Uncategorized

Era ‘Customer adalah Raja’ Sudah Berlalu

Sewaktu saya belajar memulai bisnis dulu untuk bisa membangun lembaga pelatihan CerdasMulia Institute dan Young Trainer Academy, saya ikut berbagai macam seminar, mentoring, serta pelatihan – pelatihan untuk membekali diri saya dengan pengetahuan serta keterampilan bisnis (sampai sekarang ya masih sih, hehe). Dalam banyak pelatihan yang saya ikuti itu, kebanyakan fokus yang diajarkan adalah bagaimana mengejar omzet atau pendapatan usaha setinggi – tingginya. Maka dari itu, ucapan Semua Pelanggan adalah Raja udah seperti hukum universal bagi semua pebisnis. Kalau kita ingin mendapatkan pelanggan, maka kita harus memperlakukan mereka bak seorang raja. Sedangkan diri kita sebagai seorang pengusaha adalah pelayan raja.

Mantap ya, ada kasta – kasta begitu. Hehe…

Selama beberapa tahun terakhir, saya beserta tim di Young Trainer Academy berupaya untuk memberikan pelatihan terbaik untuk anak – anak muda yang ingin belajar public speaking. Saya masih percaya pada waktu itu bahwa pelanggan adalah raja. Sebelum Young Trainer Academy dimulai, saya selalu melakukan briefing kepada tim untuk mengingatkan kembali mereka bahwa target satisfaction factor yang ingin dicapai adalah 200 dari skala 100. Jadi, selalu berikan yang terbaik untuk customer kita. Mulai dari menyambut hingga melepas mereka pulang. Sampai akhirnya semua yang mereka katakan itu berusaha untuk kami penuhi. Itulah yang kemudian membuat Young Trainer Academy selalu mendapatkan penilaian evaluasi rata – rata sebesar 90 (dari skala 100).

Namun, ada juga lho customer yang memberikan nilai sebesar 50 – 60. Tidak banyak, hanya 1 – 2 orang saja dari 1 angkatan sebanyak 50-60 orang. Namun, apa yang kemudian terjadi? Staf dan tim saya selalu mempertanyakan “kenapa sampai ada dari mereka yang menilai kami 50 – 65 ini”. Bahkan, yang terjadi, staf dan tim saya menjadi sedih karena ‘hanya’ ada 1 – 2 orang yang menulis angka 65 ini.

Sebagai pemimpin, tentu tugas saya untuk meningkatkan kembali moral mereka agar tidak drop (menantang nih tugasnya). Saya mengecek segala sesuatunya dan saya lihat tidak ada kekurangan yang signifikan. Maka, saya mengapresiasi tim bahwa saya salut mereka sudah melakukan yang terbaik. Saya coba mengecek ke bagian registrasi, siapa orang yang memberikan nilai 65 ini.

Ternyata, orang yang memberikan nilai 65 ini adalah orang yang datang ke pelatihan karena terpaksa, di mana seharusnya bukan dia yang datang ke pelatihan itu. Selain itu, orang ini pun bayarnya ngutang alias membayar pelatihan belum lunas. Baru DP pelatihan saja.

Sementara saya coba cek di bagian registrasi, peserta yang memberikan nilai 90 – 100 (bahkan ada yang 500!) adalah mereka yang memang berniat menjadi trainer muda sejak dulu. Mereka bersyukur bahwa ada Young Trainer Academy. Mereka bela-belain uang mereka ditabung agar bisa mengikuti Young Trainer Academy ini. Mereka rela datang jauh – jauh menempuh jarak ratusan kilometer untuk mengikuti pelatihan itu. Saya pun melihatnya dengan sangat salut pada peserta – peserta yang seperti ini.

Pertanyaan saya, jika kita memposisikan mereka semua adalah raja, apakah saya harus mengikuti kemauan dan memberikan pelayanan dengan sama baiknya? Apakah tim saya harus memperlakukan orang yang memberikan penilaian 65 dengan yang 100 dengan sama? Tentu tidak! Kami sebagai pengusaha akan jauh ‘lebih sayang’ pada mereka yang merupakan customer yang baik.

Maka dari itu, kami menjaga customer kami yang baik – baik ini dengan berbagai macam fasilitas gratis setelah pelatihan. Bukan karena mereka adalah raja, namun mereka adalah partner kami untuk bisa berkembang untuk lebih baik. Dan, benar saja. Customer yang baik ini dengan senang hati selalu memberikan masukan, arahan, bahkan ikut mengevaluasi program – program kami di CerdasMulia Institute. Mereka senang merasa dilibatkan, dan menjadikan Young Trainer Academy sebagai bagian dari keluarga mereka.

Dari kejadian ini, saya banyak belajar bahwa era customer adalah raja sudah tidak berlaku lagiSaat ini, customer adalah partner kitaBersama mereka, kita ikut berkembang. Oleh karena itu, pilah – pilih dalam memenuhi kebutuhan customer, karena tidak semua pelanggan itu adalah pelanggan yang baik. Ada yang ngeselin, bahkan berniat untuk memperlambat langkah kita sebagai pengusaha.

Bagaimana menurut Anda? Setujukah dengan pendapat saya, bahwa era customer adalah raja sudah berlalu?

 

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar