Uncategorized

Kebiasaan Berwacana

“Jadi gini bang, nanti bentuk kerjasama kita akan berupa seperti ini, seperti ini, dan seperti ini…..”

Kebiasaan saya dalam menulis blog, berkomunitas, berbisnis, dan membentuk jaringan seringkali berujung pada ajakan dari banyak orang bertemu membahas hal-hal apa yang bisa disinergikan. Saya senang bukan kepalang saat ada teman/orang baru/pihak tertentu yang mengirimkan email kepada saya untuk menawarkan kerjasama sinergi program dan juga kerjasama menarik lainnya.

Salah satu yang paling sering mengontak saya untuk melakukan kerjasama tentu saja adalah mahasiswa, yang rata-rata mahasiswa setingkat atau beberapa tingkat di bawah saya. Ketemuan pun diatur dan selama dalam pertemuan itu diceritakan banyak sekali hal-hal ide-ide dan bentuk sinergi yang sangat mungkin untuk disinergikan. Misalnya saya yang sangat senang menulis ini menjadi kontributor proyek untuk membuat buku kewirausahaan di sebuah kampus. Namun kadangkala pemimpin proyeknya justru malah yang sulit dihubungi dan sibuk sendiri hingga tidak tahu lagi bagaimana nasib pengembangan buku ini.

Tidak semua sinergi berakhir wacana. Beberapa sinergi lain terbukti berhasil mengakselerasi pencapaian baik pencapaian saya maupun partner saya tadi, namun tidak jarang sinergi tersebut berakhir hanya sebagai angan-angan wacana saja. Ya, hanya sekedar ide sinergis yang tidak dilanjutkan dan benar-benar hanya berupa wacana. Sedihnya, yang menjadi wacana ini lebih sering ketimbang sinergi-sinergi yang berhasil.

Pernah ada adik kelas yang datang kepada saya dan meminta saya untuk menjadi mentor menulisnya. Dia sudah memiliki timeline yang menurut saya sangat bagus, runtut, dan saya pun bersedia untuk menjadi mentornya dengan sebuah catatan: dia harus menulis artikel selama 40 hari tanpa putus dan dia pun menyanggupinya. Namun, sayangnya segala timeline dan komitmen itu pun berubah kembali menjadi wacana, dengan berbagai alasan mulai dari sakit, banyak pekerjaan, tidak sempat, kehabisan waktu, dan lain sebagainya.

Menurut saya, jika kita terbiasa berwacana sebenarnya itu akan berbahaya untuk diri kita sendiri. Kenapa? Karena akan membuat kita terbiasa untuk excuse dan memaafkan diri apabila ide-ide kita tidak dieksekusi. Selama saya kuliah, saya menyadari bahwa seringkali pemahaman seseorang akan suatu mata kuliah hanya dinilai berdasarkan daya analisis, wacana, dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di selembar kertas, bukan berdasarkan pada ketuntasan aksi atas apa yang telah dipelajari. Mungkin inilah mengapa kita jadi lebih mudah berwacana daripada bertindak.

Tentu tidak semua orang penuh wacana seperti itu. Saya kagum dengan teman-teman saya di berbagai wilayah yang tergabung dalam Komunitas TDA Kampus. Dua orang yang saya kagumi sekaligus teman saya ini adalah Dewi Masithoh dan Seviana Puspitasari. Dua teman saya ini, rela datang jauh-jauh dari Semarang dan Jogja ke Jakarta untuk bisa mengembangkan Komunitas TDA Kampus di wilayahnya masing-masing. Saya masih ingat waktu itu bagaimana Dewi naik kereta ke Jakarta, bertemu dengan saya dan meminta bimbingan untuk membuka komunitas ini di Semarang. Ide awalnya sederhana, yaitu ingin menggerakkan kewirausahaan di Semarang dan betul-betul dituntaskan hingga dibukanya Komunitas TDA Kampus Semarang dan Jogjakarta.

Tidak semua orang hanya berwacana, namun yang saya tahu orang-orang ini jumlahnya sangat sedikit, yang mampu mengubah wacana menjadi aksi nyata yang tuntas.

Oleh karena itu jika Anda saat ini bingung bagaimana memenangkan persaingan dalam karir atau bisnis, maka menjadi orang yang dapat menuntaskan pekerjaan hingga selesai dapat menjadi keunggulan kompetitif Anda dibandingkan dengan orang lain.

Anda atau orang lain punya ide, gagasan, dan itu bagus, maka langsung tuntaskan. Semakin lama ditunda maka semakin besar peluangnya untuk menjadi wacana.

TIPS: Coba ingat-ingat kembali wacana-wacana yang pernah Anda hasilkan, kemudian tuliskan di selembar kertas. Berapa yang belum terlaksana dan manakah yang bisa Anda laksanakan dalam waktu dekat ini?

Bagaimana pendapat Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

*Anda ingin request tips dan trik bisnis untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi? Silakan tinggalkan komentar Anda. Temukan artikel berkualitas seputar tips pengembangan bisnis, karier dan pencapaian hidup di ArryRahmawan.net setiap harinya.Klik di sini untuk mendapat kiriman artikel langsung ke email Anda. Gratis!

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!