Pengembangan Diri Quantum Teaching

Pentingnya Student Centered Learning di Perguruan Tinggi

Student centered learning
Written by Arry Rahmawan

Pada tanggan 13 – 17 Maret lalu, saya berkesempatan mengikuti pembekalan untuk dosen – dosen muda di Universitas Indonesia. Pembekalan ini dinamakan Pembelajaran Aktif Perguruan Tinggi (PAPT). Pembekalan yang menekankan bahwa setiap dosen harus mulai shifting dari pengajaran yang berbasis dosen (teacher centered) menuju pengajaran berbasis mahasiswa (student centered).

Pembekalan seperti ini menurut saya pribadi penting, karena seringkali dosen betul – betul hanya expert di bidangnya, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya. Akibatnya, seringkali mahasiswa tidak paham dengan apa yang dimaksud dosen tersebut. Padahal, sang dosen adalah orang yang sangat pakar di bidangnya tersebut. Dalam pendidikan tinggi, kepakaran tidak sama dengan kecakapan mengajar. Kepakaran dan kecapakan mengajar, adalah dua hal berbeda.

Saya sendiri punya beberapa pengalaman saat menjadi mahasiswa, menemukan dosen yang amat sangat pakar di bidangnya. Namun, saat menjelaskan keilmuannya, beliau seperti berbicara dengan papan tulis! Kuliah beliau yang seringkali bersifat lecture satu arah, membuat kami sebagai mahasiswanya seringkali bingung dengan apa yang dimaksud.

Adalagi cerita dari kolega saya dari rumpun ilmu sosial dan humaniora. Ketika belajar dengan dosen yang sangat pakar, di hari pertama sang dosen berkata kepada mahasiswanya, “Kalian ini bertanya saja belum pantas, apalagi berpendapat!”. Akibatnya, banyak gagasan – gagasan atau pendapat brilian dari pribadi mahasiswa hilang begitu saja. Mereka lebih memilih diam, sementara sang dosen asyik mengajar dengan kepakarannya.

Dua contoh di atas, adalah contoh teacher – centered learning. Pembelajaran yang berbasis pada guru atau dosen. Di SMP atau SMA mungkin kita juga pernah berjumpa dengan guru seperti ini. Kita diminta menghafal sekian banyak rumus atau menjawab pertanyaan pilihan ganda. Ketika kita punya pertanyaan atau tidak sependapat dengan guru, maka kembali lagi bahwa “guru selalu benar”. Ini salah satu bentuk karakteristik teacher – centered : belajar itu hanya untuk murid, bukan untuk gurunya.

Inilah yang menyebabkan seringkali hasil penelitian menemukan bahwa berprestasi di sekolah tidak menjamin suksesnya Anda di dunia nyata. Jawaban saya : tergantung sekolahnya! Jika Anda mengukur kesuksesan karir dengan kesuksesan sekolah yang teacher – centered, bisa jadi hal itu benar.

Kenapa?

Sederhana, di teacher – centered, para siswa / mahasiswa dibiasakan untuk absorb atau menyerap ilmu – ilmu yang diberikan dosen. Dosen / guru memberikan materi, siswa / mahasiswa menyerapnya. Ga usah banyak tanya, pokoknya serap aja. Kemudian diberikan soal – soal untuk memastikan kita bisa menggunakan cara yang diberikan untuk memecahkan persoalan. Soalnya juga biasanya itu – itu saja, jadinya bukan malah belajar sesuatu yang baru malah menghafalkan soalnya. Hal ini mengakibatkan kita hanya belajar di tingkat permukaan (surface) tanpa memaknai pembelajaran itu dengan lebih dalam (deep).

Masalahnya kemudian muncul di sini. Di dunia nyata, masalah – masalah yang Anda hadapi seringkali adalah masalah – masalah baru yang bisa jadi solusinya belum ada! Kalau sudah begini, keterampilan yang dibutuhkan bukan hanya sekedar mengaplikasikan rumus – rumus untuk memecahan masalah, tetapi melakukan konstruksi solusi baru untuk memecahkan masalah – masalah baru tersebut. Inilah yang banyak missed di dunia pendidikan kita. Seringkali kita menghasilkan output pendidikan yang tidak nyambung dengan apa yang diminta di dunia nyata. Ya pantas saja, yang berhasil di bangku sekolah belum tentu berhasil juga dalam karirnya kalau ternyata apa yang diajarkan dan dibutuhkan untuk kehidupan ga nyambung.

Kalau saya tanya, dari sekian banyak kelas atau kuliah yang Anda ikuti, berapa persen yang bersifat teacher – centered? Bisa jadi, mungkin sangat banyak atau bahkan hampir semuanya.

Pentingnya Student – Centered Learning

Untuk mengatasi gap itu, munculah kemudian apa yang dinamakan Student – Centered Learning (SCL), atau yang biasa disebut pembelajaran berbasis siswa. Sebelum saya bergabung menjad dosen di Universitas Indonesia, saya sudah menerapkan SCL ini saat saya membawakan pelatihan – pelatihan di CerdasMulia Institute. Ketika akhirnya saya mendapatkan pelatihan PAPT ini, saya seperti melakukan refreshing, hehe…

Sedikit kontras dengan teacher – centered, di SCL ini para siswa / mahasiswa diharapkan bisa melakukan konstruksi pengetahuan baru secara proaktif dengan dibuat pemicu – pemicu masalah, sambil dosen / guru menjadi fasilitator untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran tercapai dan menghindari adanya sesat berpikir.

Bentu – bentuk SCL ini banyak macamnya. Pertama adalah role playing and simulation (RPS). Saya akan ceritakan sedikit bentuk aplikasinya. Misalkan dalam konteks belajar perilaku konsumen dalam pemasaran. Ketimbang dosen langsung memberikan jawaban atas pertanyaan, para mahasiswa diminta untuk melakukan peran – peran tertentu agar mereka memiliki perspektif utuh dari sudut pandang orang lain. Misalnya, mahasiswa A berperan sebagai ibu yang memiliki 1 anak dan mahasiswa B berperan sebagai nenek tua. Mereka kemudian di trigger pertanyaan, “Jika kedua orang tersebut ditunjukkan barang tertentu, bagaimana perilaku yang akan muncul? Siapa yang akan membeli?”

Dosen yang teacher centered, akan langsung memberikan jawaban tanpa memberikan mahasiswa kesempatan untuk melakukan konstruksi pengetahuan dalam pikiran mereka. Hal ini bisa jadi berbahaya, karena mahasiswa umumnya sudah memiliki prior knowledge yang berbeda – beda. Pengetahuan sebelumnya yang dimiliki, biasanya akan membuat kesimpulan yang berbeda. Namun jika kesimpulannya disamakan semua, kesempatan mereka untuk melakukan konstruksi pengetahuan pun akan tertutup.

Beberapa cara lain yang bisa digunakan dalam SCL ini adalah problem – based learning, research – based learning, dan collaborative learning.

Inilah mengapa SCL menjadi penting agar mahasiswa bisa melakukan konstruksi pengetahuan, sambil dipandu oleh fasilitator dan dosen mereka sendiri. Menariknya, bukan hanya mahasiswa yang belajar, tapi dosen pun juga belajar dari mahasiswanya. Selain itu, hasil pembelajaran juga akan lebih relevan dengan apa yang diminta saat mereka ada di dunia nyata. Ketika menemukan masalah, mereka dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka, bukan hanya mengandalkan spoon-feed atau suapan solusi dari atasan – atasan mereka yang biasanya adalah solusi lama dan tidak inovatif.

TCL dan SCL tentu adalah sebuah metode. Mana yang lebih baik? Keduanya baik, karena yang namanya metode itu kita gunakan untuk meraih goals yang diinginkan. Maka, sebelum memutuskan menggunakan TCL atau SCL, yang paling penting adalah mendefinisikan apa output yang diinginkan dari pengajaran yang kita lakukan. TCL biasanya digunakan apabila memang kita dituntut untuk memberikan banyak pengetahuan kepada mahasiswa di waktu yang sempit. TCL ini biasanya juga digunakan untuk memberikan prior knowledge (pengetahuan pendahuluan) yang kelak akan digunakan untuk memecahkan problem – problem di tingkat yang lebih tinggi. Penggunaan TCL ini misalnya dalam mata kuliah kalkulus atau aljabar linear. Kalkulus adalah sesuatu yang menurut saya pribadi agak kurang pas dengan SCL dan lebih efektif menggunakan TCL.

Namun, bukan berarti TCL selalu dipakai sepanjang kuliah. Semakin tinggi tingkat di perkuliahan, mahasiswa harus ditantang untuk menciptakan sesuatu yang baru. Di sinilah kemudian peran SCL mulai bermain, di tingkat 3 dan 4. Dengan sudah menguasai prior knowledge yang diharapkan, dosen bisa melakukan trigger pertanyaan – pertanyaan yang dapat memacu mereka untuk melakukan konstruksi pengetahuan – pengetahuan yang baru. Ketika nanti lulus, diharapkan mereka dapat menjadi lulusan yang cakap dan bisa menjadi solusi di manapun mereka bekerja.

Seperti apa yang dikatakan Hansen (2011), tujuan utama dari pendidikan tinggi adalah mengajarkan mahasiswa untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, ilmiah, berbasis etika dan moral, dengan kesadaran sebagai bagian dari global society untuk mempersipakan mereka menjadi agen – agen perubahan dunia agar menjadi lebih baik dan bermartabat.

Semoga bermanfaat,

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan memiliki impian menjadi pendidik inovatif dan berdampak untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia Indonesia. Aktivitasnya saat ini adalah sebagai dosen di Universitas Indonesia, pengembang pembelajaran kreatif di SignifierGames.com, dan konseptor pelatihan inovatif di CerdasMulia Institute.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!