Konsultasi

Mengikuti Passion atau Mensyukuri Karir?

Written by Arry Rahmawan

Kamis pekan lalu, saya kedatangan dua tamu istimewa yang merupakan alumni dari pelatihan Young Trainer Academyyaitu Adi Triasmara dan Saesar Agung T. Keduanya menurut saya adalah orang – orang yang hebat. Masih muda, enerjik, memiliki ide – ide segar yang fresh, serta kepiawaian sebagai seorang pembicara publik. Diskusi kami pada sore itu membicarakan seputar karir.

Saat membicarakan karir, tentu kita ingin sekali mendapatkan sebuah karir menjanjikan yang sesuai dengan passion kita. Kita ingin agar apa yang kita lakukan dalam karir kita terus membuat diri ini tumbuh dan berkembang. Tidak stuck dan hanya terjebak dalam rutinitas. Masa – masa memilih dan menentukan karir adalah tantangan tersendiri, khususnya bagi mereka yang baru lulus sekolah/kuliah karena akan menentukan nasib ke depannya juga.

Salah satu hal yang paling banyak ditakutkan oleh mereka yang ingin memulai karir adalah : “Bagaimana seandainya gue mendapatkan pekerjaan yang enggak gue banget?”

Enggak gue banget itu maksudnya seperti ini. Mungkin saat ini Anda adalah orang yang sangat pandai dalam menggambar, melukis, atau hal – hal yang berhubungan dengan seni rupa. Namun, Anda mendapatkan pekerjaan Anda di sektor perbankan. Di situ kemudian banyak orang yang merasa down karena pekerjaan itu ga sesuai sama dirinya.

Mereka merasa setiap menit dan detik mereka bekerja penuh dengan tekanan. Mereka tidak bisa menikmati setiap detik dan menit dengan asyik. Mereka menganggap bahwa pekerjaan mereka adalah suffer alias penderitaan. Yang ada, justru hanyalah stress (walaupun mereka sudah mendapatkan kompensasi berlimpah dan status yang bonafid).

Saya banyak mendapatkan curhat secara personal oleh teman – teman yang merasa seperti itu. Mereka ingin keluar sesegera mungkin, mendapatkan kebebasan untuk bisa menjadi diri mereka sendiri, dan meninggalkan pekerjaan mereka.

Saya banyak juga mendapatkan cerita dari teman – teman yang memutuskan ‘keluar’ untuk menuntaskan passion mereka. Mereka memberanikan diri resign untuk kemudian membangun sebuah bisnis yang bisa memfasilitasi passion mereka yang gue banget itu. Hasilnya, apakah lebih baik? Tidak juga. Banyak dari mereka yang malah tambah stress! Kenapa? Memang sih, mereka bisa menyalurkan passion mereka sesuai pada tempatnya. Namun, ternyata mereka berada dalam ketidakpastian finansial. Hidup mereka yang tadinya serba terukur menjadi tidak pasti. Mereka tidak pandai mengatur uang sebagai seorang wirausahawan. Mereka mulai mendapat tekanan dari orang tua, istri, dan kerabat lainnya. Mereka disalahkan, “kenapa lo dulu udah kerja bagus – bagus malah keluar?” Semakin tertekanlah mereka. Stress? So pasti!

Jadi, Apa yang Harus Anda Lakukan?

Jika Anda saat ini sedang menapaki puncak karir, lalu merasa jenuh dan menganggap bahwa karir Anda enggak gue banget, maka pastikan bahwa Anda benar – benar memahami apa passion Anda.

Kenapa? Karena kalau Anda sendiri bingung passion Anda apa dan terus berdalih bahwa pekerjaan Anda tidak sesuai dengan passion Anda, maka di manapun Anda berkarir hasilnya akan sama saja : enggak gue banget lagi. Begituuuu aja terus sampai bapaknya Wakwaw ketemu.

Jika Anda memang sudah menemukan dan yakin passion Anda, sudahkah Anda menunjukkannya di tempat Anda bekerja sekarang? Sudahkah Anda bilang ke atasan Anda bahwa Anda sangat baik di bidang ini atau itu? Sudahkah Anda menunjukkan kecemerlangan Anda di passion tersebut? Yakinkah Anda menemukan passion Anda? Orang – orang yang passionate itu memperjuangkan passion mereka, sekalipun mereka bekerja untuk orang lain.

Jika tidak memungkinkan menunjukannya, carilah jalan bagaimana passion Anda saat ini bisa disalurkan dengan karir Anda yang sekarang. Syukurilah pekerjaan Anda, syukurilah karir yang Anda miliki. Banyak orang di luar sana yang berlomba – lomba serta susah payah hanya untuk mendapatkan tempat yang Anda duduki saat ini.

“Loh, jadi loe ngusulin gue untuk menyalurkan passion atau bersyukur atas karir gue sekarang?”

Antara mensyukuri karir dengan menyalurkan passion bukanlah dua hal yang bertentangan. Meminjam istilah guru saya, Rene Suhardono yang menyatakan bahwa jadilah seorang yang menjunjung prinsip ‘the genius of the AND’ daripada ‘irony of the OR’.

Jika Anda bisa mensyukuri karir DAN menyalurkan passion, mengapa harus memilih mensyukuri karir ATAU menyalurkan passion?

Jadilah seorang yang jenius dengan menemukan keduanya sekaligus. Mensyukuri karir DAN Menyalurkan Passion.

Bagaimana menurut Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan. Anda juga bisa curhat atau konsultasi langsung dengan saya melalui halaman berikut ini.

#UPDATE : Bagi Anda yang ingin mengasah ketermapilan berbicara di depan publik, jangan lupa ikuti program #YoungTrainerAcademy. Untuk informasi dan pendaftaran, silakan klik daftar.youngtraineracademy.com atau email ke contact@cerdasmulia.co.id.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment