Keilmuan

Mendesain Model Bisnis yang Kompetitif dengan Mereduksi Cost Structure

Written by Arry Rahmawan

Beberapa waktu lalu baru saja kita mendengar sebuah tempat nongkrong asyik di ibukota akhirnya ditutup. Padahal dulu waktu masih mahasiswa beberapa kali saya seringkali mampir ke sana untuk menyelesaikan naskah tugas akhir saya. Yap, itulah 7-11 atau yang biasa disebut sevel (seven eleven).

Banyak sekali analis bisnis yang mengemukakan penyebab sevel runtuh. Beberapa tulisan yang saya baca antara lain analisa ringan dari Yoddya Antariksa yang mengemukakan bahwa sevel ini mengalami kebocoran biaya karena seringkali orang yang ke sana cukup membeli sebuah barang murah lalu nongkrong berjam – jam lamanya sambil menyedot fasilitas wifi yang ada.

Analisa lain dari Prof. Rhenald Kasali mengemukakan bahwa runtuhnya sevel karena rumitnya birokrasi dan perizinan dari regulator. Sevel yang memiliki fungsi ganda sebagai ritel dan restoran seringkali terhambat birokrasi yang hanya mengizinkan sevel untuk menjadi salah satunya.

Saya sependapat dengan prof. Rhenald yang mengatakan bahwa regulator perlu untuk tampil gesit untuk memfasilitasi banyaknya model bisnis baru yang berkembang. Namun, saya berpendapat runtuhnya sevel sebenarnya bukan dilihat hanya dari sisi regulator tetapi model bisnisnya sendiri yang tidak kompetitif.

Salah satu yang membuat model bisnis sevel ini tidak kompetitif adalah cost structure nya yang terlihat sangat besar namun tidak diiringi dengan pemasukan yang signifikan. Analisis ringan saya mengenai sevel sebenarnya adalah positioning nya yang serba nanggung. Sebagai restoran, makanan yang disajikan menurut saya biasa saja dan tidak memiliki keunggulan dengan restoran lainnya. Sebagai ritel, harga yang ditawarkan sevel sedikit lebih mahal dan dari barang yang terserdia kalah lengkap dibanding ritel lainnya.

Jadilah fenomena orang yang nongkrong berjam – jam hanya dengan membeli 1 – 2 minuman ringan banyak terjadi di sevel. Secara ritel orang tidak membeli banyak barang, secara restoran orang hanya menggunakan tempatnya saja. Secara model bisnis, aspek yang paling diamati dari keruntuhan sevel ini adalah cost structure nya.

Pada tutorial business model canvas – sebuah tools untuk memetakan model bisnis sebuah organisasi, cost structure merupakan bagian yang menjelaskan struktur biaya utama yang dikeluarkan perusahaan atau organisasi dalam menciptakan value kepada konsumennya. Ketika cost structure ini tidak dapat bersaing atau lebih besar dibandingkan kompetitor yang ada, hampir bisa dipastikan bahwa organisasi akan cepat tersingkir.

Maka dari itu di era disruptif saat ini banyak sekali perusahaan yang berlomba – lomba untuk mengecilkan cost structure dalam menciptakan value nya. Mereka menyadari bahwa salah satu kunci membuat model bisnis bertahan di era disruptif ini adalah biaya yang kecil dan efisien. Hal ini senada dengan apa yang saya pelajari dari Strategyzer Academy tentang bagaimana membuat model bisnis yang kompetitif.

Sebagai contoh jika kita belajar dari Grab, sebenarnya model bisnis mereka mencoba untuk menekan cost structure dalam menjalankan bisnis. Mereka tidak mempunyai armada sendiri, tidak perlu melakukan perawatan armada, yang pada akhirnya memenangkan persaingan cost structure dengan para kompetitor atau incumbent yang masih berpikir bahwa perusahaan jasa transportasi harus memiliki armadanya sendiri. Itulah salah satu hal yang membuat harga yang ditawarkan lebih murah.

Model bisnis dengan keunggulan cost structure juga dimiliki oleh AirBnB dan model bisnis sejenis. Hal yang menyebabkan biaya dapat ditekan sedemikian rupa adalah karena pemanfaatan teknologi dan penggunaan prinsip sharing economy. Maka bagi Anda yang ingin memiliki model bisnis yang dapat bertahan, segera rancang model bisnis yang menghasilkan uang namun memiliki struktur biaya yang relatif rendah untuk menciptakan value kepada konsumen Anda. Gunakan teknologi untuk melakukan efisiensi di segala lini.

Sayangnya, jika saya tidak salah per 1 Juli 2017 ini para taksi online berbasis aplikasi harus menyesuaikan tarif atas dan tarif bawah. Secara esensi saya mendukung upaya regulator untuk menjaga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hanya saja, seperti kata prof. Rhenald Kasali bahwa regulator juga harus mulai berpikir jika ke depannya disruptor dengan model bisnis yang akan bermunculan adalah mereka yang akan menggunakan teknologi untuk menekan cost structure dalam menciptakan value mereka.

Jika regulator terus – menerus mengembalikan model bisnis ke era lama yang memiliki cost structure besar, dan memaksa disruptor bermain dengan cara – cara model lama, mungkin kita perlu bertanya : kapan majunya Indonesia?

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah kewirausahaan, inovasi, dan strategi bisnis. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!