Uncategorized

Ketika Bahagia Tak Kunjung Datang

“Jangan mengira bahwa yang tertarik dengan Anda hanya manusia, jika Anda menyenangi sesuatu. Allah Maha Mengetahui. Apa-apa yang kita senangi dan kita syukuri akan datang dan berkembang.”

Seorang mahasiswa berprestasi, seringkali keluar negeri, kontribusinya tidak diragukan lagi, materi berlimpah. Kurang apalagi? Setidaknya banyak sekali mahasiswa yang saya temui seperti itu selama kuliah di UI. Tapi (ada tapinya nih), ada juga beberapa teman dan sahabat yang dialog sama saya. “Ry, gimana sih cara ngejaga semangat lo? Gimana sih cara ngejaga agar kita tetap positif? Gimana sih biar kita ga gampang galau? Dulu gue pernah dapet nasihat kalau kita galau lakukan saja banyak hal-hal positif. Tapi ternyata justru gue masih ngerasa ada yang kurang. Gue masih ngerasa belum bahagia terhadap apa yang gue lakukan.”

Terdiam sejenak. Oh, bahagia toh. Hmm… Pertanyaan ini sederhana, tetapi sebenernya jawabannya mewakili esensi kehidupan kita di dunia lho. Jadi, gmana ya ketika rasa bahagia tidak kunjung datang kepada kita?

Saya kemudian teringat bahwa beberapa tahun yang lalu saya pernah mengalami masalah yang sama. Apalagi pada 3 bulan awal sewaktu saya masuk di asrama pembinaan PPSDMS. Galau dan mengalami disorientasi yang cukup parah. Sampai akhirnya (untungnya) saya ketemu sama kakak seperguruan yang bijak.

Perhatikan percakapan berikut ini:

“Arry, apa yang kamu sukai?”

“Saya suka menulis, Bang!”

“Apa maknanya bagi kamu dengan bisa menulis seperti itu?”

“Saya merasa enjoy, nyaman, dan senang.”

“Apa maknanya bagi kamu dengan merasa senang karena menulis?”

“Saya merasa ketika kita bisa mengerjakan sesuatu dengan senang hati, maka kita bisa menghasilkan banyak karya. Persis sama dengan menulis. Dengan merasa happy, saya bisa menghasilkan banyak tulisan-tulisan.”

“Apa maknanya bagi kamu jika bisa menghasilkan banyak tulisan-tulisan?”

“Saya bisa mengukir prestasi dan menghasilkan materi dari menulis.”

“Apa maknanya bagi kamu jika bisa menghasilkan prestasi dan materi dari menulis?”

“Saya merasa menjadi orang yang berguna, menginspirasi orang lain untuk berprestasi juga, dan meninggalkan ilmu yang bermanfaat.”

“Apa maknanya bagi kamu jika merasa menjadi orang yang berguna?”

“Saya bisa memberikan kontribusi dalam hidup saya dan melakukan perubahan.”

“Apa maknanya bagi kamu jika bisa memberikan kontribusi dan melakukan perubahan?”

“Saya bisa berpartisipasi sebagai bagian dari dunia dan alam semesta ini.”

“Jadi maksud kamu, bahwa kamu memaknai diri kamu adalah orang yang bernilai?”

“ya”

“Jadi apa makna ketika kamu merasa bernilai?”

“Saya bisa memenuhi alasan mengapa saya diciptakan.”

“Jadi untuk apa sebenarnya kamu diciptakan?”

“Untuk memastikan bahwa di setiap langkah aktivitas saya diberkahi dan diridhoi Allah.”

“Jadi, siapa sebenarnya kamu?”

“Khalifah Allah yang diciptakan untuk memakmurkan bumi dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Menjadi wakil Allah di muka bumi.”

Sejenak setelah dialog itu saya terdiam. Tertegun. Saya kembali mengingat detil-detil dialog ini dengan jelas. Ternyata, dalam 3 bulan pertama itu saya hanya memikirkan tentang aku, aku, dan aku. Padahal, untuk mencapai kebahagiaan hidup, setidaknya kita memikirkan 3 hal: aku, kita, dan Pencipta. Maka coba deh dicek urutan mereka yang disorientasi. Biasanya awalnya mirip juga seperti teman saya. Awalnya untuk aku, aku, aku, sampai pada suatu titik untuk kita, kita, kita (saya dan lingkungan saya), hingga akhirnya titik itu terhenti pada poin pengabdian kepada Allah swt.

Maka, berkaca pada blog ini jika ada orang yang berkata, “Ry, kok lu bisa sih nulis setiap hari?” Pasti teman-teman bisa menjawabnya kan? Untuk mencerdaskan diri, memberi manfaat kepada orang lain, dan sebagai bukti pengabdian kepada Pencipta Alam Semesta. Menjadi bahagia dan menjaga semangat itu ternyata semudah itu.

Bagaimana pendapat Anda? Bisakah kita bahagia tanpa: aku, kita, dan Pencipta?

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang saat ini sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki hobi menulis dan blog ini adalah tempatnya untuk berbagi terkait pengalamannya di baik di dunia akademik, entrepreneurship, dan juga pengembangan diri.

Arry berpengalaman dalam menjadi pembicara/konsultan di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait dengan tulisan - tulisannya di blog ini.

Untuk menghubungi saya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!

JOKER123
JUDI SLOT
POKER ONLINE
JUDI ONLINE
JOKER123
JOKER123
SLOT ONLINE
SLOT GACOR
JOKER123
JOKER123
SLOT
SLOT ONLINE
JOKER123
SLOT ONLINE
SLOT ONLINE
JOKER123
JUDI BOLA
JUDI SLOT
JOKER 123
SLOT
SITUS SLOT
JOKER123 APK
JOKER123
SLOT ONLINE