Life Skills Pengembangan Diri

Mengembangkan Kompetensi Diri Secara Efektif pada masa Pasca Kampus

Written by Arry Rahmawan

Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers pernah memberikan sebuah saran yang sederhana namun sangat berdampak dalam dunia pengembangan diri. Saran tersebut kurang lebih berbunyi sebagai berikut,

“Apabila Anda ingin menjadi seorang ahli (expert) di bidangnya, maka Anda harus menempuh waktu paling sedikit 10,000 jam untuk melatihnya.”1 Kalau diberikan contoh sederhana, bagi Anda yang ingin belajar menjadi seorang pembicara publik, maka Anda harus melatih diri Anda berbicara di depan orang selama 10,000 jam (saya sendiri saat ini kurang lebih baru mengumpulkan total berbicara di depan publik sekitar 6500an jam – belum expert, hehe). Gagasan ini diperkuat dengan istilah deliberate practice belakangan ini, yang mengatakan bahwa 10,000 jam saja tidak cukup namun harus mendapatkan feedback atas latihan Anda.

Nasihat ini terus saya bawa sejak saat kuliah hingga saya lulus dan berprofesi sebagai seorang dosen maupun trainer. Hingga akhirnya masalah mulai terjadi saat saya sudah lulus kuliah dan tidak ada yang ‘memaksa’ saya untuk mempelajari sesuatu secara tuntas.

Siapapun tentu merasakan perubahan yang signifikan dari fase saat di kampus hingga kemudian masuk ke fase pasca kampus dan mulai bekerja. Satu hal yang paling signifikan dirasakan adalah kurangnya waktu belajar untuk meningkatkan kompetensi diri. Bahkan saya yang seorang dosen pun sudah sangat disibukkan jadwal mengajar sehingga nyaris tidak sempat ‘memaksa’ diri untuk belajar. Teman seangkatan saya yang bekerja di perusahaan (bahkan yang bagus dan ternama) pun mengeluhkan bahwa mereka memiliki sedikit waktu untuk belajar dan hal itu membuat otak mereka terasa menjadi tumpul karena melakukan sebuah hal yang itu.- itu saja (apakah kamu merasakannya juga?). Sebuah penelitian bahkan menyimpulkan secara kuantitatif bahwa pekerja di era modern itu memiliki waktu yang sangat sedikit untuk belajar, yaitu kurang dari 1% dari total waktu yang mereka punya.2

Padahal kalau saya boleh jujur, banyak perusahaan yang mensyaratkan berbagai macam keterampilan dan kemampuan untuk bisa naik jabatan. Kita pun dituntut untuk selalu belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Tantangan semakin besar di mana kita tahu ada begitu banyak informasi yang dapat diakses dengan mudah untuk dipelajari. Misalnya, saya senang sekali menonton acara inspiratif TED Talks yang saat ini sudah memiliki lebih dari 3,000 video. Saya juga memiliki koleksi ebook yang terdapat di katalog perpustakaan digital saya sebanyak lebih dari 1,000 judul. Saya juga berlangganan sebuah online courseyang dalam databasenya terdapat kurang lebih 10,000 massive open online course(MOOC). Dengan kondisi seperti ini, bagaimana cara agar kita dapat meningkatkan kompetensi diri dengan efektif di tengah banyaknya informasi yang tersedia, sementara waktu kita sangat sedikit?

Salah satu strategi yang efektif untuk saya adalah dengan menggunakan pendekatan time-utility analysis. Time-utility analysis adalah sebuah teknik analisa dalam mengambil keputusan dengan cara membandingkan lamanya “waktu” (time) belajar dengan seberapa sering kita menggunakan kompetensi tersebut (utility)3. Dengan time-utility analysis ini, kita dapat membentuk sebuah kuadran yang bisa membantu kita menentukan prioritas.

Sebagai dosen dan trainer, misalnya. Saya memiliki banyak sekali ‘menu’ kompetensi untuk saya pelajari. Mulai dari public speaking, cara mengajar kreatif (creative teaching), belajar algoritma dan pemrograman untuk simulasi industri, hingga bagaimana cara menulis blog. Saking banyaknya, saya jadi bingung mana yang ingin saya pelajari. Kalau bingungnya kelamaan, bisa – bisa saya juga jadi ga ngapa-ngapain…

Lalu saya coba buat matriks 2×2 dengan menggunakan time-utility analysis tersebut, dan jadilah kuadran seperti berikut ini,

Matriks 2×2 Time-Utility Analysis

Dalam kuadran tersebut, saya jadi memiliki 4 kelompok kompetensi yang dipetakan berdasarkan time dan utility nya. Kalau dari saya pribadi memprioritaskan untuk mempelajari terlebih dahulu keterampilan yang secara waktu pendek namun secara utilityitu besar (learn it right way). Salah satu contoh skill yang saya pelajari adalah bagaimana mengecek plagiarisme pada sebuah esai atau karya ilmiah. Untuk mempelajari keterampilan itu, saya coba belajar beberapa perangkat lunak untuk mengecek plagiarisme dalam waktu 1 – 2 hari. Kemudian keterampilan ini sering saya terapkan untuk mengecek tugas esai mahasiswa atau ketika saya sedang menulis makalah ilmiah (paper) yang seringkali saya gunakan.

Setelah learn it right, prioritas kedua saya pada umumnya adalah yang memiliki waktu lama untuk dipelajari namun seringkali saya gunakan atau sangat bermanfaat dalam profesi saya. Contoh dari keterampilan ini misalnya adalah creative teaching, yang mencakup keterampilan berbicara di depan umum, membuat materi belajar yang sistematis, hingga teknik – teknik instruksional dalam pembelajaran. Kurang lebih waktu yang saya perlukan untuk mempelajari itu semua lebih dari 1 bulan. Namun, karena ilmu atau keterampilan tersebut sangat penting dalam karir saya maka saya putuskan untuk diletakkan pada prioritas kedua.

Untuk prioritas selanjutnya saya pilih untuk mempelajari hal – hal yang waktunya cenderung pendek, dan pemanfaatannya tidak terlalu sering namun berguna (learn it as the chance arise). Seperti misalnya belajar membuat dan menulis blog sendiri (seperti yang saat ini sedang Anda baca, yaitu arryrahmawan.net). Kalau dipikir – pikir, keterampilan membuat blog sepertinya tidak terlalu sering digunakan dalam profesi saya. Namun, keterampilan ini sangat berguna untuk berbagi ilmu di sela – sela waktu luang saya. Alhamdulillah, blog saya di arryrahmawan.net yang sudah dikunjungi ribuan orang setiap harinya ini dapat lahir karena keterampilan yang saya pelajari tersebut.

Bagian selanjutnya adalah bagian yang diprioritaskan paling akhir untuk saya pelajari, yaitu keterampilan yang untuk mempelajarinya lama namun pemanfaatannya dalam profesi saya tidak terlalu sering/jarang (decide whether you need to learn it. Misalnya saja keterampilan untuk memproduksi video. Untuk mempelajari keterampilan itu secara utuh, saya harus belajar tentang peralatan untuk mengambil video, teknik pencahayaan, latar belakang, hingga editing yang kalau ditotal terkait waktu yang digunakan maka akan sangat panjang. Umumnya saya baru mempelajari bagian ini kalau saya sedang libur panjang dan banyak waktu luang.

Itulah kuadran time-utility analysis sederhana yang saya gunakan untuk menentukan apa – apa saja yang harus saya tingkatkan dalam diri saya. Tulisan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan manakah yang harus dipelajari telebih dulu, karena setelah bekerja atau ada dalam kehidupan pasca kampus tidak ada lagi yang secara khusus memandu kita untuk mempelajari materi A atau materi B. Diri kita sendirilah yang harus menentukan, dan matrix 2×2 di atas mudah – mudahan bisa membantu pembaca untuk memilih hal apakah yang harus dipelajari terlebih dulu agar kapasitas dan kompetensi diri ini selalu meningkat.

Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan

——- REFERENSI ——-

  1. Gladwell, M. (2013). Outliers: the story of success. New York: Back Bay Books. ↩︎
  2. https://www2.deloitte.com/content/dam/Deloitte/global/Documents/HumanCapital/gx-cons-hc-learning-solutions-placemat.pdf ↩︎
  3. https://hbr.org/2017/09/a-2×2-matrix-to-help-you-prioritize-the-skills-to-learn-right-now↩︎

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment