High Performance Me

Jadilah Bangsa yang Kreatif, bukan Bangsa yang Menghafal

indonesia kreatif
Written by Arry Rahmawan

INI bermula dari materi pelatihan kreatif yang saya berikan kepada para peserta training (siswa SMP dan SMA). Saya meminta mereka mengeluarkan kertas, kemudian menuliskan setiap jawaban dari pertanyaan saya dalam waktu kurang dari 10 detik. Mereka terlihat sangat antusias.

Pertanyaan pertama, Berapa hasil dari 8 x 9?

Pertanyaan kedua, Siapakah penemu mesin uap?

Pertanyaan ketiga, “Buatlah dua baris puisi dengan tema ‘Ikat Pinggang’!

Coba tebak, pertanyaan berapa yang nyaris tidak bisa dijawab oleh peserta?

Ya, benar! Pertanyaan nomor 3! Pertanyaan nomor 3 merupakan pertanyaan yang berbeda dari pertanyaan yang lain karena bukan merupakan pertanyaan menghafal. Pertanyaan nomor 3 adalah pertanyaan mengenai mengembangkan pikiran kreatif. Hampir 99% peserta training saya selalu kesulitan menjawab pertanyaan dengan tipe nomor 3 tersebut.

Pola Pendidikan Otak Kiri

Saya bersyukur sekali sekarang ini pendidikan di Indonesia sudah mulai agak mendingan untuk bisa menerima ekspresi (dan bahkan kesalahan) dari kreativitas. Namun saya juga menyayangkan ternyata masih banyak sekali sekolah yang cenderung mempertahankan gaya lama. Maksudnya adalah sekolah yang hanya mengukur dan mengajarkan siswanya untuk bisa menghitung dan menghafal. Ya, hanya dua saja, menghitung dan menghafalkan. Bahkan pernah ada kasus galaknya guru dalam mengajar hingga memukul jika anak tersebut tidak bisa mengerjakan soal matematika atau tidak hafal tanggal-tanggal sejarah di Indonesia. Keterlaluan sekali.

Seperti yang kita ketahui, secara mental otak kita dibagi menjadi dua belahan yaitu belahan kiri dan kanan, Bagian kiri lebih cenderung besifat logis, matematis, dan sistematis. Sementara bagian kanan lebih eksrpesif, kreatif, dan inovatif. Mana yang lebih penting? Keduanya. Mana yang lebih sering dikembangkan di sekolah? Otak kiri.

Maka sudah saatnya Indonesia sadar dengan segala aspek dinamika pendidikannya bahwa pengembangan aspek bagian otak kanan harusnya terintegrasi dalam pendidikan. Sehingga pendidikan tidak lagi hanya sekedar menghitung dan menghafal, tetapi juga ditambah dengan menemukan dan mengembangkan sesuatu.

Contohnya Mana?

Mereka yang terbiasa dengan pendidikan yang timpang di otak kiri biasanya akan kesulitan jika diberikan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut kreatifitas. Seperti membuat puisi, cerpen, atau melukis, misalnya. Mereka biasanya akan takut untuk berpikir kreatif, karena bagi mereka kebenaran akan sesuatu itu mutlak dan harus ada standarnya. Maka dari itu jika mereka disuruh untuk mengerjakan hal baru, mereka akan bertanya, “contohnya mana?”

Untuk mengembangkan kreativitas, penyakit yang paling kronis biasanya adalah karena ‘takut salah’. Rasa takut salah ini adalah perasaan paling berbahaya karena membuat orang tidak berani untuk mengemukakan ide-ide brilian mereka.

Sudah saatnya pendidikan bukan lagi melulu untuk mengingat dan menghafal, tetapi juga menemukan dan mengembangkan. Betapa seringnya kita takut untuk mengembangkan teori yang ada karena takut salah dalam sekolah. Padahal, belum tentu salah dan bisa jadi justru kita malah menemukan rumus atau ilmu-ilmu baru. So, jangan takut untuk berpikir berbeda.

Era Menghitung dan Menghafal Sudah Lewat

Kita masih bisa berkata bahwa yang namanya menghitung dan menghafal di tahun 60 – 90an itu sangat penting, tetapi semakin ke sini kita semakin disadari bahwa semakin banyak sekali ternyata hal yang harus dihafalkan. Tetapi jika kita sadar, justru di era teknologi dan informasi sekarang ini yang harus dikembangkan adalah menemukan dan mengembangkan itu tadi. Kenapa? Karena saat ini semakin banyak ditemukan perangkat canggih untuk membantu perhitungan, dan semakin banyak sekali sumber informasi yang bisa digali dibandingkan dulu.

Saya menyadari ini saat kuliah di beberapa mata kuliah yang memerlukan banyak sekali hafalan. Kebetulan, sang dosen adalah orang yang bijak. Beliau memberikan soal ujian di mana mahasiswa boleh untuk membuka sumber informasi apapun: internet, buku, modul, dan sebagainya. Tapi ternyata mahasiswa nyaris tidak mungkin untuk menjawab soal tersebut secara langsung saat membuka buku karena soal itu harus dijawab dengan menemukan dan mengembangkan argumentasi valid yang dibuat sendiri dari berbagai sumber.

Berhubung banyaknya informasi yang kita peroleh, maka di era abad 21 ini terjadi sebuah revolusi belajar yang sangat signifikan, yaitu peserta didik bukan hanya wajib mengusai ilmu hitung dan hafalan yang baik, tetapi juga mampu mengumpulkan, menyusun, mengembangkan, dan menemukan hal baru dari informasi yang banyak tersebut. Di mana itu membutuhkan kreativitas yang tinggi.

Jadilah Bangsa yang Kreatif, Bukan Bangsa yang Menghafal

Menjadi kreatif sulit? Ya, karena memang rata-rata pendidikan di Indonesia tidak berfokus untuk mengembangkan itu. Tapi, dari pengalaman saya pribadi, kreativitas itu adalah sebuah keterampilan yang bisa diasah dan ditingkatkan. Caranya adalah tentu memperbanyak latihan. Latihan yang digunakan bisa bermacam-macam, bisa dengan menggambar, melukis, mencampur warna-warna, melakukan suatu hal yang baru, membaca buku-buku yang menarik, dan lain sebagainya. Kemudian, cobalah untuk mengembangkan sesuai dengan gayamu sendiri. Satu hal yang pasti, untuk menjadi bangsa yang kreatif adalah percaya diri dan berani untuk mencoba. Bangsa yang menghafal adalah bangsa yang hanya bisa menjadi pengikut, bangsa yang kreatif adalah bangsa yang terlahir sebagai pemimpin untuk diikuti.

Jadi, siapkah Anda menjadi bangsa yang kreatif? Apa hasil kreasi terbesar Anda yang really out of the box?

Ingin berkomunikasi lebih lanjut dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

 

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan memiliki impian menjadi pendidik inovatif dan berdampak untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia Indonesia. Aktivitasnya saat ini adalah sebagai dosen di Universitas Indonesia, pengembang pembelajaran kreatif di SignifierGames.com, dan konseptor pelatihan inovatif di CerdasMulia Institute.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!