High Performance Me

Tausiyah Bisnis: Ujian Kesenangan Sebagai Pengusaha

Kesenangan sebagai Pengusaha
Written by Arry Rahmawan

Suatu hari saya pernah iseng membuat kultweet #TausiyahBISNIS tentang ‘Ujian Kesenangan’. Kultweet ini saya intisarikan dari salah satu pebisnis yang pernah tidak lulus dalam ujian kesenangan sewaktu perusahaan sedang maju pesat, bahkan dia adalah seorang ulama, siapa lagi kalau bukan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym yang mengakuinya sendiri dalam tausiyahnya).

Mendengar fenomena yang terjadi dan tausiyah ini pun langsung membuat saya untuk berpikir ulang tentang apa dan mengapa saya ingin menjadi seorang pengusaha. Bahkan, tausiyah ini secara telak mampu membolak-balikkan perasaan saya karena saya merasa tersindir. Ujian dalam bisnis itu bukan hanya pada saat kita jatuh dan gagal, namun ujian dalam bisnis juga ada pada saat usaha kita maju pesat dan menjadi orang yang kaya raya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. 21:35)

Ujian Kesenangan #1: Gila Hormat dan Pujian

Saat kita berhasil mencapai sesuatu, baik itu mendapatkan gelar sarjana, bisnis maju pesat, bisa memiliki mobil baru, orang yang memiliki banyak uang, sedikit demi sedikit pandangan orang berubah saat melihat diri kita. Tidak jarang, orang melihat kita sebagai sesosok orang yang sukses dan pantas untuk dihormati. Tidak terkecuali dengan saya. Jika Anda di posisi saya, mungkin Anda bisa merasakan betapa banyak email atau pesan masuk untuk memuji-muji saya karena sudah sukses seperti saat ini, bisa membuat banyak buku yang mencerahkan, punya bisnis yang bagus, dan lain sebagainya.

Apa yang disampaikan oleh sang ustadz, inilah ujian kesenangan yang pertama. Awalnya kita bukan siapa-siapa, namun saat sudah menjadi seseorang, mulailah pujian datang. Niat yang tadinya mencari pujian dari Allah, sekarang beralih menjadi mengejar pujian dan kehormatan manusia. Padahal, jika ada manusia yang memuji diri kita, itu karena mereka tidak tahu aib-aib kita. Bagaimana jika tahu? Pasti mereka tidak memuji! Pujian manusia itu semu yang karena hal itu. Maka, kejarlah pujian dari Dia yang tahu segala seluk beluk makhlukNya, Allah swt.

Maka jika sekarang kita sukses, pujian dari Allah atau pujian dari manusiakah yang kita cari?

Ujian Kesenangan #2: Kikir, Boros, Membelakangi Kebenaran

Bagi mereka yang berangkat dari sebuah titik di mana memiliki uang terbatas kemudian menjadi orang yang kaya pasti pernah mengalami suatu rasa ingin membeli sesuatu dengan lebih banyak lagi, dari yang dibutuhkan hingga yang hanya untuk sekedar gengsi.

Inilah ujian kedua bagi seorang pebisnis yang sukses, yaitu apakah mereka masih sanggup untuk peka terhadap lingkungannya? Apakah mereka masih sanggup untuk merasakan bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang tidak bisa makan dan sekolah?

Keinginan yang terus-menerus datang seolah membuat kita ingin menyimpan semuanya sendiri untuk diri kita. Sedikit-sedikit kita mulai kikir, boros (membeli yang berlebihan), dan bahkan membelakangi kebenaran.

Ujian Kesenangan #3: Sombong, Tinggi Hati

Inilah ujian kesenangan nomor 3, yaitu adalah merasa lebih tinggi dari yang lainnya. Ada sekelebat rasa bangga saat kita bisa menaiki sebuah mobil, ada rasa bangga saat kita bisa membuka lapangan pekerjaan dan menggaji orang, ada sekelebat rasa diri menjadi tinggi saat bertemu dengan orang-orang yang biasa.

Namun, siapa tahu justru orang itulah yang jauh lebih bahagia dari kita?

Bukankah fungsi dari orang yang berilmu adalah untuk menularkan kecerdasan yang dimiliki? Bukankah fungsi dari orang yang kaya adalah untuk memperkaya? Bukankah fungsi dari orang yang baik adalah untuk menularkan kebaikan dari yang lainnya?

Jadi, buat apa diri kita sombong?

Sebuah contoh dari zaman sahabat nabi yang bagus adalah Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, di mana tidak ada harta kekayaan di hati mereka, walaupun semua harta kekayaan berada di tangan mereka. Semua harta ada di tangan mereka, namun gaya hidup mereka adalah gaya hidup orang yang berkecukupan.

Karena sesungguhnya kesuksesan itu adalah saat bisnis yang kita jalankan semakin membuat kita taqwa kepada Allah dengan segala kekayaan yang kita miliki.

Kekayaan itu bersifat netral, baik buruknya tergantung bagaimana Anda menyikapinya.

Bagaimana menurut Anda?

Jika Anda merasa bahwa tulisan di atas bermanfaat, maka jangan sungkan untuk mengungkap semua rahasia membuka bisnis sejak masih muda dalam buku terbaru saya, STUDENTPRENEUR GUIDEBOOKKlik di sini untuk memesan, atau Anda dapat membeli langsung di toko buku terdekat di kota Anda.

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang praktisi inovasi, kewirausahaan, dan bisnis yang senang berbagi pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!