Entrepreneurship Entrepreneurship Toolbox Fase Memulai

Mengenal Value Proposition Canvas untuk Entrepreneur Pemula

Written by Arry Rahmawan

Setelah sebelumnya saya posting mengenai Business Model Canvas dan tutorial cara mengisinya, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah business tools lainnya yang juga bermanfaat untuk entrepreneur pemula maupun pelaku bisnis: Value Proposition Canvas. Materi tentang Value Proposition Canvas ini menjadi salah satu materi esensial dalam kelas Pengantar Kewirausahaan Teknologi yang saya ampu di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Dalam kelas tersebut, mahasiswa saya arahkan untuk dapat benar – benar memahami apa itu Value proposition Canvas dan juga bagaimana menerapkannya dalam bisnis mereka.

Lalu, pertanyaan berikutnya…..

Apa itu Value Proposition Canvas (VPC)?

Value Proposition canvas adalah sebuah alat bantu berbentuk canvas yang berguna untuk memastikan bahwa produk atau jasa yang kita gagas itu ‘nyambung’ dengan kebutuhan konsumen. Oh ya, VPC ini dirancang oleh orang yang sama dengan perancang Business Model Canvas, yaitu Dr. Alexander Osterwalder.

Kebayang kan?

Jadi sebenarnya Value Proposition Canvas (VPC) ini fungsinya simpel banget: memastikan bahwa produk atau jasa yang kita sedang gagas, buat, atau tawarkan itu ‘fit’ dengan kebutuhan konsumen yang ditarget.

Kenapa VPC ini menjadi penting untuk entrepreneur pemula?

Dalam pengalaman dan kapasitas saya sebagai dosen, praktisi, atau juri kewirausahaan teknologi, saya seringkali menemukan entrepreneur pemula (khususnya startup teknologi) yang overconfidence (alias ke-PD-an) dengan gagasan yang mereka tawarkan.

Sebagai contoh nih:

Seorang entrepreneur datang ke saya dengan gagasan bisnis X di tahun 2018. Bisnis X ini adalah usaha aplikasi digital yang menghubungkan para produsen makanan sehat dan organik dengan mahasiswa di Universitas Indonesia. Intinya semacam Go-Food, tapi khusus isinya adalah makanan sehat, bergizi, bernutrisi, dan organik. Target pasarnya adalah mahasiswa, dengan pertimbangan bahwa mahasiswa sudah mulai sadar akan pentingnya makanan sehat (karena selama ini kan mahasiswa kalau makan biasanya pola dan gizinya ngawur – pengalaman saya sebagai mahasiswa teknik, hehe). Mereka berpendapat bahwa bisnis ini akan sangat berhasil, karena belum pernah ada yang menjalankan. Artinya, tidak ada kompetitor dan mereka bisa menggarap pangsa pasar ini dengan baik.

Alhasil, dengan sangat PD mereka kemudian mengeksekusi ide mereka tersebut.

Dalam beberapa bulan pertama, ada penjualan walaupun tidak terlalu bagus. Namun semakin lama penjualannya semakin menurun.

Usut punya usut, ternyata mereka sadar bahwa target market mereka terlalu kecil. Secara umum, makanan sehat, organik, bernutrisi itu lebih mahal daripada makanan biasanya. Sementara, mahasiswa yang sadar pentingnya makanan sehat dan mampu mengalokasikan uangnya untuk membeli itu secara rutin sangat kecil sekali. Ukuran pasar ini bisa saja diperbesar, tapi tentu membutuhkan dana edukasi (alias iklan) yang tidak sedikit.

Sampai sini, kita belajar dari pengalaman tersebut bahwa perlu adanya product-market fit alias kecocokan antara produk dengan konsumen yang ditarget. Percaya diri boleh, tapi tetap ada hitung – hitungannya selain tentu saja berdoa :).

Di sinilah kemudian VPC bisa membantu untuk melakukan iterasi dengan mempelajari kecocokan antara produk dengan pasar yang dituju.

Mengenal Bagian – Bagian VPC

Berbeda dengan Business Model Canvas (BMC) yang terdiri dari 9 blok, VPC ini terdiri dari 6 blok yang digambarkan seperti berikut:

 

Berdasarkan gambar di atas, kita bisa membagi sebenarnya VPC itu terdiri dari 2 bagian, di mana masing – masing bagian terdiri dari 3 blok yang bisa diisi seperti gambar berikut ini:

Blok pertama yang berwarna biru, yaitu Value Proposition, menjelaskan tentang apa nilai tambah yang ditawarkan melalui produk atau jasa perusahaan. Sementara blok yang berwarna merah, Customer Profile menjelaskan tentang profil siapa konsumen yang ingin dilayani.

Customer Profile,  terdiri dari 3 blok untuk diisi:

Gains – benefit atau keuntungan yang sedang dicari – cari oleh konsumen
Pains – hal negatif, emosi, atau risiko yang sedang berjuan untuk dikurangi oleh konsumen
Customer jobs – pekerjaan riil yang sedang aktif dilakukan oleh konsumen, terkait dengan gains/pains mereka

Sementara itu Value Proposition, juga terdiri dari 3 blok untuk diisi:

Gain creators – Penjelasan bagaimana produk/jasa dari bisnis kita bisa membantu konsumen mendapat gains
Pain relievers – Penjelasan bagaimana produk/jasa dari bisnis kita bisa membantu konsumen mengurangi pains
Customer jobs – Daftar kandidat produk atau jasa yang dapat memenuhi kriteria gain creators dan pain relievers

Baik, sampai sini saya harap Anda sudah mendapat gambaran tentang apa itu VPC. Jadi intinya kalau Anda memiliki produk (di sisi sebelah kiri) yang fit dengan kebutuhkan konsumen (di bagian sebelah kanan), maka Anda memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan produk tersebut sukses di pasaran. Begitu pula sebaliknya, apabila Anda memiliki produk yang tidak fit, maka peluang menjadi produk gagal pun semakin besar.

Sebagai akhir perkenalan dari VPC ini, saya ingin sedikit merefleksikan kesalahan yang banyak dilakukan oleh entrepreneur pemula dalam menggunakan VPC ini. Kesalahan terbanyak umumnya adalah saat mengisi di bagian customer profile (berwarna merah) di sebelah kanan. Di mana kesalahannya? Yaitu banyak dari mereka yang mengisi bagian kanan tanpa melakukan validasi langsung ke konsumen. Mereka mengisi bagian kanan hanya dengan ‘kayaknya, sepertinya….”. Mereka tidak pernah bersentuhan langsung dengan customer profile yang ingin mereka bantu. Kebanyakan dari mereka berkutat di literatur atau laporan sekunder pasar, tapi tidak terjun langsung mengetahui apa masalah yang dihadapi konsumen mereka.

Esensi dari bagian kanan adalah membangun empati terhadap konsumen. Membangun empati ini perlu terjun langsung untuk merasakan betul – betul apa ambisi dan penderitaan yang dialami konsumen. Apalagi kan sekarang lagi masa pandemi nih, pasti lagi banyak banget masalah yang sedang dialami oleh masyarakat, baik di dunia maupun di Indonesia. Hal ini pula yang saya terapkan di mata kuliah Pengantar Kewirausahaan Teknologi di Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia, di mana saya meminta mahasiswa untuk terjun langsung ke konsumen dan mengetahui apa yang mereka rasakan. Dan hasilnya sangat berbeda apabila mengisi canvas ini hanya berdasarkan riset sekunder internet, media massa, koran, atau majalah saja.

Baik, segitu dulu perkenalan tentang VPC ya. Di artikel berikutnya, saya akan coba jelaskan tutorial bagaimana mengisi VPC ini sehingga hasilnya bisa optimal membantu start-up ataupun bisnis Anda.

Sampai jumpa di pemabahasan berikutnya!

Salam,

Arry Rahmawan
Dosen Pengantar Kewirausahaan Teknologi
Departemen Teknik Industri
Universitas Indonesia

Opt In Image

Download Ebook SimplyProductive Gratis!

Saatnya MELIPATGANDAKAN Produktivitas Hidup dengan CEPAT dan MUDAH

Pelajari bagaimana saya dapat MELIPATGANDAKAN PRODUKTIVITAS hidup hanya dengan MELAKUKAN BEBERAPA HAL SEDERHANA. Cukup masukkan nama dan alamat email Anda untuk mendapatkan ebook nya. 100% gratis dan langsung download! Berminat? Masukkan Email Anda Sekarang!

100% Aman. Link Download akan Dikirim Via Email.

About the author

Arry Rahmawan

Arry Rahmawan adalah dosen milenial di Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia. Selain beraktivitas sebagai pengajar dan peneliti, Arry juga senang membagikan tips dan informasi seputar akademik, entrepreneurship, dan pengembangan diri melalui blog nya di arryrahmawan.net.

Arry berpengalaman sebagai narasumber pengembangan diri di berbagai macam instansi pemerintah, kementerian, BUMN, dan institusi pendidikan. Apabila berminat untuk mengundang Arry sebagai narasumber, dosen tamu, atau juri di institusi Anda, dengan sangat senang kami akan berusaha menyanggupinya. Silakan hubungi 0813 1844 2750 (Melinda) atau email ke arry.rahmawan(at)eng.ui.ac.id

Untuk informasi lebih lengkap, silakan klik halaman berikut ini.

Leave a Comment

Ingin Mempelajari Ilmu Pengembangan Diri Lebih Mendalam?
Join dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia!
Jadilah satu dari sedikit orang yang mendapatkan tips berkualitas untuk membuat hidup lebih bermakna, bertumbuh, dan berdampak
Saya Gabung!
*Klub Pengembangan Diri Indonesia adalah sebuah klub online di Facebook yang berisi berbagai arsip, artikel, serta training pengembangan diri online gratis!
Dapatkan ebook "SimplyProductive" untuk melipatgandakan produktivitas Anda
Saya Mau!

Ingin Hidup Anda Bertumbuh?

Segera bergabung dengan Klub Pengembangan Diri Indonesia untuk mendapatkan tips dan online course tentang bagaimana mewujudkan hidup yang lebih baik
Saya Mau!