Akademik Tips Beasiswa

Pengalaman Mengikuti Seleksi Berbasis Komputer (SBK) Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2018

Written by Arry Rahmawan

Sahabat semuanya, setelah sebelumnya saya menceritakan tentang pengalaman saya mengikuti seleksi Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) LPDP Luar Negeri 2018, tidak disangka respon dari pembaca cukup banyak dan beragam. Mulai dari sekedar mengucap terima kasih, bahkan hingga japri saya melalui e-mail dan juga Instagram untuk berkonsultasi mengenai bagaimana proses seleksi beasiswa ini dengan lebih detil.

Jumlah pertanyaan ini semakin meningkat, terutama karena LPDP tahun 2019 juga sudah di buka. Bagi Anda yang saat ini sedang berusaha dan berjuang mendapatkan LPDP di tahun 2019, berikut ini adalah tanggal – tanggal penting yang harus Anda perhatikan yang bisa langsung Anda ketahui di situs resmi LPDP

Salah satu pertanyaan yang banyak diajukan adalah mengenai pengalaman saya mengikuti Seleksi Berbasis Komputer (SBK), yaitu seleksi yang saya jalani setelah lolos seleksi tahap 1 atau seleksi pemberkasan. Melihat kembali timeline yang diposting pada penerimaan LPDP 2019 ini, sepertinya tidak jauh berbeda secara format. Tentu saja termasuk seleksi SBK nya.

Setelah saya membagikan tips bagaimana menjawab pertanyaan interviewer pada saat seleksi substansi dari psikolog dan juga akademisi, maka tulisan kali ini saya akan membahas khusus tentang pengalaman mengikuti Seleksi Berbasis Komputer (SBK).

Are you ready, guys? Yuk kita mulai….

Informasi Umum Mengenai SBK

Secara umum, seleksi SBK ini berupa Tes Potensi Akademik yang menggunakan standar CAT (Computer Assisted Test) CPNS yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Pada saat seleksi awal, kita diminta untuk memilih lokasi dari tes SBK ini. Saya memilih lokasi di Jakarta, dan tempat pelaksanaan SBK saya ada di Kanreg V Ciracas. Tenang saja, nanti akan ada edaran khusus yang akan diberikan melalui email oleh LPDP, termasuk nanti akan dijelaskan di mana lokasi tes SBK kita. Oh ya, di saat ujian nanti kita diwajibkan untuk menggunakan dresscode baju berwarna putih dan celana hitam. Jangan sampai lupa akan hal ini ya guys, kalau tidak menggunakan dresscode nya nanti tidak boleh masuk.

Sebelum masuk

Oh ya, waktu antara selesai pemberkasan dengan tes SBK ini cukup singkat, jadi jika Anda merasa yakin akan lolos ke SBK, sebaiknya mulai langsung belajar berbagai soal – soal TPA dan CAT CPNS, karena itu akan sangat membantu sekali.

Suasana SBK LPDP – credit: cat.bkn.go.id

Apa saja yang diujikan dalam SBK?

Sesuai dengan namanya, SBK adalah tes di mana kita menggunakan komputer untuk mengerjakan soal – soalnya. Layaknya CAT CPNS, maka dalam SBK ini terbagi menjadi beberapa segmen:

Tes Potensi Akademik, yang terdiri dari,

a. Tes Verbal
b. Tes Aritmatika
c. Tes Penalaran dan Logika

Tes ini kurang lebih berlangsung selama 45 menit, dengan masing – masing bagian ada 20 soal. Pada bagian ini bisa melakukan skip soal yang kita ingin lewati, untuk kemudian kita kembali lagi ke soal tersebut nantinya untuk dikerjakan.

Untuk soal tes potensi akademik sendiri, umumnya kita semua sudah tahu dan sudah pernah mengerjakannya.

Berikut ini adalah bentuk soal yang akan muncul,

TES POTENSI AKADEMIK

TES VERBAL

Tes verbal terdiri dari tes padanan kata, tes hubungan, sinonim, dan antonim. Misalnya…

Supir : Mobil ……. : Kereta Api

Maka, titik-titik di atas dijawab dengan “Masinis”. Itu contoh padanan katanya.

Untuk sinonim dan antonim, tentu saja ini tidak perlu dijelaskan lebih jauh karena sudah cukup jelas. Sinonim mencari padanan kata yang mirip atau hampir sama maknanya, sementara antonim adalah kata yang maknanya berlawanan.

Salah satu yang saya ingat pada tes SBK ini adalah, kata – kata yang keluar sebagian adalah kata – kata asing yang saya belum pernah dengar walaupun itu masih dalam bahasa Indonesia atau ada dalam KBBI.

Misalnya, sebagai contoh keluar kata LUNCAI. Nah, coba sebelum Anda googling artinya di KBBI, apakah arti kata LUNCAI?

TES ARITMATIKA

Tes Aritmatika terdiri dari tes baris dan deret, tes logika cerita, dan tes logika angka. Saya pribadi merasakan bahwa soal – soal ini banyak berasal dari soal – soal yang kita kerjakan sewaktu SMP dan SMA dulu.

Beberapa soal yang saya tidak sangka keluar adalah mengenai ruas jari – jari lingkaran dalam segitiga. Ini soal cukup spesifik, namun jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan soalnya masih cukup umum dan bisa dikerjakan. Kuncinya adalah berlatih soal – soal sebanyak mungkin agar kita semakin menguasai strategi untuk mengerjakan tipe soal yang beragam. Semakin banyak berlatih juga tentu saja akan semakin terbiasa dengan tipe soalnya, sehingga kita dapat mengerjakannya dengan lebih tenang dan tidak ‘grogian’.

TES LOGIKA DAN CERITA

Untuk tes logika ini memang yang diperlukan adalah ketelitian dalam membaca soal. Bagian yang penting untuk dipelajari adalah pelajaran ‘logika matematika’ seperti misalnya negasi, konjugsi, disjungsi, implikasi, biimplikasi, ekivalen, konvers, invers, dan kontraposisi. Tipe soalnya nanti kurang lebih seperti:

“Semua bunga adalah indah”. Invers/Konvers dari pernyataan tersebut adalah….

Selain itu, terdapat juga soal yang menjelaskan tentang penarikan kesimpulan. Seperti misalnya modus ponens, modus tollens, dan silogisme. Nanti bentuk pertanyaannya dapat berupa kita diminta untuk mencari kalimat pelengkapnya, atau pernyataan benar/salah.

Dalam tes TPA ini, saya mendapatkan hasil yang ‘jomplang’, di mana saya unggul di tes numerik, tapi jelek di tes verbal dan logika. Di tes verbal, saya tidak banyak menguasai kosakata bahasa Indonesia yang aneh – aneh, misalnya seperti LUNCAI tadi. Selain itu, saya juga lupa mempelajari logika matematika seperti implikasi, biimplikasi, ekivalen, konvers, invers, sehingga pada saat saya mengerjakan soal lebih banyak berdoa dan mengikuti ‘feeling’ saja, hehe.

TES KARAKTERISTIK PRIBADI (TKP)

TKP adalah tes untuk menguji apakah kita memiliki karakteristik yang dicari oleh LPDP. TKP ini mengukur beberapa aspek, seperti kepemimpinan, loyalitas, integritas, dan lain sebagainya. Menurut saya, tes ini tidak bisa dianggap remeh. Banyak sekali peserta pada saat angkatan saya di tahun 2018 merasa yakin bahwa penilaian hanya bersumber dari TPA saja. Namun, ada kejadian di mana peserta memiliki nilai TPA yang tinggi, namun TKP nya rendah lalu tidak lolos ke seleksi substansi.

Tips mengerjakan TKP ini menurut saya bukanlah memilih pilihan yang “paling mirip dengan diri sendiri”, namun lebih ke arah “mana kepribadian ideal dalam konteks sebagai pegawai negeri atau abdi negara”.

Berikut ini adalah contoh dari soal TKP yang akan muncul,

Saya mengerjakan tugas koreksi laporan kantor yang harus selesai besok pagi. Tiba – tiba sahabat datang dengan muka cemberut dan tampaknya ingin curhat (mencurahkan isi hati) kepada saya. Atas kejadian itu saya:

a. Menanggapi dan memberi berbagai alternatif penyelesaiannya
b. Meneruskan koreksi laporan dan tidak memerdulikan keinginan teman saya
c. Mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian
d. Dengan menyesal tidak dapat mendengarkan keluhannya
e. Terus mengoreksi laporan sambil sesekali mendengarkan ceritanya.

Coba sekarang tebak, menurut Anda manakah di antara kelima poin tersebut yang memiliki nilai jawaban paling besar? Selama ini, dalam tes TKP kita dibiasakan untuk mengisi sesuai dengan preferensi diri kita. Tidak ada salah dan benar. Hanya saja, dalam tes TKP ini ada nilai yang lebih tinggi dan lebih rendah. Menurut saya pribadi, jika Anda menjawab yang (a), itu adalah contoh jawaban yang baik. Namun, dalam kasus ini, nilai yang paling besar adalah jawaban yang (e).

Berdasarkan pengalaman ini, saya tidak menyarankan Anda mengisi sesuai dengan preferensi Anda, namun jawablah dengan jawaban yang paling ideal.

ESSAY ON THE SPOT

Essay on The Spot (EOTS) adalah tes di mana kita akan diminta untuk menuliskan esai di tempat, dengan waktu kurang lebih 20 menit. Dalam EOTS ini, kita akan diminta untuk menanggapi sebuah isu nasional yang sedang hangat. EOTS ini sangat mirip dengan writing test dalam tes IELTS Writing Test 2 (argumentative essay) atau TOEFL iBT. Intinya pada EOTS ini kita diminta pendapat apakah setuju atau tidak (harus memiliki standpoint, disarankan untuk tidak netral) lalu kemudian menjelaskan alasannya dengan cara yang terstruktur dan sistematis. Waktu yang diberikan dalam EOTS ini adalah sebanyak 30 menit.

Kuncinya tentu saja terletak pada pemahaman kita atas isu tersebut dan juga kemampuan kita menulis dalam Bahasa Inggris dengan baik. Sewaktu saya ingin mengikuti EOTS, saya mendaftar isu – isu penting yang terjadi di sepanjang tahun 2018, dan berikut adalah isu – isu yang sempat saya daftar:

  1. Kebijakan insentif dan jenjang karir atlit (berkaitan ASIAN GAMES 2018)
  2. Pencekalan aplikasi Tiktok
  3. Kebijakan masuk tenaga kerja asing di Indonesia
  4. Defisit BPJS dan penggantian dengan cukai rokok
  5. Isu Zonasi sekolah
  6. Isu koruptor yang kembali menjadi calon legistlatif
  7. Penambangan minyak ilegal di Aceh
  8. Penerimaan bantuan atau hibah asing dalam penganggulangan Gempa
  9. Pemberlakuan tes psikologi untuk pembuatan SIM
  10. Isu nasinonalisme, khilafah, syariah, dan pembubaran HTI
  11. Kebijakan tentang Revolusi Industri 4.0
  12. Isu Sel mewah penjara Sukamiskin
  13. Daftar sektor investasi 100% asing
  14. Halal Haram Vaksin MR
  15. Pemberian Insentif bagi Donor Darah
  16. Kebijakan untuk menekan angka urbanisasi
  17. Penurunan prestasi Indonesia di bidang olahraga
  18. One Map Policy, Kebijakan Satu Peta

Di setiap isu tersebut, saya sudah mempersiapkan diri dengam membuat esai singkat terkait dengan standpoint yang saya miliki (apakah itu setuju atau tidak setuju) dan juga membuat pemaparan mengenai argumentasi pendukung dari pendapat yang kita berikan tersebut.

Setelah EOTS, maka setiap peserta dipersilakan untuk keluar ruangan. Nah, di luar ruangan itu, ternyata sudah dipampang langsung nilai TPA dan TKP yang kita kerjakan tadi di kelas. Sehingga, kita dapat langsung bisa melihat berapa nilai kita dan membandingkannya dengan peserta lainnya. Pas bagian ini kadang bikin kita sport jantung lah kalau misalnya ga sesuai dengan harapan. Saya sendiri mendapatkan nilai TPA sebesar 200 dan TKP sebesar 264. Dengar – dengar sih 200 itu adalah passing grade untuk reguler dan 150 adalah passing grade untuk afirmasi di angkatan saya. Jadi alhamdulillah saya bersyukur masih dapat masuk di nilai tersebut.

Persiapan Saya dalam Menghadapi SBK LPDP 2018

Pada bagian ini saya akan menjelaskan tips – tips singkat tentang bagaimana saya mempersiapkan diri dalam menghadapi tes SBK LPDP 2018 ini.

Tips untuk TPA & TKP:

  1. Berlatihlah dengan sungguh – sungguh dari buku – buku TPA dan TKP yang bertebaran di toko buku. Carilah buku yang cenderung untuk CAT CPNS, karena SBK LPDP menggunakan sistem CAT yang biasa digunakan untuk seleksi CPNS. Berlatih soal sebanyak – banyaknya sangat membantu saya untuk bisa tembus di SBK ini.
  2. Bergabung dengan grup – grup online, seperti WhatsApp, Facebook, maupun Telegram. Saya merekomendasikan sahabat pembaca sekalian untuk bergabung di grup Telegram LPDP LN yang dapat diakses di sini – https://t.me/LPDPLN
  3. Ketemuan untuk belajar bersama dengan teman – teman lainnya juga sangat membantu untuk berlatih soal – soal TPA & TKP. Anda bisa janjian dengan teman – teman Telegram di suatu tempat untuk ketemu dan diskusi bareng

Tips untuk mengerjakan EOTS:

  1. List sebanyak – banyaknya topik yang sedang hangat, kemudian siapkan draft singkat sebagai gambaran tentang apa yang mau dituliskan nanti.
  2. Perbanyak baca koran, melihat berita di TV, dan kadang acara – acara perdebatan bisa memberikan masukan dalam membangun argumen
  3. Bawalah pulpen sendiri untuk persiapan jika membutuhkan alat tulis
  4. Essay yang ditulis umumnya 250 kata sudah cukup, jadi jangan terlalu panjang ataupun pendek. Cara mudah memperkirakannya adalah dengan menulis setiap baris 8 – 10 kata. Maka 250 kata adalah kurang lebih 4 – 5 paragraf dengan masing – masing paragraf 5 – 6 baris.
  5. Drafting di kertas terlebih dulu, buat outline kata kunci tentang apa yang mau ditulis, baru kemudian kita tuliskan di komputer
  6. Pastikan sebelum masuk ruang ujian kita sudah menuntaskan hajat ke toilet, agar tidak membuang waktu.

Yup, itulah gambaran tes mengenai SBK yang saya dapatkan sewaktu 2018 lalu. Semoga bermanfaat untuk teman – teman semuanya yang akan melaksanakan SBK LPDP tahun ini. Artikel ini adalah artikel berseri, jangan lupa untuk mengunjungi artikel saya lainnya,

  1. Pengalaman saya Mengikuti Seleksi BUDI LPDP LN 2018 (Penjelasan Umum)
  2. Daftar Pertanyaan Wawancara Seleksi Substansi Bagian 1 (Psikolog)
  3. Daftar Pertanyaan Wawancara Seleksi Substansi Bagian 2 (Akademisi)

Semoga bermanfaat dan lulus seleksi LPDP nya!

Salam,
Arry Rahmawan

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!