Akademik Menulis Ilmiah

3 Langkah Mengatasi Writers Block Saat Menulis Artikel Ilmiah

Written by Arry Rahmawan

Hai sahabat, berjumpa lagi bersama saya Arry! Setelah 3 pekan vakum menulis di blog ini, alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya dapat menulis lagi.

Jadi, selama 3 minggu kemarin saya kemana? Salah satunya saya sedang menyelesaikan satu artikel ilmiah yang rencananya akan saya presentasikan di International Conference of Harbor, Maritime, and Multimodal Modeling and Simulation (HMS) Conference 2020 di Athens. Artikel ini menceritakan sekaligus menjelaskan hasil penelitian awal saya sebagai mahasiswa PhD. Bagi yang masih asing dengan artikel ilmiah, definisinya adalah sebuah artikel yang menjelaskan tentang hasil suatu penelitian yang dilakukan sesuai dengan kaidah ilmiah sehingga hasil kesimpulan pengetahuan yang dihasilkannya dianggap valid sebagai suatu kebenaran. Tentunya menulis artikel untuk konferensi atau jurnal ilmiah sangat berbeda dengan menuliskan artikel di blog ya. Kalau di artikel ilmiah saya harus sangat berhati – hati dalam menulis dan sangat runut dalam menjelaskan hasil penelitian saya. Sementara kalau di blog kan nulisnya ya bebas – bebas aja semau saya, hehe…. Makanya sebagai seorang blogger saya agar ‘terlunta-lunta’ kalau diminta menulis artikel ilmiah, karena saya biasanya menulis artikel blog!

Karena artikel ini adalah yang pertama, saya pun mendapat banyak pelajaran dalam masa proses menuliskan artikel ini. Salah satu pelajaran yang saya dapat adalah saya merasakan sebuah pressure dari profesor dan supervisor saya tentang standar menulis artikel yang sangat tinggi. Pressure ini belum pernah saya dapatkan ketika saya belajar di Indonesia. Di Delft University of Technology, kampus saya saat ini, profesor saya benar – benar memperhatikan bagaimana grammar, style, dan poin yang saya tuliskan di setiap paragraf. Maklum, profesor saya adalah salah satu editor jurnal internasional terkemuka di eropa, salah satunya Journal of Simulation. Sehingga, walaupun ini ‘cuma’ artikel untuk konferensi, namun tetap standar yang dipakai adalah seperti seolah mau disubmit ke jurnal. Namun walaupun begitu, saya sangat bersyukur karena ini adalah pelajaran yang sangat berharga yang bisa saya dapat dengan hanya kuliah di luar negeri.

Lanjut…. Karena ada sedikit perasaan tertekan ini, jadilah saya sempat stuck ketika mau menulis artikel ilmiah pertama saya ini. Sempat selama seminggu lamanya saya tidak bisa menuliskan apapun, padahal salah satu hobi saya adalah menulis lho. Semakin runyam lagi keadaannya ketika deadline submission nya semakin dekat.

Namun alhamdulillah ketika saya stuck, saya terus dibimbing dengan sabar oleh supervisor saya dan beliau memberikan 3 langkah praktis yang sangat membantu saya untuk keluar dari kubangan stuck ini. 3 strategi praktis inilah yang ingin saya bagikan kepada Anda, yang siapa tahu saat ini juga sedang mengalami stuck atau bingung darimana memulai untuk menulis artikel ilmiah.

3 Langkah Praktis untuk Mengatasi Stuck Menulis Artikel Ilmiah

Jadi, apa sajakah strategi praktis untuk mengatasi stuck saat kita menulis artikel ilmiah?

Oh ya, ini tips dari supervisor saya yang berlatar belakang pendidikan systems engineering. Hasil bisa jadi berbeda untuk setiap orang, tapi siapa tahu ada yang cocok dengan caranya.

Langkah Pertama, mengenal dulu tujuan menulis artikel ilmiah

“What do you think makes the research paper effective?”

Itu adalah pertanyaan yang dilontarkan supervisor saya ketika saya mengalami stuck. Saya pun coba menjawab, mulai dari gaya penulisan yang mengalir, grammar yang bagus, dan sebagainya.

Ternyata jawabannya bukan itu.

Supervisor saya bilang, artikel ilmiah yang bagus itu intinya cuma dua:

  • Memiliki pertanyaan riset menarik untuk dijawab
  • Hasil, Jawaban atau Kesimpulan Risetnya sangat meyakinkan dalam menjawab pertanyaan tersebut

Udah, itu aja. Jadi intinya semua artikel ilmiah itu akan dilihat dulu dua hal: Research Question, lalu Answer/Conclusion.

Jadi, ketika kamu stuck, pastikan lagi kamu sudah tahu apa pertanyaan menarik yang ingin kamu jawab dan kamu sudah mendapatkan jawabannya secara meyakinkan.

Saya pun berpikir… apa ya pertanyaan riset saya?

Oh ya, pertanyaan riset yang ingin saya jawab di artikel ini sangat sederhana: “What is the topological properties of maritime shipping network in Indonesia?”. Intinya, saya ingin menjawab sebenarnya “bentuk” jaringan transportasi barang atau logistik maritim perdagangan di Indonesia itu seperti apa? Apakah sama dengan jaringan pelayaran di negara lain? Apakah sama dengan jaringan pelayaran global? Jangan – jangan beda? Itulah yang ingin saya jawab.

Supervisor saya pun komentar, “ini menarik. Coba kita ganti sedikit pertanyaannya: What is the topological properties of maritime shipping network in a large-scale archipelago?” Kira – kira mana pertanyaan yang lebih menarik untuk dijawab?

Berdasarkan logika saya, tentu orang akan tertarik dengan pertanyaan kedua karena tidak terkait dengan satu negara tapi lebih umum. Di sana kita ingin menjawab sebenarnya jaringan transportasi maritim untuk barang di negara kepulauan itu seperti apa sih? Apakah sama dengan jaringan pelayaran global? Apakah berbeda? Kalau sama di mananya? Kalau beda di mananya? Akhirnya saya jadi tahu terkait apa yang mau saya tulis di artikel ilmiah pertama saya ini. Setidaknya, gambaran besarnya saya jadi tahu artikel saya nanti akan membicarakan tentang apa.

Jujur cara ini sangat membantu saya untuk membaca artikel ilmiah dengan jauh lebih cepat. Ketika saya mendapat artikel ilmiah baru di keilmuan saya, cara paling mudah untuk mengetahui artikel ini menarik atau tidak adalah dengan mengecek research question dan conclusion nya terlebih dulu. Baru kalau menarik saya baca lebih detil.

Setelah mengetahui prinsip penulisan artikel yang efektif, saya beralih ke langkah kedua.

Langkah Kedua, membuat outline untuk menulis artikel ilmiah

Setelah saya menemukan pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan riset, maka cara berikutnya yang dianjurkan adalah membuat outline. Outline itu adalah kerangka atau bagian yang akan kita tuliskan,

Kalau berdasarkan langkah pertama, outline dari artikel ilmiah itu terdiri dari dua bagian:

  • Research Question
  • Answer / Conclusion

Nah, agar flow dari artikel kita lebih menarik minat pembaca, maka kita tambahkan deh 3 outline lagi sehingga menjadi:

  • Why this question? (mengapa memilih pertanyaan ini?)
  • What is the research question? (apa pertanyaan yang ingin dijawab?)
  • How to answer it? (bagaimana cara menjawabnya?)
  • What did you find? (Apa yang Anda temukan?)
  • Answer / Conclusion (Jawaban dan kesimpulan)

Outline di atas kalau diterjemahkan menjadi struktur sebuah artikel ilmiah, maka menjadi:

  • Why this question? –> Introduction (Pendahuluan)
  • What is the research question? –> Literature review (Tinjauan Literatur)
  • How to answer it? –> Method (Metode)
  • What did you find? –> Results (Hasil)
  • Answer / Conclusion –> Discussion and conclusion (Diskusi dan Kesimpulan)

Berangkat dari titik ini, saya pun kemudian membuat sebuah poin – poin yang lebih detil di setiap section nya, sehingga menjadi (saya contohkan hanya di bagian intro):

  • Introduction
    • The importance of maritime shipping network for national economic growth
    • The complexity of maritime shipping network
    • Significant benefit and challenge to capture an accurate overview due to network complexity
    • Previous studies and research gap
    • The study purpose

Umumnya untuk setiap poin saya jadikan satu paragraf. Jadi dalam penulisan satu paragraf itu hanya berisi satu poin yang ingin disampaikan lengkap beserta dengan argumentasi yang saya berikan di paragraf tersebut.

Sampai titik ini, alhamdulillah stuck saya sudah jauh berkurang karena setidaknya saya tahu apa yang mau saya tuliskan mulai dari introduction hingga conclusion.

Lalu, bagaimana jika masih stuck juga? Maka ikuti langkah ketiga:

Langkah ketiga, Write First Edit Later

Bukan berarti sudah memiliki outline yang jelas bisa menulis dengan mudah lho. Ada kalanya outline sudah sangat jelas tetapi menulis tidak kunjung bisa juga. Ini juga terjadi pada diri saya, terutama ketika diri ini sedang sangat perfeksionis. Maksudnya perfeksionis adalah manuskrip pertama langsung mendapat persetujuan supervisor atau paling banter hanya mendapat revisi minor.

Tapi sumpah, jangan pernah jadi perfeksionis kalau mau menghasilkan artikel ilmiah. Apalagi jika kamu kuliah di luar negeri. Semakin perfeksionis kamu, maka pekerjaan kamu akan semakin tidak akan selesai.

Kenapa? Karena sudah sesempurna apapun menurut kita, pasti ada banyak ruang perbaikan yang bisa ditemukan di tulisan kita tersebut.

Jika sudah seperti ini, maka solusi yang ketiga ini sangat bisa kamu gunakan. Tulis Dulu, Edit Belakangan.

Intinya: pisahkan proses menulis dengan proses editing.

Di fase pertama ini, tuliskan dulu semua hal yang ingin kamu curahkan. Jangan memikirkan salah benar dulu, jangan memikirkan urut atau tidak dulu, yang penting tulis dulu.

Kalau sudah selesai menulis, baru deh kemudian masuk tahap edit.

Di tahap edit baru kamu bisa cek grammar, style, logic, flow, typo, structure, dan lain sebagainya.

Setelah itu kirim ke supervisor untuk menerima feedback.

Apakah langsung di acc? Tentu tidak. Akan ada banyak sekali revisi sana sini. Tapi setidaknya, kita sudah punya draft, dan itu adalah progress yang sangat bagus, daripada tidak ada sama sekali.

Alhamdulillah, menggunakan 3 langkah strategi tersebut, saya bisa menyelesaikan artikel ilmiah saya dengan tepat waktu. Bahkan, inilah feedback dari reviewer konferensi tersebut (ada 2 reviewer, tapi kurang lebih sama):

Saya senang dan bersyukur sekali dar yang tadinya stuck, saya bisa mendapatkan feedback seperti itu. Saat ini artikel ilmiah tersebut sedang dalam proses penyuntingan untuk dimasukkan ke prosiding untuk keperluan publikasi. Jika nanti sudah terbit, akan saya berikan update kembali melalui blog ini sebagai contoh penulisan.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan tidak membingungkan rekan – rekan semua ya, hehe.

Jika ada sesuatu yang ingin didiskusikan, saya sangat terbuka untuk diskusi melalui kotak komentar di bawah.

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Selain beraktivitas sebagai pengajar dan peneliti, Arry juga senang membagikan tips dan informasi seputar akademik, kewirausahaan, dan pengembangan diri melalui blog nya di arryrahmawan.net.

Arry berpengalaman sebagai narasumber di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)gmail.com.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!