Uncategorized

Ask Until You Are the Expert

Suatu ketika pada saat kita berada di dalam kelas dan guru atau teman sedang menjelaskan materi lalu mempersilakan untuk bertanya, beranikah kita untuk mengacungkan tangan dan bertanya hal-hal yang sebenarnya belum kita pahami? Jika kita berani, coba tengok teman-teman di kanan dan kiri kita, berapa banyak yang berani mengacungkan tangannya.

Banyak atau sedikit? Coba ingat sewaktu kita sekolah dulu, atau saat sekarang kita sering menghadiri training atau seminar di kantor. Banyakkah yang berani untuk bertanya? ternyata sedikit, bahkan dalam suatu kasus tertentu hampir tidak ada sama sekali.

Apakah karena mereka semua sudah paham akan materinya? Belum tentu. Jika dijawab jujur, justru banyak dari kita yang sebenarnya belum paham akan materi yang disampaikan. Mengapa kita tidak mengacungkan tangan dan melemparkan pertanyaan?

Jawabannya klasik : malu dan takut dianggap sebagai orang yang bodoh. Lebih baik kita cari aman, tidak bertanya, atau baru nanti bertanya saat pelajaran sudah usai.

Rasa malu bertanya ini pernah saya rasakan sewaktu saya sekolah dulu dan dampaknya terbawa sampai saya kuliah. Pada waktu itu, saya mengusahakan diri saya untuk ‘lebih tahu’ dan ‘terlebih dulu tahu’ dibandingkan teman-teman yang lain. Awalnya semua baik-baik saja, namun pada akhirnya saya sendiri yang lelah karena semua serba dipelajari sendiri. Teman-teman yang lain mencapai progress yang semakin cepat, sementara saya justru merasa semakin melambat.

Sampai kemudian ada sebuah pelajaran penting ketika saya mulai merintis bisnis. Pada waktu itu dengan pengalaman minim, tidak punya modal, sedikit pengetahuan, tidak ada jalan lain bagi saya untuk bertanya, bertanya, dan terus bertanya kepada para ahli bagaimana membuat dan membangun bisnis saya ini. Awalnya saya ragu bagaimana mungkin mereka akan menjawab dan merespon pertanyaan lucu dan lugu dari saya? Saya pun memberanikan diri bertanya langsung atau bertanya lewat email. Ternyata, mereka menjawab bahkan dengan sangat lugas dan jelas. Menurut saya, orang-orang yang tidak pelit ilmu seperti inilah yang dinamakan seorang expert sejati.

Saat membangun bisnis pelatihan, saya bertanya pada kakek Tung Desem Waringin.

Saat mencoba mengaplikasikan ilmu kreatif di perusahaan saya bertanya kepada Yoris Sebastian dan Wahyu Aditia.

Saat saya ingin bisa menuliskan sebuah buku, saya bertanya kepada Andreas Harefa.

Saat saya ingin meningkatkan keterampilan public speaking, saya bertanya kepada Kek Jamil Azzaini dan Ongky Hojanto

Saat saya ingin mengejar passion dalam hidup saya, saya bertanya kepada Rene Suhardono dan Dedy Dahlan.

Dari pertanyaan itu ternyata jawaban-jawaban mereka sangatlah dahsyat. Tidak saya temukan di buku, tidak saya temukan di catatan-catatan mana pun. Mereka menceritakan bagaimana agar saya tidak mengalami kegagalan-kegagalan mereka (jadi tidak perlu kecebur dua kali), dan gagasan-gagasan mereka yang sangat cemerlang.

Bertanya bukanlah sebuah tanda kebodohan. Sejarah banyak membuktikan bahwa orang yang menilai bodoh orang yang bertanya justru sedang membodohi dirinya sendiri. Bertanya adalah keberanian, dan kemampuan untuk melontarkan pertanyaan yang tepat akan membuat impian dan capaian kita mengalami percepatan yang luar biasa. Sebelum banyak bertanya, saya tutup bisnis hingga 6 kali. Setelah rajin bertanya, alhamdulillah baik-baik saja hingga sekarang.

Saya tidak heran mengapa orang seperti Steve Jobs menyatakan agar setiap orang sebaiknya stay hungry, stay foolish. Orang yang tetap merasa lapar, akan terus mencari cara bagaimana cara menjadi kenyang. Sama seperti orang yang tetap merasa bodoh akan terus bertanya untuk mengenyangkan keingintahuannya.

Dalam menjalankan bisnis ini saya belajar bahwa berhenti bertanya berarti berhenti belajar. So, ask the expert until you are the experts.

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar