Tips Akademik

Makna dan Esensi Berkurban di Hari Raya Idul Adha

Written by Arry Rahmawan

Apakah Makna dan Esensi Utama dari Berkurban di Hari Raya Idul Adha?

Sore hari tadi, saya melaksanakan shalat ashar berjamaah di Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok. Ada sebuah percakapan menggelitik yang saya dengar dari dua orang jamaah,
 
“Bro, lu qurban di mana tahun ini?”
“Tahun ini gw ga qurban bro. Gue lagi ga ada duit.”
“Oh gitu… apa yang bisa gue bantu ni biar lo qurban?”
“Lah, qurban itu kan sunnah ya masbroo…. gue tahun depan aja deh yaa… Lagi ga mampu beli qurban nih. Doain aja tahun depan ada.”
 
Percakapan tadi tidak sengaja saya dengar. Hal yang menggelitik saya adalah di mana orang yang satu peduli banget mau ngebantu biar temennya bisa qurban. Nah, yang satu lagi malah nolak karena lagi ‘ga mampu’. Toh, qurban itu juga sunnah. Dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan juga tidak apa – apa Begiu kira – kira. Jadi ya itu sah – sah aja menurut saya.
 
Namun, jika memang berqurban itu ‘sekedar’ melaksanakan sunnah, maka saya sangat salut dengan berbagai cerita tentang orang yang secara materi tidak mampu, tapi dia bisa berqurban. Misal, kisah Mak Yati seorang pemulung di Jakarta Selatan yang setiap hari hanya berpenghasilan Rp25,000 dengan mengais sampah ibukota. Menabung setiap hari Rp1,000 sampai Rp1,500 hingga akhirnya di Idul Adha lalu bisa membeli seekor kambing qurban. Bangganya bukan main.
 
Ada lagi kisah yang fenomenal dari Bambang di Pasuruan, seorang tukang becak yang bisa berkurban sapi setelah lima tahun menabung. Sehari – hari dia menabung Rp20,000 – Rp50,000 dan dikumpulkan lima tahun sehingga bisa qurban sapi. Bayangkan, tukang becak bisa qurban sapi sendirian, ga bertujuh!
 
Jika memang semua itu sunnah, kenapa sampai ada orang – orang yang ‘memaksakan’ diri untuk qurban, padahal secara ekonomi ternilai kurang mampu? Hukumnya juga ‘cuma’ sunnah, lho.
 
Jawaban ini saya dapatkan sewaktu mengikuti kajian dari Ust. Arsal di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) pekan lalu. Esensi berqurban, pada dasarnya terletak bukan pada bagi – bagi daging qurban. Esensinya adalah mengikuti jejak nabi Ibrahim untuk ‘mengalahkan rasa takut’ agar bisa semakin dekat dengan Allah SWT.
 
Bayangkan, dalam riwayat disebutkan Nabi Ibrahim yang sudah begitu lama terpisah dari Ismail anaknya, mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih anak yang begitu sangat disayanginya. Seorang anak laki – laki yang begitu diidamkan sejak lama, hingga akhirnya Allah menguji Ibrahim untuk menyembelihnya. Terbayangkah betapa besar rasa takut yang dihadapi Ibrahim? Pertama, tentu takut kehilangan anaknya. Kedua, bahwa penyebab kehilangan anaknya itu adalah dirinya secara langsung. Ketiga, bahwa Ibrahim takut mendapat murka Allah jika tidak melaksanakan perintahNya.
 
Sebuah pertimbangan yang sangat rumit. Hingga akhirnya Ibrahim memutuskan untuk ‘mendekat’ kepada Allah dengan ‘mengorbankan’ anaknya. Hingga anaknya diganti oleh Allah dengan sebuah sembelihan yang besar. Peristiwa ini adalah salah satu dari peristiwa yang membuat Allah begitu cinta kepada nabi Ibrahim, sang ayah para nabi. Saking cintanya, hingga tersemat shalawat di setiap muslim shalat dalam tahiyat bersama dengan doa untuk Nabi Muhammad SAW.
 
Jika esensi qurban terletak pada menghadapi ‘rasa takut’, maka dalam konteks saat ini kita bisa lihat jika Allah ingin ‘ngetes’ setiap muslim apakah dia bersedia melepaskan hartanya untuk mendekat kepada Allah. Jika nabi Ibrahim diuji dengan melepas anak yang disayanginya, kita diuji dengan melepas harta yang kita cintai.
 
Melepas harta ini tidaklah mudah, bahkan untuk orang mampu sekalipun. Selalu muncul rasa takut untuk melepas harta agar bisa berqurban. Mulai dari mengurangi tabungan, takut nanti terkena musibah dan tidak punya dana cadangan, hingga berbagai macam alasan logis lainnya. Apalagi kalau pasangan muda yang sebentar lagi ingin punya anak, akan berpikir lebih baik uangnya untuk persiapan melahirkan daripada berqurban.
 
Tapi ya justru di situ esensi qurbannya. Seperti Nabi Ibrahim, apakah kita mampu menghadapi rasa takut untuk melepas apa yang kita cintai?
 
Menghadapi rasa takut ini tidak berhenti sampai di situ. Nabi Muhammad SAW bahkan memberi contoh dan mengutamakan bagi yang berqurban untuk POTONG SENDIRI. Nah, sudah kita beli tuh qurban, eh kita sendiri yang disuruh potong. Mengalirkan darah dari hal yang kita sayangi tadi. Pun seandainya tidak sanggup, boleh minta tolong namun DISAKSIKAN proses pemotongannya dan memastikan darah dari qurban kita mengalir. Di sinilah kemudian kita ‘mendekat’ kepada Allah dengan mengorbankan sesuatu yang kita sayangi.
 
Di sinilah kemudian saya memandang qurban bukan sekedar sunnah untuk yang mampu/tidak, namun lebih kepada kemauan untuk mendekat kepada Allah itu sendiri dengan meneladani keberanian nabi Ibrahim. Berani mengorbankan hal yang dicintai dan menyaksikan sendiri bagaimana kita melepas hal yang dicintai tersebut.
 
Bagi yang paham esensi ini, qurban yang di awalnya sulit, bisa jadi akan sangat mudah. Saya menyaksikan ada beberapa mahasiswa saya yang saat mereka tidak punya uang sama sekali, mereka rela menjual aset yang mereka miliki. Ada yang posting di FB, menjual iPhone atau laptop yang dimilikinya agar bisa qurban. Sisa uangnya, mereka belikan barang dengan spek yang lebih rendah. Standar ‘mampu’ bagi mereka dilihat bukan dari uang cash, tapi dari aset yang mereka punya. Selama ada aset, di situlah mereka merasa ‘dites’ Allah apakah siap melepaskan aset yang ada pada diri mereka.
 
Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H. Semoga Allah menerima setiap Qurban yang kita persembahkan untuk mendekat kepadaNya.
 
Salam,
Arry Rahmawan

Personal Development Trainer
Direktur CerdasMulia Group

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Untuk mengundang Arry Rahmawan memberikan seminar atau pelatihan di institusi Anda, silakan hubungi 085640879848 (Call/SMS/WA) atau silakan kirimkan email ke arry.rahmawan@gmail.com

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah kewirausahaan, inovasi, dan strategi bisnis. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!