Tips Akademik

Panduan Menerbitkan Makalah Ilmiah di Prosiding Seminar Internasional Terindeks SCOPUS

Written by Arry Rahmawan

Beberapa waktu lalu, saya pernah menjadi juri untuk menyeleksi mahasiswa berprestasi (mapres) dari Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia untuk bertanding di tingkat Fakultas Teknik UI dengan mapres – mapres dari departemen lainnya.

Untuk memilih wakil mapres terbaik dari Departemen Teknik Industri, salah satu pertimbangan yang saya gunakan untuk memilih (sekaligus memang merupakan standar yang diberikan oleh Kemenristedikti) yaitu mahasiswa berprestasi haruslah memiliki jejak penelitian dan menjadi presenter makalah ilmiah di forum internasional. Hal ini tentu sangat wajar, di mana mapres UI dituntut untuk aktif baik dalam pendidikan, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat. Salah satu bentuk aktif dalam penelitian adalah dengan mempresentasikan hasil penelitian dalam seminar dan mempublikasikan hasil penelitiannya tersebut ke dalam prosiding seminar. Prosiding seminar sendiri adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan makalah ilmiah yang dipresentasikan dalam seminar/kongres/konferensi keilmuan tertentu dan memenuhi kriteria yang disyaratkan untuk dipublikasikan.

Untuk dapat mempublikasikan makalah ilmiah di prosiding internasional, tentu ada langkah – langkah yang perlu untuk ditempuh. Tidak semua makalah ilmiah itu eligible atau layak untuk diterima dalam sebuah seminar atau konferensi internasional. Walaupun tidak seketat dalam seleksi makalah ilmiah untuk jurnal, mengirimkan makalah ilmiah untuk seminar lalu dipublikasikan di prosiding juga memerlukan strategi tersendiri.

Strategi untuk dapat mempresentasikan hasil penelitian dan menerbitkan makalah ilmiah di seminar internasional ini sudah saya dapatkan polanya sejak saya semester 5 kuliah. Dulu, sebagai mahasiswa yang memiliki impian sebagai mapres, saya sangat berambisi untuk bisa mempublikasikan hasil – hasil penelitian saya ke prosiding seminar internasional. Hal ini dikarenakan sewaktu saya mahasiswa, salah satu mentor saya pernah mengatakan “selagi kalian masih menjadi mahasiswa, setidaknya kalian pernah sekali – hanya satu kali – saja pergi ke luar negeri. Mentor saya mengatakan, dengan kita pernah ke luar negeri, kita dapat bertukar pikiran dengan banyak orang, dibiasakan untuk hidup sebagai minoritas, dan juga bisa berbagi cerita tentang penelitian yang kita lakukan, di mana mungkin akan sangat bermanfaat dan menginspirasi masyarakat dunia. Tahun 2011, saya hadir sebagai delegasi Indonesia di World Leadership Conference (WLC) 2011 Singapura dan juga ASEAN Environmental Forum di Jepang pada 2012 untuk berbagi gagasan dan penelitian – penelitian yang saya lakukan. Dengan berbagi, tentu kita akan merasakan diri kita lebih bermakna, bukan?

Setelah saya menjadi dosen pada tahun 2014 di Universitas Indonesia, saya pun belajar lebih banyak untuk menulis makalah ilmiah dan juga menerbitkannya di prosiding seminar internasional. Bahkan, seminar internasional yang diminta bukan seminar internasional biasa, tetapi seminar internasional yang terindeks SCOPUS. Nah, apa pula itu SCOPUS?

Scopus secara sederhana dapat dijelaskan sebagai sebuah database untuk artikel, buku, dan makalah ilmiah terpilih yang merupakan literatur hasil dari peninjauan sejawat (sesama peneliti dengan pengalaman yang lebih banyak) dan dipersepsikan memiliki kualitas yang baik karena telah melalui proses peninjauan yang dilakukan sesama akademisi. Scopus itu seperti Google, hanya saja isinya adalah makalah atau artikel ilmiah yang sudah melalui proses peninjauan (lebih lengkap dapat dilihat di scopus.com). Scopus menjadi perhatian banyak akademisi karena artikel yang diindeks Scopus dianggap memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan dan secara tidak langsung dipersepsikan sebagai sebuah artikel yang berkualitas atau diterbitkan oleh badan yang memiliki reputasi.

Karena Scopus mensyaratkan adanya peninjauan pada makalah dan artikel ilmiah yang ingin diindeks (dimasukkan ke dalam Scopus), tentu saja proses penulisan dan untuk mempublikasikan menjadi lebih rumit. Awal – awal saya menjadi dosen, saya sempat takut dan merasa bahwa mempublikasikan makalah di prosiding seminar terindeks Scopus itu sulit. Hingga akhirnya dengan memberanikan diri mencoba membuat makalah dan mengirimkan ke seminar – seminar yang berkualitas, alhamdulillah saya menemukan kembali strategi secara step-by-step bagaimana caranya agar kita dapat mempublikasikan makalah ilmiah yang kita tulis di prosiding seminar internasional terindeks Scopus.

Tulisan saya kali ini secara khusus akan membahas tentang bagaimana caranya secara step-by-step untuk dapat membuat makalah ilmiah dan kemudian menerbitkannya di prosiding seminar internasional terindeks Scopus. Tulisan kali ini saya dedikasikan kepada mahasiswa dan juga dosen atau akademisi yang ingin mempublikasikan makalah ilmiahnya di level yang lebih tinggi lagi.

Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah Anda tidak perlu khawatir apabila Anda belum memiliki kemampuan menulis bahasa Inggris yang baik. Hal itu pula dulu yang sempat menghambat saya karena berpikiran bahwa saya tidak bisa menulis bahasa Inggris dengan baik. Jika Anda berpikir demikian, itu sama persis seperti yang saya rasakan ketika ingin mengirimkan naskah bahasa Inggris. ke sebuah seminar atau konferensi ilmiah. Namun, saya selalu ingat bahwa apa yang saya lakukan ini semata – mata ingin berbagi apa hasil penelitian saya, menebar kebermanfaatan, dan juga belajar dengan lebih banyak lagi dari orang lain. Sebagai hasilnya, alhamdulillah setiap tahun saya bersama tim dapat menerbitkan 3 – 4 makalah ilmiah dalam prosiding seminar internasional terindeks Scopus.

Berikut ini akan saya bagikan langkah – langkah untuk dapat menerbitkan makalah ilmiah di seminar internasional terindeks scopus. Dengan menggunakan studi kasus pengalaman pribadi dalam menerbitkan makalah ilmiah di seminar terindeks Scopus, tutorial ini saya bagi ke dalam 5 bagian utama seperti berikut ini:

  1. Teknik Mencari Konferensi atau Seminar Internasional yang Terindeks Scopus
  2. Cara Menghindari Konferensi atau Seminar Internasional yang Terindikasi Penipuan
  3. Cara Mempersiapkan Naskah Makalah Ilmiah untuk Diterbitkan di Prosiding Internasional Terindeks Scopus.
  4. Bagaimana Merespon Revisi Naskah Makalah Ilmiah dari Reviewer
  5. Mengecek Makalah Ilmiah dalam Prosiding Seminar Internasional (ISSN, SCOPUS)

Ayo kita bahas satu per satu poin – poin di atas!

Langkah 1: Teknik Mencari Konferensi atau Seminar Internasional yang Terindeks Scopus

Mengapa mencari konferensi atau seminar internasional terletak di bagian pertama? Hal ini karena setiap konferensi atau seminar memiliki persyaratan yang berbeda – beda terkait makalah yang diminta untuk dipresentasikan. Mencari konferensi atau seminar internasional ini sebenarnya bisa dengan dua cara,

  1. Kita menarget dulu seminar yang ingin dihadiri, kemudian baru membuat makalah ilmiah penelitiannya. Ini sering terjadi di mahasiswa saya yang memang target untuk seminar di negara tertentu. Sebagai contoh misalnya konferensi yang diselenggarakan di Jepang umumnya lebih diminati dibandingkan dengan konferensi yang diselenggarakan di China.
  2. Kita sudah memiliki makalah hasil penelitian, kemudian menargetkan mana seminar atau konferensi yang cocok untuk dituju sesuai dengan tema / topik penelitian kita.

Saya sudah pernah mencoba keduanya, baik itu menarget seminar nya dulu atau membuat makalah terlebih dulu baru kemudian mengirimkan ke seminar yang sesuai (seperti misalnya makalah ilmiah dari tesis S2 saya).

Cara paling mudah untuk menemukan mana seminar yang ingin kita hadiri adalah dengan mengunjungi situs conferencealerts.com. Situs ini menyediakan beragam daftar seminar yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Menariknya lagi, situs ini juga menyediakan daftar seminar yang akan dilaksanakan di waktu yang akan datang. Berikut adalah tampilan pencarian dari conferencealerts.com

Daftar konfernesi atau seminar internasional di conferencealerts.com

Setelah itu, silakan pilih seminar / konferensi yang ingin diikuti lalu kunjungi halaman website resminya untuk mengecek apakan prosiding yang diterbitkan nantinya terindeks Scopus atau tidak. Untuk hal ini umumnya mudah dilakukan. Di website seminar / konferensi, umumnya ada bagian submission, publication, atau indexing, yang menjelaskan tentang makalah ilmiah kita akan dipublikasikan di mana dan akan diindeks di mana saja. Pastikan bahwa prosiding yang akan dipublikasikan itu diterbitkan / diindeks SCOPUS. Sebagai contoh, saya mengambil 2018 3rd International Conference on Advances in Energy and Environment Research (ICAEER) yang diselenggarakan di Guangzhou, China. Berikut ini adalah contohnya,

Contoh keterangan yang menyatakan bahwa prosiding terindeks SCOPUS

Langkah 2: Cara Menghindari Seminar / Konferensi Internasional yang Terindikasi dengan Penipuan

Mungkinkah ada seminar / konferensi yang terindikasi penipuan? Pada kenyataannya, walaupun jumlahnya mungkin tidak banyak, ada beberapa seminar / konferensi yang diselenggarakan betul – betul hanya mementingkan uang dan profit saja. Bagi mereka, yang penting ada pendaftar, makalah yang masuk tidak diseleksi dan ditinjau secara mendalam, sehingga uang registrasi yang mereka terima dapat jauh lebih banyak. Hal yang perlu hati – hati adalah saat kita sudah membayar, ternyata seminar / konferensi itu tidak ada. Lebih parah lagi, konferensi itu kemudian tidak menerbitkan prosiding, yang tentu saja berujung pada tidak diindeks di SCOPUS. Dalam dunia akademisi, seminar atau konferensi yang seperti ini dinamakan dengan predatory conference. Mereka sifatnya hanya mencari mangsa, tanpa mempertimbangkan kualitas atau memenuhi janji yang mereka berikan.

Bagaimana kemudian caranya agar kita terhindar dari seminar – seminar seperti ini?

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa cara agar kita terhindar dari penipuan seperti ini. Beberapa di antaranya yang efektif adalah:

  1. Pilih mengikuti seminar / konferensi yang sudah sering diselenggarakan, memiliki rekam jejak yang baik, dan memiliki reputasi.
  2. Melihat track record acaranya dan melacak prosiding seminar – seminar sebelumnya apakah terindeks SCOPUS atau tidak.
  3. Melihat susunan dewan editorial, apakah memiliki kredibilitas yang baik atau tidak

Ketiga hal di atas dapat digunakan untuk menentukan apakah sebuah seminar atau konferensi bisa dipercaya dan cukup aman. Kalau saya pribadi lebih senang untuk ikut konferensi yang diselenggarakan bukan pertama kali, kecuali saya benar – benar mengenal panitianya dan bisa dipercaya. Mengikuti seminar yang diselenggarakan kedua atau ketiga kali, membuat saya bisa mengecek seperti apa konferensi sebelumnya berjalan. Selain itu, seminar / konferensi yang diselenggarakan setelah yang pertama membuat kita bisa mengecek apakah prosiding yang diterbitkan benar – benar diindeks di SCOPUS atau tidak, seperti contohnya adalah berikut ini,

Contoh riwayat penyelenggaraan conference sebelumnya

Semoga cara – cara di atas dapat menghindarkan kita terjebak dari seminar / konferensi predatory.

Langkah 3: Mempersiapkan Naskah untuk Diterbitkan di Prosiding Seminar Internasional Terindeks SCOPUS

Setelah mendapatkan seminar atau konferensi yang ingin dituju, baru kita mempersiapkan dengan matang naskah yang akan kita kirimkan. Langkah ini adalah langkah yang paling penting, karena tanpa naskah maka tidak ada prosiding, hehe.

Mengapa mencari seminar dulu baru merapikan naskah? Karena setiap seminar atau konferensi itu memiliki format pengiriman yang berbeda. Sebagai contoh saat saya ingin mengirimkan makalah ke ICAEER 2017, akan berbeda formatnya dengan yang diminta oleh ISAGA 2018 misalnya.

ISAGA 2018 meminta format seperti artikel buku SPRINGER

Saya menyarankan untuk mempelajari formatnya dengan baik. Umumnya, reviewer akan lebih happy apabila mendapatkan makalah yang sudah rapi dan sesuai formatnya. Walaupun mungkin isi dari makalah kita butuh banyak perbaikan, tapi first impression alias kesan pertama itu sangat penting. Dengan kita mengirimkan makalah sesuai dengan format, setidaknya ada kesan kalau kita ‘niat’ mengikuti seminar atau konferensi tersebut.

Tips Tambahan Lainnya

Untuk memudahkan bagaimana mempersiapkan naskah dengan lebih baik, saya biasa melakukan reverse engineering, yaitu sebuah teknik membongkar makalah – makalah terbaik yang diterbitkan pada prosiding sebelumnya untuk dipelajari bagaimana polanya. Apabila polanya sudah diketahui, maka pola tersebut kemudian diadopsi ke naskah kita.

Kalau dulu di komunitas bisnis, ada istilah lainnya yaitu ATM, amati, tiru, modifikasi. Kalau dalam penulisan ilmiah, apa yang kita tiru tidak bisa sama persis. Harus menggunakan teknik parafrase, sebuah teknik di mana kita membuat frasa ulang dari kalimat yang ingin dikutip.

Selain itu, persiapan naskah juga harus mencakup bagaimana mempersiapkan tata cara penulisan naskah tersebut. Saya biasa menggunakan software pengecekan plagiarisme dan grammar, seperti misalnya menggunakan grammarly. Saya sendiri salah satunya menggunakan Grammarly ini untuk mengecek grammatical error dasar di naskah saya. Yaaa… walaupun nanti akan ada revisi lagi, namun setidaknya naskah yang kita kirimkan secara dasar adalah naskah yang baik dan jauh dari typo.

Oh ya, satu lagi terakhir dan paling penting. Pastikan naskah yang kita kirimkan adalah naskah asli, orisinil, dan belum dipublikasikan di tempat lain. Beberapa seminar internasional sangat berfokus pada masalah plagiarisme. Tidak jarang juga, bagi penulis dan institusi yang terindikasi plagiarisme akan dimasukkan ke daftar hitam atau blacklistsehingga jika submit lagi di kemudian hari kemungkinan besar akan sulit diterima.

Itulah sedikit tips bagaimana mempersiapkan naskah untuk dipresentasikan dalam seminar ilmiah internasional terindeks Scopus. Jika persiapan naskah selesai, apalagi yang ditunggu? Segera kirimkan makalah penelitian Anda pada seminar internasional yang Anda inginkan.

Dalam beberapa waktu kemudian, bersiaplah untuk mendapatkan letter of acceptance(LOA) atau surat pemberitahuan bahwa makalah diterima untuk dipublikasikan. Biasanya selain LOA, kita juga akan dikirimkan daftar masukan atau hal – hal apa saja yang perlu direvisi dari reviewer.

Contoh Letter of Acceptance International conference

Bagian berikutnya akan membahas bagaimana cara untuk merespon revisi naskah dari reviewer.

Langkah 4: Bagaimana merespon revisi naskah

Ketika kita mengirimkan naskah kepada ke sebuah konferensi atau seminar internasional, umumnya mereka memiliki tim peninjau (reviewer) yang akan menilai apakah naskah kita ini layak dipresentasikan dan dipublikasikan ke dalam prosiding seminar tersebut. Ketelitian dari setiap peninjau dalam memberikan penilaian tentu berbeda – beda. Ada yang tidak mendetil, namun ada yang detil sekali. Paling repot memang kalau kita menghadapi reviewer yang mengoreksi naskah kita dengan sangat detil sekali.

Jika banyak dari bagian naskah kita yang direvisi, saat mengirimkan revisi balik maka kita perlu pula membuat semacam daftar perubahan (list of changes) sederhana yang biasa juga disebut sebagai response letter. Daftar perubahan ini umumnya terdiri dari 2 kolom. Kolom pertama berisi apa saja masukan dari reviewer dan kolom kedua adalah daftar perubahan yang kita berikan sebagai tanggapan terhadap masukan reviewer tersebut.

Berikut ini adalah contoh sederhana dari response letter,

Contoh response letter dalam menanggapi masukan reviewer

Tentu langkah berikutnya adalah mengirimkan daftar perubahan tersebut dan melampirkannya bersama naskah yang sudah kita perbaiki berdasarkan masukkan yang diberikan oleh reviewer.

Setelah itu, biasanya kita akan diminta kembali mengirimkan naskah yang siap untuk diterbitkan menjadi prosiding, istilahnya adalah naskah camera ready. Setelah mengirimkan naskah tersebut, kita akan diundang untuk memberikan presentasi terkait dengan penelitian yang kita lakukan. Presentasi ini nantinya akan disajikan di hadapan peneliti atau pengunjung lainnya yang memiliki minat keilmuan mirip / sama. Umumnya dalam sebuah konferensi atau seminar internasional, presentasi akan dibagi ke dalam grup – grup kecil (atau istilahnya parallel session) sesuai bidang keilmuan, untuk nanti setiap penuils yang mengirimkan makalah ilmiah akan presentasi.

Langkah 5: Mengecek Makalah Ilmiah Secara Berkala di SCOPUS

Jika kita sudah mengirimkan makalah dan juga sudah memberikan presentasi, maka saat berikutnya yang ditunggu – tunggu adalah publikasi prosiding dan melihat makalah kita ada di SCOPUS.

Prosiding umumnya akan terbit 2 – 3 bulan setelah konferensi atau seminar berlangsung. Penerbitan prosiding ini bisa berbentuk cetak atau juga dalam bentuk elektronik. Untuk bentuk prosiding ini, pastikan membaca baik – baik publikasi prosiding yang akan dilakukan oleh panitia. Biasanya bentuk publikasi ini tertera di website informasi konferensi atau seminar yang bersangkutan. Apabila tidak ada, maka cobalah untuk mengontak langsung panitia konferensi yang bersangkutan.

Untuk prosiding yang diterbitkan secara elektronik, pastikan pula memiliki ISSN atau semacam nomor seri internasional. Prosiding elektronik ini umumnya akan menaruh makalah kita secara online. Ada yang bebas di unduh atau ada juga yang harus bayar untuk mendapatkannya.

Berhubung biasanya tidak ada pembertitahuan apakah makalah kita sudah diterbitkan atau belum, biasanya kitalah yang harus aktif dan rajin – rajin mengecek ke situs prosiding online nya. Bisa juga dengan bertanya ke panitianya langsung. Sebagai contoh, berikut ini adalah makalah saya yang diterbitkan di prosiding online (IOP Conference Series: Earth and Environmental Science – ESS),

Contoh makalah ilmiah yang diterbitkan di prosiding online

Makalah yang sudah diterbitkan dalam prosiding ini umumnya membutuhkan waktu lagi sekitar 1 – 2 bulan untuk diindeks di SCOPUS. Jadi, setelah kita mempresentasikan makalah kita pun masih butuh waktu sekitar 4 – 5 bulan lagi untuk makalah kita diindeks di SCOPUS. Enaknya karena banyak ilmuwan di dunia ini menggunakan SCOPUS untuk mencari artikel, dengan makalah kita diindeks di SCOPUS maka peluang ditemukannya hasil penelitian kita dan dirujuk dalam penelitian lainnya pun akan semakin besar.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat menulis dan menerbitkan makalah di SCOPUS!

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

 

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment