Inovasi dan Kewirausahaan Mata Ajar

Panduan Lengkap Menyusun Rencana Bisnis Menggunakan Business Model Canvas

Written by Arry Rahmawan

Mencari Panduan Lengkap Menyusun Rencana Bisnis Menggunakan Business Model Canvas?

Sahabat pembaca blog arryrahmawan.net, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana memanfaatkan Business Model Canvas untuk merencanakan bisnis bagi pebisnis pemula (StartUp). Sebelum kita masuk ke pembahasan tentang Business Model Canvas itu sendiri, saya ingin membahas terlebih dulu mengapa Business Model Canvas bisa menjadi sebuah tools yang efektif untuk membuat perencanaan bisnis.

Oh ya, mungkin Anda akan menemukan bahwa artikel ini adalah salah satu artikel terpanjang yang pernah saya tuliskan. Memang benar, karena artikel ini sengaja saya buat secara komprehensif bagaimana menggunakan Business Model Canvas untuk merencanakan bisnis Anda. Berikut ini adalah beberapa hal yang dibahas dalam artikel ini,

Semakin Panjang Rencana Bisnis, Semakin Besar Risiko Gagalnya

"Tebal" rencana bisnis berbanding dengan risiko gagal

“Tebal” rencana bisnis berbanding dengan risiko gagal

Wah, apakah itu benar? Jadi, semakin panjang dan detil rencana bisnis yang kita jalankan, justru akan meningkatkan peluang gagal? Kok bisa? Bukankah itu justru bertentangan dengan nasihat para ahli manajemen dan mentor bisnis yang justru mendorong pengusaha pemula untuk membuat rencana bisnis yang jelas dan detil?

Ternyata, disitulah justru letak permasalahannya. Saya sendiri baru menyadari bahwa business plan yang semakin panjang justru akan meningkatkan peluang gagal saat membina beberapa pengusaha pemula di program Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia. Selain itu, saya juga melihat pola yang sama ketika membina pengusaha pemula di portalstudentpreneur.com. Kebanyakan dari mereka yang memiliki rencana bisnis detil, lengkap dengan deskripsi hasil riset pasar, proyeksi keuangan dan sebagainya, justru gagal dieksekusi.

Mengapa bisa terjadi? Setelah ditelusuri, semakin panjang business plan, akan memiliki kelemahan berikut ini:

  1. Fleksibilitas – Kebanyakan pengusaha pemula yang memiliki business plan detil menjadikan diri mereka tidak fleksibel terhadap perubahan – perubahan asumsi. Sehingga ketika ada perubahan yang cepat di dunia nyata, pengusaha pemula tetap ‘gigih’ memperjuangkan business plan mereka yang ternyata sudah tidak relevan
  2. Validitas Ide – Business plan yang lengkap tentu akan melihat kelayakan suatu usaha dari berbagai sudut. Karena banyak aspek yang dilihat (analisa market, produk, pemasaran, keuangan, SDM, dsb), menyebabkan pengusaha pemula luput dari sebuah pertanyaan penting : apakah ide yang mereka ajukan dalam bisnis memang benar – benar laku dan dibutuhkan oleh konsumen? Karena banyaknya yang harus dipenuhi dalam sebuah business plan, banyak pengusaha pemula yang ‘lupa’ untuk menguji apakah ide bisnis mereka itu betul – betul valid (diperlukan customer) atau tidak.

Michael Schrage dari MIT pernah mengatakan, a testable idea is better than a good idea. Sebuah ide bisnis yang teruji lebih baik daripada ide yang terllihat bagus. Steve Blank, salah satu punggawa dalam dunia startUp mengatakan, no business plan survives first contact with customer. Tidak ada rencana bisnis yang bisa bertahan saat kontak pertama kali dengan pelanggan (karena pasti akan ada perbedaan antara asumsi awal dengan realita di lapangan).

Jadi, kalau begitu apa yang harus dilakukan?

Perbedaan Alur Membangun Bisnis antara Dulu dan Sekarang

Sekitar 7-8 tahun lalu, ketika pertama kali belajar bisnis saya banyak belajar bahwa untuk membangun sebuah bisnis maka akan melewati skema berikut ini:

Pengembangan Bisnis Konvensional

Alur pengembangan bisnis konvensional

Sayangnya, seperti yang sudah dipaparkan barusan, banyak pengusaha pemula yang masih mengikuti cara tersebut. Mereka mengawali bisnis mereka dari sebuah ide, dibuat rencana bisnisnya, kemudian pitching. Salahkah? Tidak. Risiko gagal lebih besar? Iya.

Mengapa risiko gagal saat ini lebih besar? Hal ini karena adanya kemajuan teknologi, customer yang semakin menuntut macam – macam, inovasi kompetitor yang sangat cepat, membuat pasar sangat dinamis dan cepat berubah – ubah. Tahun ini bisa jadi bisnis kita adalah pemimpin pasar. Namun, 3 – 5 tahun kemudian bisa jadi bisnis kita akan benar – benar hilang tanpa jejak digantikan oleh pemain – pemain baru.

Maka dari itu, untuk mengurangi risiko kegagalan, diperlukan cara pandang baru untuk pengusaha pemula dalam membangun bisnis mereka. Perbedaan paling dasar terletak di fase validasi ide. Berhubung saat ini sangat mudah menciptakan inovasi untuk membuat sesuatu lebih baik (better), lebih murah (cheaper), dan lebih cepat (faster), hal yang menjadi tantangan kemudian adalah – benarkah ide tersebut dibutuhkan oleh pasar saat ini? Apakah permintaan market atas ide tersebut valid?

Maka, alur untuk menciptakan bisnis baru di era ini pun berubah. Sebelum ide bisnis dibuat ke dalam businss plan, perlu dibuat terlebih dahulu ‘pengujian’ apakah ide tersebut valid atau tidak. Alur pengujiannya digambarkan sebagai berikut,

Alur pengembangan rencana bisnis saat ini

Alur pengembangan rencana bisnis saat ini

Jadi setelah ide kreatif dan inovatif ditemukan, hal yang perlu dilakukan kemudian adalah membuat businss model dari ide tersebut, untuk kemudian divalidasi apakah business model tersebut bisa menghasilkan keuntungan. Jika business modelnya valid, maka dilanjutkan dengan membuat rencana bisnis, seperti merumuskan strategi pemasaran, proyeksi keuangan, analisa SDM, dan sebagainya.

APA YANG DIMAKSUD BUSINESS MODEL (MODEL BISNIS)

Oke, saya sudah punya ide, kemudian saya harus merumuskan juga business model saya untuk divalidasi. Tapi, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan business model?

Business model, atau model bisnis secara sederhana dapat diartikan sebagai proses bagaimana perusahaan menciptakan value dan mendapatkan keuntungan dari value yang diciptakannya secara berkelanjutan

Paling mudah membayangkannya, misalkan pernahkah kamu bermain game Clash Royale atau Clash of Clans di Android? Kita dapat mengunduhnya secara gratis, bukan? Lalu darimana pencipta game ini mendapatkan uang? Yaitu dengan cara menjual items seperti Gems atau Gold di dalam game tersebut yang harus dibayar dengan real cash. Model bisnis seperti CR atau CoC ini disebut juga dengan model bisnis freemium. Sebuah model bisnis di mana mereka bisa memberikan value dengan gratis (free) secara penuh, namun mereka yang ingin value lebih banyak lagi harus membayarnya dengan uang (premium).

Mengenal Apa itu Business Model Canvas

Akhirnya sampailah kita pada pemabahsan apa itu Business Model Canvas (BMC). BMC adalah sebuah tools yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder, yang dipopulerkan melalui bukunya Business Model Generation. BMC dikembangkan untuk membantu organisasi bisnis dan pengusaha pemula untuk memetakan dan melakukan analisa terhadap model bisnis mereka.

Apa sebenarnya Business Model Canvas?

Secara umum, BMC dikembangkan dengan mempertimbangkan 9 blok utama yang harus diperhatikan dalam memetakan model bisnis. Kesembilan blok utama ini, semua terangkum dalam satu canvas (1 halaman). Inilah yang juga membuat BMC unggul karena dengan kesederhanaannya yang hanya terdiri dari 1 halaman ini, ternyata powerful untuk memberikan pemahaman tentang model bisnis secara utuh.

Berikut adalah penampakan dari Business Model Canvas,

Tampilan halaman Business Model Canvas (BMC)

Tampilan halaman Business Model Canvas (BMC)

Kesembilan blok yang ada di BMC tergabung dalam 1 kanvas, yang mewakili kunci utama pendorong keberhasilan suatu bisnis,

  1. Customer Segments : Siapa konsumen Anda? Seperti apa deskripsi orang yang ingin masalahnya Anda pecahkan? Bagaimana karakteristik mereka? Apa yang mereka pikirkan? Rasakan? Lakukan?
  2. Value Proposition : Solusi apa yang Anda tawarkan ke konsumen Anda? Apa yang menarik dari solusi Anda? Apa yang membuat konsumen mau memilih, membeli, dan menggunakan value Anda?
  3. Channels : Bagaimana cara agar value / solusi masalah Anda bisa sampai ke tangan konsumen?
  4. Customer Relationship : Bagaimana cara Anda berinteraksi untuk menjaga loyalitas konsumen?
  5. Revenue Streams : Bagaimana cara bisnis menghasilkan uang dari value yang ditawarkan?
  6. Key Activities : Apakah aktivitas kunci atau strategi kompetitif yang dilakukan bisnis untuk menciptakan value proposition nya?
  7. Key Resources : Apa saja sumber daya yang harus dimiliki perusahaan agar dapat kompetitif dalam menciptakan value?
  8. Key Partnership : Siapa partner yang mendukung organisasi agar selalu kompetitif?
  9. Cost Structure : Apa saja faktor – faktor yang membentuk biaya yang harus dikeluarkan?

Kesembilan faktor tersebut sudah pernah saya jelaskan di artikel berjudul memetakan model bisnis dengan Business Model Canvas dan saya pun juga sudah pernah membuatkan video tutorial membuat BMC yang benar.

Sederhananya, BMC terdiri dari 3 bagian utama. Bagian tersebut adalah offering, customer, dan infrastructure. Adapaun gambar pembagian hal tersebut ada di bagian berikut ini,

3 aspek utama dalam BMC - offering, customer, infrastructure

3 aspek utama dalam BMC – offering, customer, infrastructure

MANFAAT DAN KELEBIHAN BUSINESS MODEL CANVAS

BMC menjadi populer tidak hanya di perusahaan besar yang mapan, namun juga populer di kalangan entrepreneur dan juga intrapreneur dalam memetakan, menganalisis, validasi, dan melakukan inovasi di model bisnis yang telah ada. Secara mendasar, sebagai praktisi, saya menemukan ada 3 manfaat utama dari BMC.

  1. FOKUS : Satu hal yang paling saya rasakan dengan membuat Business Model Canvas ini adalah mampu menajamkan fokus dan membuat kejelasan mengenai model bisnis yang diajukan, ketimbang membuat rencana bisnis yang tebalnya berhalaman – halaman.
  2. FLEKSIBEL : BMC sangat bermanfaat karena mudah untuk dimodifikasi dengan tetap memberi pandangan secara menyeluruh terhadap model bisnis
  3. TRANSPARANSI : Sebagai pendiri beberapa bisnis, BMC seringkali saya gunakan untuk mengomunikasikan visi dan model bisnis kepada tim, dan dengan BMC tim menjadi lebih mudah mengerti apa model bisnis di organisasi.

10 Langkah Menggunakan Business Model Canvas

Saat saya membawakan workshop BMC, memang paling enak melakukannya dengan praktik langsung. Jadi saya menyarankan Anda untuk mencetak template Business Model Canvas di kertas A3, mempersiapkan sticky notes dengan 2 warna berbeda, kemudian mulai mengisi BMC Anda sesuai dengan bisnis yang ingin (atau sudah) Anda jalankan. Untuk mengunduh template Business Model Canvas, Anda bisa mengunduhnya di sini:

>> DOWNLOAD TEMPLATE DIGITAL BUSINESS MODEL CANVAS <<

Setelah Anda mengunduh, silakan Anda isi lembar tersebut kemudian bertanya kepada diri sendiri, “apakah data yang Anda isikan tersebut sudah make sense?. Apakah ada kemungkinan diisi dengan alternatif yang lebih baik?

Apabila Anda ingin yang lebih praktis, tanpa harus cetak – mencetak, saya sudah menyediakan file template BMC dalam bentuk powerpoint agar bisa langsung diisi dan dipresentasikan.

Catatan: untuk mengubahnya, silakan klik ‘View > Slide Master’ baru kemudian diedit isinya.

Bagi Anda yang belum pernah sama sekali menggunakan Business Model Canvas sebelumnya, berikut ini adalah tutorial singkat yang saya siapkan khusus untuk Anda.

LANGKAH 1 (dari 10) : Customer Segments

Customer segments atau segmen konsumen yang ditarget merupakan hal terpenting yang harus bisa dijawab dari Business Model Canvas. Kebanyakan model bisnis tidak memberikan hasil yang diharapkan karena customer segment tidak dapat didefinisikan dengan jelas.

Untuk dapat mengisi customer segment dengan jelas, hal berikut ini perlu diperhatikan:

1. Customer Segment Dimensions (Dimensi Segmen Konsumen)

Perhatikan apakah bisnis Anda menargetkan konsumen single atau multi-sided market? Maksud multi-sided market, misalnya Facebook yang memiliki model bisnis untuk melayani dua pihak : advertiser dan user. multi-sided market umumnya memiliki segmen tersendiri untuk setiap kategorinya.

2. Customer Characteristics (Karakteristik Konsumen)

Setelah memetakan dimensi segmen, maka selanjutnya adalah mendefinisikan karakter segmen di masing – masing dimensi tadi. Sebagai contoh, apabila kita memiliki segmen user, maka user yang karakteristiknya seperti apa? Beberapa pertimbangan untuk karakteristik, misalnya:

  • Usia dan gender
  • Passion, habit, hobi
  • Tingkat penghasilan
  • Tingkat pendidikan
  • Target yang ingin dicapai
  • dan lain sebagainya…

3. Customer Problems / Needs (Masalah / Kebutuhan Konsumen)

Apa masalah yang dirasakan konsumen yang telah Anda petakan? Apa pain yang sedang ingin mereka sembuhkan? Apa target yang sedang ingin mereka kejar? Apa needs yang mereka perlukan untuk mencapai impian – impian mereka?

Satu hal yang perlu Anda lakukan adalah mengurangi asumsi apa yang dibutuhkan konsumen dengan bertanya langsung kepada mereka. Buat pengamatan lapangan atau wawancara langsung agar Anda semakin dekat dengan konsumen Anda.

Output: Pada bagian ini Anda akan menghasilkan daftar target konsumen Anda berdasarkan segmen yang berbeda – beda, plus penjelasan detil tentang karakteristik masing – masing konsumen. Jika segmen Anda ada banyak, saya menyarankan untuk membuat prioritas dalam melayani konsumen. Coba tanyakan, “seandainya saya hanya bisa melayani 1 konsumen saja, siapakah yang ingin saya layani?”

Langkah 2 (dari 10) : Value Propositions

Ketika pemetaan customer segment sudah jelas, maka selanjutnya kita memilih mana masalah atau kebutuhan dari pelanggan itu yang ingin kita penuhi? Selain itu, di value proposition juga harus mempertimbangkan apa keunikan / keunggulan solusi yang kita tawarkan dibandingkan solusi – solusi lainnya?

Maka dari itu, siapkan sticky notes dan tuliskan sebanyak – banyaknya value proposition yang Anda persiapkan sebagai cure atau obat untuk mengatasi masalah dari konsumen.

Sebagai contoh, salah satu startup yang sedang saya kembangkan, SignifierGames.com membuat value proposition penyediaan Serious Games untuk pembelajaran konsep – konsep kompleks di bidang engineering, khususnya industrial engineering. Solusi ini dibuat dengan harapan dapat mengurangi pain berbagai institusi pendidikan di Indonesia dalam mengajarkan konsep sulit kepada peserta didiknya. Beberapa game yang dikembangkan adalah permainan di bidang operation management, seperti Operation Management Game (OMG), Project Management Game (PMG), dan Strategic Sourcing Management Game (SSMG). Value proposition ini berbeda karena kebanyakan pengembang Serious Games tidak mengembangkan permainan untuk bidang – bidang engineering.

Setelah Anda menemukan value proposition, pastikan Anda menghubungkan koneksi antara VP yang Anda miliki dengan customer segment yang telah Anda petakan. Contohnya adalah seperti ini,

Hubungan value proposition dengan customer segment dalam BMC

Hubungan value proposition dengan customer segment dalam BMC

Output : Daftar solusi atau “obat” yang lebih baik atau kompetitif dari yang sudah ada berdasarkan masalah atau kebutuhan konsumen

LANGKAH 3 (dari 10) : CHANNELS

Channels dalam BMC adalah entitas yang digunakan oleh organisasi bisnis untuk membuat value proposition yang sudah dibuat itu ‘sampai’ ke konsumen. Biasanya saya menggunakan framework AIDA (Attention – Interest – Desire – Action)sebagai tahap awal, ditambah bagaimana proses pengiriman barang atau jasa tersebut ke konsumen.

Misalnya, apa yang bisa dilakukan untuk menarik attention konsumen terhadap value proposition yang dibuat? Beberapa pilihan menarik, antara lain:

  • Membuat iklan
  • Memasang FB Ads atau Google Adwords

Dua contoh di atas adalah termasuk channels

Sebagai contoh, SignifierGames.com menggunakan media Website, Brosur, dan Buku yang dijual di retailer seperti Amazon.com untuk menyampaikan value proposition kepada konsumen.

Output: Daftar dari channel yang penting untuk mendistribusikan informasi dan value kepada konsumen. Biasanya, berbeda segmen konsumen maka akan berbeda pula channelnya

Langkah 4 (dari 10) : Customer Relationship

Bagian customer relationship diisi tentang bagaimana kita berinteraksi kepada konsumen setelah terjadi transaksi, untuk memastikan konsumen puas dengan value yang kita tawarkan sepanjang hingga akhir life cycle nya.

Perusahaan penerbangan, misalnya setelah kita menggunakan jasa penerbangannya umumnya akan ditawarkan berbagai email penawaran, memberikan membership khusus, yang apabila sudah mencakup beberapa poin akan mendapatkan benefit tertentu.

Output: penjelasan tentang bagaimana caranya organisasi menjalin hubungan dengan konsumen yang sudah ‘membeli’ value yang ditawarkan agar tercipta loyalitas atau transaksi kembali.

Langkah 5 (dari 10) : Revenue Stream

Revenue streams adalah pendapatan yang diterima oleh perusahaan atau organisasi yang berasal dari value proposition yang ditawarkan. Hal paling penting adalah harus terjadi koneksi yang clear antara revenue stream yang dihasilkan dari value proposition, dan customer segment mana yang membayar untuk hal tersebut.

Sebagai contoh, di bawah ini saya ambil dari BMC Signifiergames.com, di mana revenue streams berasal dari penjualan paket game dan buku untuk akademik, dan yang membayar adalah institusi pendidikan.

Contoh pengisian revenue stream BMC pada SignifierGames.com

Contoh pengisian revenue stream BMC pada SignifierGames.com

Output: Daftar dari revenue streams, yang berasal dari value proposition x yang ditawarkan, dengan customer segmen y sebagai pihak yang bersedia membayar.

Langkah 6 (dari 10) : Key Activities

Untuk menciptakan value proposition yang lebih baik dan kompetitif, tentunya ada beragam aktivitas kunci untuk dapat menghasilkan value porposition sesuai dengan yang diharapkan. Aktivitas ini adalah aktivitas pokok yang apabila hilang atau tidak ada, maka value proposition yang kompetitif tidak dapat direalisasikan.

Sebagai contoh, SignifierGames.com mengajukan value proposition yaitu serious game berkualitas yang dikembangkan oleh expert di Universitas Indonesia, dan key activities yang diperlukan adalah game design & development. Contoh lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini,

Pengisian key activities dalam Business Model Canvas

Pengisian key activities dalam Business Model Canvas

Output : Daftar aktivitas utama / kunci untuk dapat menghasilkan value proposition yang diinginkan.

Langkah 7 (dari 10) : Key Resources

Key resources adalah sumber daya strategis yang dibutuhkan untuk menunjang key activities agar bisa berjalan lancar untuk menghasilkan value proposition sesuai dengan yang diharapkan. Dengan terpetakannya key resource, diharapkan sebuah bisnis dapat menjadi lebih kompetitif dibandingkan pesainya.

Sebagai lembaga pengembang ‘serious games’, SignifierGames.com bergantung penuh terhadap SDM bertalenta atau para expert di bidang pengembangan serious games. Talented people ini kemudian menjadi key resources dari SignifierGames.com

Output:Daftar dari sumber daya utama yang dibutuhkan untuk menunjang key activities agar dapat menghasilkan value proposition yang diinginkan.

Langkah 8 (dari 10) : Key Partnership

Sebuah organisasi bisnis tentunya tidak bisa berjalan hanya mengandalkan dirinya sendiri. Ketimbang mengembangkan dan menjalankan semuanya sendiri, ada baiknya untuk bekerjasama dengan mereka yang telah expert di bidangnya masing – masing.

Misalnya, salah satu key activities dari SignifierGames.com adalah membuat dan mencetak buku. Maka, daripada handling semuanya sendirian, ada baiknya SignifierGames.com bekerjasama dengan penerbit yang memang sudah malang melintang di bidang penerbitan buku. SignifierGames.com pun kemudian hanya menyiapkan naskahnya saja, untuk nanti diubah dan di layout oleh penerbit utama.

Key activities lainnya di SignifierGames.com, misalnya adalah melakukan training for trainer untuk kaderisasi. Namun, karena kaderisasi trainer dan fasilitator itu cukup lama, maka SignifierGames.com bisa bekerjasama dengan trainer profesional yang sudah berpengalaman untuk menjadi narasumber workshop atau seminar yang dibawakan tentang bagaimana cara membuat game.

Output: Daftar rekanan kunci di luar organisasi yang dapat mendongkrak performa key activities sehingga dapat menghasilkan value proposition dengan lebih kompetitif lagi.

Langkah 9 (dari 10) : Cost Structure

Cost structure adalah daftar biaya yang dikeluarkan oleh organisasi bisnis dalam rangka menciptakan value proposition kepada konsumen. Biasanya, cost structure ini ‘ditarik’ dari key activities. Beberapa pertanyaan penting untuk diajukan saat memetakan biaya:

  1. Apakah biaya yang dikeluarkan dalam rangka menciptakan value?
  2. Mana jenis biaya yang lebih banyak, fixed cost atau variable cost?
  3. Jika bisnis diskala menjadi lebih besar, apakah peningkatannya linear, eksponensial, atau tetap?

Pemetaan struktur biaya perlu dilakukan dengan lebih hati – hati, karena sangat penting apabila organisasi bisnis ingin dibuat dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya.

Output: Daftar elemen struktur biaya yang dikeluarkan untuk membiayai key activities dalam menciptakan value proposition.

Pada akhirnya, SignifierGames.com memiliki hasil akhir BMC dalam bentuk seperti ini,

Contoh Pengisian Business Model Canvas SignifierGames.com

Contoh Pengisian Business Model Canvas SignifierGames.com

Bagaimana BMC versi Anda? Apakah Anda telah selesai membuatnya?

Langkah 10 (dari 10) : ANALISIS & VALIDASI MODEL BISNIS

Bagi Anda yang sudah menyelesaikan BMC, jangan senang dulu karena sebenarnya menyelesaikan BMC itu barulah langkah awal saja, hehe. Ya, karena sebenarnya apa yang kita sudah isikan di BMC (termasuk SignifierGames.com) itu adalah ‘hipotesis’ dan ‘asumsi’ subjektif yang dianggap benar oleh si perencana bisnis. Pada kenyataannya, hipotesis ini perlu diuji apakah memang benar model bisnis yang direncanakan tersebut berjalan sebagaimana mestinya.

Bagaimana cara mengujinya? Cara paling mudah adalah langsung bertanya ke konsumen yang ditarget, berinteraksi secara langsung ke lapangan dan merasakan langsung apa yang dirasakan konsumen.

Pada waktu saya belajar langsung dari Strategyzer, instruktur bahkan langsung meminta kami yang membuat BMC itu untuk keluar gedung dan melakukan validasi langsung ke segmen konsumen kami. Padahal waktu itu sedang workshop, dan kami benar – benar diminta untuk keluar gedung! Wow!

Namun memang benar, interaksi langsung dengan konsumen itu dapat memberikan banyak insight tambahan baru. Misalnya, SignifierGames.com sendiri melakukan beberapa perubahan rencana model bisnis setelah berinteraksi langsung dengan konsumennya.

Misalnya, dulu kami memiliki asumsi bahwa seluruh institusi pendidikan memiliki kesulitan dalam mengajarkan konsep sulit ke peserta didik. Sehingga, kami berasumsi bahwa Serious Game yang dibuat expert ini akan laku.

Namun setelah kami pelajari lagi, ternyata yang lebih banyak mencari Serious Game ini adalah universitas swasta yang memang sedang menjalin kerjasama dengan kampus besar seperti UI. Maka, kerjasama tersebut coba kami bundling dengan produk buku, games, dan workshop untuk universitas tersebut. Sticky notes hijau menunjukkan ada beberapa tambahan / perubahan dari BMC sebelumnya.

Contoh Validasi Business Model Canvas SignifierGames.com

Contoh Validasi Business Model Canvas SignifierGames.com

SUDAH VALIDKAH MODEL BISNIS ANDA?

Sebagai pengusaha pemula yang ingin memulai bisnis, membuat business plan tidak ada salahnya. Hanya saja, hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah apakah ide yang dibawa memiliki model bisnis yang valid.

Business Model Canvas, adalah sebuah tools yang sangat menarik untuk Anda coba dalam rangka menguji model bisnis Anda. Dengan model bisnis yang sudah teruji, barulah kemudian Anda mencoba membuat business planyang lebih detil sambil kemudian pitching kepada investor untuk meningkatkan skala bisnis Anda menjadi lebih besar.

Untuk mulai membuat Business Model Canvas Anda sendiri, silakan Anda unduh langsung template BMC yang langsung siap diisi dan dipresentasikan di link berikut ini.

Semoga bermanfaat untuk membantu Anda mewujudkan rencana bisnis yang sudah lama Anda idamkan.

Salam,
Arry Rahmawan

Founder, CerdasMulia Institute
Founder, SignifierGames.com
Lecturer & Researcher, Universitas Indonesia

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

GRATIS! Ayo Gabung di Komunitas Indonesia Berpijar!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen serta peneliti di Universitas Indonesia mengenai inovasi, kewirausahaan, dan strategi bisnis yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!