Akademik Belajar dan Mengajar

Bagaimana Menarik Perhatian Mahasiswa Saat Membawakan Kuliah Online?

Sahabat pembaca, di kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang umumnya ditanyakan melalui kotak komentar atau inbox email saya yaitu: bagaimana caranya agar kita dapat menarik perhatian mahasiswa saat memberikan kuliah online?

Seperti yang sama – sama kita ketahui bahwa pandemi saat ini sedikit banyak mengubah bagaimana kita bekerja, belajar, dan juga mengajar. Sudah tidak asing lagi di antara kita dengan aplikasi semacam Zoom Cloud Meeting, Skype, Google Meet, Microsoft Teams, dan banyak aplikasi – aplikasi online lainnya. Hampir seluruh kegiatan belajar mengajar, saat ini menggunakan aplikasi tersebut. Tidak terkecuali saya sebagai seorang dosen, yang akhir – akhir ini sering diminta menjadi dosen tamu di berbagai institusi pendidikan.

Tantangannya kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana cara agar kita bisa menarik perhatian peserta didik kita saat sedang membawakan kelas online tersebut? Masalahnya seringkali kita tidak tahu apakah mahasiswa memang sedang benar – benar menyimak materi apa yang sedang kita sampaikan, atau jangan – jangan malah melakukan hal lain semisal browsing internet, membuka social media, dan bermain handphone? Walaupun kita sudah mewajibkan mahasiswa untuk menyalakan kamera, namun belum tentu semua menyimak dengan sepenuhnya.

Dengan memperkirakan waktu pandemi yang sepertinya masih sangat panjang, para pejuang pendidikan di masa pandemi ini harus berpikir: bagaimana caranya agar kita bisa membawakan perkuliahan online yang sama kualitasnya (atau bahkan lebih) dibandingkan dengan saat disampaikan secara offline. Hal ini sangat penting demi menjaga kualitas dari pendidika itu sendiri. Salah satu caranya adalah dengan membawakan perkuliahan yang menarik, sehingga seluruh atensi mahasiswa berada 100% pada perkuliahan kita.

Lalu, bagaimana cara menarik atensi atau perhatian mahasiswa saat kita sedang membawakan kuliah online?

Sebelum membahas strateginya, izinkan saya untuk menjelaskan terlebih dulu tentang attention curve.

Mengenal Konsep Attention Curve

Attention curve atau kurva perhatian adalah salah satu hal dasar yang perlu diingat oleh seorang pendidik, menurut saya. Attention curve memiliki bentuk sebagai berikut (diadaptasi dari Gibbs, 1992),

Kurva perhatian seperti di atas menggambarkan kepada kita bahwa jika kita terus – menerus memberikan materi dengan teknik yang sama (lecture), maka perhatian peserta didik akan penuh hanya pada saat 15 menit pertama dan akan cenderung turun untuk seterusnya. Perhatian yang cenderung turun ini membuat para peserta biasanya melakukan hal lain: menggambar, mengobrol, main smartphone, dan aktivitas yang tidak berhubungan dengan materi. Dalam kurva tersebut, di menit ke-40 perhatian mahasiswa cenderung naik karena sudah masuk tahap kesimpulan atau akhir dari sebuah sesi. Pengalaman saya kuliah di Belanda, memang umumnya profesor akan melakukan ‘break’ pada saat kuliah berlangsung 45 menit, lalu dilanjutkan lagi ke sesi berikutnya.

Dalam konteks pengajaran di Indonesia, umumnya dosen mendapat tugas dalam waktu yang sangat panjang. Misalnya 3 SKS, di mana 1 SKS itu 50 menit. Mengajar 3 SKS, berarti satu sesinya 150 menit alias 2,5 jam. Kebayangkah Anda apabila di kelas online tersebut sebagai pengajar kita berbicara terus – menerus tanpa henti? Berapa banyak perhatian yang hilang / loss selama sesi tersebut?

Di sinilah pentingnya kita sebagai dosen, guru, pengajar memahami hal ini untuk berusaha sebisa mungkin meraih perhatian peserta didik secara penuh.

Ada 2 strategi yang umumnya saya lakukan untuk meraih perhatian penuh di setiap sesi kelas online saya. Yaitu:

Strategi #1: Menerapkan Zoom Agreement sebelum memulai sesi

ZOOM Agreement, adalah “Perjanjian Zoom”, diambil dari aplikasi yang biasa saya gunakan untuk kelas online. Namanya tentu bisa diganti sesuai dengan aplikasi yang kita pakai. Bisa saja jadi Skype atau Teams Agreement.

Zoom Agreement ini adalah perjanjian yang kita buat di fase awal saat masuk pertama kali di kelas, atau pada saat di awal sesi kita bertemu. Saya belajar ini dari seorang penulis, Seth Godin, yang menggunakan Zoom Agreement ini sebelum memulai suatu sesi.

Berikut ini adalah cuplikan dari Zoom Agreement yang saya ambil dari Seth Godin,

If you promise not to check your email while we’re talking, we promise to not waste your time

The  purpose of a meeting is not filling the allocated slot on the Google calendar invite

The purpose is to communicate an idea and the emotions that go with it and to find out what’s missing via engaged conversation

If we can’t do that, let’s not meet.

Apa yang saya dapatkan dari Zoom Agreement di atas adalah bahwa sebagai seorang pendidik, kita merlu mengubah mindset kita mengajar kelas online, dari yang semata – mata sekedar menjalankan kewajiban, menjadi betul – betul ingin terkoneksi dengan peserta didiknya. Pada perjanjian Zoom itu disebutkan bahwa perjanjian perlu dua arah: jika kita ingin mahasiswa kita memperhatikan, maka pastikan kualitas kuliah dan pembawaan materi yang kita bawakan layak untuk diperhatikan. Pola pikir ini yang seringkali hilang, di mana masih banyak pengajar yang hanya berpikir bagaimana kuliah online itu bisa segera selesai. Padahal, mengisi kelas online ini bisa menjadi kekuatan untuk terkoneksi dengan para mahasiswa dan juga membuat kelas lebih menyenangkan.

Jadi di perjanjian ini, jika kedua belah pihak baik dari dosen tidak berjanji untuk membuat suatu sesi yang layak disimak sampai akhir, dan si mahasiswa juga tidak bisa menjaga konsentrasi selama perkuliahan berlangsung, maka lebih baik tidak usah bertemu sekalian.

Strategi #2: Memecah sesi yang panjang menjadi beberapa sub-sesi

Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan oleh pakar dan peneliti psikologi pendidikan adalah dengan memecah sesi kita yang panjang menjadi beberapa sub-sesi, dan menggunakan variasi aktivitas di fase transisi untuk membangkitkan kembali konsentrasi peserta didik yang sudah mulai hilang. Sebagai contoh, jika saya membawakan pelatihan manajemen waktu dan memiliki waktu 150 menit, maka saya akan khususkan waktu tersebut untuk:

  • Memberikan materi tentang ‘menemukan makna hidup’ selama 20 menit, lalu aktivitas transisi
  • Masuk ke materi kedua tentang ‘memiliki visi hidup’ selama 20 menit, lalu aktivitas transisi
  • Masuk ke materi ketiga tentang ‘disiplin aksi’ selama 20 menit, lalu aktivitas transisi atau penutupan

Sehingga nantinya kurvanya akan berbentuk seperti di bawah ini,

Lingkaran merah menandakan sebuah sub-sesi berakhir dan menuju fase transisi untuk masuk ke aktivitas berikutnya. Nah, aktivitas sub-sesi ini bisa menggunakan beragam variasi sesuai kreativitas pengajar, seperti misalnya: quiz kelompok, diskusi ringan, tugas kecil, dan tanya jawab. Untuk tanya jawab sendiri jika peserta tidak ada yang bertanya, maka kita yang bertanya untuk memastikan bahwa mereka menyimak apa yang kita berikan.

Nah, semoga teknik ini bisa bermanfaat untuk Anda yang saat ini sedang menjadi pejuang – pejuang pendidikan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Untuk lebih detil, Anda bisa melihatnya di video channel youtube saya.

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Selain beraktivitas sebagai pengajar dan peneliti, Arry juga senang membagikan tips dan informasi seputar akademik, kewirausahaan, dan pengembangan diri melalui blog nya di arryrahmawan.net.

Arry berpengalaman sebagai narasumber di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)gmail.com.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!