Uncategorized

Mainkan Kartu Yang Kita Punya

Sewaktu saya menjadi juri esai untuk Indonesia Student Leadership Camp (ISLC) UI, saya turut diundang dalam sebuah gala dinner untuk penutupan ISLC. Di situlah kemudian saya bertemu dengan juri-juri ISLC yang lainnya. Dari kelima juri, hanya satu orang yang belum saya kenal, Dimas Prasetyo. Dari keterangan yang saya dapat di situs ISLC, beberapa catatan prestasi bang Dimas adalah Penerima penghargaan Young Change Makers Ashoka Indonesia, Juara 1 lomba esai Pengalamanku bersama Majalah Gema Braille BPBI Abiyoso Kemensos RI, dan Juara 1 lomba karya tulis online (KT-Online) PT Telkom Multimedia bersama situs plasa.com.

Sewaktu kami semua diundang untuk maju ke depan menerima plakat, saya mengajak bersalaman Dimas. Salah satu juri lainnya, Wahyu Awaludin, menuntun Dimas untuk berjabat tangan dengan saya. Saya lemas, di hadapan saya adalah seorang Tuna Netra. Hati saya berdebar. Setahu saya, seorang Dimas adalah mahasiswa sastra Inggris UI, penulis aktif, yang sering dimunculkan di media massa tulisannya, memenangkan lomba, dan blogger andal. Padahal, ekspektasi saya seorang Dimas yang normal pun sudah membuat saya sangat hormat dengan capaiannya. Tapi ternyata, prestasi itu diraih dari seorang Tuna Netra. Bagaimana mungkin?

Pertemuan dengan Bang Dimas malam itu menorehkan suatu bekas yang mendalam bagi saya. Sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan, kehidupan terbaik terbentuk bukan karena kita memegang kartu paling bagus, namun karena berhasil memaikan dengan baik kartu yang kita punya.

Kadang saya merasa malu sendiri saat mengingat bahwa diri ini masih suka malas-malasan. Saya merasa malu menyia-nyiakan nikmat bisa melihat dan membaca dengan jelas. Saya merasa malu bahwa saya yang memiliki fisik lebih sempurna, kalah secara prestasi dari orang yang memiliki keterbatasan besar.

Begitu pula sebagai refleksi diri kita semua. Betapa sering kita mengeluhkan dan menyalahkan berbagai hal saat kita tidak bisa menorehkan prestasi besar. Entah katanya kita tidak bakat lah, entah karena otak orang lebih pinter lah, entah karena kita memang ga beruntung lah, dan lain sebagainya. Sebuah keadaan tidak akan pernah berubah, selama kita tidak memiliki keinginan kuat untuk merubahnya sendiri. Seorang Dimas, yang justru punya lebih banyak alasan untuk menyerah dalam berkarya, menunjukkan pada kita bahwa kehidupan terbentuk bukan karena kita diberikan keberuntungan lebih dibanding orang lain, tetapi bersyukur dan menciptakan keberuntungan itu melalui apa yang kita miliki.

Tetap bersyukur, selamat berkarya dan mengukir prestasi!

Berikut adalah cuplikan video saat Dimas diundang dalam talkshow Kick Andy,

Jika seorang Dimas saja bisa. Kita semua pasti jauh lebih bisa. Bukankah begitu? Bagaimana menurut Anda?

Ingin berkomunikasi dengan saya? Follow saja @ArryRahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia yang saat ini sedang melakukan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda. Arry memiliki semangat dan passion dalam menulis, khususnya melalui media blog. Tulisan - tulisan di blognya ssat ini mayoritas membahas tentang kehidupan seputar akademik di perguruan tinggi, pengembangan diri, serta entrepreneurship.

Pada tahun 2013, buku Studentpreneur Guidebook yang ditulisnya menjadi national best seller dan rujukan pengajaran kewirausaahaan untuk pelajar serta mahasiswa di Indonesia. Sejak tahun 2013, Arry juga aktif membantu Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia untuk menyeleksi dan membina para entrepreneur terbaik dari sivitas akademik UI. Dalam 10 tahun terakhir, Arry juga dipercaya untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan jasa konsultasi bagi kementerian, BUMN, korporasi, serta yayasan yang ingin menumbuhkan kewirausahaan dalam organisasi (corporate entrepreneurship / intrapreneurship) atau melakukan inovasi bisnis untuk bisa terus bertumbuh di era disruptif seperti saat ini.

Untuk terus mengembangkan minat keilmuannya di bidang kewirausahaan, Arry belajar dari para pakar kewirausahaan Eropa melalui Delft Centre for Entrepreneurship di Technische Universiteit Delft, Belanda sejak tahun 2019.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

  • halo mas Arri. Wah ga sengaja nemu tulisan ini pas lagi cari2 info saya induction Ashoka Youngchangemaker tanggal berapa. hehe. terima kasih dan saya juga terinspirasi dengan juri2 yang luar biasa saat itu. Keep in touch ya. Semoga bisa berteman juga di Facebook.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!