Keilmuan

Plagiarisme dalam Entrepreneurship

Written by Arry Rahmawan

Beberapa waktu lalu di grup WhatsApp saya sempat ramai sharing tulisan dari seorang gadis 18 tahun bernama Afi Nihaya. Catatan – catatannya yang menarik di social media mendadak menjadi viral. Salah satu yang sempat saya baca berjudul ‘Warisan’ dan sempat menimbulkan banyak respon baik positif dan negatif.

Setelah beberapa hari saya tidak mendengar kabarnya, kemudian muncul pemberitaan bahwa ada salah satu tulisannya yang ternyata copy paste dan disinyalir melakukan plagiarisme terkait karya orang lain.

Plagiarisme atau plagiat merupakan penjiplakan atau pengambilan karya orang lain dan dengan sadar mengakuinya sebagai karya sendiri. Jadi kalau misalnya saya menciptakan sesuatu, kemudian diambil lalu diklaim oleh orang lain. Itulah namanya plagiarisme.

Terlepas dari apakah Afi melakukan plagiarisme atau tidak, saya ingin mencoba menarik fenomena plagiarisme ini di tulisan Afi selanjutnya yang mengatakan bahwa : tidak ada ide yang benar – benar orisinil, asli. Kita pasti terinspirasi oleh sesuatu saat berkarya dan tidak 100% atas apa yang kita hasilkan merupakan pemikiran kita sendiri.

Saya sependapat dengan tidak ada ide yang orisinil, tapi melakukan klaim terhadap karya orang lain adalah hal yang berbeda dan tidak etis.

Pada tulisan kali ini, saya tidak ingin membahas Afi lebih jauh. Saya ingin membahas tentang plagiarisme ini dalam dunia entrepreneurship. Apalagi saya adalah seorang akademisi, di mana plagiarisme ini sebisa mungkin harus dihindari.

Jika Anda sudah pernah berwirausaha atau memulai bisnis sendiri dari bawah, maka Anda akan merasakan bahwa plagiarisme dalam bisnis itu benar – benar keras dan nyata. Berikut adalah beberapa bentuknya.

PLAGIARISME TERJADI JIKA KARYA ORANG LAIN DIKLAIM MENJADI KARYA DIRI SENDIRI

Hal yang paling mudah dan ketara plagiarisme dalam bisnis adalah PRODUK PALSU. Sewaktu saya mahasiswa dulu, saya pernah punya teman yang berbisnis di bidang hijab. Desainnya menarik, nama brand nya adalah Zaida Hijab. Hari ini posting desain model hijab baru, besoknya sudah ada beberapa orang / kompetitor di berbagai kota yang memproduksi model hijab yang mirip / sama! Beberapa bahkan melakukan klaim bahwa merekalah penemu pertama model tersebut. Terbayangkah rasanya menjadi penemu model tersebut?

Pengalaman lain, ketika saya mendirikan CerdasMulia Institute, saya pernah merumuskan beberapa modul pelatihan untuk meningkatkan potensi pemuda Indonesia. Suatu saat, saya menerima kabar salah satu anggota tim saya resign. Beberapa waktu kemudian saya mendapat kabar kalau dia membuka lembaga pelatihan SDM baru yang ternyata betul – betul sama plek dengan modul yang sudah saya buat dan diakui merupakan hasil kreasinya sendiri. Sakitnya tuh di hati, hiks.

Contoh yang lebih kecil, seringkali salah satu artikel di blog saya ini ‘dicuri’ dan dipost di blog orang lain. Jangankan izin, bahkan nama saya dihapus sebagai penulis yang sebenarnya.

Etika idealnya, bagi siapapun yang mengutip atau menggunakan hak karya orang lain, seharusnya sih memberikan credit dan tidak melakukan klaim bahwa itu miliknya sendiri. Itu idealnya, ya…

Namun, apa yang bisa kami lakukan? Jika boleh jujur, apa yang dilakukan oleh mereka yang ‘mencuri’ dan melakukan klaim terhadap karya kami memang tidak etis tapi itu tidak melanggar hukum. Kenapa? Karena ya model dan juga karya modul yang saya buat tidak saya daftarkan untuk dilindungi. Kalau saya mau protes, tidak ada alasan kuat bahwa sayalah penemunya yang pertama. Kezel kan? Pasti.

Maka dari itu saya pun kemudian ‘taubat’ dan segera melek proteksi untuk hal – hal yang memang perlu dilindungi. Sebagai contoh ketika saya mengembangkan ‘permainan peraga’ untuk perusahaan dengan naman Strategic Sourcing Management Game (SSMG) di SignifierGames.com, begitu game nya jadi langsung kami daftarkan ke Ditjen HKI. Setidaknya ini adalah langkah awal bahwa penciptanya adalah SAYA. Terlepas dari nanti apakah di copy atau tidak, setidaknya sudah ada pengakuan secara hukum bahwa penciptanya adalah saya dan tim di SEMS Lab.

Berikut ini adalah contoh tampilan proteksi HKI untuk karya intelektual yang perlu dilindungi.

Pengakuan Negara bahwa kami merupakan pencipta SSMG

MODIFIKASI BERBEDA DENGAN PLAGIARISME

Lalu, bagaimana dengan prinsip yang terkenal dalam dunia entrepreneurship: ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)? Bagi saya, ATM itu berbeda jauh dengan plagiarisme. Salah satu pelajaran bisnis yang saya dapatkan dari guru – guru bisnis : jangan telalu banyak menghabiskan uang untuk riset, namun cobalah ATM produk – produk yang berhasil.

Contoh paling mudah, saya mengamati dari Pak Jamil Azzaini yang mempunyai program Speak to Change (dulu : Akademi Trainer). Saya coba lihat dan pelajari programnya, menarik. Mengajarkan kepada banyak eksekutif dan anak muda bagaimana menjadi seorang pembicara yang berdampak dan menggugah.

Di situ saya juga melihat sebuah kelemahan : pelatihan tersebut mahal dan anak muda dengan budget terbatas akan sulit untuk mengikutinya. Maka dari itu saya dan tim di CerdasMulia Institute kemudian membuat program Young Trainer Academy, sebuah program pelatihan untuk anak muda yang ingin menjadi trainer dan pembicara berdampak. Program ini sudah berjalan sebanyak 8 angkatan. Mulai dari modul, konsep, semua kita buat sendiri. Tidak ada satu pun materi yang kami ‘curi’ dan kami klaim di mana itu milik orang / lembaga lain. Jika kami menggunakan materi dari akademi trainer, itu pun yang membawakan adalah master trainer dari Akademi Trainer langsung (Pak Andra Donatta) dan materinya tetap disebutkan miliki Pak Andra / Akademi Trainer, bukan Young Trainer Academy.

Young Trainer Academy, Modifikasi dari Akademi Trainer Pak Jamil Azzaini

Young Trainer Academy, Modifikasi dari Akademi Trainer Pak Jamil Azzaini

Jadi, modifikasi dan karya yang terinspirasi orang lain itu beda jauh dengan plagiarisme.

Saya pun harus siap jika ada orang – orang yang terinspirasi dan melakukan hal yang mungkin mirip / sama. Karena yah, memang seperti itulah karya diciptakan, bukan?

IDE TIDAK BISA DIKLAIM SEBELUM JADI KARYA

Satu lagi yang ingin saya sampaikan tentang plagiarisme dalam entrepreneurship: Anda tidak bisa mengklaim sebuah ide sebelum itu Anda wujudkan.

Seringkali, saya berjumpa dengan para wantrepreneur yang memiliki segudang ide tetapi malas gerak. Hanya ingin saja, tanpa melakukan aksi nyata. Akhirnya, yang bergerak orang lain. Idenya diwujudkan, diklaim, dan diproteksi. Apakah itu melanggar hukum?

Ya jelas tidak, karena ide baru bisa diproteksi setelah menjadi karya. Kalau setiap orang ingin idenya diproteksi padahal masih dikepala, ya maka akan kacau dunia ini.

Sewaktu saya kuliah, seorang teman pernah sharing dengan saya untuk membuat buku tentang Studentpreneur , yaitu buku yang mengisahkan kisah – kisah inspiratif mahasiswa Universitas Indonesia yang menjalani bisnis. Saya bilang bahwa saya tertarik dan saya siap membantu dia membuat buku tersebut.

Namun, teman saya ini sulit sekali diajak ketemu. Saya pun kemudian mulai membuat konsep buku yang berbeda, seorang diri. Konsep awalnya yang berupa kumpulan kisah mahasiswa, saya ubah menjadi bentuk buku semi coaching yang diperuntukkan untuk mahasiswa yang ingin memulai bisnis. Buku itu akhirnya rilis dengan judul Studentpreneur Guidebook. Saya dan GagasMedia Publishing adalah pemegang hak cipta Studentpreneur. Dilindungi undang – undang untuk masa 70 tahun.

Ketika buku itu terbit, teman saya marah – marah. Kenapa marah? Karena dia merasa bahwa Studentpreneur adalah idenya dia. Saya tersenyum dan bilang bahwa saya sudah pernah mengajaknya kolaborasi namun tidak digubris. Akhirnya dia bisa mengerti dan kita sama – sama belajar bahwa dalam entrepreneurship, jika Anda punya ide bagus langsung segera eksekusi sebelum dieksekusi orang lain.

Saya pun pernah ada di posisi sebaliknya. Saya yang mencetuskan dan punya ide, namun karena tidak ada waktu melakukannya malah jadi orang lain yang  melakukan eksekusi ide tersebut. Saya seringkali menyesal dalam hati, kenapa saya menundanya ya? Namun disitulah kemudian saya belajar dan sebisa mungkin tidak ingin menunda – nunda lagi jika punya ide bagus. Apalagi, kalau ide tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi.

Itulah 3 pembelajaran penting yang saya dapatkan saat membicarakan plagiarisme dalam entrepreneurship. Jika boleh dirangkum:

  1. Plagiarisme Terjadi Jika Karya Orang Lain Diklaim Menjadi Karya Diri Sendiri
  2. Modifikasi Tidak Sama Dengan Plagiarisme
  3. Ide Tidak Bisa Diklaim Sebelum Menjadi Karya

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa mencerahkan pembaca untuk membedakan mana yang plagiat dan mana yang tidak. Bagi yang saat ini menjadi entrepreneur, dalam buku Studentpreneur Guidebook sudah sedikit saya jelaskan tentang bagaimana mekanisme mendaftarkan ciptaan ke Ditjen HKI. Namun untuk panduan lebih lengkapnya silakan langsung mengunjungi web Ditjen HKI. Saya sendiri saat ini memiliki konsultan khusus untuk HKI, karena memang model bisnis saya di CerdasMulia Institute dan SignifierGames.com memiliki nilai ekspresi intelektual tinggi sehingga harus diproteksi.

Salam,
Arry Rahmawan
Lecturer & Researcher, Universitas Indonesia
Founder, SignifierGames.com & CerdasMulia Institute

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah kewirausahaan, inovasi, dan strategi bisnis.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!