Quantum Teaching

Merancang Perkuliahan yang Mengasyikkan untuk Generasi Millennial

Written by Arry Rahmawan

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi, kemampuan merumuskan dan membawakan perkuliahan adalah hal yang wajib untuk dikuasai. Saya bersyukur, beberapa waktu yang lalu sudah mengikuti (dan lulus, alhamdulillah) dari sebuah training yang berjudul “Pelatihan Dasar Keterampilan Teknik Instruksional”atau yang disebut sebagai PEKERTI. Bagi Anda yang profesinya juga seorang dosen seperti saya, PEKERTI ini pasti sudah sangat familiar.

Apa yang dipelajari di PEKERTI menurut saya sangat berharga untuk bekal mengajar saya di kelas. PEKERTI mengajarkan kepada saya berbagai macam teknik – teknik yang bisa dilakukan untuk membuat perkuliahan menjadi pembelajaran mahasiswa aktif (student-centered). Pembelajaran student-centered ini berbeda dengan content-based atau berbasis konten, di mana pada pembelajaran student-centered, para mahasiswa distimulasi untuk melakukan konstruksi pengetahuan secara mandiri. Stimulus yang diberikan bisa berupa pertanyaan sederhana, studi kasus, hingga masalah – masalah yang dihadapi langsung di lapangan.

Student-centered learning ini dirasa lebih relevan digunakan untuk generasi millennials ketimbang content-based learning. Hal ini dikarenakan generasi millennial terbiasa bersentuhan dengan teknologi informasi, sehingga buat mereka mencari informasi dan fakta itu sangat mudah. Justru jika perkuliahan saat ini menggunakan content-based,materi harus selalu diupdate agar tidak basi. Sementara dengan student-centered learning,mahasiswa diminta untuk mencari fakta sebanyak – banyaknya, menyusun fakta itu, dan melakukan analisis serta deduksi yang baik. Pada tingkatan lebih lanjut, diharapkan mahasiswa mampu melahirkan ide – ide segar yang membuat pemecahan masalah menjadi lebih efektif dan efisien. Bagi generasi millennial, metode pembelajaran seperti itu lebih asyik. Hal ini berdasarkan survey yang saya lakukan di dalam kelas dan juga evaluasi setiap semester yang dilakukan di mata kuliah saya. Mayoritas mahasiswa menginginkan sistem perkuliahan yang lebih aktif dalam melibatkan mahasiswa.

Jika student-centered learning dirasa cocok untuk pendidikan generasi millennial saat ini, mengapa masih banyak pendidik (terutama dosen) yang memberikan perkuliahan berbasis content-based? Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa kolega, terdapat beberapa penyebabnya. Secara umum dapat dibagi dua, yaitu penyebab eksternal dan internal.

Penyebab eksternal adalah faktor di luar kendali diri yang menyebabkan penerapan student-centered learning terhambat, biasanya karena materi perkuliahan yang sifatnya rigid, kaku, prosedural, terstandar, dan tidak bisa diganti begitu saja. Penyebab kedua adalah karena materi perkuliahan dibawakan secara tandem bersama dosen lain, yang biasanya tidak paham tentang student-centered learning. Untuk faktor – faktor eksternal ini, memang tidak dapat kita atasi secara langsung selain banyak – banyak berdoa. Hehe… Namun, kita bisa mengendalikan faktor internal yang menyebabkan sulitnya membuat perkuliahan berbasis student-centered.

Bagaimana dengan faktor internal? Berdasarkan obrolan saya dengan kolega – kolega, seringkali kesulitan mengaplikasikan student-centered learning di dalam mata kuliah adalah karena (1) malas, karena repot harus mengubah format kuliah dan juga evaluasinya (apalagi jika tidak ada insentif tambahan, hehe…) dan (2) bingung darimana memulainya,karena dalam pelatihan (khususnya PEKERTI) materi yang ditekankan lebih ke arah pengenalan teknik – tekniknya, sementara bagaimana mengubah perkuliahan dari content-based ke student-centered tidak dijelaskan secara detil.

Pada tulisan ini saya akan sedikit sharing tentang bagaimana mengatasi kedua faktor internal tersebut. Semoga bisa bermanfaat untuk membantu rekan – rekan dosen agar bisa mengajar lebih baik.

Mengapa Harus Beralih ke Student Centered Learning?

Saya ingin bercerita tentang sebuah pengalaman teman saya di fakultas eknomi saat masih menjadi mahasiswa. Pada waktu itu di tahun 2011, seorang teman sedang belajar tentang konsep marketing mix, di mana di kelas tersebut dijelaskan tentang konsep bauran pemasaran 4P dari Kotler (2002) yang terdiri dari Product, Place, Price, and Promotion.Konsep tersebut disampaikan (transmit) dengan ceramah, di mana saya duduk mendengarkan secara pasif. Ketika ujian tiba, saya harus mampu memanggil ulang konsep 4P tersebut untuk menjawab dengan benar.

Padahal, di tahun tersebut bauran pemasaran sudah berkembang dan tumbuh dari 4P menjadi 8P atau 9P dengan tambahan (Physical evidence, people, process, public relation, and power). Sementara di masa kekinian, sudah semakin berkembang dengan memperhatikan P yang lain, seperti Passion, Partner, and Planning.

Content-based memiliki kelemahan karena ‘menghambat perkembangan informasi’ dari kondisi aktual yang ada. Coba kita berandai – andai seandainya perkuliahan tersebut menggunakan student-centered learning, di mana dosen memberikan sebuah pertanyaan pemicu,

“Bagaimana menurut Anda strategi pemasaran yang efektif dan efisien untuk membuat produk X mencapai nilai penjualan 2 kali lipat?”

Produk X ini bisa diambil dari produk – produk yang mungkin sedang nge-hits saat ini. Mahasiswa misalnya diberikan kesempatan untuk mencari data dari buku atau internet untuk menjawab pertanyaan pemicu itu selama 30 menit, lalu merumuskan jawabannya dalam 30 menit sisanya. Kemudian minta mahasiswa untuk mempresentasikan jawaban yang telah mereka susun di depan kelas atau mahasiswa lainnya.

Baik mahasiswa maupun dosen sama – sama belajar di sini. Untuk mahasiswa, mereka akan belajar bagaimana mencari dan mengolah informasi. Bagi dosen, akan sangat mungkin menemukan fakta – fakta baru atau insight baru dari mahasiswanya. Keduanya sama – sama belajar. Peran dosen yang sebenarnya akan muncul umumnya sebagai sumber klarifikasi, apabila ada kesimpulan – kesimpulan salah yang diambil mahasiswa. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dosen, diharapkan umpan balik yang diberikan akan menjadi catatan perbaikan untuk mahasiswa ke depannya. Disitulah proses pembelajaran sebenarnya terjadi.

Menggunakan student-centered learning di mata kuliah yang saya ampu, selalu memberikan ‘kejutan-kejutan’ jawaban dari mahasiswa yang membuat saya juga menjadi tidak mudah jenuh dalam mengajar. Sebagai contoh, dalam mata kuliah Manajemen Teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, saya memberikan pertanyaan pemicu sederhana,

“Mengapa inovasi model bisnis yang dilakukan perusahaan X gagal?”

Salah satu contoh jawabannya adalah seperti berikut, yang membuat saya sebagai dosen juga belajar,

REG_1606895966_BMIF

Jadi sebenarnya menurut saya pribadi, penggunaan Student-centered learning sendiri bukan hanya bermanfaat untuk mahasiswa millennials, tetapi juga sebagai sarana belajar untuk dosen dan membuat proses belajar-mengajar tidak menjemukan.

Lalu, Bagaimana Caranya Mengubah Mata Kuliah Content-Based menjadi Student-Centered?

Oke, sekarang bagian penting yang kita bahas adalah bagaimana membuat mata kuliah yang asyik untuk millennials? Lebih tepatnya: bagaimana mengubah mata kuliah content-based ini menjadi mata kuliah student-centered?

Percayalah, pada masa – masa awal saya juga mengalami hal yang kebanyakan dialami dosen: kebanyakan silabus mata kuliah yang diajarkan masih bersifat content-based,teoritis, dan perlu di upgrade ke bentuk student-centered.

Lalu, bagaimana cara saya mengubahnya? Ada sebuah cara praktis yang saya gunakan, yaitu mengikuti konsep experiential education yang ditulis oleh Morten Asfeldt. Asfeldt (2017) mengatakan bahwa ada 3 hal utama yang perlu dipertimbangkan untuk membuat perkuliahan berbasis content-based yang sifatnya pasif menjadi lebih aktif yang berbasiskan kepada pengalaman. Ketiga hal tersebut adalah,

(1) Content

(2) Experience

(3) Reflection

Secara sederhana, untuk menciptakan sebuah pembelajaran mahasiswa aktif, maka diperlukan keseimbangan antara ketiganya. Jika perkuliahan yang diampu saat ini kebanyakan masih berorientasi konten, maka solusi cepat yang paling mungkin untuk dilakukan adalah menambahkan unsur experience(pengalaman) dan reflection (refleksi) dalam proses perkuliahan.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa digunakan untuk membantu kita menyeimbangkan ketiga aspek tersebut dalam proses perkuliahan yang akan dibawakan,

(1) Apakah perkuliahan ini memerlukan teknik pembelajaran aktif untuk mencapai tujuan pembelajarannya?

(2) Topik perkuliahan apa yang membutuhkan dan memungkinkan pemanfaatan teknik belajar aktif? Mengapa topik tersebut dibutuhkan?

(3) Teknik belajar aktif atau pengalaman (experience) apa yang harus dirasakan oleh mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran?

(4) Teknik apa yang bisa digunakan dalam sesi refleksi sehingga kesimpulan yang didapatkan mahasiswa sesuai dengan tujuan pembelajarannya?

Dengan menggunakan pertanyaan pemicu di atas, membantu saya untuk dapat merancang sebuah perkuliahan yang berbasis pengalaman untuk meningkatkan keaktifan mahasiswa di kelas.

Studi Kasus – Mata Kuliah Pemodelan Sistem

Salah satu mata kuliah yang saya ampu dan menggunakan metode pembelajaran aktif yang cukup berat (heavy) adalah mata kuliah Pemodelan Sistem, sebuah mata kuliah yang saya berikan di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, di bawah laboratorium Systems Engineering, Modeling, and Simulation (SEMS) Universitas Indonesia.

Tujuan pembelajaran setelah mahasiswa mengikuti mata kuliah ini adalah mahasiswa mampu untuk memberikan rekomendasi terbaik dari alternatif solusi yang ada untuk meningkatkan performa sistem industri (content), misalnya peningkatan produktivitas kerja atau pengurangan kegiatan yang membuat tidak efisien (waste).

Di mata kuliah ini, mahasiswa diminta untuk memilih studi kasus riil, mengidentifikasi masalah yang ada pada sistem, membuat model komputer dari sistem yang ada, menguji coba solusi, dan mendapatkan rekomendasi solusi terbaik.

Misalnya, di tahun 2017 saya menugaskan mahasiswa untuk membuat sistem dari kantor pelayanan publik (seperti pengurusan paspor, KTP, atau SIM) yang mengalami overload antrian dan melebihi standar yang seharusnya. Mahasiswa diminta untuk memberikan rekomendasi seperti apa seharusnya penanganan di rumah sakit untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka diminta untuk mengambil data riil dari rumah sakit yang mereka pilih (experience), untuk kemudian dibuat model sistemnya di komputer agar mereka bisa menguji berbagai macam alternatif solusi untuk memberikan solusi terbaik.

REG_Kelompok 5_Presentasi

Di akhir sesi perkuliahan, mahasiswa diminta untuk mempresentasikan rekomendasi yang telah dibuat ke hadapan saya sebagai dosen secara langsung. Di sinilah kemudian peran saya sebagai dosen mencecar mereka dengan berbagai pertanyaan, melakukan klarifikasi, dan memastikan bahwa tujuan pembelajaran tercapai. Apabila ada kesimpulan – kesimpulan yang tidak tepat dan memerlukan klarifikasi, maka disitulah kemudian peran saya untuk meluruskannya (reflection).

Mayoritas dari mahasiswa saya yang generasi millennials (termasuk saya juga generasi millennials, lho) menyatakan bahwa (walaupun berat), banyak sekali pembelajaran yang mereka dapatkan. Dengan sistem pembelajaran aktif seperti itu, mereka senang dan mengakui proses pembelajaran lebih asyik daripada content-based learning.

Itulah sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan pada tulisan kali ini. Intinya adalah untuk membuat sebuah materi perkuliahan yang asyik untuk millennials, maka sebagai pendidik kita harus mulai beralih (shifting) dari perkuliahan yang masih bermodel content-basedmenjadi student-centered. Cara paling mudah untuk mengubahnya adalah dengan menyeimbangkan aspek content, experience, dan reflection dalam proses perkuliahan.

Semoga bermanfaat dan selamat mengajar!

Salam,
Arry Rahmawan

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!