Entrepreneurship Toolbox Kelas Studentpreneur

Penggunaan Business Model Canvas untuk Menggambarkan Model Bisnis di Sektor Jasa

Written by Arry Rahmawan

Ada pertanyaan yang masuk melalui channel Youtube saya tentang pembahasan Business Model Canvas (BMC): bagaimana cara menggunakan Business Model Canvas untuk menggambarkan model bisnis di sektor jasa? Memang benar, berdasarkan pengalaman saya banyak sekali contoh – contoh kasus penggunaan BMC di kalangan UMKM yang menggunakan produk sebagai studi kasus BMC nya. Namun jika kita ingin mencari tahu lebih lanjut, sebenarnya sudah banyak juga contoh penggunaan BMC di sektor jasa. Dalam buku Business Model Generation sendiri, dapat kita temukan berbagai macam contoh pemanfaatan BMC untuk memetakan model bisnis di perusahaan jasa dan juga startup teknologi, seperti misalnya: Netflix, Twitter, ataupun Investment Banking.

Pada dasarnya pengisian BMC untuk bisnis berbasis produk/manufaktur dengan model bisnis berbasis jasa adalah sama. Cara pengisiannya bisa mengikuti Panduan 6 Aturan Mengisi Business Model Canvas yang sudah saya tuliskan di artikel sebelumnya. 6 Aturan tersebut tinggal disesuaikan saja dengan bisnis Anda.

Namun agar lebih jelas bagaimana contoh pemanfaatan Business Model Canvas ini untuk sektor jasa, saya akan coba memberikan contoh studi kasus pemanfaatan BMC di sektor jasa pada artikel kali ini. Kebetulan, belum lama ini saya dan tim di CerdasMulia Institute sedangg mengembangkan sebuah program pengembangan diri baru yang kami namakan GrowME Incubation Program (GIP). GIP adalah sebuah program mentorship terstruktur untuk menjawab kebutuhan anak muda yang memerlukan sebuah wadah pengembangan diri di tengah pandemi COVID-19 yang seringkali membuat keadaan mental menjadi kurang sehat. Untuk mengecek seperti apa gambaran GIP angkatan pertama, maka silakan langsung buka dan follow instagram di CerdasMulia Institute.

Dalam pengembangan program GIP ini, saya menggunakan Business Model Canvas untuk menciptakan gambaran kepada tim, seperti apa konsep GIP yang nanti akan diadakan. Berikut ini adalah bagaimana caranya saya menggambarkan GIP, sebuah jasa mentoring untuk pengembangan diri anak – anak muda di CerdasMulia Institute.

Pemanfaatan BMC untuk menggambarkan Model Bisnis di Sektor Jasa

Saya akan coba langsung menggambarkan GIP dalam 9 blok BMC.

Customer Segment

Customer Segment untuk program GIP adalah pemuda-pemudi yang belum menikah, dengan rentang usia 21-27 tahun. Secara lebih spesifik, memiliki masalah dengan quarter life crisis dan juga mengalami demotivasi karena pandemi dan shock terhadap perubahan dari lingkungan kampus ke pasca kampus.

Value Proposition

Value proposition yang ditawarkan dalam program ini adalah (1) akses mentoring pengembangan diri intensif; (2) akses ke peer-group positif; (3) pengembangan diri berkelanjutan pasca mentoring.

Channel

Channel yang digunakan dibagi menjadi 2, yaitu inbound channel dan outbound channel.

Inbound channel adalah bagaimana caranya agar para peserta tertarik dan mendaftar ke program ini. Caranya yaitu adalah dengan: (1) melakukan promosi intensif di sosial media; (2) mencari rekomendasi peserta dari jaringan alumni yang sudah ada.

Outbound channel adalah bagaimana caranya agar value yang diberikan bisa sampai kepada konsumen. Kami menyampaikan value melalui: (1) Video mentoring interaktif; (2) Penugasan pengembangan diri individu di setiap pertemuan; (3) Penugasan pengembangan diri yang bersifat kolektif untuk meningkatkan persaudaraan angkatan.

Customer relationship

Customer relationship adalah cara kami untuk menjaga hubungan dengan para alumni. Caranya yaitu adalah dengan: (1) membuat grup silaturahim eksklusif; (2) membuat kopi darat online/offline; (3) menciptakan program pengembangan diri lanjutan khusus alumni.

Key Activities

Key Activities adalah aktivitas kunci yang perlu dilakukan agar tercipta value yang diharapkan. Aktivitas kunci yang kami lakukan untuk memastikan bahwa value dapat tercipta adalah: (1) Merancang kurikulum mentoring; (2) Produksi materi mentoring yang berkualitas; (3) Menyeleksi peserta mentoring; (4) Membuat rancangan program pasca pelatihan

Key Resources

Key Resources adalah sumber daya utama yang perlu dimiliki untuk melakukan key activities. Beberapa key resources yang dibutuhkan adalah: (1) Referensi ilmiah; (2) Alat produksi video atau screencast; (3) Panitia seleksi; (4) Narasumber program pasca pelatihan yang berintegritas

Key Partners

Key partners adalah rekanan yang diperlukan untuk menciptakan value, di luar dari institusi yang kita kelola. Adapun key partner yang penting di GIP adalah: (1) narasumber program pasca-mentoring; (2) alumni GIP angkatan sebelumnya; (3) Jaringan Alumni CerdasMulia Institute

Cost Structure

Cost Structure atau struktur biaya adalah biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan value. Adapun biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan program ini adalah: (1) Biaya untuk SDM Panitia & Fasiiltator; (2) Biaya untuk SDM Mentor; (3) Biaya pembuatan materi; (4) Biaya pemasaran program

Revenue Stream

Revenue stream atau sumber pendapatan adalah sumber pendapatan utama yang didapatkan institusi dari hasil memberikan value kepada konsumen. Adapun dalam konteks GIP, maka revenue stream berasal dari: (1) tiket masuk untuk mengikuti program; (2) sponsor GIP.

Jika kesembilan blok tersebut dihimpun dalam satu kanvas, maka akan menjadi seperti berikut ini:

Penggunaan BMC untuk memetakan model bisnis di sektor jasa

Berawal dari gagasan yang ada di kepala lalu dituangkan ke dalam Business Model Canvas, membuat komunikasi saya dengan tim menjadi lebih mudah (terutama di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini). dan yang lebih melegakan lagi, alhamdulillah BMC yang tadinya hanya sekedar ‘wacana’, akhirnya bisa terwujud dengan wisuda angkatan pertama GIP (dengan nama angkatan AKATARA) pada April lalu, seperti gambar di bawah ini,

Demikianlah ulasan bagaimana memanfaatkan BMC untuk sektor bisnis jasa. Harapan saya semoga apa yang saya tulis ini dapat menjadi inspirasi Anda semua yang mungkin saat ini sedang memiliki ide untuk juga menjalankan sebuah bisnis di bidang jasa. Berdasarkan pengalaman saya, BMC sangat bermanfaat untuk membuat ide yang ada di kepala kita menjadi lebih terstruktur, sehingga mengkomunikasikannya kepada tim menjadi lebih mudah. Dengan semakin konkritnya ide yang dimiliki, maka insyaAllah ide – ide itu pun akan semakin mudah terwujud.

Semoga bermanfaat, ya! Sampai jumpa di artikel tutorial BMC berikutnya.

Bagi pembaca yang ingin membaca beberapa artikel populer yang saya tulis mengenai Business Model Canvas, silakan klik tautan berikut ini:

Bagi Anda yang ingin mengundang Arry Rahmawan sebagai instruktur Business Model Canvas untuk pelatihan di instansi atau perusahaan Anda, silakan hubungi via WhatsApp 0856 4087 9848 (Melinda) atau email langsung ke arry.rahmawan@gmail.com.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di pelatihan BMC berikutnya!

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!