Akademik Pengembangan Diri Strategi Belajar

Kiat Menjaga dan Memelihara Ilmu yang Telah Dipahami

Written by Arry Rahmawan

Sahabat pembaca semua, alhamdulillah di sela – sela kesibukan saya menekuni ilmu sebagai mahasiswa PhD di Delft University of Technology, saya masih bisa diberikan kesempatan untuk menulis lagi. Jujur masa – masa awal sebulan pertama menjalani hidup sebagai PhD Student di Delft penuh lika-liku dan drama yang menguras tenaga secara fisik dan emosional, hingga akhirnya saya terhenti untuk melakukan update di blog ini karena berbagai kesibukan baru yang saya dapatkan.

Hingga saat beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan pesan dari seorang alumni pelatihan yang jujur menyentuh hati saya. Segala macam kerumitan dan penat yang saya rasakan tiba – tiba terlepas karena sebuah pesan yang datangnya yang tidak disangka. Sebuah pesan cukup panjang via WhatsApp, namun mengandung 2 pesan yang mendalam buat saya:

  1. Mengingatkan bahwa semua yang dilakukan hanyalah untuk mendapatkan Ridha Allah SWT.
  2. Menunggu tulisan – tulisan baru saya di blog, yang ternyata ditunggu – tunggu.. dan itu membuat saya terharu…

Ketika membaca pesan tersebut, hati saya terenyuh dan langsung melakukan refleksi diri.

Mungkinkah kegundahan dan kegelisahan selama 1 bulan saya memulai PhD dikarenakan saya mulai kehilangan lurusnya niat untuk beribadah dan menggapai ridha Allah?

Mungkinkah saya kembali menulis dan berbagi lagi kepada sahabat pembaca melalui blog ini?

Di situlah saya mulai sadar bahwa ternyata sebulan terakhir ini saya ‘lupa’ bahwa sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Selama sebulan terakhir, saya terlalu fokus pada diri sendiri. Mengeksplorasi berbagai macam ilmu dan kerumitan – kerumitan teoritis, hingga pada akhirnya saya lupa untuk berbagi. Berikut ini adalah cuplikan betapa banyaknya paper – paper yang saya baca untuk selama sebulan terakhir menjadi mahasiswa S3 di TU Delft. Berikut adalah gambaran terkait dengan apa yang saya baca selama sebulan terakhir.

Kesibukan membaca dan menyerap apa yang ada di paper itu, berawal karena saya merasa tertekan karena banyaknya ketertinggalan yang harus saya kejar. Namun di satu titik saya juga sadar: semakin banyaknya saya membaca, di situ pula semakin banyak saya lupa dan ilmunya ‘tidak nyangkut’ di kepala saya dalam jangka waktu yang lama.

Setelah membaca pesan dari alumni tersebut dan juga konsultasi bersama istri, pelan – pelan saya melakukan intropeksi. Mengapa ilmu yang saya serap menjadi mudah hilang dan meluap?

Bagaimana kemudian menjaga ilmu yang sudah kita pelajari? Bagaimana menjaga agar apa yang ada di kepala kita tetap terjaga dan awet sedemikian lama?

Inilah yang kemudian coba saya renungi dan temukan. Untunglah di pekan kemarin juga ada pengajian di Komunitas Muslim Delft (KMD) dengan tema urgensi menuntut ilmu bagi seorang muslim. Di situlah kemudian saya menemukan pencerahan dari narasumber pengajian, Ustadz Makky.

Berikut ini adalah pesan – pesan beliau:

  1. Sejatinya seorang muslim menanamkan 3 hal pada saat menuntut ilmu: rasa syukur, rasa sabar, dan jihad fi sabilillah, meluruskan niat hanya kepada Allah
  2. Allah menjanjikan bahwa barangsiapa ikhlas menuntut ilmu karena Allah, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga
  3. Allah akan meninggikan seorang muslim yang berilmu beberapa derajat
  4. Setidaknya sebagai muslim perlu menyadari mengapa menuntut ilmu wajib bagi seorang muslim, dan apa kriteria menjadi seorang Ulil Albab:
    1. Agar senantiasa berpikir terhadap berbagai macam penciptaan Allah yang ada di langit dan bumi, sehingga dengan itu
    2. Hati dan pikiran kita akan senantiasa berdzikir baik secara lisan dan amalan, sehingga kita dapat
    3. Tafakkur, yaitu melakukan kontemplasi, perenungan mendalam, benar – benar mencari tahu lebih dalam mengapa suatu fenomena bisa terjadi atau mengapa suatu teori tercipta, agar:
    4. Kita senantiasa menjadi seorang yang berkata, “Ya Allah, sesungguhnya tiada hal di langit dan di bumi ini engkau ciptakan dengan sia – sia.”

Dari pesan – pesan yang saya dapatkan tersebut, terbukalah kemudian apa yang selama ini membuat saya gundah. Saya kehilangan arah dalam menuntut ilmu, di mana sebenarnya ujung dari kita menuntut ilmu agar kita senantiasa berdzikir dan bertambah iman kepada Allah SWT.

Di situlah kemudian saya merasakan betapa saya harus memperbaiki cara – cara belajar saya agar lebih baik. Mengawali dengan doa, meminta diberikan pemahaman, dan dijaga agar ilmu tersebut dapat menambah keimanan.

Alhamdulillah, Allah SWT serta orang – orang yang menyayangi saya masih mengingatkan saya akan pentingnya kembali pada tujuan semula.

Lalu pertanyaan berikutnya, bagaimana cara agar ilmu yang banyak tersebut bisa terjaga di kepala kita? Masih dari materi pengajian yang disampaikan Ustadz Makky di acara KMD, berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan, dan juga biasa diamalkan oleh para ulama untuk menjaga hafalan mereka.

3 hal agar ilmu yang kita miliki dapat menjadi hikmah dan kebaikan:

  1. Ilmu tidak hanya sekedar dibaca, namun didalami, dan juga dipahami. Jangan terburu – buru dalam memahami ilmu, karena semua pasti memerlukan proses.
  2. Ilmu yang sudah kita pelajari tersebut kemudian diamalkan. Jika tidak memungkinkan, ajarkan kepada orang lain, baik dengan mengajarkannya langsung atau menuliskannya. Bisa juga dengan cara berinteraksi dengan orang lain untuk bertukar pendapat dan adu gagasan. Termasuk menulis blog seperti ini, juga salah satu cara agar ilmu yang kita dapatkan bisa menjadi hikmah.
  3. Senantiasa berdoa sebelum dan sesudah belajar, agar diberikan pemahaman mendalam dan dijaga ilmunya hingga akhir hayat.

”Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

Demikian yang bisa saya bagikan hari ini. Semoga bermanfaat untuk sahabat semuanya, ya. Tulisan ini sekaligus saya persembahkan untuk alumni Young Trainer Academy yang telah mengingatkan saya akan pentingnya selalu meluruskan niat dan terus memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!