atau mendengarkan mahasiswa curhat. Hasilnya, mereka cenderung untuk respek, terbuka, dan berminat belajar tinggi jika memiliki kedekatan personal dengan dosennya. Pernah suatu ketika ada dosen senior yang bahkan meminta CV anak didiknya, menghapalkannya, dan menjadikannya bahan untuk membangun kualitas relasi antara dosen dengan mahasiswa. Hasilnya menurut saya sangat bagus dan kualitas pembelajaran pun jauh lebih meningkat.

Hal ini pernah dibahas juga dalam forum dosen. Sejauh manakah dosen boleh dekat dengan mahasiswanya? Berhubung ini masalah etika, silakan disesuaikan dengan adat masing – masing. Kalau di UI, salah satunya semua aktivitas konseling harus dilakukan di kampus dan di ruang terbuka. Di tempat lain, mungkin akan beda lagi.

Manakah hal paling sulit yang saya alami? Paling sulit itu membangun rapport. Banyaknya mahasiswa membuat saya kesulitan mengingat nama, dan juga membangun kedekatan emosional dengan mereka.

Namun intinya, mengapa saya menuliskan ini? Semata – mata kita kembalikan ke tujuan awal. Apa sih tujuan kita sebagai dosen dalam memberikan mata kuliah? Tentu agar peserta didik kita mencapai learning outcome yang diharapkan. Sudah cukup sampai di sana, titik. Kebetulan, karakteristik generasinya cukup berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan, ceramah konvensional sudah sangat tidak efektif dan cara 5R di atas adalah cara yang dianjurkan untuk membantu peserta didik mencapai target belajar mereka.

Menyesuaikan dengan kondisi milenial juga bukan berarti selalu dosen yang menyesuaikan, namun mahasiswanya juga. Tulisan ini saya tulis semata – mata karena banyak dosen yang mengeluh, “kok generasi sekarang begini sih?” namun dosen tersebut tidak melakukan perubahan apapun. Materi yang diajarkan, tugas yang diberikan, dan cara mengajarnya itu – itu saja, padahal dunia sudah berubah. Mahasiswa terus disalahkan, padahal memang pola pendidikan sudah berbeda. Kalau mau dicoba berubah sedikit, saya merasakan banyak mahasiswa yang menjadi respek karena sebagai dosen kita mencoba memahami mereka.

Buat mahasiswa milenial, Anda pun juga harus tahu diri. Tidak sedikit dari dosen Anda yang mencoba menyesuaikan dengan gaya Anda. Namun, Anda juga harus respek dengan mereka. Buat saya, attitude jauh lebih penting daripada ilmu yang Anda miliki. Banyak ilmu tapi tidak memiliki attitude, ya di manapun Anda berada akan sulit diterima. Namun, jauh lebih baik jika Anda sama – sama memiliki ilmu dan attitiude di atas rata – rata.

Semoga dengan ini akan tercipta sinergi untuk membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Referensi:

Price, C. (2009). Why Don’t My Students Think I’m Groovy? The Teaching Professor, 23 (1), 7.

Price, C. Five Strategies to Engage Today’s Students. Magna Online Seminar. 1 Nov. 2011.


Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah kewirausahaan, inovasi, dan strategi bisnis. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!