Achievement

Tips Menjadi Jenius

Written by Arry Rahmawan

Bagi orang seumuran saya dan istri, selain lagi musim “nyebar undangan nikah”, topik lain yang sering dibahas adalah tentang membulatkan hati untuk memilih karir. Istilahnya quarter life crisis, masa di mana kita lagi galau dan penuh keragu – raguan apakah jalan yang kita pilih saat ini adalah jalan terbaik untuk dibulatkan menjadi karir seumur hidup.

Namun di antara mayoritas yang sedang mengalami kegalauan dan keraguan ini, muncul sosok – sosok muda seusia kami (bahkan lebih muda lagi) yang sudah sangat menginspirasi.

Misalnya saja teman saya yang bernama Bang Tim (disamarkan), salah satu founder situs crowdfunding terbesar di Indonesia. Usianya lebih muda setahun dari saya (sekarang saya 25 tahun), selalu ngelarang kalau dia saya panggil ‘abang’, haha. Di usianya yang semuda itu, sudah mendapat penghargaan dari Forbes sebagai salah satu sociopreneur berpengaruh di Asia dengan program – programnya.

Ada lagi senior saya Bang Je (disamarkan lagi), yang ketika seusia saya saat ini sudah menjadi pemilik startup company islami di Depok yang bersinar dengan berbagai aplikasi dan solusi digitalnya untuk membantu hajat hidup orang banyak.

Atau ada juga teman seangkatan saya yang namanya Bang Imus (lagi – lagi disamarkan), seorang yang sejak kuliah gabisa diem karena gagasan-gagasan besarnya. Mendirikan beberapa NGO kepemudaan di mana salah satu yang terbesar pada waktu itu, dan sekarang pemilik startup digital beken yang bergerak di bidang pendidikan. Dapet kabar kalau beberapa waktu lalu baru disuntik dana dari investor dengan jumlah sangat besar.

Untuk orang – orang seperti ini, saya tidak sungkan memanggil mereka ‘abang’ walaupun secara usia lebih muda dari saya. Tidak banyak orang lebih muda yang saya panggil ‘bang’. Panggilan itu saya sematkan karena respek, di usia semuda itu sudah banyak berkarya, memberikan kontribusi untuk masyarakat, dan berhasil mencuat di antara mayoritas angkatan kami yang sedang ‘crisis’ itu tadi.

Biasanya, alasan paling ampuh jika ditanya ke angkatan kami mengapa tidak bisa seperti mereka adalah karena mereka memang ‘jenius’. Kalau Anda ketemu orang – orang ini, Anda akan merasakan aura bahwa orang ini memang bukan orang sembarangan. Smart, karismatik, penuh karya. Jauh lebih dewasa dibanding orang seusianya. Seolah – olah hidup mereka sudah perfect dari awal.

Banyak orang mengira para jenius ini lahir dari keluarga kaya penuh modal, bisa mendapat asupan nutrisi yang bergizi dan full ASI, memiliki orang tua yang ngerti gimana ngedidik anak, sekolah dan kuliah di tempat terbaik, gampang mondar – mandir belajar ke luar negeri, punya mentor super yang memandu langkah mereka, punya akses ke investor beken, lahir dengan wajah ganteng sehingga bisa ngegaet istri yang shalihah buat ngedukung perjuangan mereka sejak muda.

Sementara kita mulai ngebandingin dengan kondisi diri sendiri. Lahir dari keluarga sederhana atau di bawah rata – rata, waktu bayi kurang nutrisi dan ASI, sekolah dapetnya yang biasa aja, belum pernah keluar negeri, orang tua pisah sejak kita kecil, dan kita ga punya mentor untuk memandu langkah hidup kita. Parahnya, pas lahir juga wajah biasa aja. Sehingga pas idul adha kemarin jadi baper gara – gara dapet tulang rusuk sapi, karena yang diharapkan adalah tulang rusuk pendamping hati.

Benarkah para jenius ini memang sudah perfect dari lahir? Kenyataannya, orang – orang yang saya kenal sebagai jenius tadi bukanlah orang yang lahir dari keluarga ideal. Saya tahu betul bahkan ada di antara mereka yang sampai dalam kondisi miskin dan kesulitan uang karena mengejar impian mereka. Saya juga tahu ada di antara mereka yang lahir dari keluarga kecil sederhana. Saya juga tahu, ada di antara mereka yang pernah tertipu hingga rugi ratusan juta. Saya juga tahu di antara mereka ada yang mengalami quarter life crisis, galau mau lanjut atau tidak, dan Itu semua terjadi sebelum orang menyematkan predikat ‘jenius’ ke diri mereka.

Maka dari itu, saya percaya dengan Robin Sharma, pakar leadership dunia yang mengatakan bahwa jenius itu bukan tentang kita lahir kapan dan di mana. tetapi tentang bagaimana kita melatih, melatih, dan melatih potensi yang ada dalam diri kita hingga menjadi jenius. Bahkan, dia mengatakan orang yang ketika matinya itu ga punya prestasi membanggakan, maka dia sudah mengkhianati potensi jenius yang Tuhan tanamkan ke dalam diri mereka (dalem).

Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers mengemukakan bahwa untuk menjadi jenius, seseorang perlu melewati proses berlatih progresif minimal 10,000 jam. Jadi jika misalnya kita ingin menjadi seorang jenius dalam public speaking, minimal berlatih progresif (diberikan feedback) sebanyak 10,000 jam. Berapa tahun tuh? Coba hitung sendiri ya…

Karena penelitian terkini semakin menguatkan hal – hal di atas, maka saya dan istri kadang suka mengganti kalimat “Ya dia kan JENIUS” menjadi kalimat,

“Ya dia kan BERANI MENGAMBIL RISIKO”
“Ya dia kan TIDAK KENAL MENYERAH”
“Ya dia kan MENGHABISKAN WAKTUNYA DENGAN BELAJAR”
“Ya dia kan BERLATIH SETIAP HARI”
“Ya dia kan SUDAH MENGALAMI BANYAK KEGAGALAN”
“Ya dia kan DISIPLIN SETENGAH MATI”
Dan kalimat “Ya dia kan …. (yang lain)”

Dengan mengganti kalimat tersebut, saya selalu disadarkan bahwa setiap orang itu bisa jenius. Semua orang itu berpotensi jenius, hanya saja apakah kita mau membayar harga untuk mengasah potensi jenius tersebut. Hal yang seringkali membuat diri kita merasa kecil karena yang kita lihat adalah ketika mereka sudah jadi si jenius. Padahal, untuk mencapai titik itu mereka berjuang penuh habis – habisan.

Cara ini juga pernah saya pakai ke beberapa mahasiswa bimbingan akademik saya yang sempat ‘berantakan’ dan menganggap diri mereka tidak jenius dengan otak lamban. Setelah jenius ini diganti, mereka sedikit demi sedikit mengalami kenaikan dalam kepercayaan dirinya untuk berprestasi kembali.

So jika masih ada mereka yang bilang diri mereka tidak jenius, maka sesungguhnya mereka sedang mengkhianati potensi diri mereka sendiri. Bukan diri mereka yang tidak jenius, namun kejeniusan itu tidak ditempa dan dilatih oleh pemiliknya.

Selamat menjadi jenius. Semoga membantu Anda untuk hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak dari sebelumnya.

Setujukah dengan pendapat saya? Silakan tuliskan komentar Anda.

Salam,
Arry Rahmawan

Personal Development Trainer
Direktur CerdasMulia Institute

Silakan temukan inspirasi lainnya dari saya melalui:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

GRATIS! Ayo Gabung di Komunitas Indonesia Berpijar!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

Bagaimana Menurut Anda?

Komentar

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen serta peneliti di Universitas Indonesia mengenai inovasi, kewirausahaan, dan strategi bisnis yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!