High Performance Me

Cinta dan Beli Produk Indonesia

Sewaktu saya mengikuti Pesta Wirausaha TDA 2013 tanggal 10-12 kemarin, saya juga turut meramaikan expo (pameran) yang ada di sana. Saya sangat kagum sekali dengan berbagai macam stand-stand usaha dari para anggota TDA. Mereka memamerkan berbagai macam produk, prospek kerjasama, disertai dengan dekorasi konsep stand yang menarik. Saya belajar banyak sekali di sana.

Hari ini saya juga menyempatkan hadir di UI Student market, yaitu sebuah acara pameran serupa di mana produk-produk yang ditampilkan adalah produk yang dibuat oleh para mahasiswa. Berbagai macam produk unik dan menarik dipamerkan di sana. Saya geleng-geleng kepala karena Indonesia ini seharusnya bangga dengan potensi kreatif anak bangsanya yang sangat luar biasa.

Semua produk-produk yang saya lihat itu adalah beberapa contoh produk asli Indonesia. Produk yang benar-benar dibuat dari pengeluaran modal Indonesia, dibuat oleh orang Indonesia langsung. Percayakah Anda bahwa banyak sekali produk-produk Indonesia yang sebenarnya tidak kalah dengan produk-produk luar negeri?

Saya sendiri kagum dengan berbagai macam produk seperti batik, tas, sepatu, yang benar-benar asli Indonesia ternyata lebih bagus dari produk-produk luar negeri. Namun sayangnya, ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa mayoritas usaha yang ada di Indonesia mati di tahun pertama, 80% sisanya mati di tahun ke empat, dan hanya yang tersisa yang bisa bertahan terus menjual produknya hingga lebih dari 5 tahun.

Ada sebuah alasan yang sangat mudah menjelaskan mengapa produk Indonesia tidak laku di pasaran: kalah bersaing.

Ya, namun sayangnya bukan kalah bersaing secara kualitas, tetapi kalah bersaing secara harga dan kalah bersaing secara gengsi. Banyak dari orang-orang Indonesia sendiri yang merasa tidak level menggunakan produk dalam negeri. Mereka memilih menghabiskan ratusan juta untuk membeli sebuah tas dan parfum dari Perancis, baju dari Italia, dan jam tangan dari Swiss. Bahkan dengan naiknya daya beli masyarakat Indonesia sekarang ini, mereka memilih untuk berlibur ke Singapura, Thailand, Amerika, hanya sekedar share foto ke Facebook dan menunjukkan bahwa mereka sudah pernah ke luar negeri. Lebih bergengsi, daripada hanya sekedar berlibur ke Pantai di Lombok, misalnya.

Kekalahan selanjutnya adalah kalah bersaing secara harga. Seperti misalnya untuk sebuah kualitas yang sama, orang Indonesia pasti akan memilih barang yang lebih murah. Tidak peduli siapa yang membuatnya. Masalahnya adalah gempuran produksi massal (contoh dari Cina) hampir selalu membuat produk Indonesia kalah bersaing harga. Akhirnya orang Indonesia akan selalu memilih yang lebih murah. Kalau kualitas dan fitur yang dihasilkan sama, kenapa saya harus membeli lebih mahal? Sangat logis keputusannya.

Tetapi, tahukah Anda selama kita membelanjakan produk-produk luar negeri, sesungguhnya kita mengkonversi rupiah menjadi mata uang asing? Ya, kurang lebih kita menipiskan cadangan devisa kita sendiri. Kita ekspor uang kita ke luar negeri, agar dikonversi dan dinikmati oleh bangsa lainnya.

Saya teringat dengan sebuah nasihat dari Pak Hepi Trenggono, “Beli produk itu jangan melihat gengsi atau harga, tapi alasan ketika membeli adalah karena produk itu buatan Indonesia.” Ya, kita bisa lihat berbagai negara dengan ekonomi maju dan makmur adalah mereka yang mencintai produk mereka sendiri. Saya pernah ke Jepang, bertemu dengan orang Korea, mereka bangga menggunakan produk mereka. Mereka bangga walaupun harus membeli lebih mahal, mereka bangga karena produk itu adalah produk buatan bangsa mereka sendiri.

Ingin memajukan Indonesia secara ekonomi tidak perlu berpikir rumit jika memang kita tidak bisa. Cukup cinta dan beli produk-produk Indonesia. Banyak membeli produk buatan Indonesia, berarti Anda turut berjuang untuk memajukan perekonomian bangsa ini dan membuat bangsa ini semakin maju. Membeli produk Indonesia berarti meningkatkan peningkatan kualitas yang akhirnya menyebabkan orang luar negeri lah yang membeli barang-barang kita, sehingga kita bisa berbangga karena produk Indonesia diakui di mata dunia. Jika Anda ingin jadi pemain, ini bisa jadi kesempatan untuk Anda menjadi pengusaha dan saling menerapkan serta menyuburkan gerakan beli produk Indonesia, seperti yang saya lakukan di Komunitas TDA Kampus.

Bagaimana menurut Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah kewirausahaan, inovasi, dan strategi bisnis.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!