Pengembangan Diri Produktivitas Hidup

How to Finish What You Start – Belajar Menyelesaikan Apa yang Telah Dimulai

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi tips tentang bagaimana menyelesaikan berbagai macam inisiatif yang kita mulai. Karena seringkali di antara kita (saya terutama), banyak sekali memiliki ide – ide yang ingin diwujudkan di kepala. Entah itu ide menulis buku lagi, menulis blog, membuat konten di Youtube, atau ingin membuat artikel untuk jurnal ilmiah. Di minggu pertama, saya begitu bersemangat menyelesaikannya. Namun seiring berjalan waktu, ide – ide ini terbengkalai, dan pada akhirnya tidak diselesaikan.

Salah satu contoh ide yang terbengkalai adalah artikel ini. Sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini, tetapi akhirnya baru bisa diselesaikan dan dipublikasikan saat ini.

Apakah Anda pernah mengalaminya juga? Mungkin Anda pernah berubah bersemangat mengejar cita – cita dalam seminggu pertama setelah mengikuti seminar atau pelatihan pengembangan diri melalui proyek-proyek perubahan kecil. Namun seiring berjalannya waktu, semangat itu luntur dan pada akhirnya rutinitas Anda kembali lagi seperti biasanya.

Artikel yang saya tulis ini mencoba menjawab pertanyaan, “Mengapa kita seringkali tidak menyelesaikan inisiatif yang sudah dimulai?”

Jawaban dari pertanyaan ini saya dapatkan dari Peter Hollins melalui bukunya Finish What You Start.

Di buku tersebut dijelaskan bahwa saat seseorang memulai untuk mewujudkan proyek/inisiatif/cita-citanya, maka dia akan mengalami dua fase. Fase pertama adalah fase inspirasi. Di fase ini, seseorang sedang terinspirasi oleh contoh-contoh sukses nyata dan yakin bahwa dirinya juga bisa mencapai kesuksesan tersebut. Hal ini biasanya berlangsung 1 – 2 minggu. Fase berikutnya adalah fase perjuangan (struggling), di mana fase ini merupakan penentu apakah kita bisa menyelesaikan apa yang kita mulai dengan menjaga momentum inspirasi tersebut. Jika kita bisa menjaganya, maka kemungkinan besar apa yang kita mulai akan selesai. Jika kita kehilangan momentumnya, maka apa yang kita mulai (lagi-lagi) tidak selesai.

Menurut buku ini, ada 2 hal utama yang menyebabkan kita kehilangan momentum inspirasi tersebut, yaitu: (1) Jebakan perfeksionisme (perfectionism trap) dan (2) kehilangan sense of urgency.

Perfectionism trap terjadi ketika saat kita mulai mengerjakan inisiatif yang kita miliki, kita belajar bagaimana mewujudkannya dengan sebaik mungkin. Salah satu caranya adalah dengan belajar dari inisiatif yang sudah ada dari orang lain. Hal ini membuat kita semakin tahu tentang apa yang sudah pernah dibuat orang – orang, yang secara tidak sadar membuat kita semakin menaikkan standar karya yang ingin dihasilkan. Sehingga akhirnya semakin lama standar itu semakin tinggi. Ketika standar yang ingin dicapai semakin tinggi, maka kita akan semakin tidak percaya diri untuk melahirkan karya yang ‘biasa saja.’ Hal ini akan semakin membuat kita menunda menyelesaikan karya. Hingga pada akhirnya bisa ditebak: karya atau proyek itu pun akhirnya tidak selesai!

Salah satu tips mengatasi perfectionism trap ini saya dapatkan dari supervisor saya, Prof. Alexander Verbraeck. Salah satu cara yang menurut saya berhasil adalah dengan menerapkan finisher mindset, yaitu: kita akan belajar dari sesuatu yang kita selesaikan. Dengan kata lain, finishing = learning. Nasihat ini saya dapatkan dalam konteks menulis artikel ilmiah, di mana banyak PhD researcher yang mengalami perfectionism trap ini. Profesor saya mengatakan bahwa cara menyelesaikan artikel ini adalah dengan menyelesaikan draft pertama sesegera mungkin untuk kemudian di feedback, lalu selesaikan draft revisinya, begitu terus hingga nanti jadi artikel versi akhir yang siap di submit ke jurnal. Teknik ini dinamakan iterative writing.

Finishing = learning ini mudah dipahami, di mana ketika kita menyelesaikan sesuatu, pasti kita akan berupaya menunjukkannya kepada orang lain lalu mendapatkan feedback. Anggaplah saat ini kita ingin membuat kue. Apapun jadinya, selesaikan. Karena dengan selesai itu orang bisa memakannya dan memberikan komentar agar kita bisa belajar untuk membuat kue yang lebih baik. Sementara itu jika kuenya setengah jadi atau tidak selesai, tentu saja kita tidak bisa menyajikannya kepada orang lain. Hingga akhirnya kue itu akan terbuang, tanpa kita pernah tahu bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki kualitas kue tersebut di kemudian hari.

Penyebab kedua, yaitu kehilangan sense of urgency. Hal ini bisa diketahui saat kita melakukan sesuatu tetapi tidak dapat menjawab mengapa kita harus menyelesaikannya. Karena kita tidak memiliki alasan kuat untuk menyelesaikan proyek tersebut, maka sangat wajar jika kemudian apa yang sudah kita mulai tidak diselesaikan.

Cara untuk meningkatkan sense of urgency ini bagi setiap orang berbeda – beda. Bagi saya, ada 2 hal yang biasa saya lakukan untuk meningkatkan sense of urgency. Cara pertama adalah dengan membuat deadline yang jelas kapan deliverables atau hasil akhir dari proyek kita harus diselesaikan. Terkait dengan deadline, saya lebih tergerak terhadap external deadline, yaitu deadline yang diberikan oleh orang luar. Sehingga, apabila saya ingin menyelesaikan sesuatu, umumnya saya melibatkan orang lain agar memiliki deadline bersama. Dengan begitu, sense of urgency dari apa yang saya mulai ini menjadi naik secara signifikan. Cara kedua, yaitu ingat bahwa kematian begitu dekat. Hal ini sangat bermanfaat ketika saya mulai ingin menunda apa yang saya sedang kerjakan. Saya bayangkan, jika batas waktu hidup saya adalah hari ini saja. Saya juga membayangkan apa yang akan terjadi jika saya dipanggil hari ini dan terus menunda proyek yang saya kerjakan. Hal itu umumnya membuat rasa penyesalan yang cukup dalam, sehingga saya ingin segera menyelesaikan apa yang saya mulai.

Secara ringkas, kita umumnya tidak menyelesaikan apa yang kita mulai dikarenakan kita kehilangan momentum pada fase struggling. Kehilangan momentum ini disebabkan karena 2 hal, yaitu: (1) Perfectionism trap dan (2) Kehilangan sense of urgency. Untuk mengatasi perfectionism trap, kita bisa mulai menanamkan pola pikir finishing = learnng. Sementara untuk meningkatkan sense of urgency, kita bisa menetapkan kapan deadline untuk menyelesaikannya, melibatkan komitmen dengan orang lain, serta ingat bahwa waktu kita di dunia ini untuk berkarya juga sangat terbatas.

Akhir kata, semoga tulisan kali ini bisa sedikit membantu untuk menyelesaikan kembali apa – apa yang sudah pernah kita mulai. 

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Mata kuliah yang diampunya, antara lain adalah Psikologi Industri dan Organisasi, Kewirausahaan, dan Manajemen Teknologi. Untuk menumbuhkan keilmuannya, saat ini Arry sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri, kewirausahaan, dan inovasi bisnis menggunakan Business Model Canvas.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

4 Comments

  • Terima kasih Pak Arry atas artikelnya. Sangat membuka pemahaman saya. Saya baru sadar perfectionism trap yang paling sering terjadi pada saya, akar dari procrastination saya. Semoga dengan aware akan hal ini bisa jadi lebih baik dan menyelesaikan tugas-tugas saya. Terima kasih ?

  • Relate banget sama apa yg saya alami beberapa tahun terakhir prof, dan celakanya karena project2 yg delay itu selain merugikan diri saya sendiri, saya juga merugikan orang lain (klien, partner, dll) ?

    Alhamdulillah tahun ini saya berhasil keluar dari zona perfeksionis, dan sekarang sudah hampir selesai dengan mindset “done is better than perfect”. InsyaAllah bulan ini selesai ?

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: