Uncategorized

Kecanduan Social Media

Saya geleng-geleng kepala melihat banyak sekali kanal social media yang terus-menerus bermunculan. Dulu mungkin kita mengenal hanya ada friendster, lalu kemudian tergeser dengan kemunculan Facebook dengan fitur yang lebih mantap dan wah. Kemudian muncul lagi yang namany Twitter. Wah, ini juga menarik nih. Twitter itu lebih praktis dan lebih seru untuk update kondisi-kondisi aktual yang terjadi. Puluhan ribu akun pun kemudian muncul. Setelah itu tidak terhitung lagi deh yang muncul berikutnya: LinkedIn, Foursquare, Messenger, Google+, Instagram, Pinterest, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dengan bermunculannya akun-akun baru tersebut, tentu semakin tergoda kita untuk mencobanya. Apalagi Indonesia ini merupakan surganya para pengguna social media, banyak! Jadi kalau kita tidak ikutan, kita dianggap ga gaul! Nah, pertanyaannya berapa banyak waktu kita yang tersita dengan semakin banyaknya akun social media yang kita punya? Apakah memiliki akun itu membuat kita produktif atau justru membuat kita kecanduan social media?

Baru-baru ini ada sebuah rilis survey terhadap dampak bermunculannya social media bagi masyarakat.

TotalDUI.com merilis sebuah infografik tentang kecanduan media sosial. Dari riset dan survei yang mereka kerjakan terhadap sejumlah responden tentang media sosial, TotalDUI memperoleh beberapa fakta mencengangkan tentang hal ini.

Salah satunya adalah tentang penggunaan media sosial. 50% lebih responden mengaku bahwa mereka mengunjungi situs media sosial setiap hari. Sebagian besar dari mereka juga mengaku bahwa situs media sosial adalah hal yang positif sehingga mengunjunginya dengan frekuensi yang cukup tinggi bukanlah sebuah masalah. 50% di antara mereka, misalnya, mengatakan bahwa media sosial membantu mereka menemukan teman baru, sementara 30% lainnya mengaku bahwa dengan mengunjungi situs media sosial, mereka seperti sedang berinteraksi sosial seperti pada umumnya.

Di lain pihak, 4 dari 5 pelajar di Amerika mengaku tidak nyaman jika dalam sehari mereka terputus dari dunia media sosial. Banyak dari mereka juga tidak mampu untuk tidak menggunakan media sosial selama 24 jam penuh. Mereka mengaku merasa depresi, bingung, gelisah, panik, bahkan kesepian jika tidak memakai media sosial dalam sehari.

Hal lain yang mengejutkan adalah banyak responden yakin bahwa menahan diri untuk tidak mengirim pesan tweet itu jauh lebih susah daripada berhenti merokok atau mengonsumsi alkohol. Ini didasarkan pada fakta bahwa mengirim pesan tweet tidak membutuhkan biaya ekonomis sehingga rasanya sayang jika tidak mengirim pesan tweet dalam sehari. Sebagian dari mereka yang mengaku kecanduan media sosial juga kecanduan menggunakan gadget seperti ponsel atau laptop, karena keduanya menjadi sarana untuk terhubung ke media sosial.

Saya rasa hasil dari survey di atas tidak berbeda dengan apa yang kita alami sekarang. Kita begitu sulit untuk berbagi foto-foto kita di tempat-tempat yang tidak umum. Bahkan mungkin alasan kita untuk pergi ke luar negeri atau objek wisata tergeser hanya untuk sekedar mengambil foto dan mengupload nya ke social media. Ada juga yang menggunakan social media untuk curhat masalah-masalah pribadi. Tidak terhitung lagi berapa banyak curahan-curahan hati yang justru menjadi sebuah status kontraproduktif karena orang-orang dapat menilai bahwa kejiwaan orang yang punya akun social media itu masih labil, belum dewasa, dan tidak bisa mengendalikan emosi. Atau ingin mengetahui kabar kerabat dan ‘kepo’ terhadap orang-orang dekat Anda? Tidak terasa 3 jam habis untuk keliling-keliling akun social media yang satu ke tempat yang lainnya.

Kecanduan social media menurut saya sudah tidak mungkin terelakkan. Namun kita punya dua pilihan: berbagi hal yang baik atau yang tidak penting. Berbagi hal-hal yang baik, seperti tulisan, status inspiratif, foto-foto yang menggugah jiwa dan memberi makna, dan hal-hal baik lainnya justru akan meningkatkan produktivitas kita dalam menggunakan social media. Apakah kita tidak sayang, memanfaatkan peluang hanya untuk narsis dan update status galau? Apakah kita ingin memulai berbagi hal yang bermanfaat agar manfaat yang kita berikan dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas?

Semua ada di tangan Anda. Hidup kita dikatakan hebat bukan hanya karena kita sudah melakukan hal-hal hebat, namun juga kita mampu menghebatkan orang-orang di sekitar kita melalui manfaat yang kita berikan. Bukankah begitu?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!