Pengembangan Diri

Sebuah Catatan untuk Mewujudkan PILKADA Sehat 2018

Written by Arry Rahmawan

Malam hari tadi, sehabis pulang kerja ceritanya saya ingin menonton piala dunia pertandingan antara Brazil dengan Costa Rica. Saat mengganti – ganti Channel, tiba – tiba ketertarikan saya berubah dan berhenti di salah satu channel yang menayangkan debat terbuka cagub dan cawagub Jawa Barat. Sebagai seorang yang tinggal di Bogor sekeluarga, tayangan ini menjadi menarik dan sangat relevan buat kami. Jadilah saya dan istri akhirnya menonton acara debat tersebut, sambil menimbang kapasitas masing – masing paslon.

Setelah acara tersebut selesai, saya dan istri kembali berdiskusi tentang kekuatan dan kelemahan masing – masing calon, sambil menebak – nebak siapa yang akan menang nantinya. Uniknya, saya dan istri menjatuhkan pilihan berbeda tentang ‘jagoan’ pilgub kami masing – masing. Namun, perbedaan tersebut kami bahas dengan sangat cair, tidak ada tensi, apalagi saling memaki paslon lain. Hingga kemudian kami menutup diskusi dan memastikan bahwa kami bisa memilih gubernur Jawa Barat pada tanggal 27 Juni nanti. Alhamdulillah, banyaknya perbedaan pandangan di keluarga tentang masing – masing paslon cagub dan cawagub Jawa Barat di keluarga saya disikapi dengan bijak dan dewasa, sehingga suasana sebelum PILKADA di rumah saya pada khususnya jadi relatif sehat.

Cairnya suasana tersebut, belum tentu dapat ditemukan di keluarga lainnya. Pernah ada seorang teman yang bercerita sampai akhirnya dia bertengkar dengan istri atau orang tuanya karena membela paslon masing – masing, menjelek – jelekkan paslon lain, yang akhirnya terpancing emosi dan malah membuat retak hubungan kekeluargaan.

Kadang saya ditanya, bagaimana cara membuat suasana di keluarga tetap cair saat PILKADA? Jujur buat saya ini pertanyaan aneh, karena memang harusnya biasa saja, tidak perlu ada tensi, apalagi emosi. Namun setelah merenung sedikit, sepertinya ada beberapa catatan yang bisa saya bagikan agar membuat PILKADA dan pemilihan – pemilihan pemimpin lainnya tetap cair, sportif (udah kaya atlit aja ya), dan sehat. Saya semakin tergerak untuk menulis setelah melihat semrawutnya media sosial yang isinya saling menghujat, menjelekkan, lempar hoax di sana-sini, dan bahkan berujung pada unfriend di media sosial karena perbedaan pandangan. Buat saya, hal tersebut tidaklah sehat dan kalau bisa dikurangi.

Jadi, apa saja tips yang bisa saya bagikan untuk mempersiapkan PILKADA yang sehat? Berikut adalah beberapa catatan dari saya.

Pertama, Hindari Jebakan Virus Haters and Lovers

Menurut saya, salah satu hal yang membuat PILKADA dan PIL PIL lain di Indonesia menjadi kurang sehat adalah karena banyak dari kita yang terkena virus haters and lovers. Haters and lovers ini dapat dengan mudah dilihat dari hilangnya rasionalitas dan objektivitas dalam berpikir. Seorang yang terkena virus haters and lovers, akan selalu memandang jelek paslon lainnya, tidak mengakui prestasi paslon lawan, selalu mencari kejelekan paslon lawan, serta memuja dan memuji paslon unggulannya, bahkan tidak mengakui kekurangan paslon jagoannya. Nah, yang seperti ini adalah gejala dari haters and lovers. Model ini pula yang banyak bertebaran di sosial media. Kalau kita tidak hati – hati, seringkali kita diajak masuk ke dalam grup haters and lovers, membuat kita secara tidak sadar ketularan dengan virus itu. Apalagi saat ini media sosial bekerja dengan algoritma relevansi yang akan memberikan asupan informasi yang sesuai dengan preferensi kita. Kalau kita masuk menjadi haters and lovers, maka media sosial akan terus menyuplai informasi yang memang kita ingin lihat atau dengar. Dampaknya, yang haters akan semakin benci ke paslon lain, dan yang lovers akan semakin cinta ke paslon jagoannya.

Makanya di keluarga saya, menjagokan paslon itu sah – sah saja, tetapi rasionalitas dan objektivitas harus tetap dijunjung. Salah satu prinsip yang dipegang keluarga saya dalam PILKADA dan PIL PIL lainnya adalah, objektif dalam berpikir, adil dalam bertindak. Objektif maksudnya melihat paslon dengan kacamata kapasitas, value, dan rekam jejak. Sementara adil dalam bertindak maksudnya menerima kebaikan dan keburukan dari masing – masing paslon secara adil. Terhindar dari virus haters and lovers ini membuat suasana PILKADA menjadi lebih kondusif dan sehat. Jadi ingat, nilailah paslon secara rasional dan objektif, hindari terjangkit virus haters and lovers.

Kedua, Tidak Membenturkan Prinsip dan Kriteria

Hal lain yang membuat PILKADA menjadi tidak sehat adalah membenturkan prinsip dan kriteria antar pendukung paslon yang berbeda. Hal ini seringkali terjadi pada tim pemenangan yang memang bertugas ‘mempengaruhi’ keputusan swing voters, atau mereka yang belum mengambil keputusan. Saking semangatnya, tim pemenangan ini juga ‘memaksa’ untuk mempengaruhi mereka yang sudah memiliki prinsip dan kriteria sendiri dalam memilih. Ketika hal tersebut dibenturkan, maka yang terjadi adalah ketegangan dan bahkan berujung pada kebencian.

Saya akan contohkan, misalnya saya memiliki kriteria dan prinsip memilih pemimpin itu haruslah yang senantiasa memikirkan rakyat dan tidak memikirkan diri sendiri. Contoh nyata dari pemimpin seperti itu yang saya kenal salah satunya adalah Ibu Tri Rismaharini (Risma), Walikota Surabaya. Sementara, istri saya memiliki prinsip dan kriteria dalam memilih pemimpin haruslah yang cerdas, berkapasitas, prestasi segudang, dan memiliki rekam jejak yang baik. Kira – kira dengan prinsip dan kriteria seperti itu, mungkinkah pilihan kami di PILKADA Jawa Barat berbeda? Sangat mungkin!

Hal yang membuat kami nyaman di rumah dalam diskusi adalah masing – masing dari kami menghormati prinsip dan kriteria itu, tanpa harus membenturkannya. Masing – masing dari kami menjelaskan prinsip dan kriteria yang kami miliki sebagai masukan untuk memilih paslon, yang mungkin bisa dipertimbangkan saat hari PILKADA nanti. Namun, tidak ada pemaksaan sama sekali dan tetap menghormati pendapat masing – masing.

Beberapa contoh kejadian yang seringkali membuat PILKADA tidak nyaman adalah dengan ‘memaksakan’ prinsip dari seseorang atau kelompok kepada orang lain yang juga sudah memiliki prinsip. Wah, kalau yang ini ribet banget jadinya.

Saya akan mengambil contoh sesuai dengan konteks Indonesia saat ini dan sebagai negara mayoritas muslim terbesar. Saya punya teman yang semangat sekali dalam dakwah, dan dia punya prinsip bahwa memilih pemimpin itu haruslah yang dekat dengan Al Quran. Suatu hari di FB dia bertemu dengan temannya yang posting mendukung paslon lain. Dari sini, kita sudah tahu bahwa temannya ini pasti sudah memiliki prinsip dan kriterianya sendiri, karena sudah menjatuhkan dukungan ke salah satu paslon.

Langsunglah teman saya ini memberikan komentar dan ceramah di comment box,mengingatkan untuk memilih yang dekat dengan Quran, menjauhi partai – partai yang mendukung penista agama, dsb. Ujung – ujungnya terjadi perdebatan panjang, saling sakit hati, unfriend satu sama lain, dan fungsi dakwah bukannya didapat, tapi malah ukhuwah yang retak, padahal sama – sama muslim.

Sebagai perbandingan, ada teman saya lainnya yang serupa juga tapi pendekatannya beda. Dia fokus mengajak orang – orang yang masih bingung, belum menentukan pilihan, belum memiliki prinsip dan kriteria tertentu dalam memilih. Daripada golput, teman saya ini memberikan pencerdasan, salah satu yang dia sampaikan adalah penting untuk memilih pemimpin yang dekat dengan Quran dan amanah kepada rakyatnya. Apakah orang yang disampaikan serta merta mengikuti sarannya? Tidak semua, tapi ada. Lalu apakah ada perpecahan dan tensi di sana? Relatif lebih cair dari sebelumnya, karena selain orang yang diajak bicara belum menentukan keputusan, teman saya ini juga sadar bahwa tugasnya adalah ‘menyampaikan’, bukan ‘memaksakan’. Jadi santai saja.

Ketiga, Berdoa dan Mendukung Penuh Kandidat Terpilih

Berpartisipasinya kita dalam PILKADA dan PIL PIL yang lain secara umum memiliki tujuan yang sama: membuat Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat di masa yang akan datang (ini dengan asumsi kalau kita tidak dijanjikan kontrak politik khusus ya, hehe). Tentu ada baiknya setiap dari kita berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan petunjuk dan dituntun dalam memilih kandidat terbaik. Seringkali dari doa tersebut, kita dibukakan informasi – informasi terpercaya baru yang kita belum ketahui sebelumnya, sehingga kita dapat memilih dengan lebih rasional dan objektif.

Saya sendiri sebelum PILKADA selalu berdoa kepada Allah SWT agar menguatkan hati dalam mendukung salah satu paslon dan dituntun untuk memilih yang terbaik. Pernah sekali dua kali saya mengubah keputusan di detik – detik terakhir karena ada informasi baru yang masuk dan alhamdulillah saya tidak menyesal dengan perubahan keputusan itu dan saya merasa memilih kandidat yang tepat.

Setelah memilih, tinggal kita kawal agar PILKADA berjalan secara jujur dan sehat. Siapapun yang menang, sah, dan demokratis kita dukung penuh untuk memajukan (khsususnya) Jawa Barat. Jika paslon saya tidak terpilih, tidak ada sakit hati karena saya bukan haters and lovers dan bisa langsung move on. Jika paslon saya terpilih, maka saya doakan semoga bisa membuat Jawa Barat lebih baik dan menuntaskan semua janji – janji kampanyenya.

Ingat, 27 Juni 2018 PILKADA serentak. Mari gunakan hak pilih kita dengan maksimal dan mari kita kawal agar Indonesia dapat menjadi negara percontohan pelaksanaan PILKADA yang jujur dan sehat. Semoga Indonesia mendapatkan pemimpin – pemimpin bangsa terbaik di setiap daerah. Amiiin.

Salam,

Arry Rahmawan.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!