Uncategorized

Ketika Penulis Malas Membaca

Alhamdulillah, tulisan ini merupakan tulisan saya yang ke-662 di blog ini selama kurang lebih saya memulai aktivitas blogging sejak tahun 2012. Dalam perjalanannya menuju tulisan ke-662, teringat dulu betapa sulitnya saya untuk membuat sebuah tulisan. Bahkan, untuk membuat satu artikel saja saya memerlukan waktu sekitar 4-5 jam. Namun sekarang, saya bisa membuat sebuah artikel dengan panjang yang sama kurang lebih 15-30 menit saja.

Kadang, ada beberapa pembaca yang bertanya bagaimana caranya agar kita bisa konsisten dalam menuliskan sesuatu? Bagaimana caranya agar kita tetap bisa menulis dan menebarkan inspirasi kepada masyarakat luas? Saya pun kemudian membuat sebuah tulisan berjudul, Cara sederhana menjadi penulis hebat. Di mana dalam tulisan tersebut saya menceritakan bahwa untuk menjadi penulis hebat itu sederhana : banyak membaca.

Beberapa waktu lalu, tulisan saya di blog ini sempat terhenti dan ‘tertatih – tatih’ di mana yang tadinya setiap bulan saya menulis bisa 25-28 tulisan, selama beberapa bulan terakhir hanya 3-5 tulisan saja setiap bulannya. Sebuah penurunan yang sangat besar buat saya. Saya berpikir, mengapa kok produktivitas menulis saya menurun?

Benar saja, ternyata setelah saya evaluasi, beberapa bulan terakhir karena disibukkan dengan aktivitas training dan mengajar, saya jadi ‘jarang membaca’. Akibat jarang membaca tersebut, otak menjadi stuck. Kreativitas menjadi terhambat, dan akhirnya inspirasi – inspirasi pun tidak keluar. Akhirnya, saya ‘kencengin’ lagi deh bacaan – bacaan saya. Semakin banyak saya membaca, di situ juga semakin banyak hal yang ingin saya tuliskan dan saya jadi semakin termotivasi.

Saya pernah juga kepikiran, mungkin ga ya orang yang jarang atau malas membaca bisa jadi seorang penulis?

Buat saya, bisa saja. Namun, saya mengibaratkan orang yang ingin menjadi penulis tanpa membaca ibarat dia sedang menyiapkan senjata tapi tidak ada pelurunya. Bisa jadi dia membuat tulisan, namun tulisan – tulisannya akan kurang greget, bahkan bisa jadi ngawur karena kemalasan dia membaca. Sehingga tulisan – tulisannya ‘kurang nembak’ untuk pembacanya.

Jadi, sudah tahu kan betapa sebenarnya membaca itu sangat penting untuk menjadi seorang penulis? Banyak membaca adalah salah satu cara untuk menjadi seorang penulis yang hebat, dan itu merupakan proses yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Bagaimana menurut Anda? Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow @ArryRahmawan.

UPDATE: #YoungTrainerAcademy kembali hadir untuk membantu Anda mengasah keterampilan menjadi seorang trainer dan public speaker. Untuk informasi, silakan kunjungi daftar.youngtraineracademy.com

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar