Thursday , 23 October 2014
Home » Pengembangan Diri » Entrepreneur Based Leadership – Kepemimpinan Berbasis Wirausahawan

Entrepreneur Based Leadership – Kepemimpinan Berbasis Wirausahawan

Jika ditanya tiga sosok pemimpin yang menjadi role model saya untuk saat ini, maka saya hanya menyebut 4 nama: Dahlan Iskan, Joko Widodo, Jusuf Kalla, dan Jamil Azzaini. Empat nama yang dalam kepemimpinan konteks saat ini dinilai begitu menggebrak, menginspirasi, beda dari yang lain, dan yang terpenting adalah tetap sederhana dan rendah hati. Apa persamaan di antara ketiganya? Ya, ketiganya sama-sama memiliki latar pengusaha yang kuat.

Berpikir taktis, kreatif, cepat, berani mengambil resiko, dan berorientasi tindakan. Itulah beberapa ciri dari kepemimpinan dengan basis kewirausahaan ini. Saya juga jadi teringat ketika pada waktu pemerintah mampu melakukan konversi dari minyak tanah ke gas ukuran kecil. Menurut saya itu adalah sebuah tindakan konversi yang berani. Ternyata di balik itu semua ada sosok Jusuf Kalla, yang juga seorang pengusaha.

Kalau saya boleh mengutip analisis dari Anies Baswedan yang mengatakan bahwa saat ini Indonesia sudah mengalami 4 fase kepemimpinan. Pertama adalah fase aristokrasi, kedua adalah fase intelektual, ketiga adalah fase militer, dan keempat adalah fase reformasi, yang sudah kita sama-sama rasakan. Sementara bagaimana dengan fase kepemimpinan masa depan? Diprediksikan fase kepemimpinan masa depan yang juga merupakan fase kepemimpinan kelima, merupakan kepemimpinan yang dilakukan dengan basis entrepreneurship atau basis kewirausahaan.

Maka dengan melihat tren kepemimpinan yang ada sekarang, saya justru semakin yakin bahwa ke depannya orang-orang akan lebih percaya pada pemimpin dengan basis kewirausahaan yang kuat. Saat ini pun sudah terjadi, di mana para pemimpin dengan basis kewirausahaan mampu membuat gebrakan-gebrakan baru dalam kepemimpinan mereka. Perubahan-perubahan positif yang mendasar namun tidak terpikirkan. Sebuah perubahan yang menurut orang tidak mungkin dilakukan. Perubahan yang memberikan harapan besar bahwa Indonesia masih bisa dan mungkin untuk menjadi lebih baik lagi.

Maka berdasarkan keyakinan ini, saya pun menetapkan untuk membentuk karakter-karakter seorang pengusaha dalam diri saya sejak dini. Karakter yang mungkin akan sulit dipahami bagi mereka yang memahami politik hanya dalam satu sisi. Karakter yang mungkin akan sulit bagi mereka yang memahami bahwa politik hanya sekedar jabatan saja. Inilah sebuah titik balik setelah saya pulang dari World Leadership Conference 2011 di Singapura. Menjadi seorang wirausahawan muda.

Setelah membaca berbagai macam buku tentang bisnis dan kewirausahaan serta dengan keberanian dan modal yang terbatas, saya mencoba menjual keterampilan saya dalam presentasi dan public speaking dengan membentuk lembaga training CerdasMulia. Saya ingat lembaga training ini diawali dari kolaborasi 3 orang, saya dan dua orang teman. Lembaga Training CerdasMulia memiliki cita-cita besar, yaitu menginspirasi 2.000 orang (memiliki 2.000 orang alumni) dalam setahun, mendapatkan kepercayaan dari 50 client berbeda, dan mendapatkan omzet hingga nominal tertentu.

Sebagai pendiri, saya juga ditunjuk sebagai presiden (ketua timnya). Saya langsung menerapkan beberapa kebijakan taktis, seperti membuat materi training, kumpul secara intensif, memperkuat branding, membuat website, membuat proposal untuk diantar ke sekolah-sekolah, dan memastikan bahwa kualitas trainer-trainer yang ada sesuai dengan standar yang ditetapkan. Ketika rasa lelah dan capek itu datang, saya selalu teringat dengan sosok role model saya yang mampu berpikir taktis, melakukan perubahan yang jauh lebih besar dari apa yang saya lakukan. Saya harus semangat. Pernah beberapa kali saya tertipu client, yang sudah menandatangani kontrak namun pada akhirnya membatalkan secara sepihak. Di sinilah pentingnya letak sebuah visi yang besar, di mana proses akan menjadi sangat dinikmati ketika kita mengetahui ke arah mana kita akan menuju.

Setiap hari tidur 3 jam dan jarang pulang ke asrama adalah masa-masa yang betul-betul tidak bisa saya lupakan pada waktu itu. Soalnya saya juga harus menyeimbangkannya dengan kuliah. Pada waktu itu saat siang saya kuliah, malamnya mengerjakan tugas dan menyelesaikan konsep-konsep dasar CerdasMulia yang baru berdiri. Saya tidak tahu lagi berapa kali waktu itu saya sering tidak hadir mabit asrama karena tertidur di kosan teman. Berat badan saya pun turun, tetapi saya sangat senang dan bahagia. Hidup yang menantang.

Alhamdulillah atas izin Allah, CerdasMulia mulai dikenal di masyarakat luas dan brand ini sudah dikenal di kawasan jabodetabek. Kami sering sekali mendapatkan order-order untuk menangani training-training besar baik di dalam kota maupun di luar kota. Dari 3 orang, berkembang menjadi 8 orang. Sampai sekarang saya masih memegang kepemimpinan di lembaga training kecil ini dan alhamdulillah sekarang sudah memiliki kantor sendiri yang letaknya di Kukusan Kelurahan. Informasi paling aktual tentang usaha dan training CerdasMulia bisa diakses di http://arryrahmawan.net dan http://cerdasmulia.com

Berawal dari situ kemudian saya diajak oleh Ibnu Abdul Aziz, saudara saya di angkatan V untuk sama-sama membantu membangun kembali Center for Entrepreneurship Development and Studies (CEDS) Univesitas Indonesia, sebuah unit kegiatan mahasiswa resmi Universitas Indonesia yang bergerak di bidang kewirausahaan sebagai Vice President. Di sinilah kami concern membagi pengalaman dan saling belajar bagaimana bukan hanya mengembangkan usaha masing-masing, tetapi juga kepemimpinan dan karakter di dalam pengembangan usaha tersebut. Maka saya dan ibnu pun menetapkan visi dengan jelas, yaitu setiap anggota harus memiliki bisnis dan memiliki jaringan yang luas serta dapat menjadi pemimpin yang berkarakter. Saya pun memasukkan program leadership coaching dan entrepreneurship reward bagi mereka yang sudah memiliki bisnis sekaligus untuk melatih kepemimpinan mereka. Sebuah inovasi yang sebenarnya mendasar tetapi baru ditetapkan saat ini. Dampaknya luar biasa, saat ini bisnis anak-anak CEDS berkembang pesat dan tidak hanya itu tetapi mereka juga menjadi seorang pengusaha yang berkarakter. Pengusaha muda yang berani, jujur, dan selalu berpikir untuk mengembangkan manfaat.

Saya dan Ibnu kemudian berpikir, saat ini memang banyak sekali pengusaha muda, tetapi bagaimana cara agar bisa memastikan kalau karakter-karakter kepemimpinan dasar yang kami pelajari di PPSDMS bisa tertanam secara lebih luas lagi? Kami pun segera mencari komunitas-komunitas kewirausahaan yang sudah mapan agar kami bisa bekerjasama untuk melaksanakan program kami. Kami melakukan assesment seperti kesamaan visi dan integritas sebagai pengusaha dan pilihan itu jatuh pada Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Sebuah komunitas kewirausahaan yang menurut saya seimbang mengajarkan kesuksesan bisnis itu dari dua hal: profesional dan spiritual.

Gagasan yang kami pikirkan sederhana sekali, yaitu menggagas Komunitas TDA Kampus nasional yang menggunakan visi TDA namun diterapkan khusus untuk para mahasiswa. Akhirnya dimulailah perjalanan ditemani dengan Kak Beky yang aktif di Komunitas TDA Depok. Pertama kita pergi ke TDA Depok, kemudian bertemu dengan presiden TDA Pusat, hingga kita sambangi founder dari Komunitas TDA itu sendiri, Pak Roni Yuzirman. Alhamdulillah usulan kami di approve.

Berawal hanya dari sebuah wacana dan ide kecil, kami langsung aksi dengan melakukan oprec, memperkuat sistem, saya sendiri membuat logo pembaruan TDA Kampus, website, sekaligus AD/ART nya secara lengkap dan dalam jangka waktu 3 bulan saja Komunitas TDA Kampus ini langsung Go National dan sudah memiliki lebih dari 200 member di seluruh Indonesia. Alhamdulillah pengembangan di daerah-daerah sangat antusias. Setelah kemarin membuka peluncuran Komunitas TDA Kampus Semarang dan Bandung, sekarang sedang bersiap untuk membukanya di Lampung dan Palembang. Kegiatan mentoring bisnis, pengajian, mastermind, kunjungan tokoh, peningkatan prestasi pun kemudian dilakukan. Lebih lanjut silakan buka http://tdakampus.com

Saya bukanlah seorang yang expert di bidang teori kepemimpinan, tetapi saya merasakan saat berkomitmen penuh untuk menjadi seorang entrepreneur, ada sebuah dorongan tersendiri untuk selalu melakukan aktivitas dengan karakter-karakter pengusaha tersebut. Di mana saat menjadi pemimpin, ternyata karakter itulah yang membedakan dengan pemimpin yang lain. Memiliki sebuah gagasan, berani mengambil resiko, mewujudkan gagasan dengan taktis dan kreatif, dan saya yakin memang seperti itulah pemimpin-pemimpin yang dibutuhkan di masa depan nanti. Ini terbukti dalam kehidupan saya sendiri yang akhirnya alhamdulillah terlahir berbagai macam jejak-jejak capaian semenjak memutuskan menjadi wirausahawan. Maka, mengapa tidak menanamkan karakter dan nilai-nilai kewirausahaan mulai sejak saat mahasiswa? :D

About Arry Rahmawan

Arry Rahmawan merupakan pelatih dan pembicara publik di bidang pengembangan potensi, kewirausahaan, dan life skills. Menamatkan pendidikan formal S1 Teknik Industri Universitas Indonesia dengan kekhususan rekayasa sistem, pemasaran industri, dan service excellence. Saat ini mengenyam pendidikan S2 di Jurusan yang sama dengan kekhususan dinamika bisnis dalam organisasi. 6 buah buku telah ditulisnya, dan buku terakhirnya berjudul Studentpreneur Guidebook (GagasMedia) merupakan buku best-seller nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Konsultasi Gratis
Pesan kamu sudah dikirim! Terima kasih :)



8 + 3 =