Uncategorized

Bila Waktu Telah Berakhir

Pasca diterbitkannya buku saya, #StudentpreneurGuidebook yang menginspirasi banyak anak muda untuk berwirausaha, berdatangan berbagai tawaran untuk membuat buku secara kolaborasi atau biasa disebut dengan co-author. Banyak orang yang menyangka bahwa membuat sebuah buku bersama-sama akan jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat dibandingkan dengan buku sendiri. Hal ini relatif, karena tidak selamanya saya merasakan seperti itu.

Membuat buku kolaborasi senantiasa menuntut kesabaran saat kita harus menunggu draft dari penulis lain yang kadangkala terlambat. Begitu pula dengan saya yang apabila memiliki jadwal training yang padat, seringkali meleset dari tanggal untuk setor draft ke editor atau penulis lainnya. Namun yang seringkali membuat kesal tentu adalah perasaan malas menulis yang hinggap sehingga kami benar-benar mandek dan tidak bisa menulis dengan lancar. Seringkali saat menulis buku kolaborasi seperti ini (biasanya 2-3 penulis), ada saja penulis yang malas dan terlambat mengumpulkan draft. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya penulis itu bisa menyelesaikan naskah tepar pada waktunya. Satu orang terlambat, artinya memperlambat proses jadinya satu buku.

Apa yang mau saya tekankan dalam tulisan ini adalah betapa bodohnya kita sebagai seseorang apabila menunda-nunda untuk berbuat dan menghasilkan kebaikan. Mengapa? Karena ditundanya karya kebaikan yang bisa kita hasilkan bisa jadi menunda orang lain untuk berbuat baik juga. Lebih parah lagi saat kita memiliki waktu luang, tubuh yang sehat, di mana sebenarnya kita bisa menuntaskan sebuah karya. Namun nikmat seperti ini seringkali menjadi alasan untuk menyelesaikan semuanya, “besok, besok, dan besok saja. Santai saja, masih ada waktu”

Saya jadi teringat akan teman SMP saya. Setelah sekian lama kami tidak berjumpa (6 tahun), suatu malam saya facebook chat dengan Icha. Kami membahas rencana ke depan dan cita-cita kami dengan sangat antusias. Icha menjelaskan tentang cita-citanya membuat buku ini dan itu, membangun sekolah, yang intinya bisa menginspirasi kebaikan bagi yang lainnya. Dia memiliki buku yang sebentar lagi akan selesai naskahnya dan akan diterbitkan. Dia memohon doa agar bukunya cepat selesai.

Dua hari kemudian, Icha meninggal dalam sebuah kecelakaan maut yang membuat saya kaget. Di usianya yang masih 20 tahun, Icha sudah pergi untuk selamanya. Bagaimana dengan bukunya? Saya tidak tahu apakah orang tuanya tahu atau tidak tentang buku itu. Setahu saya, buku itu belum diterbitkan hingga saat ini (3 tahun kemudian).

Berkaca dari cerita ini, saya selalu mengingatkan pada diri saya dan juga tim penulis untuk segera menyelesaikan naskah kebaikan yang sedang kita susun. Menunda satu hari yang sebenarnya kita bisa menyelesaikan sebuah karya kebaikan, bisa jadi akan berdampak sangat besar di masa yang akan datang. Saya selalu ingat akan kisah Icha, seandainya saja, seandainya buku itu sudah terbit sebelum Icha pulang kembali ke yang Maha Kuasa, tentu Icha akan jauh lebih tenang karena dia masih bisa memberikan banyak ilmu yang bermanfaat. Dalam keyakinan saya, salah satu amalan yang tidak akan putus amalannya setelah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat.

Jadi, apapun pekerjaan kita, selama itu adalah kebaikan, masihkah kita berani untuk menunda-nundanya?

Anda memiliki tips terkait dengan bagaimana cara meningkatkan produktivitas? Mention @ArryRahmawan dengan hashtag #ProductiveME!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar