Fase Perencanaan Kelas Studentpreneur

Bagaimana menanamkan mindset sadar kaya?


Artikel ini adalah Preview dari buku “Menjadi Pengusaha itu Mudah, Inilah Rahasianya”
, yang ditulis oleh Arry Rahmawan dan Ibnu Abdul Aziz. Sebuah buku yang mengupas secara lengkap mengenai rahasia-rahasia dan strategi untuk menjadi sukses sebagai pengusaha muda yang bahkan masih menjadi pelajar sekalipun (siswa/mahasiswa).
 
“Saat kita lahir, banyak dari diri kita yang tidak sadar bahwa kita dibekali dengan kedahsyatan organ dalam tubuh kita sedahsyat luasnya alam semesta. Penemuan terakhir yang ditemukan belakangan ini – dan paling membanggakan – adalah selama kita masih memiliki pikiran yang positif dan kreatif, maka kita dapat mencapai kekayaan apapun yang kita inginkan.” – Arry Rahmawan

We are all born to be rich! Kita semua ini dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi kaya! Ah, masa sih? Ya, itu benar. Bahwa sebenarnya kita semua ini dilahirkan, diciptakan, dan ditakdirkan untuk menjadi seorang yang kaya. Tetapi mengapa masih banyak sekali orang yang biasa-biasa saja dan sedikit orang yang kaya? Silakan baca artikel ini selanjutnya!

Hanya ada 2 Tipe Orang

Tahukah Anda bahwa sebenarnya di dunia ini hanya ada 2 tipe orang, yaitu mereka yang sukses dan mereka yang biasa-biasa saja. Kalau Anda melihat mengapa orang ini bisa sukses karena mereka berhasil mencapai sesuatu yang tidak dicapai oleh orang-orang biasa. Ketika ditanya, semua orang menjawab ingin, ingin, dan ingin sukses, tetapi kesuksesan hanya datang bagi mereka yang siap membayar harganya, dan tidak semua orang berani untuk membayar harga akan sebuah kesuksesan. Sementara kita tahu bahwa salah satu parameter kesuksesan adalah: kekayaan. Sayangnya, sedikit dari mereka yang siap untuk membayar dan menjadi seorang yang kaya. Padahal, modal yang kita miliki untuk mencapai kesuksesan sama lengkap bahkan lebih lengkap dari orang-orang sukses itu. Pertanyaannya, kita ingin memilih tipe yang mana?

Kekayaan Jahat atau Baik?

Kak Arry, apa benar kita terlahir untuk kaya? Karena dengan menjadi kaya dan memiliki banyak uang, kita menjadi jahat, serakah, dan tamak. Kita akan terbuai akan indahnya dunia, kita akan diperbudak oleh harta. Bukankah kita sebaiknya bersikap sederhana saja? Baik, akan Kak Arry jawab. Betul uang bisa menjadi sangat jahat, bahkan orang rela saling membunuh, korupsi, menipu, demi uang. Tetapi lihat betapa banyak masjid, rumah sakit, sekolah, yang bisa dibangun jika kita memiliki uang? Betapa banyak manfaat yang bisa kita sebarkan jika kita memiliki banyak uang? Apakah kita hidup di dunia ini untuk diri kita sendiri? Bukankah Rasulullah bilang bahwa sebaik-baiknya manusia itu adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya? Kalau begitu, uang itu netral, tetapi tergantung siapa pemakainya. Justru dengan memiliki uang, kita mudah menebar manfaat. Fitrah manusia, adalah bermanfaat bagi sesamanya bukan? Untuk itulah mengapa kita terlahir untuk kaya. Pertanyannya, kita ingin menjadi orang dengan tangan di atas (memberi) atau di bawah (menerima)?

3 Alasan Manusia Terlahir Kaya
Pertama, manusia merupakan makhluk sempurna yang diciptakan dan memiliki kesempurnaan akal pikiran. Kedua, manusia diberikan ruh khusus yang diciptakan Allah, ketiga, bahkan malaikat dan jin pun turut disuruh Allah untuk bersujud kepada manusia. Bayangkan, malaikat dan jin pun bersujud kepada manusia? Ini adalah suatu bukti bahwa manusia adalah makhluk mulia. Pantaskah jika manusia yang merupakan masterpiece, penciptaan mahaagung dan makarya dari Allah swt ini hidup dalam tataran biasa-biasa saja sementara Allah menciptakan potensinya untuk menjadi seorang yang luar biasa? Jangan sampai kita mengira bahwa diri kita ini adalah handphone Nokia 3210 padahal potensi diri kita setara dengan BlackBerry Torch. Pertanyaannya, apakah Anda sadar bahwa diri Anda luar biasa?


Menjadi Kaya itu Pilihan
“Saya tidak terlahir kaya, saya ditakdirkan miskin.”, “Kaya hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi bukan untuk saya.”; “Saya tidak punya modal”. Apakah benar demikian adanya? Secara fitrah, sebenarnya kita dilahirkan kaya, namun lingkungan sekitar kitalah yang ‘membunuh’ keyakinan kita bahwa kita ini dilahirkan dengan potensi yang luar biasa.

“The real source of wealth and capital in this new era is not material things… it is the human mind, the human spirit, the human mind, human creativity, and our faith in the future.”
 
Saat ini kita sudah memasuki suatu era yang sama sekali berbeda seperti dulu. Kita sudah masuk dalam abad konsep dan globalisasi, di mana setiap orang bisa sukses. Hanya saja itu adalah pilihan. Kekayaan dan modal sesungguhnya dari manusia adalah pola pikir, kreativitas, dan keyakinannya. Kalau Allah berfirman dalam Al-Quran, sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu memutuskan untuk merubah nasibnya sendiri. Pertanyaannya, apakah Anda siap untuk berubah menjadi lebih baik?

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen pengantar kewirausahaan teknologi di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Selain itu, Arry juga merupakan staf ahli di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia sejak 2015 - 2019. Per akhir tahun 2019, Arry melanjutkan studi doktoral di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Disela-sela kesibukannya sebagai peneliti, Arry juga memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu kewirausahaan dari Delft Centre for Entrepeneurship, inkubator kewirausahaan TU Delft.

Arry berpengalaman sebagai narasumber di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)gmail.com.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

  • Sangat setuju dengan pak ary, dunia ini ditentukan oleh nasib suatu kaum. Bukan ditentukan oleh pemerintah, untuk merubahnya dimulai dari rakyatnya. Jangan start dari pemerintahnya.. Terlebih permasalahan yang dibahas diatas adalah untuk urusan dunia. Jika permasalahan urusan Akhirat / yang diniatkan ibadah kita tidak diperbolehkan untuk berimprovisasi / berinovasi, hanya cukup mencontoh. Semoga bermanfaat.. thanks pak ary.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!