Wednesday , 20 August 2014
Kabar Terkini
Home » Pengembangan Diri » Sebuah Alasan Kenapa Orang Bodoh Bisa Sukses

Sebuah Alasan Kenapa Orang Bodoh Bisa Sukses

Guest Post: Tulisan ini ditulis oleh Rizki Ananda. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UI 2011. Rizki merupakan Asisten Trainer di CerdasMulia Leadership and Training Center.

Berbagai hal di bumi ini, kehidupan, alam, manusia dan lainnya terlihat sebagai sebuah keseimbangan dan kesetimbangan yang saling melengkapi. Selalu ada hitam dan putih, baik dan jahat, benar dan salah, kiri dan kanan, bodoh dan cerdas dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut selalu menjadi satu dalam dua hal yang bertolak belakang dalam keseharian kita, namun pada dasarnya penghakiman dari definisi-definisi tersebut bisa saja sarat akan kesalahan.

Anggapan dalam tindak perilaku kriminalitas misalnya, orang jahat yang bodoh dianggap sebagai buronan yang mudah sekali tertangkap. Lain halnya dengan orang jahat yang cerdas. Mereka sulit sekali ditangkap bahkan hanya sekedar ditemukan saja begitu sulit. Apa pada dasarnya selalu seperti itu dan apakah sikap bodoh itu mutlak menjadi sebuah kelemahan ?

Sebenarnya dalam beberapa hal di kehidupan ini, bisa menjadi mengherankan jika kita memandang sesuatu itu menjadi sebuah definisi yang mutlak. Contoh kriminalitas dari penjahat tadi misalnya, jika kita memandangnya dengan pandangan yang umum dan biasa tanpa mempertimbangkan bagaimana sebenarnya sikap orang bodoh itu dalam kesehariannya, kita akan benar-benar men-judge langsung orang bodoh itu adalah orang yang tidak mungkin sukses, kaum lemah dan tidak bisa diandalkan dan tak berkeahlian. Lebih dari itu orang bodoh sering sekali diidentikkan dengan orang yang pemikirannya dangkal. Namun itu hanyalah sebuah persepsi yang sempit. Coba kita lihat kisah berikut ini. Yang diambil dari kisah Profesor dan Nelayan dalam Buku pertamanya Bong Chandra, Unlimitted Wealth.

Suatu minggu seorang professor pergi untuk melakukan sebuah penelitian di sebuah pedalaman. Sulitnya medan perjalanan memaksa professor pergi untuk menempuh jalur lain yaitu sebuah sungai. Tanpa pikir panjang sang rofesor segera mencari seorang nelayan untuk menyeberangi sungai tersebut.

Selama perjalanan seorang professor bertanya kepada seorang nelayan, “Apakah bapak pernah belajar biologi ?” Dengan polos sang nelayan menjawab, “Apa itu biologi” makanan ikan, ya ?” Dengan nada menggurui sang professor menjawab, “Masa anda tidak tahu apa itu biologi? Itu artinya anda sudah kehilangan 20% dari bagian hidup anda!” Beberapa menit kemudian sang profesor kembali bertanya., “apakah baak tahu apa itu fisika?” Dengan minder sang nelayan menjawab “Yang pasti bukan makanan ikan kan ?” Dengan nada yang meremehkan sang Profesor Menjawab, “Ck Ck Ck…., Anda sama saja sudah kehilangan 50% dari bagian hidup anda?” Selang beberapa waktu kemudian sang profesor kembali bertanya, “Kalau anda tidak tahu apa itu fisika dan biologi, tentu Anda tahu tentang geografi, bukan ?” Sang nelayan menjawab, “Saya memang idiot, saya pun tidak tahu apa itu geografi”. Dengan tertawa terbahak-bahak sang profesor berkata, “Anda betul-betul sudah kehilangan 80% dari bagian hidup anda!”

Sesaat sebelum profesor memeberikan pertanyaan keempat, arus sungai mendadak berubah menjadi deras. Derasnya arus mebuat kapal bergoyang dengan sangat keras. Sang profesor tidak dapat menguasai keseimbangan dan terjatuh ke dalam sungai dengan panic sang profesor berterika, “Tolong..tolong…”. dalam keadaan panic sang nelayan bertanya, “ anda tidak bisa berenang?” Dalam keadaan tenggelam sang profesor menjawa, “saya tidak bisa berenang!” Dengan berani sang nelayan menjawab, “kalau begitu  anda sudah kehilangan 100% dari bagian hidup anda”

Cerita itu mungkin hanya sebuah kisah yang tak nyata, namun tidak bisa dipungkiri disekitar kita hal seperti itu sering sekali terjadi. Orang bodoh itu seringkali malah banyak meraup kesuksesan dan mendapatkan peluang yang lebih dibanding rata-rata orang yang sebenarnya cerdas dan intelek. Secara sederhana sebenarnya orang bodoh yang mendapatkan hasil lebih dari orang pintar itu adalah orang yang pekerja keras, hanya saja mereka memiliki keterbatasan wawasan. Namun, dengan keterbatasan wawasannya itulah mereka memiliki sisi yang menguntungkan, karena mengakibatkan mereka menjadi orang yang berfikir lebih sederhana. Seperti kata Pak Bong Chandra Orang pintar membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit, orang idiot membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana”

Closing Remarks: Jadi, apakah ini berarti kita semua harus menjadi orang yang bodoh? Bukan itu maksudnya. Tentu saja dari kita tidak ada yang mau menjadi bodoh, bukan? Hanya saja kebanyakan dari kita terlalu mudahnya mengecap orang sebagai “orang bodoh” hanya karena mereka memiliki wawasan yang terbatas, yang bisa jadi orang bodoh itu jauh lebih memiliki keterampilan daripada kita. Saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Steve Jobs, “Stay Hungry, Stay Foolish”. Tetaplah merasa lapar, agar kita tidak cepat kenyang dengan apa yang kita dapat (terus meningkatkan diri) dan tetaplah merasa bodoh, agar kita selalu bersikap rendah hati serta terus bersemangat untuk belajar, belajar, dan terus belajar. Karena orang yang merasa dirinya sudah pintar, biasanya akan berhenti dari apa yang namanya belajar.

About Arry Rahmawan

Arry Rahmawan merupakan pelatih dan pembicara publik di bidang pengembangan potensi, kewirausahaan, dan life skills. Menamatkan pendidikan formal S1 Teknik Industri Universitas Indonesia dengan kekhususan rekayasa sistem, pemasaran industri, dan service excellence. Saat ini mengenyam pendidikan S2 di Jurusan yang sama dengan kekhususan dinamika bisnis dalam organisasi. 6 buah buku telah ditulisnya, dan buku terakhirnya berjudul Studentpreneur Guidebook (GagasMedia) merupakan buku best-seller nasional.

5 comments

  1. tulisan kak ary di blog ini, selalu dapat memotivasi saya, every new posts, are always inspiring, also refresh our mind. And push us to be better and better, semoga selalu sukses kak, amiin.

  2. keep your excellent activities kak!! bismillah.

  3. pelajaran hanya buat kita yang tidak tahu menjadi tahu.
    dan menambah wawasan.
    apakah semua pelajaran harus dikuasai ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Konsultasi Gratis
Pesan kamu sudah dikirim! Terima kasih :)



7 + 9 =