Tips Akademik

Tips Menumbuhkan Budaya Aktif Bertanya di Dalam Kelas

Written by Arry Rahmawan

Salah satu tantangan sebagai pengajar di pendidikan tinggi, apalagi untuk generasi milennials adalah bagaimana menanamkan kemampuan berpikir kritis dalam proses belajar mengajar di kelas. Seperti yang sudah saya tulis dalam artikel saya sebelumnya yang berjudul, “Bagaimana cara mengajar generasi millennials”, bahwa generasi yang sudah sangat mudah mencari informasi ini sudah bukan zamannya lagi ‘disuapi’ materi, tapi bagaimana mereka bisa belajar menyusun dan mengonstruksi pengetahuan yang ada menjadi sebuah hasil belajar yang bermakna.

Itulah mengapa saat ini, Student-Centered Learning sudah semakin relevan untuk diterapkan di dalam kelas. Perkuliahan yang tadinya berorientasi kepada guru / dosen yang memberikan informasi secara terus – menerus, haruslah berubah di mana dosen berposisi sebagai coach pendamping saat mahasiswa melakukan konstruksi informasi yang ada agar bisa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Jika dosen tadinya banyak dan melulu memberi pernyataan, sekarang dosen lebih sering menggunakan pertanyaan untuk memicu mahasiswa agar dapat merekonstruksi pengetahuan itu menjadi suatu kesimpulan yang bermakna.

Sayangnya, masih banyak sekali kondisi dalam kelas yang ‘memaksa’ pembelajaran menggunakan Student-centered learning ini menjadi sulit untuk dilakukan, terutama apabila kelas yang diajar adalah kelas besar. Kelas yang memiliki kapasitas lebih dari 70 orang dalam satu kelas, umumnya hanya bisa dilakukan dengan ceramah atau lecture saja (kecuali jika ada bantuan asisten).

Beberapa tips yang umumnya saya lakukan agar kelas tidak bosan dan pembelajaran aktif tetap terjadi adalah dengan berinteraksi kepada mahasiswa dengan melempar pertanyaan, atau sebaliknya — saya meminta mahasiswa untuk mengkritisi dan bertanya terkait dengan materi untuk melatih mereka berpikir kritis.

Mengapa berpikir kritis? Penelitian dari Education Endownment Foundation (EEF) menyatakan bahwa menanamkan kemapuan berpikir kritis dan membantu mereka untuk bisa dan berani bertanya dapat meningkatkan hasil belajar secara signifikan 1. Dengan memicu mahasiswa untuk bertanya, maka mereka akan mengaktifkan aspek metacognition atau pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya agar dapat menyusun sebuah ruang pengetahuan yang belum terjawab, untuk kemudian dijadikan pertanyaan yang diajukan ke dalam kelas. Proses berpikir kritis itu diyakini dapat membuat materi pelajaran menjadi lebih diingat, terutama apabila menemukan jawaban yang tepat secara mandiri karena pertanyaan yang disusun oleh diri mereka sendiri.

Saat mengajar di kelas program Internasional Universitas Indonesia, dalam beberapa kesempatan saya mencoba untuk menawarkan kepada mahasiswa untuk memberikan pertanyaan kepada saya terkait materi yang sedang dibahas. Umumnya, yang sering mengacungkan tangan adalah mahasiswa asing (foreign students) dari negara lain, seperti tahun lalu saat saya mengajar mata kuliah psikologi industri dan organisasi misalnya, banyak pertanyaan yang muncul dari mahasiswa dari Jerman dan Perancis. Sementara, mahasiswa Indonesia sendiri seringkali lebih banyak yang pasif dan hanya mendengarkan saja. Jarang saya melihat satu kelas mahasiswa Indonesia yang bertanya lebih dari 10% isi kelas. Jika pun ada pertanyaan, kebanyakan pertanyaan adalah dari orang yang sama. Elu lagi, elu lagi, istilahnya.

Akhirnya, dalam beberapa waktu belakangan ini saya mencari cara bagaimana menumbuhkan atmosfir berpikir kritis di dalam kelas. Berpikir kritis ini setidaknya ditandai dengan aktifnya mahasiswa menjawab pertanyaan yang saya berikan di kelas, atau sebaliknya — mereka memberikan pertanyaan kepada saya. Apalagi setelah mengetahui bahwa proses berpikir kritis ini tidak diajarkan secara luas dan efisien di berbagai peruguran tinggi 2, membuat saya semakin tertarik untuk bereksperimen dalam menumbuhkan budaya aktif bertanya di dalam kelas.

Eksperimen perdana saya lakukan kemarin saat membawakan kuliah di mata kuliah Manajemen Teknologi yang terdiri dari 3 angkatan mahasiswa. Satu kelas dalam kuliah ini merupakan kelas besar. Dalam kelas ini, untuk bisa melemparkan pertanyaan, memang diperlukan kepercayaan diri yang tinggi. Karena itulah, seringkali memberikan pertanyaan kepada saya setelah kelas selesai. Modusnya selalu sama: saya tutup kelas, mahasiswa menghampiri saya, bertanya pertanyaan mereka, lalu terjadi diskusi. Saya bertanya kepada mereka, “kenapa ga ditanya di kelas?”. Jawaban mereka, karena mereka ga percaya diri, malu sama teman, takut salah, atau duduknya ada di paling belakang jadi khawatir suara tidak dikenal.

Maka, saya mencoba sebuah teknik untuk meningkatkan budaya bertanya di kelas dengan membuka “Question Box” saat sesi kuliah berlangsung. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membuat slide presentasi di Google Slide, kemudian mengaktifkan link Q&A yang telah disediakan sebagai fasilitas presentasi Google Slide. Setelah diaktifkan, maka slide presentasi di kelas yang digunakan akan muncul sebuah link “Question Box” di bagian atas slide, seperti gambar berikut ini:

Link di atas slide sebagai link “Question Box” untuk mahasiswa

Di sesi kelas, saya sampaikan kepada mahasiswa bahwa pertanyaan bisa diajukan baik lisan ataupun Question Box tersebut. Mahasiswa bisa klik link tersebut dari smartphnone mereka untuk kemudian mereka menuliskan pertanyaan yang ingin diajukan terkait dengan materi.

Di bagian presenter, nantinya pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat dilihat dan bisa dipilih mana pertanyaan terbaik untuk ditampilkan, seperti diperihatkan pada gambar berikut ini,

Misalnya saya ingin menampilkan salah satu pertanyaan, maka saya tinggal klik tombol ‘present’, lalu kemudian pertanyaan akan muncul di slide:

Pertanyaan pemicu dari mahasiswa ini kemudian saya lemparkan kembali kepada seluruh mahasiswa yang mengikuti kelas, sambil dilatih bagaimana mereka merangkai pengetahuan yang telah mereka dapatkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Baru nanti peran saya sebagai dosen adalah untuk klarifikasi apabila ada hal – hal yang perlu diluruskan.

Dalam 2 SKS perkuliahan, tercatat ada sekitar 9 pertanyaan kritis yang masuk, dan 4 pertanyaan yang saya ‘lempar’ ke mahasiswa untuk dijawab sambil saya bantu klarifikasi saat sesi akhir. Jumlah pertanyaan ini meningkat jauh lebih banyak dibandingkan dengan apabila mahasiswa diminta untuk memberikan pertanyaan hanya dengan lisan. Jika mahasiswa sudah terbiasa dengan sistem ini, tebakan saya mungkin akan lebih banyak pertanyaan yang masuk.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda, khususnya yang berprofesi sebagai guru, dosen, atau trainer untuk membuat suasana kelas Anda lebih interaktif dan tercipta budaya aktif bertanya di dalam kelas.

Referensi:

  1. https://educationendowmentfoundation.org.uk/evidence-summaries/teaching-learning-toolkit/meta-cognition-and-self-regulation ↩︎
  2. Arum, R. and Roska, J. (2011), Academically Adrift: Limited Learning on College Campuses. University of Chicago Press ↩︎

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan@gmail.com. Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan Arry Rahmawan melalui beberapa jalur media sosial berikut ini:

Free Online Course di YouTube : Channel Arry Rahmawan
Free Kultwit di : Twitter @ArryRahmawan
Free Inspirational Quotes : Instagram @ArryRahmawan
Free Inspirational Notes : Grup Facebook

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Bidang keilmuan peminatannya adalah simulasi bisnis, business model innovation, dan entrepreneurship development.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0856 4087 9848 (Melinda) atau email ke arryrahmawan@ui.ac.id.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!