Uncategorized

7 Kesalahan dalam Membuat Proposal Bisnis

Memiliki bisnis yang terus-menerus berkembang tentu saja merupakan idaman bagi setiap pemiliknya. Termasuk saya atau Anda yang saat ini memiliki bisnis. Tetapi seringkali untuk mengembangkan bisnis kita dalam skala yang lebih besar, kita memerlukan suntikan modal agar bisa berkembang dengan lebih cepat.

Salah satu cara yang paling umum dilakukan banyak pemilik usaha adalah dengan membuat sebuah proposal bisnis. Proposal bisnis inilah yang kemudian menjadi ‘senjata’ untuk bisa mendapatkan modal dan investor agar bisnis semakin berkembang. Namun tahukah Anda kenapa proposal bisnis yang kita ajukan terus-menerus ditolak padahal menurut kita sudah merupakan proposal bisnis yang bagus? Hal mendasar inilah kemudian saya rangkum ke dalam 7 kesalahan dalam membuat proposal bisnis. Apa sajakah itu? Tulisan ini akan membantu Anda untuk mengetahuinya dan membuat proposal bisnis yang lebih baik.

Membuat proposal bisnis memang perkara sederhana, namun jika tidak cermat bisa menjadi bencana. Mulai dari investor yang tidak percaya, hingga kredibilitas pribadi yang dipertaruhkan. Berikut ini 7 kesalahan tersebut,

Tidak Memulai Dari Tujuan Yang Jelas. Pembuatan proposal bisnis bisa berbeda-beda tergantung dari tujuannya. Selama ini orang mengira bahwa tujuan pembuatan proposal bisnis hanyalah untuk mencari investor yang bersedia menanam modal. Namun ternyata proposal bisnis juga bisa digunakan dalam rangka pembentukan kerjasama, memenangkan tender, kompetisi/lomba, penyerahan award, bahkan dengan tujuan pemberian informasi semata. Tujuan yang tidak jelas seringkali membuat isi proposal bisnis menjadi tidak relevan. Seperti misalnya tujuan mencari investor namun kita mengisinya dengan format untuk kompetisi/lomba yang rumit. Jadi, mulailah dari tujuan yang jelas terlebih dahulu.

Tidak Siap untuk Presentasi. Pembuatan proposal bisnis haruslah satu paket dengan presentasinya. Seringkali proposal bisnis kita sudah baik, namun diri kita yang tidak siap ketika maju untuk mempresentasikan gagasan. Padahal, dengan adanya kesempatan presentasi kita memiliki peluang besar untuk mendapat kepercayaan investor. Sertakan slide yang interaktif dan menarik. Untuk ini, Anda bisa membaca tulisan saya bagaimana teknik presentasi yang mempengaruhi audience Anda.

Menggunakan Asumsi yang Tidak Realistis. Sebuah proposal bisnis seringkali menjelaskan tentang bagaimana proyeksi bisnisnya di masa yang akan datang. Tetapi, seringkali pula proyeksi itu didasarkan pada asumsi yang tidak realistis dengan skenario paling optimis atau paling positif dari sebuah peristiwa. Akibatnya ROI, NPV, Payback period yang muncul pun akan sangat menggiurkan investor. Loh, bukankah justru bagus? Ya, bagus jika memang hal itu realistis. Namun jika tidak, pikirkan kembali karena Anda bisa saja dituntut dengan pasal penipuan investasi.

Elemen Tidak Lengkap. Seperti yang kita tahu bahwa sebuah proposal bisnis umumnya terdiri dari penjelasan target pasar, produk/jasa, proses bisnis, strategi pemasaran dan penjualan, serta SDM dan analisis kompetitor. Cukup? Belum. Akhir-akhir ini ketika saya diminta untuk berinvestasi di suatu tempat, saya akan bertanya tentang tren penjualan atau industri di masa yang akan datang, proyeksi keuangan yang lengkap (minimal 3 – cash flow, income statement, dan balance sheet) dan bagaimana rencana pengusaha jika bisnis yang terjadi di masa depan mengalami kegoncangan. 3 hal terakhir ini yang umumnya tidak disertakan dalam proposal bisnis dengan baik.

Riset dengan Intuisi. Jika saya melihat berbagai macam proposal bisnis, seringkali saya terperangah dengan proyeksi terkait dengan bisnis tersebut. Misalnya saja bisnis restoran, terkait dengan kebiasaan pembeli, menu apa yang paling enak dan disukai oleh target pasar, analisis kompetitor, dan proyeksi pertumbuhan pasar di masa depan. Seringkali, proposal ini hanya mengutip sebuah data dari internet yang tidak jelas asal sumbernya. Saat ditanya, ini darimana asal datanya? Ternyata hanya mengutip dari internet dan intuisi saja. Jika memang ingin menyajikan data dan fakta, maka ya sajikan yang memang benar-benar fakta. Bukan hanya intuisi.

Menghancurkan Proposal dengan Membocorkan Resiko Terlalu Besar. Jelaskan proyeksi risiko jika memang diminta, namun tidak perlu membuka ruang diskusi antara kita dengan investor terkait dengan risiko bisnis. Ya, semua bisnis memang berisiko, maka tugas kita untuk meyakinkan investor bahwa risiko yang ditimbulkan minim dan kita sudah punya rencana matang untuk mengatasinya.

Tidak Ada Kompetisi dalam Bisnis Ini, adalah salah satu pernyataan yang fenomenal dalam sebuah proposal bisnis dan paling tidak masuk akal. Kenapa? Karena jika proyeksi sebuah bisnis itu bagus, pasti suatu saat nanti (jika memang saat ini belum ada), persaingan akan muncul dan pasar menjadi keruh. Investor yang kritis akan sangat mempertanyakan hal ini.

Itulah 7 kesalahan dalam membuat proposal bisnis yang umumnya terjadi. 7 kesalahan ini saya kumpulkan dari berbagai macam pertanyaan dan pengalaman kepada para investor atau pemilik bisnis yang mengalami penolakan dalam mengajukan proposal bisnisnya. Semoga bermanfaat!

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

*Anda ingin request tips dan trik bisnis untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi? Silakan tinggalkan komentar Anda. Temukan artikel berkualitas seputar tips bisnis, pemasaran, dan motivasi bisnis di ArryRahmawan.net setiap harinya. Klik di sini untuk mendapat kiriman artikel langsung ke email Anda. Gratis!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!