Uncategorized

Fenomena Inflasi Akademis

Hari ini saya mendapatkan sebuah SMS dari rekan saya yang sudah menjadi pengusaha muda sukses. “Ry, ada berita nih. Sebanyak 493.00 orang sarjana Indonesia nganggur. Jumlah pengangguran sarjana dari total angkatan kerja sebanyak 7,8%. Bener kata orang, bro. Ga usah sekolah tinggi-tinggi lah. Jadi sarjana belum tentu menghasilkan, hehe..”

Saya tahu maksud sahabat saya ini bercanda karena saat ini saya sedang berusaha merampungkan penelitian untuk skripsi dan thesis saya. Teman saya ini, lulusan SMA, punya sebuah usaha bimbingan belajar yang (ironisnya) justru yang mengajar di sana adalah lulusan S1 dan S2. Saat diminta memberikan tanggapan itu, saya tersenyum saja karena sejak saya SMA saya sudah tahu akan terjadi fenomena inflasi akademis di masa yang akan datang. Mau tahu analisis saya kenapa bisa terjadi? Silakan baca tulisan ini lebih lengkap.

Fenomena inflasi akademis adalah sebuah fenomena di mana saat ini pendidikan akademis formal menurun nilainya dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Namun benarkah pendidikan akademis ini kemudian menjadi tidak penting?

Pertumbuhan yang Tidak Seimbang

Sadar atau tidak sadar, saat ini pendidikan di Indonesia masih menerapkan sebuah sistem yang mempersiapkan lulusan untuk menjadi pekerja-pekerja industri yang terampil dan siap bekerja. Karena dipersiapkan untuk industri, maka secara tidak sadar tercipta ‘kasta-kasta’ mata pelajaran di sekolah. Matematika, IPA, dan Bahasa ada di tempat terhormat, sementara agama, seni, dan budaya menempati urutan ke sekian bahkan ada di paling bawah.

Kasta teratas umumnya kita sebut sebagai pelajaran yang menitikberatkan pengembangan otak kiri yang bersifat logis dan sistematis. Sementara kasta terbawah umumnya pelajaran yang mengembangkan otak kanan yang bersifat kreatif dan acak. Model pendidikan otak kiri ini sangat pas untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja dan mengisi tenaga kerja industri. Sayangnya, era industri, walaupun memang masih membutuhkan tenaga kerja, namun ketersediaan lapangan pekerjaan tidak secepat pertumbuhan lulusan. Dari sini saja kita bisa melihat ada tantangan tersendiri bagi seorang sarjana yang menyebabkan inflasi akademis itu.

Kebangkitan si Orang Kanan

Selamat datang di sebuah era baru, yang saya sebut sebagai era konseptual di mana mulai menggeser era industri. Pada era konseptual ini, kesuksesan terbukti memihak kepada mereka yang kreatif. Hal ini didukung oleh perkembangan teknologi yang memudahkan seseorang untuk melakukan sharing dari hal-hal yang dilakukannya. Untuk sukses di era ini, kita hanya perlu mengingat satu hal: Do a Great Things, than Share it with Others. Simpel.

Cara paling mudah melihatnya adalah dengan banyaknya trend fenomenal yang hanya diawali dari aktivitas seseorang mengupload video di Youtube yang akhirnya membuat mereka menjadi orang-orang populer baru. Di kampus saya pun, teman-teman saya dengan modal sebuah proposal ide sederhana, bisa berkembang menjadi sebuah bisnis dengan omzet puluhan bahkan ratusan juta. Hanya berawal dari sebuah ide! Belum lulus pun banyak dari mereka yang sudah berpenghasilan. Salah satunya saya, walaupun ga besar-besar amat, tapi sangat lebih dari cukup dan bahkan mengalahkan rata-rata pendapatan sarjana.

Bagi mereka yang kreatif, ga peduli ada atau tidaknya lapangan pekerjaan. Bagi mereka yang memang dididik untuk era konseptual, maka mencari pekerjaan adalah sebuah pilihan (bukan harga mati), di mana pilihan lainnya adalah menciptakan lapangan pekerjaan (jadi ga ada istilah nganggur). Makanya sekarang lagi booming-booming nya orang menyadari pentingnya kreativitas dan otak kanan benar-benar dihargai saat ini. Bermunculan deh studentpreneur-studentpreneur baru, salah satunya saya dan I’m proud to be part of it.

Save Your Future

Lalu, apakah kemudian pendidikan akademis saat ini menjadi tidak penting? Kalau saya bilang tidak penting, tentu saya tidak akan menggagas gerakan studentpreneur bersama Komunitas TDA Kampus. hehe.. Tentu pendidikan akademis tetap penting adanya, apalagi dari universitas atau institut yang ternama. Kenapa? Tataplah Masa Depan. Jika sekarang yang dielu-elukan adalah orang yang hanya kreatif, maka di masa yang akan datang, mereka yang menang adalah orang yang kreatif dan juga pintar. Ini penting untuk diketahui karena di masa depan, persaingan dan pasar global akan semakin menggila. Saingan kita, bukan lagi orang-orang di dalam negeri, tapi dari luar negeri. Jika secara pendidikan kita tidak maksimal, maka bersiaplah kita akan sulit bersaing di kancah global karena educated people akan lebih dipercaya daripada mereka yang tidak mengenyam pendidikan. Maka tetaplah berprestasi dari sisi akademis kita, karena di masa yang akan datang pasti akan menjadi value added  yang tidak ternilai harganya.

What’s Next!

Inflasi akademis bisa dikurangi dengan berinisiatif memaksimalkan potensi kedua belahan otak kita. Mereka yang akan menang, sebenarnya bukan hanya mereka yang memaksimalkan otaknya setengah-setengah, tetapi keduanya! Teman saya si pemilik bimbel itu, walaupun hanya lulusan SMA, namun boleh saya bilang ilmu bisnis dan kreativitasnya melebihi lulusan sarjana sekalipun. Kok bisa? ya, dia belajar dan mencari pengalaman sendiri. Jadi, kalau kita merasa lingkungan kita terlalu kaku dan sangat menganakemaskan otak kiri, belajarlah secara mandiri untuk mengasah kreativitas dan otak kanan tanpa perlu keluar dari pendidikan akademis Anda, begitu pun sebaliknya. Orang yang terlalu kreatif umumnya sulit untuk bisa fokus dan menyelesaikan pekerjaannya, di sinilah pentingnya peran otak kiri yang lebih sistematis dalam pengerjaannya.

Jadi, intinya adalah keunggulan dalam keseimbangan. Inilah kunci bagaimana kemudian memastikan diri Anda tidak terkena fenomena inflasi akademis.

NB: Ini adalah opini dan analisis iseng menjawab pendapat teman saya di atas yang iseng juga. 🙂

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

*Anda ingin request tips dan trik bisnis untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi? Silakan tinggalkan komentar Anda. Temukan artikel berkualitas seputar tips bisnis, pemasaran, dan motivasi bisnis di ArryRahmawan.net setiap harinya.Klik di sini untuk mendapat kiriman artikel langsung ke email Anda. Gratis!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah seorang pembelajar dan juga praktisi pendidikan. Arry merupakan dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Saat ini Arry sedang menjalankan tugas belajar dengan melanjutkan studi doktoral di Faculty of Technology, Policy, and Management, Technishce Universiteit Delft, Belanda.

Di sela-sela kesibukannya, Arry senang berbagi pemikiran seputar pendidikan dan pengembangan diri melalui blognya di arryrahmawan.net, Youtube Channel, dan juga sebagai trainer di CerdasMulia Institute.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!