Pengembangan Diri

Masihkah Sungkan Membantu Orang Lain?

Hari ini saya mendapatkan jadwal untuk mengajar di pagi hari, di mana pukul 08.00 saya sudah harus berada di kampus Universitas Indonesia, Depok. Berangkat dari Bogor ke Depok pagi hari sebenarnya sangatlah menyenangkan, kalau tidak teringat keharusan untuk berdesak – desakan di commuterline. Sehingga biasanya, saya memutuskan untuk berangkat mengajar sedikit agak siang, dan pulang sedikit lebih malam agar tidak terlalu kena traffic kereta. Jika commuterline ini sangat padat, jangankan bisa membaca buku, untuk bergerak saja rasanya sulit sekali.

Bagi saya pribadi, hal itu sebenarnya tantangan biasa saja dan saya sudah mengalaminya sejak jaman commuterline masih ada kelas ekonomi (di mana itu lebih parah). Namun, pagi ini yang membuat saya khawatir adalah karena istri saya yang sedang hamil. Selalu ada rasa deg – degan apakah ada seseorang yang baik hati untuk memberikannya kursi, atau haruskah kami meminta – minta pada orang yang (pura – pura) tidur agar bisa mendapatkan kursi.

Begitu naik dari stasiun Cilebut, seperti yang diduga kereta sudah cukup penuh dan tidak ada ruang untuk duduk. Saya dan istri segera ke kursi prioritas, tetapi di sana terdapat banyak orang tua, perempuan, dan anak – anak. Kami berjalan pindah gerbong, hal yang kami temukan sama ternyata, kursi prioritas telah penuh.

Kemudian saya berjalan ke tengah gerbong dan mendapati semua yang duduk di situ adalah laki – laki, muda, masih segar, dan menunduk tidur. Hingga akhirnya saya menemukan seorang bapak – bapak yang masih terjaga.

“Pak, istri saya sedang hamil. Bolehkah minta kursinya untuk istri saya?”

Biasanya, ketika saya bilang seperti itu langsung yang duduk dengan sigap berdiri. Namun, saya kaget saat melihat bapak ini tetap tenang di tempat duduknya dan berkata, “Mas, kalau mau minta ke kursi yang prioritas, dong!”

Terus tanpa disangka, orang – orang yang ada di sekeliling malah berujar, “iya mas, kalau minta itu ke kursi prioritas. Bukan di sini.”

Saya hanya terdiam, dan bilang bahwa kursi prioritas sudah penuh. Saya sama istri bergegas mau mencari tempat lain, namun akhirnya bapak yang tadi mengalah juga dengan wajah merengut. Namun, jujur saja walaupun sudah diberi kursi tapi saya masih kaget. Bagi yang lain, mungkin bukan rasa terima kasih yang muncul namun kekesalan di dalam hati.

Apakah segitunya ketidakpedulian kita pada sesama? Apakah segitunya kita mementingkan diri kita sendiri, sehingga sampai – sampai enggan untuk mengerti sedikit kondisi istri saya yang lebih membutuhkan tempat duduk?

Padahal, bisa jadi bantuan kita yang sangat kecil bisa memberikan dampak besar untuk diri kita di kemudian hari. Begitu pula sebaliknya, rasa egois diri kita bisa jadi akan balik sebagai bentuk keburukan di masa yang akan datang. Jika menggunakan logika manusia, sesuatu yang diberikan kepada orang lain mungkin akan membuat diri kita sengsara. Namun jika menggunakan logika sang Pencipta, sekecil apapun yang kita berikan kepada sesama akan membuat diri kita bahagia.

Saya biasa mengingatkan diri saya bahwa setiap kebaikan yang saya buat akan menjadi bumerang kebaikan untuk diri saya sendiri. Tidak perlu khawatir akan habis, nanti juga akan datang lagi bahkan dengan jumlah yang lebih banyak. Video di bawah ini sangat menggambarkan bagaimana pemahaman saya tentang berbuat kebaikan. Semakin banyak kebaikan disebar, semakin banyak pula kebaikan yang kita terima.

 

Kalau Anda sendiri, masihkah sungkan untuk membantu orang lain?

Semoga renungan ini bermanfaat untuk membuat hidup kita dapat bermakna, bertumbuh, dan berdampak.

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar