Campus Life Diary My Diary Pengembangan Diri Quantum Teaching

Prinsip yang Perlu Ditanamkan Pendidik di Era Disruptif

Written by Arry Rahmawan

Pernahkah Anda Mendengar Kata ‘Era Disruptif’?

Disruptif akhir – akhir ini menjadi kata yang paling sering saya dengar. Selain karena sering dibicarakan oleh mastermind dan tim pengembangan modul pelatihan di CerdasMulia Institute, saat ini saya juga sedang menelaah buku terbaru dari prof. Rhenald Kasali berjudul sama : Disruption.

Apa sebenarnya yang dinamakan era disruptif? Secara umum, era disruptif diartikan sebagai masa di mana bermunculan banyak sekali inovasi – inovasi yang tidak terlihat, tidak disadari oleh organisasi mapan sehingga mengganggu jalannya aktivitas tatanan sistem lama atau bahkan menghancurkan sistem lama tersebut.

Contoh – contoh sederhana seperti yang kita ketahui adalah menurunnya omzet / performa bisnis dari armada taksi pemimpin pasar yang harus mengakui keberadaan apps-based transportation service macam Grab, Go-Jek, dan Uber. Bentrokan – bentrokan terjadi, dan yang paling baru adalah mogoknya armada angkot di Bogor (sebagai salah satu kota yang angkotnya banyak) karena merasa tersaingi oleh transportasi berbasis aplikasi ini.

Prof. Rhenald Kasali, dalam bukunya Disruption memaparkan bahwa korban – korban disruptive era adalah organisasi – organisasi mapan. Mereka yang sudah terbiasa dengan namanya yang tenar, membuat mereka tidak bergerak gesit / lincah. Sementara, di luar sana banyak anak – anak muda yang gesit, lincah, mengembangkan inovasi yang tidak terdeteksi oleh para incumbent ini. Sedikit demi sedikit menggerogoti pangsa pasar yang ada, karena menciptakan pangsa pasar baru. Tiba – tiba incumbent merasa ada yang aneh karena performanya menurun. Beberapa terlambat bergerak karena kalah lincah, yang menyebabkan organisasi tersebut hancur. Respon yang mungkin bisa dilakukan adalah berteriak kepada regulator untuk menindak mereka yang menjadi pusat disruption ini karena melanggar aturan dan tidak mengikuti regulasi. Kalau kata Prof, menyelesaikan cara baru dengan cara – cara lama sehingga menyebabkan kemunduran lagi.

Walaupun menurut saya masih banyak yang harus dites dari apa yang disampaikan sang profesor, namun insight bahwa kita sedang di era disruptif tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kejadiannya ada di depan kita, dan betul – betul terasa dinamikanya.

Disruptive Era di Sektor Pendidikan

Kebanyakan kasus – kasus disruption, dibahas di sektor bisnis. Namun, jarang sekali dibahas di sektor pendidikan. Saya yang saat ini diberi kesempatan sebagai dosen di institusi pendidikan terbaik negeri ini pun akhirnya berpikir : mungkinkah suatu saat nanti UI menjadi korban era disruptive?

Saya pun jadi menerka – nerka skenario yang terjadi. Di luar sana, banyak sekali institusi pendidikan yang sedang bergerak lincah. Bukan lagi universitas swasta, tapi universitas – universitas online. Kita mungkin mengenal beberapa seperti udemy, coursera, atau futurelearn. Di Indonesia, juga sedang banyak dikembangkan.

Saat ini, mayoritas orang tua masih memiliki mindset bahwa kemudahan seseorang bekerja ditentukan dari beberapa hal:

1. Jurusan apa yang dipilih oleh anaknya
2. Di kampus mana anaknya belajar
3. Anaknya bisa melakukan apa

Saya merasakan sekali di generasi orang tua saya, ‘anaknya memiliki kapsitas apa’ itu nomor 3. Hal yang paling penting adalah bisa masuk ke universitas negeri yang bagus dan diterima di jurusan yang prospeknya cerah. Dengan mendapatkan dua poin pertama, maka diasumsikan anaknya bisa mendapat poin ketiga.

Hal ini didukung dengan pencari kerja yang juga masih dikuasai orang – orang lama. Kampus / almamater masih dilihat penting oleh perusahaan karena jaminan kualitas. Setidaknya, kampus negeri menghasilkan lulusan yang lebih oke.

Disruptive era ini kemudian saya rasakan saat beberapa PTS ternyata mencoba melakukan inovasi pembelajaran dengan melakukan berbagai standardiasi, menaikkan insentif dosen, dan membuat dosen betul – betul mengajar serius di kampus mereka. Hasilnya, dengan intake mahasiswa kalah dibandingkan negeri, mereka bisa menghasilkan lulusan yang lebih dipilih industri. Sya mendengar beberapa curhatan teman saya yang ditempatkan di SDM bahwa lulusan PTN technical skill nya mulai kalah dari swasta, cenderung meminta gaji lebih besar, dan loyalitasnya kepada perusahaan diragukan. Mereka lebih memilih lulusan – lulusan PTS!

Di masa yang akan datang, saya membayangkan bahwa akan lebih banyak inovator – inovator pembelajaran yang mengepung UI sebagai incumbent. Bukan tidak mungkin, orang tua di masa yang akan datang dan para recruiter akan berpikir yang berkebalikan dengan orang tua sekarang: Apa yang bisa Anda lakukan lebih penting daripada almamater dan jurusan kuliah Anda. Itupun mulai terjadi sekarang.

Bayangkan apabila pengajar institusi incumbent masih menggunakan cara – cara lama dalam mengajar, masih berpola pikir bahwa “UI intake nya bagus, disuruh belajar sendiri saja pasti paham”. Sementara di luar sana, para disruptor terus mengembangkan teknik pendidikan yang bisa meningkatkan kualitas mahasiswa yang intake nya rendah. Bukan tidak mungkin, lulusan UI akan mengalami apa yang namanya degradasi kognitif dan keluarannya akan kalah dari inovator pendidikan di luar sana.

Prinsip Pendidik dalam Menghadapi Disruptive Era

Sebagai dosen muda, saya masih berjumpa dengan dosen yang sejak saya kuliah dulu hingga sekarang sama cara mengajarnya, sama cara memberikan tugasnya, dan materi yang diajarkan tidak di update. Saat industri masuk ke era disruption, hal yang masih diajarkan sebatas teori porter five forces. Tentu saya khawatir, jika ini terjadi terus – menerus kampus saya sangat mungkin menjadi korban disruptive era.

Sebagai dosen muda yang pernah belajar kepada dosen – dosen senior saya, apa yang bisa saya lakukan adalah menghormati apa yang mereka ajarkan dan memulai perubahan dari dalam diri saya sendiri. Saya memiliki prinsip, jika saya protes, maka saya harus menciptakan solusi dengan resource yang saya miliki.

Deans for Impact, sebuah organisasi yang terdiri dari pendidik senior dan pengkader pendidik – pendidik baru, menerbitkan report “Practice with Purpose” yang berisikan prinsip – prinsip wajib untuk diterapkan pendidik dalam disruptive era. Beberapa hal dari prinsip itu sudah saya coba, dan beberapa lainnya masih dalam proses. Pada intinya, saat ini seorang pendidik harus betul – betul memahami perkembangan zaman, terus belajar, dan melatih otot – otot mengajar yang ada dalam diri mereka agar bisa lebih baik. Istilahnya, deliberate practice.

Lantas apa saja prinsip yang harus dipegang pendidik di era disruptive?

  1. Push Beyond Comfort Zone  (Keluar dari zona nyaman)
  2. Works Toward Well Defined, Specific Goals (Bekerja dengan target atau capaian yang jelas)
  3. Focus Intently on Impactful Activities (Fokus memberikan aktivitas yang bermakna dan berdampak)
  4. Receive and Respond High Quality Impact (Menerima dan Memberikan feedback berkualitas)
  5. Develop Mental Model of Expertise (Membentuk mental model seorang expert)

Bagaimana Bentuk Latihan Prinsip – Prinsip Tersebut?

Dalam konsep pengembangan diri, dikenal istilah deliberate practice. Istilah ini dipopulerkan pertama kali dalam buku Malcolm Gladwell yang berjudul Outliers. Salah satu hal yang membuat orang bisa mencuat dari kerumunan dan meraih capaian di atas rata – rata adalah karena mereka melakukan deliberate practice. Deliberate practice adalah latihan terstruktur yang dilakukan konsisten dan terus-menerus.

Melatih prinsip 1 saya mulai dengan menerapkan student centered learning dan remote learning dalam kelas atau aktivitas mengajar yang saya lakukan. Saya yang terbiasa nyaman dengan metode lecture 1 arah atau ceramah, saat ini dirasa sudah tidak efektif lagi karena informasi bisa dengan mudah dicari sendiri oleh mahasiswa. Hal yang bisa dilakukan adalah membuat aktivitas belajar yang “mengkonstruksi pengetahuan” secara mandiri dari pengetahuan yang sudah mereka dapatkan itu. Apakah pembelajaran seperti ini nyaman? Tentu tidak, karena saya harus ‘capek – capek’ menjadi fasilitator dan evaluasinya pun lebih kompleks. Selain itu, saya juga memaksa diri saya memanfaatkan teknologi agar pembelajaran menjadi lebih efektif (misalnya menggunakan scele UI).

Prinsip 2 saya mulai dengan memberikan materi atau tugas yang esensial, memiliki tujuan yang clear, dan tujuan itu bisa ditangkap dengan baik oleh mahasiswa untuk membuat hidup mereka lebih baik. Misalnya, tugas pembelajaran berbasis riset yang saya berikan ke mahasiswa adalah untuk memberi mereka pengalaman bagaimana menerapkan riset model dan simulasi untuk memecahkan masalah sebenarnya.

Prinsip 3 saya mulai dengan bertanya kepada mahasiswa dampak aktivitas belajar yang saya berikan kepada mereka. Di beberapa topik tertentu, saya menerapkan lecture, role play & simulation, problem based learning, remote learning, collaborative learning, atau research based learning. Beberapa metode cocok untuk materi tertentu, sementara yang lain tidak. Fokus saya adalah menggunakan metode yang memberikan impact terbesar untuk pemahaman mahasiswa.

Prinsip 4 dimulai dengan mewajibkan mahasiswa membuat refleksi diri dan memberikan masukan / saran kepada saya untuk mengembangkan teknik pendidikan yang lebih baik ke depannya. Selain itu, saya juga mulai membiasakan memberikan feedback atas tugas – tugas mahasiswa, agar mereka tahu di titik mana mereka harus memperbaiki kesalahan atau mempertahankan hal yang sudah bagus. Kebanyakan dosen hanya memberi tugas, tanpa memberikan feedback (karena tidak sempat).

Prinsip 5 dimulai dengan terus – menerus belajar hal – hal baru di bidang yang kita ajarkan agar kita sebagai dosen atau pengajar menjadi expert. Selain itu, saya juga menerapkan pola pikir bahwa saya harus menjadikan mahasiswa expert setelah keluar dari kelas yang saya ampu. Hal tersebut mengubah cara saya dalam belajar dan mengajar. Menggunakan expertise mental model ini secara langsung dan tak langsung akan membuat standar belajar dan mendidik naik.

Itulah 5 prinsip yang saya pelajari perlu ditanamkan seorang pendidik di era disruptive agar bisa terus bersaing dan semakin impactful.

Apakah Anda setuju dengan saya? Bagaimana menurut Anda?

Salam,
Arry Rahmawan
Learning Innovator
Lecturer, Universitas Indonesia
Concept Designer, SignifierGames.com
Training Conceptor, CerdasMulia Institute

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen serta peneliti di Universitas Indonesia mengenai inovasi, kewirausahaan, dan strategi bisnis yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!