Akademik Belajar dan Mengajar Mengenal Diri Pengembangan Diri

Mengembangkan Growth Mindset dalam Belajar dan Bekerja

Written by Arry Rahmawan

Pernahkah Anda mendengar atau bahkan mengucapkan sendiri, kata – kata seperti ini?

“Aduh, gue orangnya introvert, pasti ga bisa nih gue pidato di depan umum”

Atau….

“Gue dari dulu gabisa matematik, gue orangnya lambat kalo berhitung.”

Pernyataan seperti di atas pasti sering, atau setidaknya pernah kita dengar. Entah dari orang lain, atau dari dalam diri kita sendiri. Saya sendiri banyak mendengar kata – kata tersebut ketika saya masih sekolah. Banyak teman – teman saya yang struggle untuk bisa memahami konsep matematika, dan mereka selalu merasa bahwa matematika sulit untuk dicerna oleh otak mereka.

Ketika saat ini saya menjadi dosen dan pembicara publik, saya juga sering mendengar kalimat – kalimat tersebut namun dengan bahasa yang sedikit berbeda. Misalnya,

“Pak, apakah seorang lulusan sarjana ilmu pertanian, bukan ekonomi dan bisnis, bisa menjadi pebisnis?”

atau….

“Pak, ayah dan ibu saya tidak ada yang sampai sekolah tinggi, apakah saya bisa kuliah di luar negeri?”

Adalah beberapa kalimat yang seringkali saya dapatkan ketika membawa seminar.

Pada kesempatan kali ini, di pembukaan dari artikel yang saya tulis, saya ingin mengatakan bahwa kita harus berhati – hati dengan kata – kata di atas. Kata – kata tersebut sebisa mungkin adalah kata yang harus kita tinggalkan, baik dalam belajar dan juga bekerja. Mengapa? Kata – kata tersebut adalah salah satu gejala orang yang memiliki fixed mindset, dan bisa membatasi diri kita berkembang.

Apa itu Fixed Mindset?

Sebelum saya menulis lebih jauh, saya ingin menjelaskan terlebih dulu tentang apa yang dimaksud fixed mindset. Istilah ini dipopulerkan oleh Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Stanford yang menjelaskan bahwa seorang yang memiliki fixed mindset adalah orang yang lebih percaya bahwa atribut di dalam dirinya bersifat permanen dan tidak bisa diubah. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

  • Bakat/kepribadian lebih menentukan sukses daripada usaha
  • Orang hanya bisa melakukan yang terbaik jika sesuai bakatnya
  • Jika tidak memiliki bakat, maka diri kita tidak bisa berkembang dan menjadi seorang expert di bidang itu
  • Memandang pada hal – hal eksternal untuk mengubah nasib (misalnya: orang tua yang kaya, networking/jaringan, dsb)
  • Mengerjakan apa yang disuka (passion) dan tidak ingin mengembangkan diri pada pekerjaan yang tidak disukai.

Carol Dweck kemudian menjelaskan bahwa akibat dari orang – orang yang memiliki fixed mindset cenderung untuk memiliki self-limiting belief, yaitu keyakinan yang membatasi diri sendiri. Ini juga sering terjadi pada orang – orang yang berupaya untuk memetakan kekuatan dan talenta mereka. Misalnya kita ikut sebuah tes kepribadian dan mendapatkan bahwa kepribadian diri kita adalah A dengan kecakapan berhitung. Lalu dengan kepribadian A tersebut kita selalu menolak untuk mengambil risiko yang membutuhkan kepribadian B (misalnya kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi), karena merasa tidak mampu. Jadilah sampai kapan pun kita tidak mau belajar untuk bisa berkomunikasi dengan baik.

Memiliki fixed mindset yang terus-menerus tertanam ini menjadi sangat berbahaya karena akan membuat diri kita tidak mau keluar dari zona nyaman. Tidak mau keluar dari zona nyaman, berarti hidup tidak bertumbuh dan hanya di titik itu saja. Maka dari itu kita perlu menanamkan apa yang disebut dengan growth mindsetatau pola pikir bertumbuh.

Mengenal Istilah Growth Mindset

Growth mindset juga dipopulerkan oleh Carol Dweck, yang mengatakan bahwa seseorang yang memiliki pola pikir bertumbuh itu memiliki ciri yang berlawanan dengan fixed mindset. Orang yang memiliki growth mindset itu senantiasa mengambil risiko dan menantang diri untuk selalu bertumbuh. Karena orang – orang dengan growth mindset memiliki keyakinan sebagai berikut,

  • Prestasi itu ada karena hasil kerja keras dan dibayar dengan harga yang mahal
  • Semua bisa menjadi expert di bidang apa saja dengan bekerja keras dan berlatih secara terstruktur
  • Senantiasa menghargai proses, karena hasil yang bagus berasal dari proses yang juga baik

Karena orang growth mindset memiliki pola pikir seperti itu, maka mereka akan senantiasa memiliki mental “belum bisa”, dan bukan “tidak bisa”. Dengan begitu, maka (atas izin Allah), sebenarnya kita dapat menjadi yang kita inginkan dengan memiliki growth mindset tadi, asalkan kita ingin membayar harganya dengan bekerja keras dan juga berdoa atau ikhtiar langit tentunya.

Kisah Saya yang Terbantu dengan “Growth Mindset”

Saya pribadi memiliki sebuah pengalaman unik terkait dengan growth mindset ini. Sejak kecil, saya merasakan bahwa orang tua saya banyak mengajarkan saya tentang growth mindset ketika belajar. Ibu saya banyak mengajarkan betapa saya bisa mendapatkan ranking terbaik, terlepas dari apa bakat saya, asalkan saya bekerja keras. Jika saya memang ingin peringkat satu, maka saya harus belajar lebih keras dibandingkan lainnya. Itulah mengapa alhamdulillah, atas izin Allah nilai raport saya selalu yang terbaik di kelas, bahkan pernah satu angkatan. Saya kemudian diterima kuliah di UI, dan juga menjadi dosen UI dengan menerapkan growth mindset ini.

Salah satu yang kemudian membuat saya takjub adalah ketika itu saya memiliki fixed mindset bahwa seorang yang kuliah master di dalam negeri, maka akan sulit untuk mengambil S3 atau PhD di luar negeri. Saya punya cita – cita untuk kuliah di Eropa (Belanda). Namun, di sisi lain saya juga punya pemahaman bahwa yang “hanya” lulusan dalam negeri akan sulit. Pikir saya waktu itu, saya ingin masuk ke perguruan tinggi top 50 dunia, namun saya hanya dari perguruan tinggi peringkat 300an. Bukan hanya saya yang memiliki limiting belief seperti ini, namun juga beberapa kolega saya di kampus.

Namun apa manfaat yang saya dapatkan jika mempertahankan pola pikir tersebut? Tidak ada! Saya kemudian menyadari bahwa itu menjadi self-limiting belief baru buat saya. Sejak saat itu, saya pun mempersiapkan diri. Saya membuat proposal riset, saya mempersiapkan diri untuk TOEFL/IELTS. Saya mulai menghubungi beberapa kolega yang sudah pernah sekolah di luar negeri untuk menjadi mentor saya. Saya juga mempersiapkan diri untuk mendaftar beasiswa LPDP. Alhamdulillah persiapan kurang lebih setahun tidak sia – sia. Atas izin Allah, saya mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi di Belanda (TU Delft) pada September 2019.

Growth mindset ini sangat membantu saya untuk keluar dari jebakan zona nyaman, apalagi karena saya sudah mengenal passion saya sendiri yaitu mengajar. Dengan growth mindset, saya terdorong untuk melakukan beberapa hal yang sebenarnya tidak saya sukai. Beberapa di antaranya adalah menulis dalam bahasa Inggris (karena pada waktu itu menurut saya sulit sekali). Tapi alhamdulillah, justru sekarang saya senang dan sedikit ketagihan untuk menulis dalam bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya diri saya bertumbuh.

Lalu, bagaimana agar kita terus memiliki dan dapat mengembangkan growth mindset dalam belajar dan bekerja?

Satu hal yang saya pelajari dari Paula Caproni, profesor di University of Michigan, untuk mengembangkan growth mindset adalah dengan melakukan beberapa langkah aplikatif seperti berikut ini:

  1. Membiasakan memiliki pola pikir “belum bisa” terhadap tantangan, bukan “tidak bisa”
  2. Menentukan arah bangun keahlian diri kita di masa yang akan datang
  3. Selalu meluangkan waktu untuk mengambil aktivitas yang dapat mengembangkan diri kita
  4. Memiliki seorang mentor yang dapat memberikan umpan balik feedback terhadap apa yang kita kerjakan
  5. Memperbaiki diri berdasarkan feedback yang didapat

Ada satu pertanyaan menarik dari beberapa peserta seminar saya terkait dengan hal ini, yaitu: darimana kita tahu bahwa aktivitas tersebut dapat mengembangkan diri kita? Umumnya yang dapat kita lakukan adalah dengan mendorong diri kita keluar dari zona nyaman, seperti ilustrasi berikut ini.

Di gambar tersebut, saya menjelaskan bahwa awalnya saya memiliki passion untuk menulis blog. Bahkan, hingga saat ini passion saya tersebut tidak kunjung padam, hehe. Saya sudah menulis artikel blog sekitar 850 lebih sejak 2012. Jika menggunakan growth mindset, ketika saya sudah menguasai dasar – dasar menulis dan teknikal blogging, maka saya harus mendorong diri saya ke arah yang kurang nyaman berikutnya: menulis buku. Karena ilmu menulis buku itu berbeda dari menulis blog maka saya harus banyak belajar lagi dengan mengikuti workshop menulis. Apakah nyaman? Tentu saja tidak. Saya harus berlatih menuils bab demi bab buku. Udah gitu, saya juga harus lapang hati menerima kritik atau komentar editor terhadap naskah saya. Alhamdulillah, hasil perjuangan tersebut jadi sebuah buku best-seller yang namanya Studentpreneur Guidebook. 

Begitu pun kemudian saat saya sudah mulai nyaman untuk menulis buku, saya lanjut untuk bisa menulis artikel ilmiah yang bisa saya presentasikan di konferensi ilmiah internasional. Menulis artikel ilmiah ini berbeda lagi caranya dengan menulis artikel populer, karena banyak sekali kaidah yang harus diperhatikan. Begitu seterusnya hingga saat ini saya sedang kuliah S3 agar bisa berlatih menulis dan publikasi di jurnal ilmiah internasional bereputasi yang menurut saya paling sulit di antara semua pengalaman yang telah saya lalui.

Nah, bagaimana? Semoga artikel yang (sedikit) panjang ini bisa bermanfaat untuk sahabat semuanya. Apabila pembaca saat ini cenderung memiliki fixed mindset, maka semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk beralih ke growth mindset. Bagi Anda yang sudah memiliki growth mindset, semoga akan semakin powerful dan berani untuk menghadapi tantangan yang ada.

Semoga bermanfaat!

Salam,
Arry Rahmawan

Referensi lebih lanjut:
Dweck, C. S. (2016). Mindset: The new psychology of success (Updated edition)

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen tetap di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Selain beraktivitas sebagai pengajar dan peneliti, Arry juga senang membagikan tips dan informasi seputar akademik, kewirausahaan, dan pengembangan diri melalui blog nya di arryrahmawan.net.

Arry berpengalaman sebagai narasumber di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)gmail.com.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!