Akademik Campus Life Diary

Kiat Mempersiapkan Diri Sebelum Memulai S3 atau PhD di Luar Negeri

Written by Arry Rahmawan

Sahabat pembaca semuanya, apa kabar? Alhamdulillah setelah (lagi – lagi) vakum cukup lama yaitu sekitar 3 minggu, akhirnya saya bisa kembali meluangkan waktu untuk menulis di blog tercinta ini. Kali ini topik yang ingin saya bahas masih seputar pengalaman saya sebagai ‘mahasiswa baru’ S3 di Delft University of Technology, Belanda. Secara khususnya, saya ingin membahas sedikit lebih detil tentang bagaimana mempersiapkan diri sebelum memulai S3 di luar negeri, khususnya di sekolah top Eropa. Memang kesannya keren banget ya kalau bisa sekolah di di Eropa, tapi di sisi lain tersimpan tanggung jawab besar yang harus dituntaskan, agar semua dapat berjalan dengan baik.

Mengapa saya ingin menulis hal ini? Tidak lain adalah agar kamu yang saat ini mempunyai cita – cita lanjut doktor di luar negeri atau bahkan saat ini sedang menunggu berangkat, bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik. Persiapan ini sangat penting menurut saya, karena nanti bisa menentukan penilaian first impression dari pembimbing kepada diri kita. Ibarat orang yang baru pertama kali berjumpa, kesan pertama menentukan segalanya. Jika first impression nya bagus, maka insyaAllah perjalanan PhD ke depannya akan lebih menyenangkan. Berlaku sebaliknya, jika first impression yang kita berikan kurang memuaskan, maka dapat mempengaruhi hubungan kita ke supervisor ke depannya.

Alasan berikutnya saya menulis hal ini juga untuk mengurangi culture shock, atau kaget dengan adanya perubahan kultur yang tiba – tiba sehingga membuat kita berjuang keras untuk bisa beradaptasi dengan baik. Culture shock ini, kalau kita tidak dapat segera mengatasinya dapat mengakibatkan homesick alias keinginan untuk pulang hingga tingkat yang paling parah yaitu mengakibatkan depresi.

Terkait depresi ini, penemuan dalam 2 dekade terakhir menunjukkan bahwa PhD merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat stress paling tinggi dan menimbulkan risiko depresi 1. Bukan bermaksud menakut – nakuti, tapi memang saya merasakan sendiri betapa ‘atmosfir’ PhD ini berbeda dengan ketika kita sekolah biasa. Saat kita sekolah sejak SD hingga S2, kita mengikuti berbagai macam kelas dengan materi dan tugas terstruktur, kemudian kita mencoba mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin agar lulus. Sementara kalau S3 atau PhD, kita dilatih untuk menentukan arah sendiri, menemukan kontribusi keilmuan baru dalam akademik, dan tidak jarang kita akan merasakan hidup yang ‘terombang – ambing’ karena mengerjakan atau menuntaskan target yang tidak jelas.

Oke, oke…. Jadi sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa dapat mempersiapkan diri sebelum memulai S3 di luar negeri? Tentu saja doa dan restu dari orang tua adalah wajib adanya ya, hehe… Namun itu saja tidak cukup. Ada persiapan lainnya yang perlu kamu ketahui, agar kamu lebih siap untuk menghadapi S3 kamu nanti.

3 Kompetensi Dasar yang Perlu Dimiliki PhD Student Sebelum Memulai Studi

Saya beruntung mahasiswa PhD di TU Delft, di mana sebelum memulai proyek S3, kita dibekali dulu dengan program yang dinamakan PhD Startup. PhD Startup ini adalah program orientasi seperti apa kehidupan yang akan dijalani oleh seorang PhD pada umumnya, dan bagaimana PhD pada khususnya di TU Delft. Di salah satu modul PhD Startup, yaitu modul A, dijelaskan bahwa setidaknya kandidat doktor memahami atau sudah melakukan penilaian terhadap 3 kompetensi yang mereka miliki dalam diri mereka. Dengan melakukan penilaian diri (self assessment) sedini mungkin, diharapkan setiap PhD student dapat segera meningkatkan kompetensi yang dinilai kurang.

Ketiga potensi tersebut adalah: (1) Kompetensi riset; (2) Kompetensi keilmuan; dan (3) Kompetensi diri. Ketiga kompetensi ini harus bisa dipetakan dengan tepat dan kalau bisa disiapkan sebaik mungkin sebelum memulai PhD. Ketiga kompetensi ini adalah ‘senjata’ untuk bisa membuat PhD lebih mudah. Jika senjatanya bagus, maka kita bisa lebih mudah menghadapi tantangan yang ada. Namun, jika senjatanya kurang baik atau bahkan tidak ada, kita akan kewalahan untuk bisa bertahan hidup. Berikut ini adalah ilustrasi dari 3 model kompetensi yang perlu dimiliki oleh PhD students,

Credits: TU Delft Graduate School

Sedikit gambaran lebih detil untuk ketiga kompetensi tersebut adalah sebagai berikut, yang saya ambil dari Doctoral Education Competencies Model2 dari TU Delft:

Kompetensi Riset:

Has the ability (research skills) to conduct scientific research.

Kemampuan mahasiswa PhD untuk dapat melakukan riset secara mandiri dan bertanggungjawab secara ilmiah. Kompetensi ini terdiri dari beberapa macam sub-kompetensi, seperti misalnya: kemampuan manajemen proyek riset, kemampuan berpikir akademik, konseptual, dan kritis, serta perilaku akademik seperti etika dan integritas dalam melakukan penelitian. Sederhananya, kamu perlu menilai seberapa jauh diri kamu dalam memahami prosedur riset yang akan kamu lakukan, bagaimana kemudian menjaga proyek riset tersebut agar terus berjalan dengan baik, dan menjunjung etika riset dengan baik. Etika riset ini misalnya menghindari plagiarisme atau pemalsuan data dalam riset.

Pertanyaan untuk refleksi: dalam skala 1 – 10, berapakah nilai kompetensi riset kamu?

Kompetensi Keilmuan:

Has the breadth and depth of knowledge required in the field of doctoral research.

Kompetensi keilmuan ini tentu saja adalah pemahaman kamu terhadap bidang yang kamu teliti. Kalau kompetensi riset adalah tentang segala prosedur dan tata cara risetnya, kalau kompetensi keilmuan adalah terkait dengan disiplin ilmu kamu. Misalnya saya saat ini sedang melakukan penelitian tentang model transportasi kepulauan, maka saya harus betul – betul menguasai tentang dasar – dasar teori transportasi, metode, teknik, sejarah, dan lain sebagainya. Walaupun kadang ke depannya kita perlu juga bersifat fleksibel karena bisa jadi topik penelitian kita berubah sewaktu – waktu, tergantung arahan dari profesor kita.

Pertanyaan untuk refleksi: dalam skala 1 – 10, berapakah nilai kompetensi keilmuan kamu?

Kompetensi Diri:

Focuses on personal and professional development, which facilitates your growth now and in the future career.

Kompetensi ini adalah kompetensi soft-skill yang perlu dimiliki untuk keperluan karir baik saat ini mau di masa yang akan datang nanti. Beberapa contoh dari kompetensi adalah kemampuan untuk bekerja secara mandiri, disiplin, bekerja-sama dengan orang lain, kemampuan menghadapi tekanan dan stress, kemampuan berkomunikasi (baik secara lisan dan tulisan – khususnya bahasa Inggris) yang baik, dan kemampuan untuk transfer ilmu kepada orang lain seperti mengajar atau memberikan bimbingan kepada mahasiswa master.

Pertanyaan untuk refleksi: dalam skala 1 – 10, berapakah nilai kompetensi diri kamu?

Setelah kamu membaca ketiga hal di atas, maka berapakah skor yang kamu miliki? Kalau kamu memang merasa excellent di semuanya, tentu nilai akhirnya adalah 30. Namun perlu kamu ingat, penilaian ini perlu dibuat objektif dengan mempertimbangkan “ekspektasi” dari institusi kamu juga. Maksud saya, jangan sampai kamu menilai dengan angka 10, sementara menurut profesor kamu nilainya sebenarnya 5. Nah, kalau seperti ini menurut saya lebih baik kita menggunakan standar institusi di tempat kita berada.

Bagaimana kalau misalkan nilai kita rendah di beberapa aspek? Bagi kamu yang masih belum memulai S3, menurut saya segera dipelajari berbagai aspek yang kurang agar nanti ketika bertemu profesor menjadi lebih siap.

Bagaimana kalau ternyata saat ini saya sudah ‘terlanjur’ berangkat dan memulai S3 saya? Tidak perlu khawatir, karena dengan kita melakukan pemetaan ini, kita jadi tahu di mana kekuatan dan kelemahan kita. Hasil analisis sederhana ini juga bisa komunikasikan ke supervisor kita, sehingga kita bisa mendapatkan feedback bagaimana mengatasi kekurangan tersebut. Salah satu hasil yang saya dapatkan dari pemetaan ini adalah saya menjadi tahu bahwa diri saya memiliki kekurangan dalam komunikasi (lisan dan tulisan) dalam bahasa Inggris untuk keperluan ilmiah. Maka di samping saya mengerjakan riset, saya juga mengambil kursus English for Academic Purpose (EAP). Saya sendiri merasa sedikit terlambat untuk mengetahui hal ini, sehingga banyak course yang harus saya ambil dan itu cukup menyita waktu saya untuk mengerjakan riset.

Maka dari itu, saya berharap semoga sedikit wawasan yang saya bagikan ini dapat membantu sahabat semuanya yang sedang mempersiapkan diri atau baru memulai S3 agar menjadi lebih siap lagi. S3 atau PhD di luar negeri itu bukan hanya sekedar sekolah, namun bagaimana kita bisa memimpin riset kita sendiri dengan penuh tanggung jawab.

Semoga bermanfaat ya. InsyaAllah nanti akan saya bagikan lagi beberapa cerita pengalaman saya selama menempuh S3 di Belanda.

Salam,

Arry Rahmawan

  1. Levecque, K., Anseel, F., De Beuckelaer, A., Van Der Heyden, J., & Gisle, L. (2017). Work Organization and mental health problems in PhD students. Research Policy, 46 (4), 868-879 ??
  2. TU Delft Graduate School. Doctoral Education competences model: 2018 version. Delft University of Technology ??
Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!