Uncategorized

Curhat dengan Ibu

Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, “Kapan terakhir kita curhat dan bicara dari hati ke hati dengan ibu kita?”. Kapan terakhir kali kita bisa berbicara terbuka dan menyentuh sisi emosional ibu kita? Kapan terakhir kali kita bisa menjadi pendengar untuk ibu kita?

Zaman pesatnya teknologi saat ini, dengan segala macam perihal smartphone dan social media yang benar-benar tidak terbendung lagi, bisa jadi membuat orang-orang yang dekat dengan diri kita semakin jauh, namun orang-orang yang jauh dari diri kita semakin dekat. Misalnya, seringkali saat berbicara dengan orang kita lebih senang dan sering menanggapi smartphone atau BB kita terlebih dahulu. Saya jadi teringat dengan pesan ibu saya yang sangat merasuk ke hati saya.

“Anak-anak zaman sekarang ini sudah benar-benar tidak lagi dekat dengan orang tua mereka. Mereka lebih nyaman dengan teman, sahabat, atau bahkan pacar mereka. Mereka bahkan seringkali tidak menganggap bahwa ibu mereka tidak ada. Mereka tidak mau bercerita. Ketus jika ibunya bertanya, padahal ibu hanya ingin tahu kondisi anaknya.”

Jujur saya merasa tersindir total atas nasihat ibu saya itu. Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, seorang pebisnis, ketua komunitas nasional, dan memegang beberapa posisi penting di organisasi membuat waktu saya bercerita-cerita banyak hal dengan ibu saya tidak sebanyak dulu. Saya pun kadang-kadang hanya menjawab secukupnya saat saya sudah pulang ke rumah. Saya sudah terlanjur lelah, padahal waktu itu ibu menyambut saya dengan senyum dan sangat rendah hati.

Maka saya selalu menyempatkan jika bisa untuk meluangkan waktu bersama ibu, mendengarkan ceritanya, dan juga keluh-kesahnya. Saya tidak pernah malu dibilang anak mami atau apapun, karena memang saya adalah anak dari ibu saya. Pernahkah kita berpikir mungkin selama ini kita lebih nurut kepada dosen kita, kita lebih terbuka kepada sahabat atau pacar kita, namun kita justru cuek kepada ibu kita sendiri dan merasa malu jika terbuka kepadanya?

Mungkin beberapa sahabat yang membaca tulisan ini juga merupakan seorang yang sedang merantau. Seorang yang jauh dari orang tuanya. Saya yakin, ibu Anda senantiasa mendoakan selalu keselamatan dan keberkahan bagi hidup Anda.

Maka tidak ada salahnya jika hari ini kita meluangkan sedikit waktu kita untuk menelpon, bercerita, dan curhat-curhat dengan ibu kita. Bagaimana kondisi di rumah? Atau kita juga bisa menghubungi dan cerita dengan ibu melalui pesan singkat. Jika ibu Anda punya akun-akun social media, tidak ada salahnya menunjukkan keakraban dengan tag notes yang berisi kekaguman dan ucapan terima kasih kita untuk ibu.

Ibu, bagaimanapun kita jauhnya dengan beliau, pasti akan selalu mendoakan yang terbaik dan keberkahan untuk anaknya. Ibu, pasti akan selalu memberikan nasihat yang luar biasa hebat untuk anak-anaknya.

Ridho Allah adalah juga ridho dari ibu kita. Bahkan Rasulullah pun bersabda untuk memuliakan ibu kita hingga diulang-ulang sebanyak 3x.

Seorang yang sangat menghormati ibunya, bahkan rela untuk meminum air cucian telapak kaki ibunya karena tahu bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu dan tidak ada tempat bagi seorang untuk sombong dan jauh dari ibunya sendiri.

Jadi, kapan terakhir Anda cerita, curhat, dan bercengkrama dengan ibu Anda? Melalui artikel ini, Arry ingin berterima kasih kepada ibu atas segala perjuangan yang telah membuat Arry mencapai semuanya seperti saat ini.

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

*gambar: My Mom, and I’m very proud to be her son.

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar