Entrepreneurship & Business Venture Design

Menggunakan Test Card dan Learning Card untuk Mendapatkan Ide Bisnis yang Valid

Pada saat saya menulis artikel ini, saya baru saja selesai menyiapkan materi untuk membawakan seminar tentang pemanfaatan Business Model Canvas untuk Sustainable Business pada Hult Prize Incubator Universitas Syiah Kuala. Saya jadi teringat sebuah pengalaman ketika saya masih aktif sebagai staf ahli di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia. Pada waktu itu, tugas saya sebagai staf ahli, salah satunya adalah memastikan kualitas proposal bisnis yang digunakan untuk pengajuan pendanaan merupakan proposal – proposal terbaik. Lalu bagaimana kemudian cara saya dan tim untuk memilih proposal – proposal terbaik ini?

Memilih ide bisnis terbaik (yang memiliki potensi tumbuh di masa depan) merupakan salah satu tantangan yang sulit. Bagaimana tidak, karena kita tidak akan pernah tahu mana saja ide – ide kreatif dan inovatif yang akan berhasil di masa yang akan datang (begitu pula dengan ide bisnis yang akan gagal). Dan seringkali, berdasarkan pengalaman pribadi, proposal – proposal mahasiswa yang lolos untuk didanai tidak sustain, dan bahkan setelah monitoring dan evaluation, bisnis tersebut sudah tidak ada.

Menghilangkan risiko gagal dalam bisnis tentu saja tidak mungkin, namun kita bisa mengurangi risiko kegagalan tersebut. Salah satu yang waktu itu saya temui adalah banyak mahasiswa yang seringkali overconfident dengan ide bisnis yang dimilikinya. Ketika mereka mempresentasikan ide bisnis, latar belakang mengapa ide bisnis itu muncul kebanyakan berasal dari literatur atau kajian teori, sementara keberhasilan dalam bisnis tentu saja diukur dari mendapatkan keuntungan secara riil.

Maka cara untuk mengurangi risiko gagal dalam menyaring ide bisnis kreatif di sivitas akademika UI, di tahun 2016 – 2017 pada waktu itu saya mencoba menyeleksi ide – ide bisnis yang sudah melalui uji lapangan, atau minimal memiliki pengalaman dipraktikkan selama 6 bulan. Sehingga, untuk ide – ide bisnis kreatif baru yang ingin didanai, mereka harus melampirkan hasil ujicoba ide mereka tersebut dengan melampirkan jumlah sales, profit yag dihasilkan, serta riwayat iterasi (penyempurnaan) dari ide dasar awal mereka sehingga mahasiswa mampu meyakinkan panitia seleksi (salah satunya saya) bahwa ide bisnis tersebut adalah valid.

Bagaimana cara untuk mengetahui proses iterasi ide bisnis dari proposal yang diajukan? Salah satunya adalah dengan menggunakan alat bantu berupa test card dan learning card yang dibuat oleh Strategyzer, firma konsulan pencipta Business Model Canvas. Alat bantu ini sangat bermanfaat untuk membuktikan apakah memang ide bisnis kita diterima oleh pasar dengan baik atau tidak. Secara spesifik, test card digunakan untuk menguji asumsi, sementara learning card digunakan untuk menghasilkan inovasi dari insight yang didapatkan dari test card.

Menggunakan Test Card untuk Menentukan Prosedur Validasi dan Kriteria Ide Bisnis yang Valid

Berikut adalah tampilan dari apa yang dimaksud dengan test card,

Tampilan dari Strategyzer Test Card

Strategyzer Test Card digunakan untuk merencanakan pengumpulan data secara faktual bahwa asumsi yang dibawa oleh mahasiswa atau yang mengajukan pendanaan untuk bisnis didukung dengan bukti empiris. Dan dari pengalaman yang saya miliki, hampir tidak pernah ditemui bahwa ide bisnis yang pertama kali muncul itu langsung berhasil di lapangan.

Ada 4 langkah dalam menggunakan test card untuk merencanakan uji validasi ide bisnis. Saya mengambil studi kasus terkait salah satu mahasiswa saya yang pernah mengajukan ide bisnis membangun sebuah aplikasi smartphone untuk mempertemukan mahasiswa FTUI yang bisa menjadi mentor kalkulus dengan yang membutuhkan les privat atau kelas tambahan:

Pertama, menentukan hipotesis yang akan diuji (misal: 10% (sekitar 150) mahasiswa tahun pertama fakultas teknik UI mau membayar untuk les mata kuliah kalkulus sebesar Rp150,000 per pertemuan).

Kedua, prosedur untuk melakukan observasi lapangan. contoh: menyebarkan pamflet dan pesan di social media dengan mencantumkan kontak untuk dihubungi bagi yang ingin mendaftar.

Ketiga, menentukan metrik yang relevan. Contoh: berapa banyak mahasiswa FTUI yang mengontak setelah pamflet disebar dan campaign di social media disebarkan.

Keempat, menentukan kriteria keberhasilan/threshold. Contoh: asumsi benar jika yang mengontak minimal 50% dari 150 mahasiswa yang mengontak dan mendaftar dalam program les kalkulus tambahan.

Dengan menggunakan test card, kita jadi mengetahui bagimana step-by-step yang dilakukan oleh mahasiswa yang mengajukan proposal untuk memastikan bahwa ide mereka valid. Selanjutnya, apa yang ada di test card tersebut kemudian dieksekusi, lalu hasil dari tes di lapangan ditulis dalam Learning Card yang berisikan pelajaran apa yang didapat dari proses validasi tersebut.

Menggunakan Learning Card untuk Menganalisa Hasil Validasi dan Merencanakan Iterasi Ide Bisnis

Learning card adalah tools yang diciptakan oleh Strategyzer untuk memudahkan entrepreneur melakukan iterasi dari uji validasi ide yang dilakukan. Berikut ini adalah tampilan dari Learning card,

Tampilan umum dari Learning Card Strategyzer

Sesuai dengan namanya, learning card digunakan untuk mencatat hasil fakta yang didapat di lapangan sebagai bentuk tindaklanjut dari apa yang sudah dituliskan dalam test card.

Ada 4 langkah dalam pengisian learning card, yaitu:

Pertama, kembali menjelaskan hipotesis yang diuji. Hipotesis atau asumsi ini bisa berasal dari apa yang dituliskan dalam test card, contoh: 10% (sekitar 150) mahasiswa tahun pertama fakultas teknik UI mau membayar untuk les mata kuliah kalkulus sebesar Rp150,000 per pertemuan)

Kedua, menuliskan fakta yang terjadi di lapangan. Misalnya: kami menemukan bahwa hanya 20% dari mahasiswa tahun pertama FTUI yang menghubungi dan mendaftar (di bawah threshold seperti yang dijelaskan dalam test card. Tetapi kami menemukan bahwa ada 100 mahasiswa di luar FTUI, khususnya dari FMIPA yang mendaftar).

Ketiga, menuliskan pembelajaran yang didapat. MIsalnya dari yang asumsi awal mengira bahwa yang memerlukan les kalkulus ini adalah mahasiswa FTUI tahun pertama, namun ternyata terdapat mahasiswa FMIPA yang juga mendaftar, sehingga menandakan bahwa ada peluang di luar mahasiswa FTUI yang bisa dimanfaatkan.

Keempat, menuliskan iterasi ide bisnis berdasarkan pelajaran yang diambil dari poin ketiga. Misalnya, dengan begitu maka les kalulus ini akan diprioritaskan untuk dipasarkan di dua fakultas, yaitu fakultas teknik dan fakultas MIPA.

Jika mereka mengajukan ide iterasi ini, maka akan memudahkan panitia seleksi untuk menyaring mana ide bisnis yang masih hanya sekedar angan – angan, atau mana ide bisnis yang memang sudah melalui proses uji validasi.

Dan kesimpulannya, ide bisnis yang sudah melalui iterasi dan uji validasi seharusnya bisa menjadi basis yang lebih objektif untuk dipilih sebagai ide bisnis yang dibiayai oleh inkubator – inkubator bisnis di kampus, seperti yang saya lakukan di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia pada rentang 2016 – 2019.

Semoga sedikit sharing kali ini dapat bermanfaat, khususnya bagi Bapak/Ibu dosen yang saat ini sedang juga bertugas mengembangkan inkubator bisnis di kampusnya masing – masing.

Semoga bermanfaat, ya!

Bagi Anda yang ingin mengundang saya sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman terkait pengembangan direktorat inovasi dan inkubator bisnis di kampus, silakan hubungi via WhatsApp 0856 4087 9848 (Melinda) atau email langsung ke arry.rahmawan@gmail.com.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di seri tulisan business canvas series berikutnya.

Salam,
Arry Rahmawan

Untuk sahabat yang ingin mendapatkan tutorial lainnya, silakan subscribe, like dan share Channel youtube saya.

Bagi yang ingin berinteraksi dan mendapatkan update tentang aktivitas saya, silakan follow akun Instagram saya di @ArryRahmawan

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Leave a Comment