Achievement

Cara Menjaga Diri dari Hal yang Negatif

Menjaga Diri dari Hal Negatif
Written by Arry Rahmawan

Bagaimana cara kita menjaga diri dari hal yang negatif?

Kadang obrolan ringan bersama istri menjadi sangat menyenangkan. Setelah sibuk seharian di kantor, begitu pulang sekitar pukul 21.00, saya mengajak istri untuk sejenak makan bakso di pinggir jalan. Makanan murah dan sederhana. Kami asyik bercerita ke sana kemari, mulai dari hal – hal ringan hingga hal yang serius.

Hingga istri saya bercerita, “Mas, tadi kan aku coba searching kata “les privat” sama “buku anak”di Twitter. Masa yang keluar banyak gambar ‘gitu-gitu’. Aku jadi khawatir”

Sepertinya saya tidak perlu memperjelas maksud istri saya tentang gambar ‘gitu-gitu’, saya yakin Anda yang membaca ini pasti paham maksudnya. Lalu, mengapa istri saya khawatir? Karena istri saya sedang mengandung 7 bulan, dan berpikir bagaimana caranya nanti bisa memberikan pendidikan terbaik. Terbayang betapa mengerikannya dunia internet dan teknologi, bahkan mencari kata ‘buku anak’ memicu muncul gambar – gambar yang kurang senonoh dan sangat negatif.

Perlu diingat bahwa di banyak penelitian tentang otak, seringkali informasi awal yang ditangkap akan disimpan dalam memori, menimbulkan emosi, dan bisa tersimpan dalam alam bawah sadar. Semakin sering kita memasukkan informasi (baik kata, gambar, atau perkataan) yang negatif ke dalam otak kita, maka kemungkinan besar diri kita akan menjadi orang yang negatif. Mulai dari mengecilkan peran diri, hingga melakukan tindakan – tindakan kriminal.

Lalu diskusi pun berlanjut ke pertanyaan, “bagaimana caranya dulu kita bisa survive yang bisa diajarkan ke anak – anak kita nanti? Bagaimana caranya dulu orang tua dan guru – guru kita mengajarkan untuk menjaga diri dari hal – hal yang negatif?”. Hasil diskusi ini pun saya rangkum dalam tulisan kali ini. Kami pun berkesimpulan bahwa poin – poin ini harus kami sampaikan ke anak – anak kami kelak.

Apa yang biasa kami lakukan untuk menhaga diri dari hal – hal yang negatif?

Cara 1 : Mengetahui Apa itu Tujuan Hidup yang Sebenarnya

Ini adalah cara yang dipakai oleh istri saya, dan benar – benar ditanamkan oleh mertua saya sejak usia istri saya masih muda. Istri saya memiliki prinsip, bahwa sejatinya tujuan hidup sebenarnya adalah untuk mengabdi kepada Tuhan. Maka, pastikan kehidupan kita di dunia ini menjadi persiapan bekal untuk menghadap kepadaNya nanti.

Maka tidak heran sebelum usia 20 tahun, istri saya sudah menghasilkan beberapa karya. Seperti misalnya membangun Alkindi Daycare di Depok, kemudian membuat AlkindiKids, toko online mainan anak islami. Bahkan saat ini istri saya menjadi ketua di CerdasMulia Foundation, sebuah yayasan pendidikan yang menaungi PAUD dan TK di Depok. Padahal, usianya saat ini belum genap 23 tahun!

Saya jadi paham mengapa semangat dan dedikasinya tidak terhenti, karena yang dia pikirkan adalah mencari dan mengumpulkan bekal kebaikan sebanyak – banyaknya. Jika hidup adalah untuk mencari bekal, ngapain harus membuang waktu untuk hal yang tidak baik?

Hal ini pula yang mendorong saya untuk terus aktif menulis di blog ini (saat ini sudah tulisan ke 751). Blog ini salah satunya saya buat memang untuk ‘mencari dan mengumpulkan bekal’. Agar nantinya mudah – mudahan bisa menjadi amalan kebaikan saya saat menghadap kehadiratNya.

Cara 2 : Bersahabat dengan Orang – Orang Berprestasi

Ini adalah pembelajaran yang saya dapatkan ketika SMP. Pada waktu itu, saya sekolah di sebuah sekolah swasta. Namun saya baru menyadari bahwa di sekolah tersebut orang – orang berprestasi dan niat belajar bisa dihitung dengan jari. Hingga akhirnya saya larut dengan berbagai aktivitas teman – teman saya. Dimulai dengan sering bermain game, nongkrong, dan banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas tidak berguna.

Hingga akhirnya, saya mengalami kecelakaan hebat. Setelah itu saya memutuskan untuk memanfaatkan hidup dengan lebih baik (baca kisah lengkapnya di sini). Saya pun kemudian lulus dan bertekad masuk ke SMA terbaik di kota saya (pada waktu itu SMAN 1 Bogor). Di sekolah ini, saya masuk dan berjumpa dengan sahabat – sahabat yang luar biasa baik dan berprestasi. Prestasi saya pun pada akhirnya ikut terangkat. Benarlah kata orang, yang mengatakan apabila kita berteman dan berlatih bersama orang yang hebat, maka lambat laun kita juga menjadi hebat.

Tantangan pertemanan ini semakin menjadi sewaktu kuliah, di mana kita biasanya jauh dengan orang tua. Untunglah saya masuk ke Universitas Indonesia, menamatkan S1 dan S2 di sana. Berteman dengan orang – orang terbaik, yang hingga saat ini masih memberikan banyak pelajaran berharga kepada saya.

Apa tipsnya agar kita menemukan sahabat yang tepat? Buat saya, pastikan bahwa setelah kita bersahabat dengan seseorang, prestasi dan kebermanfaatan kita bertambah. Inilah tolak ukur sejati bagaimana memilih sahabat yang baik versi saya.

Saya sudah menuliskan beberapa tips memilih sahabat, mungkin bisa dilihat di beberap tulisan berikut ini:

Siapa tahu, tips di atas dapat membantu Anda menemukan sahabat yang lebih baik.

Cara 3 – Merasa Bahwa Diri Masih Kurang Amal

Guru saya pernah mengatakan,

“Jika suatu saat kamu ingin melakukan hal yang negatif, ingatlah bahwa hal tersebut sudah pasti masuk dalam hitungan dosa. Sementara jika kamu beramal/taubat, janganlah senang karena amalanmu/taubatmu belum tentu diterima. Maka dari itu, selalu perbanyak amal kebaikan dan hindari dosa.”

Nasihat ini sangat mengena ke saya. Ini juga saya share kepada istri saya. Intinya seperti ini:

  • Hal negatif sudah pasti masuk dalam hitungan dosa
  • Amalan baik atau taubat belum tentu mendapat pahala dan diterima (tidak ada tanda buktinya )

Nasihat guru saya ini membuat saya selalu berpikir bahwa neraca amal saya selalu defisit. Jadi saat saya tergerak ingin melakukan hal negatif, nasihat inilah yang mengingatkan saya. Siapa tahu, nasihat sederhana ini juga bermanfaat untuk Anda.

Cara 4 – Hukum Aksi Reaksi

Hukum aksi reaksi adalah cara menjaga diri yang dilakukan istri saya. Dia memiliki prinsip bahwa dalam hidup itu berlaku hukum kekekalan energi. Apabila kita melakukan hal positif, maka hal yang baik pula yang akan kita terima. Begitupun sebaliknya, jika hal yang kita lakukan negatif, maka hal negatif pula yang akan kita dapatkan.

Saya sendiri pun sebenarnya sudah mengalaminya, hanya tidak sesadar istri saya. Misalnya, sejak tahun 2012, saya rutin menulis di blog arryrahmawan.net ini. Banyak orang yang ragu dan bilang saya hanya membuang waktu dengan menulis di blog ini. Tapi waktu itu saya action saja. Saya berharap, semoga ilmu – ilmu sederhana yang saya bagikan mampu memberikan manfaat. Siapa sangka, tahun 2012 akhir (tidak sampai 1 tahun setelah membuat blog), ada seorang editor dari penerbit ternama yang menawarkan saya menulis buku karena membaca blog saya! Nah, kan… ternyata hal – hal baik yang kita berikan itu akan kembali lagi ke diri kita. Bahkan dengan berkali – kali lipatnya!

Hal sebaliknya juga terjadi di teman saya. Pernah saya memiliki teman yang sombongnya minta ampun (karena kekayaannya), sering merendahkan orang lain, hingga akhirnya tidak ada orang yang ingin berteman dengannya karena sangat pemilih. Hingga suatu saat, dia ditipu oleh teman sepermainannya yang juga orang kaya, dan hartanya hampir ludes. Dia pun menjadi stress, dan hampir saja kehilangan akal sehatnya. Terlihat jelas bahwa hukum aksi reaksi sedang bekerja.

Demikian hasil dari diskusi kecil kami di warung makan bakso pinggir jalan. Kami pun sadar bahwa waktu sudah semakin malam. Namun setidaknya 4 kesimpulan ini yang akan coba kami tanamkan ke anak kami nantinya. Semoga bisa membantu dia untuk memilih tidak melakukan hal – hal yang negatif.

Sebenarnya ada banyak hal menarik yang ingin saya bagikan dari diskusi – diskusi kecil kami. InsyaAllah ke depannya akan saya ceritakan secara bertahap.

Apakah Anda memiliki cara – cara lain untuk mengindari hal yang negatif dalam hidup? Bagikan pengalaman Anda bersama saya melalui kotak komentar di bawah!

Semoga bermanfaat untuk membuat hidup Anda lebih bahagia, berprestasi, dan berdampak bagi sekitarnya.

Salam CerdasMulia!

Arry Rahmawan
Self Development Coach
Direktur CerdasMulia Group

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang praktisi inovasi, kewirausahaan, dan bisnis yang senang berbagi pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!