Akademik Pedagogi

Mengatasi Impostor Syndrome ketika Berkuliah di Luar Negeri

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan beberapa ucapan terima kasih dari pembaca blog saya yang dipilih menjadi awardee LPDP. Beberapa pembaca blog saya tersebut mengatakan sedikit banyak menerapkan apa yang saya ceritakan terkait pengalaman saya dalam mendapatkan beasiswa LPDP pada tahun 2018 lalu. Saya senang sekali mengetahui bahwa artikel tersebut bermanfaat dan bisa mengatarkan beberapa pembaca mendapatkan beasiswa LPDP. Sekali lagi selamat ya bagi yang sudah mendapatkan beasiswa LPDP tersebut!

Apa yang ingin saya tuliskan kali ini adalah terkait kelanjutan bagi teman – teman yang sudah mendapatkan beasiswa dan sekarang sedang mempersiapkan diri untuk kuliah di kampus – kampus terbaik luar negeri! (Yeaay!)

Tentunya bisa berkuliah di kampus terbaik di luar negeri, apalagi dengan beasiswa LPDP yang ditanggung semua biaya (bahkan mendapat biaya hidup bulanan serta tunjangan keluarga) menjadi impian banyak orang. Hal tersebut tentu sangat patut untuk kita syukuri. Saya sendiri sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk kuliah di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Kampus ini merupakan tempat yang sangat asyik untuk belajar, kondusif, memiliki profesor berkualitas kelas dunia, dan didatangi oleh pelajar – pelajar terbaik dari seluruh dunia.

Di tengah kesan ‘keren’ dan ‘asik’ jika bisa kuliah di luar negeri, ada satu hal sisi lain yang menurut saya kurang dibahas banyak oleh para awardee beasiswa yang kuliah di luar negeri. Satu sisi ini adalah sisi yang ‘tidak keren’. Satu hal yang tidak dibahas adalah sisi tidak enaknya dari kuliah di luar negeri: memerlukan penyesuaian budaya, penyesuaian iklim, penyesuaian cara kerja, penyesuaian interaksi multikultural, dan penyesuaian cara belajar dengan negara yang dituju. Jika penyesuaian ini tidak bisa dilakukan dengan cepat, maka bersiap – siap kita akan menghadapi apa yang namanya impostor syndrome, yang kemudian bisa berujung pada stress dan depresi.

Satu sisi ‘tidak keren’ dari kuliah di luar negeri ini saya angkat karena saya sering berinteraksi dengan beberapa teman saya yang merupakan ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) atau Lurah LPDP. Banyak di antara ketua PPI atau Lurah di Eropa yang menceritakan pengalaman ada mahasiswa Indonesia yang baru datang kuliah lalu ingin pulang karena tidak sanggup dengan pelajarannya. Ada mahasiswa Indonesia juga yang stress karena selalu mendapatkan nilai jelek dan tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Ada juga loh mahasiswa yang stress karena kaget dengan iklim Eropa. Dan memang kebanyakan dari yang ‘kaget’ ini adalah mereka yang baru pertama kali sekolah ke luar negeri.

Nah, buat kamu yang sedang mempersiapkan diri untuk kuliah di luar negeri pertama kali, saya ingin memperkenalkan bahwa ada satu hal tidak enak yang biasa menjangkiti mahasiswa: Impostor syndrome.

Impostor syndrome ini adalah sebuah perasaan di mana kita merasa bisa kuliah di luar negeri dan kampus terbaik karena kita beruntung mendapatkan beasiswa, bukan karena memang kompetensi kita yang siap untuk belajar di kampus tersebut. Sehingga kita akan berada dalam ketakutan bahwa kita seperti penipu, yang di atas kertas mendapat beasiswa dan IPK bagus, tetapi sebenarnya tidak bisa apa – apa saat compete dengan mahasiswa lain di kampus tempat kita belajar.

Perasaan itu pernah saya dapatkan ketika saya mendapat profesor untuk membimbing saya doktor. Pada saat melamar, saya mempersiapkan diri untuk publikasi beberapa riset sebagai bukti portfolio bahwa saya bisa menulis (h-index SCOPUS saya saat apply itu 3 (cukup baik untuk peneliti muda standar kampus UI, sekarang 6). Selain itu saya juga menunjukkan ijazah saya yang cum laude dari Universitas Indonesia. Profesor saya sangat senang dengan capaian saya di atas kertas tersebut dan kemudian menerima saya sebagai PhD Student di Delft.

Ketika saya sampai di TU Delft, saya pun berjumpa dengan para profesor dan PhD Student yang juga berasal dari kampus terbaik negaranya masing – masing. Ketika saya di awal ditanya ingin publikasi berapa oleh Profesor saya, saya bilang mungkin 2 atau 3 di jurnal internasional dengan reputasi terbaik di bidang saya. Profesor saya pun mengiyakan. Namun saat saya sadar, ternyata teman – teman PhD saya lainnya memiliki standar yang lebih tinggi: 5 – 6 jurnal top, dan bahkan saya pernah melihat yang cum laude doktor di sini mempublikasikan tidak kurang dari 20 publikasi! Langsung lah kemudian sedikit terbersit keraguan di benak saya, “It seems I don’t belong here.”

Sudah selesai? Belum. Ketika saya mengikuti kuliah yang diselenggarakan untuk PhD student dan beberapa kuliah master, saya menyadari bahwa apa yang saya pelajari di Indonesia untuk bidang saya tertinggal selama beberapa tahun. Tertinggal bukan dari konsep dan pengajaran, tetapi teknologi yang digunakan. Jadilah pada waktu itu saya merasa asing dengan bidang saya sendiri, karena saya tidak tahu cara menggunakan teknologi baru ini. Akhirnya di situ mulai muncul perasaan bahwa saya seperti impostor atau pengkhianat: punya IPK 4.00 tapi seperti tidak tahu apa – apa di bidang saya sendiri. Tanpa saya sadari hal ini kemudian membuat saya tidak menunjukkan performa optimal karena saya merasa tidak mampu untuk catch up dengan semua ketertinggalan saya (saya merasa ketinggalan ilmu beberapa dekade). Jika mengejar ketertinggalan saja tidak mampu, bagaimana mungkin saya mampu menghasilkan pengetahuan baru di bidang tersebut (yang merupakan tugas utama seorang PhD)?

Perasaan ini, jika dipelihara terus – menerus akan sangat merusak performa kerja. Kita akan terus – menerus menyalahkan diri, tidak produktif, tertekan, stress, dan berujung pada perasaan depresi yang hingga akhirnya kita tidak mau ngapa – ngapain.

Apa yang kemudian saya lakukan?

Salah satu strategi yang bisa saya sarankan adalah: segera ceritakan kepada orang yang Anda rasa paling tepat untuk mengetahuinya, dan minta saran apakah memang mereka menganggap kita sebagai impostor.

Ketika dalam perjalanan PhD ini saya merasa bahwa diri saya seperti impostor, saya berpikir: dari sudut pandang siapa saya merasa dicap sebagai impostor? Pada waktu itu saya merasa khawatir profesor saya menganggap saya demikian.

Sehingga pada waktu itu saya langsung mengirim email blak – blakan ke Profesor saya: Saya mengalami impostor syndrome, dan ingin memastikan bahwa supervisor saya tahu dan siap untuk menghadapi saya yang seperti ini. Saya menulis email yang sangat panjaaaaang untuk curhat dan saya kirim di tengah malam. Ini terjadi di Bulan ke-3 saya PhD. Dan bagaimana jawaban supervisor saya? Berikut ini adalah jawaban beliau

Impostor syndrome is real, guys! Dan saya berusaha untuk ‘mengobati’ nya secepat mungkin sebelum hal ini semakin parah di kemudian hari (sumber: pribadi, dengan izin Supervisor)

Dengan mendapat jawaban seperti itu, saya melihat bahwa Profesor saya siap dengan saya yang seperti ini. Bahkan, kinerja saya dipertimbangkan sebagai salah satu top candidate mahasiswa PhD yang dia punya. Saya semakin yakin bahwa saya tidak perlu lagi merasa sebagai impostor, karena toh apa yang saya alami ini sangat wajar dan banyak juga dialami oleh orang lainnya. Namun hal yang paling penting berikutnya: Profesor saya sendiri tidak merasa adalah masalah dengan saya, lantas kenapa saya harus bingung?

Mendapat jawaban itu saya sangat lega, dan saya bersyukur bisa cukup ‘berani’ mengutarakan perasaan itu ketika masih di bulan ke-2 atau ke-3 perjalanan saya sebagai PhD. Banyak cerita dari mahasiswa Indonesia lain yang berakhir tragis. Saya pernah mendapat kabar bahwa ada yang terkena impostor syndrome hingga akhir tahun pertama tapi dia tidak bilang ke supervisor nya, sehingga supervisor nya tidak meluluskan dia (No Go) di ujung tahun pertama. Kejadian lainnya (di kampus Belanda lain), bahkan sampai supervisor nya mengadu ke LPDP kenapa mahasiswanya tidak perform. Ternyata setelah ditelusuri karena merasa depresi yang berawal dari perasaan sebagai impostor ini.

Selain berbicara langsung ke supervisor atau ke orang lain yang Anda anggap tepat, satu hal lainnya yang membuat saya sedikit menghadapi impostor syndrome ini ketika gejala ini datang lagi adalah melakukan reframing mindset.

Jika tadinya kita merasa diri kita impostor dan selalu berpikir bahwa “I don’t belong here”, saya bisa menggantinya sebagai “I am uncomfortable right now and that’s how it should be, this is how I grow as a person, and this is exciting!!”

Dengan menggunakan teknik reframing ini sangat membantu saya untuk mengubah perasaan saya yang tadinya merasa sebagai penipu yang beruntung masuk ke kampus top, menjadi seorang yang masih berproses dalam belajar. Dan… ini sangat exciting! Menyenangkan!

Kedua hal tersebut kemudian sedikit banyak mampu membuat saya untuk melanjutkan proyek PhD saya dengan tepat waktu dan bahkan mendapat apresiasi dari Profesor saya. Satu pesan terakhir yang saya dapatkan dari profesor saya adalah,

You are at the bottom list of my PhD Candidates who I’m worried about from research and dissertation content. So don’t worry!”

Semoga apa yang saya berikan ini bermanfaat untuk teman – teman yang sedang mempersiapkan diri berkuliah di luar negeri. Menurut saya ini adalah salah satu sisi gelap yang jarang diceritakan oleh para awardee beasiswa di Luar Negeri. Apa yang ditampilkan, khususnya di social media, mayoritas adalah yang bagus – bagusnya saja. Misalnya keindahan artsitektur Eropa, acara nongkrongnya, jalan – jalan keliling dunianya.

Tetapi hal yang jarang atau tidak pernah diungkapkan adalah pengalaman – pengalaman ini. Saya sendiri tidak malu untuk membuka pengalaman ini, apalagi jika bisa menjadi pembelajaran dan bahkan membuat teman – teman semua sadar lebih cepat terkait dengan impostor syndrome ini. Saya pun belajar banyak dari Profesor saya yang bisa menangani mahasiswa nya yang sedang impostor syndrome seperti saya ini, yang di mana nantinya akan saya gunakan ketika saya menjadi pembimbing dan mudah – mudahan itu semua dapat membuat saya menjadi lebih bijak dalam membimbing mahasiswa.

Jika saat ini teman – teman sedang mempersiapkan diri masuk ke kampus terbaik dunia, maka siapkanlah bukan hanya intelektual, tetapi juga mental. Jika impostor syndrome sudah mulai hinggap di diri teman – teman, maka saran saya langsung sampaikan kepada orang yang sekiranya bisa membantu untuk teman – teman segera keluar dari zona itu. Dengan keluar dari zona itu, akan membuat proses belajar serta produktivitas hidup kita meningkat sangat jauh.

Semoga bermanfaat ya untuk sahabat semuanya :). Jika nantinya ada yang bisa saya bantu lebih detil melalui webinar atau pelatihan terkait topik ini, silakan kontak saya melalui LinkedinInstagram, atau ke Melinda via WhatsApp (+62 856 4087 9848).

Salam,
Arry Rahmawan

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan Destyanto

Arry Rahmawan adalah seorang yang memiliki cita - cita sebagai guru bagi pemimpin masa depan Indonesia. Saat ini berkarya sebagai dosen di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia yang sedang melaksanakan tugas belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda.

Selain beraktivitas sebagai pengajar tetap di UI dan peneliti di TU Delft, Arry juga mengisi hari-harinya dengan menjadi narasumber di berbagai instansi pemerintah, BUMN, swasta, lembaga pendidikan, serta lembaga non-profit terkait seputar pengembangan diri dan tulisan - tulisan yang ada di blog ini.

Untuk menghubunginya, silakan kontak melalui direct message LinkedIn atau Instagram

Tinggalkan Komentar