Akademik My Diary Pengembangan Diri

Mengapa Saya ‘Nekat’ Memutuskan Mengambil PhD?

Written by Arry Rahmawan

Alhamdulillah kali ini saya diberikan kesempatan untuk bisa berbagi di sela – sela kesibukan baru sebagai mahasiswa PhD (Doctor of Philosophy) di Delft University of Technology, Belanda. Tidak terasa satu bulan berlalu sejak pertama kali saya memulai untuk ‘ngantor’ pertama kalinya pada tanggal 2 September lalu, dan hari ini pas sebulan sudah saya menjalani tugas dari negara untuk belajar sebagai mahasiswa PhD di TU Delft.

Selama sebulan ini tentu saja banyak sekali pengalaman – pengalaman baru yang menarik dan menantang yang saya dapatkan. Beberapa di antaranya adalah dengan adaptasi di budaya Belanda yang di mana adalah budaya sangat baru bagi saya, hingga berupaya bisa menyamai atmosfir kompetitif dan kerja keras mahasiswa master dan doktoral di TU Delft. Detil lengkapnya akan coba saya ceritakan nanti ya, hehe…

Sebelum cerita lebih panjang tentang pembelajaran unik yang saya dapatkan, kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang alasan saya yang ‘memaksa’ diri untuk mengambil PhD, yang tidak tanggung – tanggung, yaitu sekalian di TU Delft.

Sekedar informasi, TU Delft adalah kampus riset teknik nomor satu di Belanda. Begitu saya datang ke TU Delft, langsung terasa iklim ‘kelas dunia’, mulai dari metode pengajaran, riset, hingga publikasinya.

Kedatangan saya ke TU Delft terbilang ‘nekat’, karena modal bahasa Inggris yang seadanya, belum pernah menginjakkan kaki di Eropa, ilmu yang juga tertinggal, dan betul – betul banyak sekali hal yang harus dikejar. Tidak jarang, beberapa waktu membuat kepala sedikit pusing dan perut terasa mual, saking banyaknya materi yang harus dikejar.

Satu pertanyaan: kenapa saya melanjutkan PhD? Dan mengapa saya nekat untuk melanjutkan PhD di TU Delft? Terlebih dengan banyaknya rekan yang bertanya mengenai posisi saya yang sudah dikenal di Indonesia sebagai seorang trainer, dan kali ini bahkan rela meninggalkan beragam kesempatan untuk mengisi training.

Jawaban saya, karena saya ingin bisa memberikan manfaat dengan lebih banyak dan luas lagi untuk Indonesia dan belajar dari yang terbaik langsung dengan para ahlinya. Tidak ada sebuah proses yang instan, karena jika kita ingin menjadi yang terbaik, maka kita juga harus ditempa di tempat dan oleh penempa terbaik dengan proses yang juga luar biasa kompleks.

Dan karena itulah, saya jauh – jauh ke Belanda alhamdulillah atas izin Allah, saya bisa berjumpa dengan orang – orang terbaik yang biasanya saya jumpai namanya hanya di lembaran paper ilmiah yang saya baca. Di bidang keilmuan yang saya geluti di Universitas Indonesia, yaitu permainan simulasi (serious simulation gaming), ada nama – nama yang sudah tidak asing lagi seperti Alexander Verbraeck (yang menjadi calon promotor saya), Geertje Bekebrede, Heide Lukosch, dan Igor Mayer yang merupakan jagoan – jagoan permainan simulasi di Eropa. Dan benar saja, sesampainya saya di sini, ilmu mereka sangat dalam, komprehensif, menyeluruh, dan sangat detil sekali. Bahkan bisa dibilang, paper mereka yang untuk saya bisa mengerti harus dibaca berkali – kali karena sangat dalam, saat bertemu mereka ilmunya jauh lebih dalam lagi.

Begitu saya sampai di sini, saya benar – benar merasa menjadi orang bodoh yang sama sekali tidak tahu apa – apa. Begitu banyak ilmu yang harus saya pelajari dan begitu banyak sekali pengalaman berharga yang harus saya serap di sini.

Saya jadi paham mengapa di Eropa, orang yang baru boleh mengajar adalah mereka yang sudah PhD, dan bahkan sudah beberapa kali post doc, karena memang tidak sembarang orang berhak memiliki license to teach, jika keilmuannya tidak mumpuni. Untuk bisa mengajar dan mendapatkan tenure track, atau karir seorang pengajar dan peneliti di perguruan tinggi, seseorang harus menempuh perjalanan ekstra, tidak instan, untuk benar – benar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang capable.

Terkait dengan hal ini, umumnya dalam fase kita menuntut ilmu di pendidikan tinggi, akan ada 3 strata. Strata 1 alias sarjana, adalah level di mana kita menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan dasar untuk bisa bekerja secara umum (license to work). Strata 2 alias master, adalah level di mana kita menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk bekerja atau riset di bidang secara khusus atau spesifik (license to expert). Strata 3 alias doktor, adalah level di mana kita menunjukkan bahwa kita memiliki pengetahuan khusus sampai ke akar – akarnya di bidang kita hingga kita memiliki kemampuan untuk mengajar dan riset (license to teach and research).

Namun tentu saja, ini bukan semata – mata karena masalah gelar atau tingginya pendidikan, baru kita boleh mengajar. Menurut saya, mengajar bisa dilakukan sedini mungkin, asalkan bermanfaat dan apa yang diajarkan kita paham betul serta bisa dipertanggungjawabkan. Itu juga yang saya lakukan sejak saya masih menjadi siswa SMA, kemudian menjadi mahasiswa S1 dan S2. Jadi kembali, ini masalah kontribusi. Kontribusi yang lebih luas, dan kontribusi yang lebih besar dapat dilakukan jika kita terus – menerus menjadi pembelajar tanpa henti, di manapun dan kapan pun.

Saya mengambil jalan untuk merasakan manis pahit getirnya menjadi mahasiswa PhD, agar sepulang saya ke Indonesia nanti saya bisa memberikan kontribusi yang lebih banyak dan lebih luas Indonesia.

Bagaimana dengan Anda? Langkah apa yang akan Anda lakukan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dan luas dari yang Anda lakukan saat ini?

Semoga sedikit pertanyaan pemicu tersebut dapat membuat kita berpikir lebih tajam tentang bagaimana cara memperluas impact dari diri kita untuk dunia.

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi (Technology Entrepreneurship & Management) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Arry juga merupakan trainer Business Model Canvas dan Business Model Innovation di Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia. Arry juga aktif membagikan ilmu dan inspirasi di berbagai kampus, perusahaan, dan juga beberapa kementerian di Indonesia tentang inovasi dan kewirausahaan teknologi.

Apabila Anda berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

1 Comment

  • Artikelnya sangat mencerahkan pak, saya sangat terinspirasi oleh tulisan bapak di web ini, apalagi yang membahas tentang Manajemen Teknologi, saya sangat tertarik untuk membacanya.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!